Penundukan Nenek Moyang Dwipantara

No comment 474 views

Penundukan Nenek Moyang Dwipantara

Dalam banyak tradisi (agama) sosok Rakshasa/Iblis selalu digambarkan secara negatif, tampang buruk, perangai buruk (katanya).

Tidak sedikit dikisahkan kalo dewa A, dewa B, tuhan C, tuhan D, tokoh E, tokoh F dsb. berperang melawan rakshasa/iblis.

Yang terpikir oleh penulis....

siapa sih sebenarnya yg kuat?

Siapa sih sebenarnya yg berkuasa?

A, B, C, D, E, F, dst. silih berganti melawan satu ras yg disebut rakshasa…

Think again… and again…

Wolak walike zaman

Kemudian menemukan catatan kuno, salah satunya dari lontar Sari Manik Tuluk Biyu yang dulunya tersimpan di Pura Tuluk Biyu Kintamani, Bangli, Bali. Edisi membuka sandi-sandi peninggalan nenek moyang yang disembunyikan di tempat yang terang, menuju Nusantara yang Gemilang.

Jika dari referensi barat, yang bersumber dari catatan-catatan bangsa Sumeria kuno, dimana kemudian diadopsi oleh kitab-kitab tertentu, maka dikatakan manusia diciptakan dari tanah. Sekarang kita bandingkan dengan catatan kuno dari tanah kita sendiri, Dwipantara.

Jenis manusia pada suatu masa menurut data tertulis di Bali :

Sebuah kisah ketika Bhatara Çiwa menciptakan manusia di Healer Bali

Manusia lima kasta (Panca Kasta) yang merupakan pengikut Bhatara Çiwa.

Manusia yang berasal dari inti (les) pohon nangka yang dinamakan I Ketewel.

Manusia yang tercipta dari pangurip-urip gunung, dan mereka tersebar di gunung-gunung :

  1. Wong Jugul Demang : Perawakannya tinggi dan besar, bisa berubah wujud, warnanya hitam, matanya bundar, wajahnya panjang seperti kera. (Dalam sebuah kliping surat kabar zaman Belanda, dilaporkan bahwa Wong Jugul Demang masih bertransaksi rempah-rempah dengan Belanda di Tulamben, Karangasem, pantai Timur Laut Gunung Agung Bali.)
  2. Wong Demang : Perawakannya tinggi dan besar, kulitnya berwarna merah, rambutnya merah, bibirnya lebar, berwajah kera, bermata bundar melotot/mendelik.
  3. Wong Sekama-kama : Tidak bisa disebutkan dimana menetapnya, karena banyaknya tak terhitung jumlahnya dan ada di segala tempat.
  4. Wong Tanbya : Perawakannya tinggi dan besar, bermata biru, berwajah lebar.
  5. Wong Selatra : Perawakannya sesuai kehendaknya, mengetahui segala rencana.
  6. Wong Gamang : Semua jenis makhluk halus.

Manusia yang merupakan pengikut dari Raja Purusada, 8.000 orang.

Manusia yang tercipta dari tanah berkat yoga dari Bhatara Brahma dan Bhatara Guru.

Di Pasundan ada sosok yang dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung.

Barong Landung dan Ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya.

Dalam Bahasa Sunda istilah Badawang kadang bersinonim dengan wujud perawakan seseorang yang “tinggi besar”. Landung dalam Bahasa Bali juga berarti “tinggi besar”.

Di luar Nusantara zaman modern ini, mereka yang pernah bertemu dengan sosok-sosok ini menyebutnya dengan Big Foot dan Yeti.

Jika di zaman ini kita bertemu dengan sosok yang tinggi 2,5 meter dengan perawakan yang besar, sebutan kemungkinan besar, sebutan Raksasa lah yang akan kita gunakan untuk menyebutnya.

