Raja-Raja Bali Kuno

No comment 91 views

Raja-Raja Bali Kuno

Runutan nama raja yang berkuasa di Bali, bersumber dari Prasasti, Purana, Piagem, Babad, Prakempa dan Pamancangah lainnya, berikut:

  1. Sri Kesari Warmmadewa (isaka 804-835)
  2. Sri Ugrasena (isaka 837-858).
  3. Sri Haji Tabanendra Warmmadewa (877-889).
  4. Sri Jaya Singa Warmmadewa (isaka 892).
  5. Sri Janasadhu Warmmadewa (isaka 897).
  6. Sri Maharaja Cri Wijaya Mahadewi (isaka 905).
  7. Sri Dharmodayana
    Raja Sri Ajnadewi yang berkuasa setelah Sri Udayana. Hanya satu prasasti dikeluarkan oleh raja Sri Ajnadewi yang disebut prasasti Sembiran, tahun Isaka 938/1016 Masehi. Di dalam Purana Bali Dwipa, Sri Udayana meninggal dunia Isaka 940/1018 Masehi, dicandikan di Banu Wka. Sri Ajnadewi tidak muncul dalam purana mana pun. Begitu pula dalam teks Purana Bali Dwipa, tertulis Sri Marakata berkuasa bersama-sama ibunya sebagai penguasa Bali pada era itu.
    Sedangkan dalam prasasti yang dikeluarkan tidak kelihatan bahwa raja Sri Marakata berkuasa bersama ibunya. Kalau boleh diartikan secara bebas, Sang Ajnadewi artinya seorang dewi yang mahir dalam bidang ilmu waskita. Dalam dongeng serat calonarang yang ada di Bali, permaisuri Sri Udayana yang bernama Sri Mahendratta Gunaprya Dharmapatni sering dihubungkan ahli dalam ilmu mistis. Raja ini dimakamkan di Buruwan, dikuburanya terlukis arca Durga Mahisasura Wardhini. Arca ini menguatkan dugaan orang bahwa Mahendradatta sebagai penganut ajaran-ajaran ilmu gaib dan Dewi Durgalah yang menganugrahinya kesaktian. Jadi Sri Ajnadewi nama lain dari Sri Mahendratta Gunapriya Dharmapatni
  8. Sri Wardana Marakata (isaka 944-948).
  9. Sri Haji Hungsu .
    Raja Sri Aji Hungsu berkuasa pada isaka 971-999, kemudian muncul nama Sri Walaprabhu yang menggantikannya (isaka 1001-1010) . Raja Walaprabhu mengeluarkan tiga prasasti yang disebut prasasti Babahan, Klandis, Babi A, menjadi raja Bali tahun 1079–1088 Masehi. Walaprabhu diperkirakan seorang janda yang menjadi raja, kemungkinan setelah Sri Aji Hungsu meninggal, kemudian tapuk pemerintahan diganti oleh sang permaisuri yang seorang janda, maka disebut Waluprabu. Atau analisis lain, dalam Kamus Jawa Kuna, kata walaprabhu berasal dari bahasa sanskerta, dari urat kata wala dan prabhu, Wala artinya muda, kekanakan, tidak tumbuh atau belum berkembang penuh, muncul baru, tolol, junior. Prabhu artinya raja, Jadi walaprabhu artinya raja muda, raja junior. Dengan demikian setelah Sri Aji Hungsu meninggal tapuk pemerintahan digantikan oleh permaisuri bersama putri mahkota yang masih kecil, bersama-sama menjadi penguasa Bali pada era itu.
  10. Sri Sakalindu Kirana
    Dalam purana, Sri Aji Hungsu digantikan oleh Sri Sakalindu Kirana (isaka 1010-1023) , anak dari Sri Aji Hungsu yang beribu bangsawan. Hanya satu prasasti yang dikeluarkan raja Sri Sakalindu Kirana yang disebut prasasti Pengotan, Isaka 1010/1088 Masehi. Purana Bali Dwipa, Purana Pura Pucak Bukit Gede, raja Sri Sakalindu Kirana berkuasa selama 20 tahun.
  11. Sri Suradhipa (isaka 1037-1041).
  12. Sri Jayasakti
    Raja Sri Jayasakti, Sri Gnijaya Sakti, Sri Gnijaya dan Sri Ragajaya diperkirakan orang yang sama, karena nama yang seidentik. Masa pemerintahan ke empat nama raja ini, menurut tahun Prasasti dan Purana, yang dikeluarkan berkisar tahun 1119–1177 Masehi. Sri Jayasakti (isaka 1055-1072) , Sri Gnijaya (isaka 1072-1077), Sri Ragajaya (isaka 1077-1099). Dalam prasasti nama Sri Gnijaya Sakti dan Sri Gnijaya tidak muncul, jadi tidak ada prasasti yang dikeluarkan, sebagaimana umumnya raja raja yang lain. Begitu pula dengan raja Sri Ragajaya, hanya mengeluarkan satu prasasti yang disebut Prasasti Tejakula, tahun Isaka 1077/1155 Masehi. Sedangkan Raja Sri Jayasakti mengeluarkan prasasti terakhir pada tahun Isaka 1072/1150 Masehi, yang disebut