Rwabhineda dan rahasia kebahagiaan

No comment 25 views

Rwabhineda Kain Poleng
dan rahasia kebahagiaan

Rwabhineda adalah salah satu kalimat yang sangat populer berkembang di Bali,yang secara sederhana berarti dua hal yang berbeda, yang karena wujud lengkapnya dalam sebuah kalimat adalah “rwabhineda tan hana dharma mangrwa” atau “dua hal yang berbeda namun sama karena tidak ada dharma yang dua. Kata ini kemudian menjadi salah satu bentuk ekspresi untuk mengungkapkan adanya dualitas, sebagaimana kain poleng yang disusun oleh paduan warna hitam dan putih yang demikian rapi dalam satu lembaran kain.

Lalu apa hubungan antara kata rwabhineda yang menyatakan dualitas ini dengan rahasia kebahagiaan?

Pertama, mungkin ada perlunya kita bahas sedikit mengenai apa saja yang menjadikan seseorang umumnya menderita dalam kehidupannya. Penyebab paling umum adalah karena ketidakmampuan menerima adanya dualitas dalam kehidupan.

Secara emosional ada kondisi senang dan ada rasa sedih di seberangnya, lalu rasa senang demikian diangankan dan rasa sedih demikian dijauhi sehingga saat sedih datang banyak yang tidak tahan lalu menjadi stress.

Ada keberhasilan dan ada kegagalan di seberangnya, sayangnya kebanyakan orang hanya ingin sukses namun tidak siap untuk menerima kegagalan.

Demikian pula dalam kaitannya dengan keberadaan manusia, kita menjumpai ada manusia yang menyenangkan dan ada manusia yang menjengkelkan dengan segala sikap, pemikiran dan perilakunya. Wajar kita suka pada orang yang menyenangkan, namun sayang kita terlalu mengharapkan bahwa semua manusia akan menjadi menyenangkan sehingga tidak mampu menerima adanya manusia yang tidak sesuai dengan katagori kita.

Kedua, sudah menjadi kecenderungan mendasar dan sekaligus cara kerja otak manusia untuk senantiasa mencari apa yang dianggap menyenangkan dan menghindari apa yang dianggap tidak menyenangkan. Kecenderungan ini sudah tertanam dengan alami dalam otak setiap manusia.

Kecenderungan ini memang adalah kecenderungan alami manusia, namun jika kita terlampau larut dalam kecenderungan ini maka secara alami pula kita akan membentuk mekanisme-mekanisme mental atau ego defense mecanism dalam mengatasi ketidaknyamanan yang sedang kita hadapi. Misalkan saja saat kita sedang mengalami kesedihan, kedukaan, kegagalan atau saat bertemu orang yang tidak menyenangkan, kita akan sekuat tenaga menghindar, menolak dan mencoba mengabaikan semua pengalaman tidak menyenangkan tersebut. Sayangnya, semakin kita menghindari dan menolak sebuah pengalaman akan semakin lemah pula kita terhadap kondisi tersebut.

Sekali lagi, semakin kita mencoba menolak dan menghindari sebuah pengalaman maka akan semakin melemah pula kita dalam mengadapi pengalaman tersebut.

Tentu saja tidak ada manusia yang ingin mengalami kesedihan, namun kesedihan adalah bagian alami dalam kehidupan, sisi uang berbeda dari kesenangan yang ada dalam satu kesatuan koin. Inilah rwabhineda. Namun kita demikian menolak dan membenci kesedihan, sampai-sampai kita lakukan segala hal untuk tidak merasa sedih, bahkan tidak jarang cara-cara yang digunakan adalah cara yang justru menimbun bibit-bibit kesedihan yang lebih dalam di pikiran bawah sadar kita.

Saat sedikit saja kita sedih, kita berusaha mengalihkannya secepat mungkin dengan segera pergi bersenang-senang, berjalan-jalan, berbelanja hal-hal yang tidak diperlukan. Kadang mabuk-mabukan dan narkoba pun sering menjadi pengalihan atas rasa sedih kita itu. Karena kita melakukan pola pengalihan ini secara terus menerus, maka tidak jarang kemudian cara-cara pengalihan ini menjadi kecanduan; kita kecanduan jalan, kecanduan belanja, kecanduan alkohol dan sebagainya. Di saat yang sama, karena tidak pernah belajar menerima dan menghadapi rasa sedih tersebut, maka kita semakin tidak tahan dengan rasa itu, rasa sedih itu menjadi semakin kuat dan menakutkan dalam diri kita.

Jika dirunut, yang membuat kita lemah dan mencari pelarian alih-alih menghadapi adalah karena kita tidak mampu menerima dan mengakui dualitas sebagai bagian alami dalam kehidupan. Dan dengan demikian pula, menerima dan mengakui dualitas sebagai bagian alami dalam kehidupan adalah langkah awal untuk menjadikan diri lebih kuat dalam menghadapi dinamika kehidupan tersebut.

author