Maka selanjutnya penulis tertarik untuk menganalisa kisah lainnya yang berasal dari India, namun ditelaah dengan sudut pandang yang berbeda. Kemudian saya dipertemukan dengan sebuah buku yang berjudul Babad Dalem, ternyata isinya sejalan dengan analisa saya sebagai berikut:

Berawal dari kisah seorang Maharsi bernama Kasyapa, beliau beristri 2 (dua) orang, yang pertama adalah Diti (Danu), puteri dari Bhagawan Daksa, atau di Bali dikenal dengan sebutan Dewi Danu. Diti (Danu) berputera 4 orang, yaitu :

  1. Hiranyakasipu,
  2. Hiranyaksa,
  3. Mayadanawa, dan
  4. Writra Asura.

Mereka juga disebut sebagai Daitya (Deity-red) atau Danawa atau Asura. Kemudian, istri yang kedua adalah Aditi, putera-puteranya ada 8 orang, yang tertua bernama: Indra (yang kemudian disebut sebagai Dewa penguasa Swargaloka/Surga) dan yang terakhir bernama Wamana. Anak-anak dari Aditi sering disebut sebagai Sura, dan karena jumlahnya 8 maka disebut juga sebagai Astawasu dan mereka dikenal sebagai Aditya. Dari sini dapat kita lihat bahwa Sura (Dewa) dan Asura (Rakshasa) adalah berasal dari ayah yang sama, satu family.

Karena berlainan ibu, sering terjadi perselisihan dan perkelahian, dalam peperangan antara saudara tiri, antara Daitya dan Aditya selalu ada campur tangan Bhatara Wisnu.  Perselisihan dimulai dari sejak pemutaran gunung Mandara (Mandaragiri) untuk memperoleh Tirta Amertha (Air suci yang akan memberikan keabadian, A=tidak, Mertha=mati, tidak akan pernah mati, immortal).

Dikisahkan pada zaman Satyayuga, para Sura (Dewa) dan Asura (Rakshasa) bersidang di puncak gunung Mahameru untuk mencari cara mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) bersabda, “Kalau kalian menghendaki tirta amerta tersebut, aduklah lautan Ksera (Kserasagara), sebab dalam lautan tersebut terdapat tirta amerta. Maka dari itu, kerjakanlah!

Setelah mendengar perintah Sang Hyang Nārāyana, berangkatlah para Sura dan Asura pergi ke laut Ksera. Terdapat sebuah gunung bernama Gunung Mandara (Mandaragiri) di Sangka Dwipa (Pulau Sangka), tingginya sebelas ribu yojana. Gunung tersebut dicabut oleh Sang Anantabhoga beserta segala isinya. Setelah mendapat izin dari Dewa Samudera, gunung Mandara dijatuhkan di laut Ksira sebagai tongkat pengaduk lautan tersebut. Seekor kura-kura (kurma) rakshasa bernama Akupa yang merupakan penjelmaan Bhatara Wisnu, menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia disuruh menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.

Naga Basuki dipergunakan sebagai tali, membelit lereng gunung tersebut. Dewa Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas. Setelah siap, para Dewa, rakshasa dan asura mulai memutar gunung Mandara dengan menggunakan Naga Basuki sebagai tali. Para Dewa memegang ekornya sedangkan para Rakshasa memegang kepalanya. Mereka berjuang dengan hebatnya demi mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh. Gunung Mandara menyala, Naga Basuki menyemburkan bisa membuat pihak Rakshasa kepanasan. Lalu Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para Asura. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat lautan Ksira mengental, pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.

Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar. Racun tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Bhatara Siwa kemudian meminum racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha (Sanskerta: Nila: biru, Kantha: tenggorokan). Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun muncul, yaitu:

  1. Sura, Dewi yang menciptakan minuman anggur
  2. Apsara, kaum bidadari yang kemudian ditempatkan di kahyangan/Swargaloka/Sorga
  3. Kostuba, permata yang paling berharga di dunia
  4. Uccaihsrawa, dijadikan kuda para Dewa
  5. Kalpawreksa, pohon yang dapat mengabulkan keinginan ditempatkan di Swargaloka
  6. Kamadhenu, sapi pertama dan ibu dari segala sapi
  7. Airawata, dijadikan kendaraan Dewa Indra
  8. Laksmi, Dewi keberuntungan dan kemakmuran kemudian disebut sebagai Sakti/Istri Bhatara Wisnu

Akhirnya keluarlah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta. Karena para Dewa sudah banyak mendapat bagian sementara para Rakshasa tidak mendapat bagian sedikit pun, maka para Rakshasa ingin agar tirta amerta menjadi milik mereka. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para Rakshasa dan Gunung Mandara dikembalikan ke tempat asalnya, Sangka Dwipa.

