Percaya dengan adanya Tuhan (Brahman)

No comment 1288 views

Percaya dengan adanya Tuhan (Brahman)

Pokok keimanan pertama dalam Panca Sradha, yang mendasari keyakinan gama bali adalah meyakini akan keberadaan Tuhan (Brahman). Kepercayaan kepada Tuhan ini merupakan titik tolak adanya sebuah agama. Gama Bali meyakini bahwa Tuhan itu ada dimana-mana dan merupakan sumber segalanya.

Sarwam khalv idam brahma…” (Chandogya Upanisad III.14.1)

Artinya: “Semua yang ada sesungguhnya Brahman…

Sesungguhnya, setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini, bertitik tolak pada keyakinan yang Percaya dengan adanya Tuhan (Brahman) Yang Maha Kuasa. Banyak hal yang mendorong kita harus percaya dengan adanya Tuhan (Brahman) itu dan berlaku secara alami. Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban di dunia ini, menyebabkan kepercayaan itu semakin mantap. Semuanya itu pasti ada sebab- musababnya, dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhanlah yang mengatur semuanya ini, Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala yang ada.

Kendati kita tidak boleh cepat-cepat percaya kepada sesuatu, namun "percaya" itu penting dalam kehidupan ini. Banyak sekali kegiatan yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah berdasarkan kepercayaan saja. Setiap hari kita menyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Demikian pula adanya bulan dan bintang yang hadir di langit dengan teratur. Belum lagi oleh adanya berbagai mahluk hidup dan hal-hal lain yang dapat menjadikan kita semakin tertegun menyaksikannya. Adanya pergantian siang menjadi malam, adanya kelahiran, usia tua, dan kematian, semuanya ini mengantarkan kita harus percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber dari segala yang terjadi di alam semesta ini.

Karena agama itu adalah kepercayaan, maka dengan agama pula kita akan merasa mempunyai suatu pegangan iman yang menambatkan kita pada satu pegangan yang kokoh. Pegangan itu tiada lain adalah Tuhan, yang merupakan sumber dari semua yang ada dan yang terjadi. Kepada-Nya-lah kita memasrahkan diri, karena tidak ada tempat lain dari pada-Nya tempat kita kembali. Keimanan kepada Tuhan ini merupakan dasar kepercayaan Umat Bali. Inilah yang menjadi pokok-pokok keimanan Gama Bali.

Percaya dengan adanya Tuhan (Brahman) mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri.

Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya.

Tuhan merupakan keuniversalan dari segala apa yang telah ada di dunia Bila kita megkaji Kitab Suci Veda maupun praktek keagamaan di India dan di Indonesia (Bali) maka Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan berbagai nama. Berbagai wujud digambarkan untuk Yang Maha Esa itu, walaupun Tuhan Yang Maha Esa tidak berwujud dalam pengertian materi maupun dalam jangkauan pikiran manusia, dan di dalam bahasa sansekerta disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia (Monier, 1993 : 9), dan dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan: “Tan kagrahita dening manah mwang indriya” (Tidak terjangkau oleh akal dan indriya manusia).

Bila Tuhan Yang Maha Esa tidak berwujud, akan muncul pertanyaan mengapa dalam sistem pemujaan kita membuat bangunan suci, arca, pratima, pralingga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain.

Bukankah semua bentuk perwujudan maupun persembahan itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud dalam pikiran manusia?

Sebelum kita tinjau lebih jauh lagi membahas tentang Tuhan Yang Maha Esa, kita tinjau definisi atau pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa yang di kemukakan oleh maharsi Vyasa yang dikenal juga dengan nama Badarayana dalam bukunya: Brahmasutra, Vedantasastra atau vedantasara,

Jadi menurut sutra (kalimat singkat dan padat) ini, Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Brahman ini merupakan asal muasal dari segalanya. Demikianlah pula, Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hidup.

Segala yag ada di dunia ini, merupakan perwujudan Tuhan yang Maha Esa, beliau yang selalu meresapi segala pelosok tempat, dan dapat menjangkau segala tempat, tidak terhalang langkahnya oleh siapapun, tidak terbatas oleh ruang dan waktu pada saat yang bersamaan.

Oleh sebab itu beliau bersifat “Wyapi-Wyapaka Nirwikara” artinya: Ada di mana-mana namun tidak terpengaruh oleh yang ada bahkan kepori-pori sudut terkecil pun beliau ada, maka dari itu kita sebagai salah satu ciptaannya harus saling menghargai segala ciptaan yang ada karena itu sesungguhnya adalah Tuhan.

Dari pengertian diatas apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaran-Nya, maka dari itu ada yang menyebutkan yang tepat untuknya yakni Neti-Neti (Na+iti, na+iti) Bukan ini bukan itu. Semua yang ada dan yang tiada itu hanya bisa kembali ke Tuhan.Dengan demikian Sang Hyang Widhi adalah Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Tuhan sebagai Widhi disebut bersthana di luhuring akasa, yakni diatas angkasa, nan jauh disana, Tuhan yang mahasuci, beliau akan selalu memerciki sinar sucinya terhadap insan yang benar-benar memujanya. Memeberikan cahaya terang atau jalan yang baik bagi umat yang memujanya. Tuhan yang selalu memberikan kecemerlangan pikiran agar senantiasa pikiran yang tertuju terhadap beliau selalu jernih tanpa ada hal-hal yang kotor menyelimuti pikiran kita.

Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah "telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata", namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada.

Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.

Seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepala_Nya, semua mata adalah mata-Nya, semua tangan adalah tangan-Nya. Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa, tetapi Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dengan rasa hati, bagaikan garam dalam air. Ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Demikian pula seperti adanya api di dalam kayu, kehadirannya seolah-olah tidak ada, tapi bila kayu ini digosok maka api akan muncul.

Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya.

Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.

demikian beberapa alasan yang menguatkan keyakinan umat bali dalam hal ini Gama Bali meyakini dan Percaya dengan adanya Tuhan (Brahman). semoga artikel ini bermanfaat,

author