Renungan Dharma – Catur Purusa Artha

No comment 36 views

Renungan Dharma - Catur Purusa Artha

Hindu Bali mengajarkan kita apa yang disebut Dharma, Artha, Kama dan Moksa, yang disebut Catur Purusa Artha. Ini adalah suatu jalan hidup yang sejati. Suatu realita yang bisa dilihat, dialami dan tanpa ini tidak mungkin manusia hidup dengan tentram.

Realitas ini bukan suatu dogma, apalagi dogma yang mengatakan daging, cabe, bumbu-bumbuan dan lainya adalah makanan yang tidak satwika. Dan bahayanya dogma seperti ini adalah orang dengan Percaya-Diri memproklamirkan diri suci hanya karena tidak makan makanan tersebut diatas, padahal Kaya, Wak, Citta-nya tidak sesuai, tidak selaras dan tidak seimbang, artinya kejujuran tidak ada pada dirinya.

Kembali ke Catur Purusa Arta tersebut, bahwa orang Hindu Bali harus mencari, memperoleh, memiliki dan memakai harta/materi, karena ini akan memberikan kesenangan sebagai awal kesehatan dan kebahagian. Tapi semua harus dilandasi kebenaran atau Dharma. Bila ketiga hal ini menjadi habit dalam hidupnya, baru kemudian diperoleh kebahagian abadi didunia disaat masih hidup.

Orang miskin ataupun orang sakit tidak mungkin senang, apalagi bahagia.

Kebenaran atau Dharma ini bukan hal yang bisa dilakoni dengan hanya bicara, mendengar darma wacana, berpakaian aneh, atau tidak makan daging dan lain sebagainya.

Disinilah para leluhur yang sudah mencapai "Moksartham Jagadithaya Ca Iti Dharma" ber-sadana kepada orang-orang dan generasi berikutnya setelah beliau, dengan jalan memberi cara ber-Yadnya, yang didalam Hindu Bali di kelompokkan dalam Panca Yadnya, lengkap dengan upakara/prasarananya.

Batin brahmacari atau grahasta harus fokus, lascarya dan mantap melakukan yadnya ini, mengikuti Ida Sang Yajamana yang sudah mencapai batin Wanaprasta ataupun Biksuka, agar terjadi proses pembersihan atau pengembangan batin untuk meningkat yang lebih tinggi.

Dengan dasar melaksanakan dan diproses dengan Panca Yadnya juga memungkinkan untuk lebih lanjut mengambil jalan-jalan yang lebih khusus untuk mempercepat proses peningkatan spiritualitas. Seperti jalan Tantra.

Dalam melaksanakan Swadarma masing-masing juga didasari dengan Panca Yadnya.

Dan Panca Yadnya ini meng-create Adat Bali, Tradisi Bali dan Budaya Bali, yang kemudian terjadi suatu ikatan yang begitu kuat yang saling dukung, saling melengkapi, dan bila salah satu tidak ada maka akan menyebabkan semua itu tidak bisa dijalankan atau dilaksanakan.

Inilah kehidupan yang komprehensip, yang holistik dari suatu masyarakat yang memiliki Agama, Adat, Tradisi dan Budaya yang adiluhung.

Ribuan tahun ini sudah berjalan, dan ketika di Nusantara terjadi perubahan besar-besaran, hanya Bali tetap ajeg sebagai ratna mutu manikam, jambrut katulistiwa yang tetap bersinar dengan ajaran original manusia Nusantara. Mari tetap ajeg dalam Agama, Adat, Tradisi dan Budaya Bali. [oleh Surya Anom]

author