Melihat tirta amerta berada di tangan para Rakshasa, Bhatara Wisnu memikirkan siasat bagaimana merebutnya kembali. Akhirnya Bhatara Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik, bernama Mohini. Wanita cantik tersebut menghampiri para Rakshasa. Mereka sangat senang dan terpikat dengan kecantikan wanita jelmaan Wisnu. Karena tidak sadar terhadap tipu daya, mereka menyerahkan tirta amerta kepada Mohini. Setelah mendapatkan tirta, wanita tersebut lari dan mengubah wujudnya kembali menjadi Bhatara Wisnu. Melihat hal itu, para rakshasa menjadi marah. Kemudian terjadilah perang antara para Dewa dengan Rakshasa. Pertempuran terjadi sangat lama dan kedua pihak sama-sama sakti. Agar pertempuran dapat segera diakhiri, Bhatara Wisnu memunculkan senjata cakra yang mampu menyambar-nyambar para Rakshasa. Kemudian mereka lari tunggang langgang karena menderita kekalahan. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para Dewa.

Para Dewa kemudian terbang ke Wisnuloka, kediaman Bhatara Wisnu, dan di sana mereka meminum tirta amerta sehingga hidup abadi. Seorang Rakshasa yang merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika mengetahui hal itu, kemudian ia mengubah wujudnya menjadi Dewa dan turut serta meminum tirta amerta. Singkat cerita, Rakshasa ini pun terbunuh.

Perselisihan dan perang terus berkelanjutan, akhirnya Indra berhasil membunuh Writra Asura dan Mayadanawa (sekalipun sebelumnya Mayadanawa sempat mengobrak-abrik Swargaloka).

Di masa yang lain, Hiranyaksa yang mengetahui bahwa bumi akan tenggelam ke dalam lautan kosmik sehingga akan memasuki tempat antah berantah di antariksa. Daripada menjadi tempat perselisihan, Hiranyaksa bermaksud membiarkan bumi tenggelam ke dalam lautan kosmik tersebut. Namun Hiranyaksa harus bertarung dengan Bhatara Wisnu yang mengambil wujud sebagai Waraha yang bermaksud tidak akan membiarkan bumi tenggelam ke dalam lautan kosmik (blackhole-red). Namun Bhatara Wisnu akhirnya mampu membunuh Hiranyaksa.

Kakak dari Hiranyaksa, yaitu Hiranyakasipu gemar bertapa, melakukan olah spiritual, hingga pada kekuatan tapanya yang maksimal beliau mendapatkan anugrah bahwa tidak dapat dibunuh oleh siapa pun, tidak oleh Dewa, Raksasa, Binatang, dan berbagai makhluk yang ada di jagat raya. Beliau juga tidak dapat dibunuh dengan senjata apa pun, tidak dapat dibunuh saat siang atau pun malam, di luar atau pun di dalam ruangan.

Anak dari Hiranyakashipu bernama Prahlada, dia di didik oleh Dewarsi Narada, sehingga dia adalah pemuja Bhatara Wisnu yang taat. Atas kejadian yang sebelumnya menimpa saudara-saudaranya, maka Hiranyakashipu melarang anaknya untuk memuja Bhatara Wisnu. Sampai pada titik akhir kesabarannya, Hiranyakashipu akan membunuh anaknya sendiri.

Namun, mengetahui seorang pemuja setianya yang akan dibunuh, dan dengan mengetahui kekuatan dan kedigdayaan Hiranyakasipu yang bertubuh tinggi besar, maka Bhatara Wisnu pun mengambil wujud perpaduan yang disebut Narashimha, bertubuh manusia tinggi besar (rakshasa), berkepala singa, sebagai perpaduan dari dewa-manusia raksasa-binatang. Kemudian Hiranyakasipu dibunuh pada saat pergantian waktu siang menuju malam (sandyakala/maghrib), di bawah pintu masuk (tidak di luar/dalam ruangan), dengan menggunakan cakar singa yang merupakan kuku jari tangan Narashimha sendiri (tidak dengan senjata).

