Renungan Dharma dari Bali

No comment 21 views

Renungan Dharma dari Bali

Rentannya orang-orang penganut Agama Hindu Bali terhadap ajaran-ajaran yang mengaku sesuai Weda, adalah karena tidak memahami ajaran ajaran yang ada di rontal-rontal kuno di Bali. Disamping itu, referensi yang dipakai lebih banyak ke kitab sastra India. Dan yang juga tidak kalah penting adalah rendah diri dalam bidang spiritual.

Ada dua dari ketiga hal tersebut yang cukup dominan, yaitu masalah referensi dan rendah diri.

Masalah referensi, generasi yang mulai sekolah di Tahun 1960-an, sejak dari SD sampai Perguruan tinggi mendapat pelajaran Agama lebih banyak dengan dasar-dasar ajaran sastra India, sehingga ajaran Agama secara teori yang didapat, ketika praktek dimasyarakat hampir semua tidak nyambung.

Kenapa tidak nyambung?

Karena tidak ada keselarasan dan konsistensi dari kerangka dasar Hindu di Indonesia, yaitu Tattwa, Susila, dan Upacara.

Kenapa tidak “selaras dan konsisten”?

Karena ke-Tattwa-an yang dipelajari dari sastra India atau sastra-sastra yang ditulis para pembawa aliran atau sekte-sekte. Sedangkan Susila dan Upacara dari ajaran asli Nusantara.

Disini kemudian muncul keluhan bahwa banten mahal, banten merepotkan, dan banten tidak efektif. Dimana keluhan ini muncul dari orang-orang yang hidup di kota, para kaum terpelajar, dan yang lebih menonjol adalah mereka yang suka membaca referensi sastra India atau tulisan-tulisan dari aliran-aliran yang masuk ke Indonesia di era Tahun 60an juga.

Dilain pihak, masyarakat di Desa Adat tidak pernah mengeluh, malahan selalu menjalankan Susila dan Upacara sesuai praktek para leluhurnya.

Berikutnya masalah rendah diri dalam hal spiritual. Ini terjadi karena orang-orang yang hidup di kota dan kaum terpelajar sering mendengar ceramah tentang spiritual dari orang luar, sehingga spiritual didefinisikan dan dikasi batasan-batasan dengan memakai bahasa yang indah dan penuh retorika, yang bisa menghipnotis para audiensnya. Dan para penceramah tersebut menempatkan diri sebagai orang yang sudah mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Padahal sejatinya belum seperti itu, malah kemungkinan spiritualitasnya nol, tapi EGO-nya yang tinggi, sehingga hanya dengan kepintaran otak mereka beretorika yang begitu memukau, apalagi diisi dengan kutipan-kutipan sloka berbahasa sansekerta.

Berbeda bila kita sering ke Pedanda Siwa atau Budha di geria-geria di Bali. Beliau ini selalu membuka dengan pengaksama sbg berikut :

Ampura bapa anak belog, liu ane ten bapa uning. Niki ane dapet utawi tepukin bapa...

Kalau kita mau membuka batin atau punya kebersihan batin yang cukup, maka ucapan beliau spt itu akan sangat bermakna tinggi. Dimana kata “dapet utawi tepukin” itu menunjukkan bahwa beliau menuturkan ajaran dari hasil praktek batin, bukan hanya hapalan buku atau rontal saja. Beliau sudah mengalami secara praktiyasa, atau beliau mengolah batin beliau dengan praktek Susila dan Upacara, sehingga memahami ke-Tattwa-an yang sejati. Itulah yang coba beliau paparkan bila kita tanya. Dan kita yang mendengarkan penjelasan beliau, harus melakukan praktek Susila dan Upacara untuk membuktikan kebenarannya.

Nah begitulah sekelumit pendapat, yang tentunya perlu pembuktian. Silahkan semeton Hindu Bali untuk betul-betul mempraktekkan Susila dan Upacara dengan benar dan didasari dengan Sraddha, sehingga bisa menemukan ke-Tattwa-an yang sejati. Bukan ke Tattwa-an yang didapat dengan mengutip tulisan-tulisan indah yang membuai, tanpa praktek sama sekali. Apalagi tulisan yang mencoba mengoreksi keyakinan orang lain, pasti akan menumbuhkan ego, bukan menumbuhkan spiritualitas. Ajaran yang menumbuhkan ego biasa dilakukan dengan cara-cara menghipnotis dengan bahasa-bahasa indah dan atribut yang menunjukkan si pelaku adalah orang suci, sehingga terjadi proses pencucian otak.

Sedikit kata-kata sederhana dari guru sejati:

...nak jangan percaya bahwa ini tepung dan itu kapur, sekalipun guru sudah menjelaskan bagaimana bedanya, karena itu sejatinya pemahaman orang lain, yang tidak memberi pengetahuan sejati kepada dirimu. Tapi bila kamu sudah mencicipi, dan tahu bedanya dari praktek langsung, itulah pengetahuan sejati untuk dirimu....” [Surya Anom]

author