Penggunaan Dupa Batang di Bali

No comment 1363 views

Penggunaan Dupa Batang di Bali

dupa-batang-baliOrang Bali umumnya sangat akrab dengan penggunaan dupa batang, tetapi tidak semua orang mengetahui sejarah dan cara penggunaannya secara lebih mendalam.

Dupa batang pertama kalinya ditemukan di areal situs sungai sindus (india). Para arkeolog mengemukakan bahwa penggunaan dupa batang sudah ada sejak jaman peradaban Sungai Indus, yaitu antara tahun 3.300 s/d 1.300 SM. Catatan tertulis tertua mengenai penggunaan dupa batang untuk upacara dan sembahyang terdapat dalam kitab suci Rig Veda dan Atharva Veda, sedangkan penggunaan untuk pengobatan (aroma terapi) terdapat dalam kitab suci Ayur Veda. Di India dupa batang disebut "agarbhati" atau agaravarthi, sedangkan saat digunakan untuk upacara dan sembahyang disebut "dhupa".

Ketika Agama Buddha lahir di India pada sekitar tahun 400 SM, penggunaan dupa batang ikut menjadi bagian tidak terpisahkan dalam tata cara Buddha. Pada tahun 200 M, sekelompok bhiksu pengembara dari India memperkenalkan penggunaan dan cara pembuatan dupa batang ke China. Pada jaman dinasti Ming (1368 - 1644 M)  penggunaan dupa batang sudah sangat luas dipakai di China. Pada sekitar awal masa itu juga, dari China penggunaan dupa batang menyebar ke Jepang.

Jika berkenan untuk menggunakan dupa secara lebih mendalam, Umat di Bali umumnya mengenal tata cara penggunaan dupa yang mungkin saja ini merupakan hasil akulturasi budaya dengan faham Budha Wajrayana yang sudah menyatu menjadi Siwa-Budha atau Gamabali. Terdapat simbol atau kode niskala di dalam pewarnaan dupa batang yang kita pakai, yaitu :

  • Dupa batang warna kuning atau coklat muda alami untuk sembahyang dan persembahan umum.
  • Dupa batang warna merah untuk sembahyang dan persembahan yang khusus memohon sesuatu.
  • Dupa batang warna hitam untuk menemani kita saat meditasi atau menjapakan mantra.
  • Dupa batang warna hijau untuk sembahyang dan persembahan [upacara] bagi orang meninggal.

Selain itu, terdapat simbol atau kode niskala berapa batang jumlah dupa yang kita haturkan dalam persembahan, yaitu :

  • 1 batang untuk persembahan umum di tempat suci atau palinggih di dalam lingkungan rumah, misalnya saat kita mebanten.
  • 3 batang untuk persembahan umum di tempat suci di luar lingkungan rumah.
  • 5 batang untuk persembahan di tempat usaha atau dagang.
  • 7 batang untuk persembahan yang kita khusus memohon sesuatu secara spesifik.
  • 9 batang untuk persembahan saat kita melakukan puja mantra kepada para Ista Dewata.
  • 11 batang untuk persembahan ke seluruh penjuru alam semesta, agar semua makluk di alam semesta mendapatkan kebahagiaan.

yang perlu diperhatikan saat penggunaan dupa bali dalam bentuk batangan:

  • Menghaturkan dupa batang usahakan berjajar seperti kipas (seperti halnya tradisi budha).
  • Mantra saat meletakkan dupa batang (untuk memuja Bhatara Agni):  "Ong Ang dhupa dipa astra ya namah swaha"
  • Mantra saat ngayabang (menghaturkan) dupa batang "Om agnir agnir jyotir swaha, Om dupam samarpayami swaha".
  • Letakkan dan haturkan dupa batang dengan penuh rasa hormat

esensi penggunaan dupa batangan adalah API, tetaplah seperti upacara yadnya lainnya, ini sebagai miniatur dari Agnihotra atau homa yadnya yang intinya adalah sebagai sarana memuja Dewa Agni (Dewa Api).

author