Setelah kejadian itu, seluruh Kerajaan-kerajaan Rakshasa (manusia bertubuh tinggi dan besar) diserahkan kepada Prahlada. Kerajaan-kerajaan Rakshasa atau Daitya itu terletak di pulau-pulau yang lazim disebut Saptadwipa. Singkat cerita, Prahlada memiliki seorang anak (versi lain mengatakan cucu) yang bernama Bali. Kerajaan yang dipimpin oleh Prahlada diserahkan kepada Bali. Sedangkan Prahlada pergi ke hutan untuk bertapa. Sesuai dengan perilaku ayahandanya, Maharaja Bali  suka berderma (memberi sedekah) kepada para brahmana dan orang-orang tidak mampu, beliau juga mendirikan Kahyangan-kahyangan (Candi/Pura sebutan saat ini) sebagai tempat persembahyangan bagi rakyatnya. Pusat kerajaan Maharaja Bali ada disekitar Gunung Udaya, menurut catatan dari India yang ditemukan, Gunung Udaya dikatakan sebagai tempat matahari terbit. Gunung Udaya tidak lain adalah nama lain dari Gunung Tohlangkir, sekarang disebut Gunung Agung.

Awatara Wisnu - Wamana

Awatara Wisnu - Wamana (Brahmana Kerdil)

Dengan kebijaksanaan dan begitu terayominya rakyat Maharaja Bali menimbulkan irihati dari Dewa Indra, karena kebajikan Maharaja Bali, mungkin saja singgasana swargaloka (sorga) akan beralih kepada Maharaja Bali, nama dan perbuatan Maharaja Bali begitu termasyur di kalangan para Dewa, manusia dan Danawa. Dewa Indra mengajukan persoalan ini kepada Bhatara Wisnu, dan meneliti dasar kecurigaan Dewa Indra yang dikatakan bahwa kebajikan yang dilakukan Maharaja Bali adalah sekedar daya upaya untuk merendahkan jasa Dewa Indra. Atas permintaan Dewa Indra dan Ibundanya (Aditi) maka kemudian Bhatara Wisnu menjelma sebagai anak dari Aditi yang bernama Wamana yang kemudian menjadi Brahmana Kerdil (kerdil menurut ukuran zaman itu, dijaman para raksasa, ini merupakan cikal bakal manusia cerdas yang tidak lagi tinggi besar -pen).

Wamana pergi ke istana kerajaan untuk menguji Maharaja Bali. Brahmana Wamana ini diterima dengan baik hati oleh Maharaja Bali, beliau mengatakan maksud kedatangannya sebagai Brahmana miskin, beliau meminta perkenan Maharaja Bali untuk mendirikan sebuah pondok kecil di atas tanah milik Maharaja Bali, dengan ukuran sepanjang tiga langkah kaki sang brahmana kerdil.

MaharajaBali menjawab permintaan itu :
Oooh… Brahmana!, mengapa tuan meminta hanya tiga langkah kaki dari seorang Maharaja dermawan seperti saya ini, permintaan itu akan memalukan.”

Brahmana kerdil itu menjawab :
Orang yang merasa tidak puas dengan tanah yang berukuran tiga langkah kaki, akan tidak puas pula walaupun diberi pulau-pulau, kepuasan baginya akan tidak pernah ada, bila pada dirinya masih ada cinta artha, kekayaan dan kesenangan. Tanah yang sekian itu telah cukup bagi saya.

Permintaan itu terpaksa disetujui oleh Maharaja Bali dengan bersumpah memakai air sungai Mandara di tangannya. Kemudian Brahmana kerdil itu berubah menjadi Triwikrama, Dewa yang luar biasa besarnya, tanah milik Maharaja Bali pun mulai diukurnya, kakinya yang pertama diinjakkan di atas Gunung Udaya (Gunung Agung), yang kedua di atas Gunung Mahameru (Gunung Semeru/Swargaloka) dan yang terakhir tidak menemukan lahan lagi, Maharaja Bali tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali menyerahkan kekuasaannya di tiga dunia kepada Wisnu. Maka kemudian Maharaja Bali merelakan kepalanya sebagai tempat berpijak yang ketiga. Maka Wamana meletakkan langkahnya yang ketiga di kepala Bali sekaligus memberikannya keabadian atas kemurahan hatinya.

