Pemujaan Bhairawa Tantra

No comment 843 views

Pemujaan Bhairawa Tantra

Dalam catatan R. Goris, ada 9 sekte yang disatukan kala itu pada masa berkuasanya Dharmodayana oleh Mpu Rajakerta Kuturan.

Entah kenapa diantara kesembilan sekte tersebut, sekte Bhairawa paling susah untuk disatukan, meskipun pada akhirnya mereka lebur dalam paham Tri Murti sebagaimana sekte lainnya yang terlebih dahulu melebur ke dalam paham Tri Murti.

Menarik untuk diungkap, kenapa sekte ini seolah-olah tak mau tunduk pada raja?

Apakah memang benar penyatuan sekte-sekte tersebut sebagai sebuah upaya murni untuk meredam konflik horisontal antar sekte, atau ada muatan politik dalam konspirasi besar Raja dengan purohita untuk melanggengkan kekuasaan penguasa kala itu?

Namun apapun itu, penyatuan sekte-sekte di Bali atas prakarsa Mpu Kuturan telah menjadikan Bali dalam kondisi stabil dan berbeda dalam kesatuan (unity) yang kokoh. Meskipun, sekte-sekte telah lebur dalam paham trinitas, tetapi keberadaan mereka (khususnya bhairawa) masih dapat dijumpai tetap eksis melakukan pemujaan dengan darah, minuman keras, daging dll.

Meskipun Panca Makara sebagai ajaran yang esoterik dipraktikan dengan cara-cara tidak lagi se-ekstrim masa Singosari di Jawa.

  1. MADA bukan lagi pemujanya minum minuman keras hingga mabuk, tetapi hanya dijadikan sarana persembahan simbolisasi dari pengendalian segala kemabukan dalam diri, yakni mabuk harta, perempuan, jabatan, kemasyuran dll.
  2. MAMSA bukan lagi pemujanya memakan daging sepuasnya, tetapi dijadikan inti persembahan sebagai simbolisasi pembinasaan sifat hewani dalam diri.
  3. MATSYA bukan lagi pemujanya memakan ikan sampai muntah, tetapi dijadikan persembahan pokok sebagai isyarat bahwa seorang Bhairwin sejati hendaknya meyelam laksana ikan ke dalam samudra pengetahuan.
  4. MAITUNA tidak lagi dipraktikan melalui hubungan badan (sex) sepuasnya tetapi dipraktikan dalam sikap asanas dalam pemujaan, yakni lidah disentuhkan ke langit-langit simbol penyatuan yang rahasia.
  5. MUDRA sikap tangan dipraktikan dalam bentuk postur jari khusus untuk mengarahkan pikiran dan energi pada sang Bhairawa dan Bhairawi agar hadir dalam bentuk kuasa energi yang dasyat, menghancurkan segala bentuk kekeruhan bhatin dan kekotoram pada alam makro dan mikro.

Oleh I Ketut Sandika, pada tanggal 2 Okt 2016 di salah satu Media sosial FB. Om Bham Hyang Bhairawaya Namah Swaha.

author