Perjuangan Saya Mengajegkan Budaya Bali

No comment 136 views

Perjuangan Saya Mengajegkan Budaya Bali

Surya Anom

Perjuangan saya ngajegang Agama, Adat, Tradisi dan Budaya Bali, bukan
dilatar belakangi kebencian ataupun kemarahan terhadap suatu aliran atau kelompok Sampradaya.  Tapi saya mencintai peninggalan leluhur Nusantara ini, dimana ketika Majapahit runtuh, ajaran adiluhung ini tersisa di Bali, dan berkembang serta menjadi kuat di Bali, sampai membuat Bali mendapat julukan the last heaven in the world.

Kebetulan saat ini yang menyolok sekali menggroti Bali adalah kelompok Hare Krishna (HK) atau International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) dan juga ada bhakta-bhakta sampradaya lainya juga.

Saya sempat Whatsapp (WA)an dengan seorang tokoh HK, dia tidak mengakui terhadap orang-orang yang mengaku bhakta HK yang bikin kegaduhan ini. Tentu saya tidak betul-betul percaya dengan pernyataan tersebut, karena bisa saja motifnya untuk lepas tangan saja.

Tapi tetap saya menghargai pernyataannya secara pribadi. Dan tentunya akan sangat gentle bila dia mau men-state di publik bahwa orang-orang yang mengatas namakan HK yang menurutnya bukan bakta HK. Agar kesan lempar batu sembunyi tangan tidak ada.

Kembali ke asas perjuangan saya, karena kecintaan saya.  Dimana munculnya rasa cinta ini karena saya telah memahami, meresapkan, merasakan dan melaksanakan ajaran Hindu Bali.

Dengan praktek ajaran Hindu Bali, saya bisa memperoleh kedamaian batin, serta saya mampu untuk membuat keterhubungan yang harmoni  dengan Tuhan, Manusia dan Alam (Tri Hita Karana).  Dimana kemampuan menjaga keterhubungan yang harmoni ini selalu mendatangkan kebahagiaan sejati.

Praktek Hindu Bali adalah praktek batin dengan  dukungan Yantra dan Mantram.  yang tentunya harus didasari  dengan praktek-praktek kejujuran, welas asih, kepedulian dan keadilan.  Malahan saya menemukan bahwa kejujuran itu adalah akarnya Dharma.  Tanpa kejujuran, maka Dharma tidak mungkin bisa ajeg.

Ajaran ini yang menjadi dasar orang bali zaman dulu mendidik moralitas putra-putrinya.  Saya yang kebetulan generasi yang lahir  Tahun 50an, masih terngiang pesan orang tua saya bahwa “apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai”.  Ini dasar kejujuran yang dipatri didalam diri saya. Dan saya menggunakan mantram setelah tua, setelah saya punya kemampuan batin yang cukup mapan untuk menguncarkan mantram agar mencapai sasaran yang tepat, yang bisa dirasakan sendiri.

Saya kemudian merenungi ungkapan yang menyatakan bahwa “Weda takut dengan orang bodoh”.  Ternyata saya menemukan makna kata bodoh ini.  

Siapa yang dimaksud sebagai orang bodoh?

Tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang yang belum punya kemampuan batin yang mapan. Bagaimana untuk memperoleh kemampuan batin yang mapan?

Disamping mempraktekan kejujuran, welas asih, kepedulian dan keadilan, juga harus ada lelaku yang mampu mengolah batin.  Disana kembali saya teringat akan praktek-praktek yang dilakukan para penglingsir zaman dulu.  Beliau banyak melakukan upawasa, tapa, yoga sampai samadi.

Didalam Hindu Bali, para Rsi zaman dulu, juga sudah menyiapkan yang disebut Panca Yadnya, yaitu suatu praktek untuk terjadi proses batin dalam keterhubungan  dengan  keniskalaan.

Sungguh sudah lengkap, sesuai tingkat kemampuan batin dan sangat gampang dilaksanakan.  Lagipula semua ada di Bali atau di jawa untuk semeton jawa, begitu pula ditempat semeton lainnya dengan konsep Desa Mawicara.

Nah kenapa ada orang bali yang tidak mensyukuri lahir menjadi orang Bali,  dengan mempraktekkan ajaran asing yang jauh dari lengkap, dan lebih tragis, kenapa ada mahluk kepupungan yang minta agar ajaran Hindu Bali harus back to veda?

Semua ini tak lain karena batin yang kering, dan tidak menjalani  dengan
benar tahapan Catur Asrama, yaitu tidak mempraktekan kejujuran, welas asih, kepedulian dan keadilan secara bersungguh sungguh ketika ada dilevel batin Brahmacari dan Grahasta.

Jadi manusianya yang bermasalah, bukan ajarannya yang tidak  lengkap.  Sehingga jalan pintas yang dilakukan sejatinya hanya mencapai atribut saja sebagai orang bijak, orang suci, orang mulia sampai orang Siddhi. Dan manusia spt ini yang mentriger kegaduhan, karena merasa punya kewajiban untuk cari pengikut.  Beda  dengan ajaran Hindu Bali yang mewajibkan kita untuk memperbaiki diri, dan tidak ada penekanan untuk cari pengikut. [oleh Surya Anom]

author