Dengan demikian, ketiga dunia menjadi milik Wisnu. Lalu Wisnu menyerahkan kekuasaan terhadap surga kepada Indra. Sementara itu, Bali dan para raksasa pengikutnya tidak memiliki tempat tinggal lagi sejak Wamana mengambil alih wilayah kekuasaan mereka. Karena sikap Bali yang dermawan, Wisnu mengizinkannya tinggal di Patala (alam bawah tanah), dan menganugerahkan umur yang panjang kepadanya. Wisnu juga mengubah namanya dari Bali menjadi Mahabali, sebab ia berjiwa besar.

Menurut apa yang sudah tersebar umum, Wamana dianggap memberi pelajaran kepada Bali bahwa kesombongan dan keangkuhan harus ditinggalkan jika ingin mendapat kemajuan dalam hidup, dan harta melimpah seharusnya tidak diminta sebagai anugrah sebab kekayaan mudah lenyap. Padahal, Maharaja Bali justru menepati janji yang telah dibuatnya. Akhirnya Wamana pun berubah wujud sebagai Mahawisnu. Ia merasa senang dengan keteguhan hati Maharaja Bali dan sikapnya yang setia terhadap janji. Maka dari itu, Wisnu menamainya Mahabali karena ia merupakan seorang Mahatma (berjiwa besar). Ia mengizinkan Mahabali pergi menuju alam spiritual untuk bergabung dengan Prahlada dan makhluk illahi lainnya. Mahawisnu juga menyatakan bahwa Mahabali boleh memerintah seluruh dunia pada yuga (zaman) berikutnya. Mahabali akan memimpin kembali seluruh dunia pada Manwantara 8, dengan menjabat sebagai Indra.

Mayadanawa memiliki seorang puteri yang bernama Mandodari, dikawinkan dengan Rawana.

Tentang Rawana yang berselisih dengan Rama (penjelmaan Wisnu), silahkan baca lebih lengkap analisanya di Buku Ramayana Tattwa yang dalam bentuk novel. Secara sekilas, dapat disimpulkan hasil analisanya 180 derajat berbeda dengan versi pewayangan atau kisah dari India. Tentang Sita yang merupakan anak dari Rawana yang hilang, Bhibhisana/Whibhisana yang berhianat membongkar kelemahan saudara-saudaranya sehingga Rama dapat mengalahkan Rawana yang membela tanah airnya dari invasi Rama. Hingga akhirnya Bhibhisana/Whibhisana hidup kesepian sendirian setelah usainya perang, karena saudara-saudaranya dan para rakyatnya (Rakshasa) semua gugur membelah tanah airnya. Setidaknya sedikit terjawab mengapa Rawana menculik Sita dari Rama, berdasar pada sejarah perselisihan masa lalu antara para Rakshasa dan para Dewa yang dibantu Bhatara Wisnu. Maka Rawana tidak setuju Sita sebagai anak dari Rawana jika menikah dengan Rama.

Simak juga kisah dari Sutasoma vs Raja Purusada, Aji Saka vs Dewata Cengkar, dsb. Dimana disana sebenarnya tentang penundukan kaum Rakshasa di muka bumi. Dari tempat-tempat yang dikisahkan dan situs-situs tertentu, maka diduga kuat bahwa tempat kejadian perkara ada di Dwipantara.

Analisa dan kisah-kisah ini saya angkat bukan mencari siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi menganalisa kemungkinan adanya doktrin sejak zaman purbakala, antara Dewa (Malaikat) dengan Rakshasa (Iblis), yang membuat kita keliru menempatkan sesuatu pada posisi semestinya atau agar kita tidak ikut-ikutan alias kita bisa memutus konflik berkepanjangan yg menggunakan tradisi2 (agama) sebagai alat kekuasaan.

Parokshaghana Dirghantara

author