Prasasti Sading Kapal. (Poeger, 1964:105). Tetapi dalam naskah Purana Bali Dwipa, Piagem Dukuh Gamongan, Prasasti Pura Puseh, Sading, Kapal, Purana Pura Batu Karu, Purana Pura Pucak Bukit Gede, dan beberapa naskah lainnya, akan terlihat jelas kisah kehidupan para raja Bali Kuna itu. Teks Piagem Dukuh Gamongan dan Prasasti Pura Puseh Sading, Kapal, nama raja Sri Jayasakti identik dengan Sri Gnijaya Sakti, begitu juga putranya diberi nama sama dengan ayah kandung Sri Gnijaya juga (tanpa ident sakti di belakang namanya). Sedangkan nama Sri Ragajaya tidak muncul dalam purana manapun, Dalam kamus Jawa Kuna (Zoetmulder, 1994:899), kata raga artinya warna merah, Warna merah identik dengan warna Api atau Gni. Dari analisis ini raja Sri Ragajaya adalah nama lain dari Sri Gnijaya, raja ini banyak menjadi titik awal dalam penulisan piagem, purana, babad, prakempa, pamancangah lainnya yang ada di Bali masa kini.
  13. Sri Maharaja Haji Jayapangus (isaka 1099-1103).
  14. Sri Hekajaya Lancana (isaka 1103-1122).
  15. Sri Adi Kuti Ketana (isaka 1122-1126).
  16. Sri Adi Dewa Lancana (isaka 1126-).
  17. Sri Indra Cakru (isaka 1172).
  18. Pasukan Kertanegara (1206-1214).
  19. Rajapatih Sri Jaya Katong (isaka 1214-1218).
  20. Sri Taruna Jaya
    Sri Taruna Jaya identik dengan Sri Jayasunu. Catatan prasasti tembaga di Banjar Srokodan, Perbekel Abuan, Susut, Bangli, dialih aksara dan diterjemahkan oleh Putu Budiastra, disebut prasasti Srokodan (Bhatara Guru), satu-satunya prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Taruna Jaya, tahun Isaka 1246/1324 Masehi untuk desa Hyang Putih dan sekitarnya. Tetapi dalam Piagem Dukuh Gamongan, Sri Dewa Lencana menurunkan putra Sri Taruna Jaya. Tidak muncul Sri Taruna Jaya menurunkan putra buncing (kembar laki perempuan) Sri Masula dan Sri Masuli (Prabhu buncing). Dalam Purana Bali Dwipa muncul Sri Jayasunu mempunyai putra buncing bernama Sri Masula dan Sri Masuli menjadi raja Bali tahun 1324 Masehi. Sri Jayasunu satupun tidak mengeluarkan prasasti sebagai mana raja yang lain. Sedangkan dalam salinan lontar Aji Murti Siwasasana ning Bwana Rwa, milik Desa Pakraman Gamongan, muncul nama Sri Jayasunu yang mengeluarkan pedoman itu disaat rapat besar di Majapahit. Dan beberapa purana lain muncul nama Sri Jayasunu yang menjadi pedoman awal dalam penulisan. Kamus Jawa Kuna, oleh P.J. Zoetmulder (1994:1147), sunuartinya putra, anak, keturunan. Jadi Sri Jayasunu artinya raja keturunan Jaya. Tidak erdapatnya prasasti-prasasti Bali yang dikeluarkan oleh raja Sri Jayasunu, membuat kekaburan perjalanan sejarah keturunan raja-raja Bali Kuno. Yang dimaksud keturunan Jayasunu (turunan jaya) disini adalah turunan dari Sri Jayasakti nama lain Sri Gnijaya Sakti yang menjadi raja Bali pada tahun Isaka 1041/1119 Masehi, yang menurunkan 5 putra. Putra ke dua dari Sri Jaya Sakti bernama Sri Maha Sidhimantradewa, menurunkan putra bernama Sri Dewa Lencana, menurunkan putra Sri Taruna Jaya. Dengan demikian Sri Taruna Jaya adalah turunan Jaya juga, tiga generasi setelah Sri Jaya Sakti. Dari analisis ini Sri Jayasunu adalah turunan Jaya versi purana, identik dengan Sri Taruna Jaya turunan Jaya versi Prasasti Srokodan dan Piagem Dukuh Gamongan. Demikian juga dengan putra dari Sri Jayasunu yaitu Sri Masula-Sri Masuli, dalam prasasti satu pun tidak ada disebutkan atas nama Sri Masula-Sri Masuli, dalam purana Bali Dwipa setelah menjadi raja beliau disebut Bhatara Mahaguru Dharma Hutungga Warmmadewa
  21. Sri Masula-Masuli (isaka1246-1250).
  22. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (isaka 1259-1265).
  23. Expansi Majapahit (isaka 1265/1343 M).
  24. Kyayi Agung Pasek Gelgel (isaka 1265-1272).
  25. Dalem Samprangan (isaka 1272).
  26. Dalem Gelgel/Sri Kresna Kepakisan (isaka1302).
  27. Dalem Waturenggong (isaka 1382).

author