Sat hingga Dasa Aksara

No comment 3405 views

Sat hingga Dasa Aksara

Untuk memudahkan manusia menuju Sat (=Zat?), maka dimunculkanlah simbol Ongkarāmretha (Ong Kara Amretha).

{A=tidak, Mretha/Mertha=Mati} –> Amretha=Hidup=Energi

Dari Ongkarāmretha muncullah Dwi Aksara yaitu Ah dan Ang. Dwi Aksara juga adalah perlambang Rwabhineda (Dualitas), Ah juga dianggap sebagai Purusa (Bapa Akasha) dan Ang adalah Prakerti (Ibu Prtivi). Berikut ini adalah perwujudan Dwi aksara:

dwi aksara: Ah - Ang

dwi aksara: Ah - Ang

Pada tahapan berikutnya, dari Dwi Aksara ini muncullah Tri Aksara, yaitu Ang, Ung dan Mang.

Tri Aksara: Mang - Ang - Ung

Tri Aksara: Mang - Ang - Ung

Dari banyak sumber bacaan, dikatakan bahwa AUM inilah yang mengawali sehingga muncullah OM. Padahal dari tahapan di atas, bisa kita lihat urutan dari atas ke bawah justru Tri aksara yang muncul setelah Ong menjadi Dwi aksara Ah dan Ang.

Apakah ini petunjuk bahwa ONG itu lebih dulu/tua daripada OM?

Kenapa orang-orang Nusantara sekarang ikut-ikutan mengatakan Ang Ung Mang tersebut disingkat menjadi AUM?

Padahal di “barat” sana belum pernah ditemukan ulasan yang mengulas tentang Ang Ung Mang. Lalu mengatakan aksara Ongkara sama dengan Omkara yang diperkenalkan di “barat” sana. Padahal sudah jelas bahwa Ongkara di Bali menggunakan "Nung Swara", Nung Suara selalu membunyikan akhiran “Ng” bukan “m”.

Sedangkan agar bunyi akhiran menjadi “m” maka yang digunakan adalah “Ulu Ricem”, bukan menggunakan Nung Swara.

perbedaan tulisan: Ong dan OM

perbedaan tulisan: Ong dan OM

Tidakkah Omkara yang diperkenalkan dari “barat” sana hanya mirip dengan Angkara?
Dan tidak sama dengan Ongkara.

kemiripan Ang dan OM

kemiripan Ang dan OM

Selain itu, di Nusantara sendiri, terutama di Bali, Ang Ung Mang bukanlah sebuah urut-urutan baku yang hanya ditulis secara berurutan tetap/baku/tak berubah-ubah. Di Nusantara urut-urutan penulisan dan pengucapannya bisa berubah-ubah tergantung kebutuhan untuk terhubung dengan Daya (energi) yang ingin digunakan.

Contoh penggunaan sebagai:

Dasar Mantra Tri aksara : Mang Ang Ung:

Dasar Mantra: Mang-Ang-Ung

Dasar Mantra: Mang-Ang-Ung

Kemulan Mantra: Ang Ung Mang:

Kemulaning Mantra: Ang-Ung-Mang

Kemulaning Mantra: Ang-Ung-Mang

Pengeraksa Jiwa: Mang Ang Ung Ong:

iki Mantra Pengraksa Jiwa

iki Mantra Pengraksa Jiwa

Pamageh Bayu di tubuh dengan Catur Resi: Ung Ong Mang Ang:

iki Mantra Pemageh Bayu

iki Mantra Pemageh Bayu

Pangemit Bayu antuk Catur Shakti: Ong Mang Ang Ung:

iki Mantra Pangemit Bayu

iki Mantra Pangemit Bayu

Pangastiti Dewa: Ung Mang Ang:

iki Mantra Ngastiti Dewata

iki Mantra Ngastiti Dewata

Mengundang Bhuta Dengen untuk Kahuripan: Ang Ung Ong Mang:

iki Mantra Ngundang Butha Dengen

iki Mantra Ngundang Butha Dengen

Dengan beberapa contoh di atas, jelas dapat kita lihat bahwa urutan penggunaan dan penyebutan ketiga aksara Ang Ung Mang tidak selamanya dimulai dari Ang, tetapi sesuai kegunaan/peruntukan/kebutuhan.

Jika menggunakan tahapan “Pengeringkesan aksara”, maka aksara Tri aksara tidak dapat langsung diringkas dikembalikan menjadi Ongkarāmretha, namun harus melalui tahapan Dwi aksara terlebih dahulu. Setelah dari Tri aksara dikembalikan ke Dwi aksara, kemudian dapat diringkas kembali menjadi Ongkarāmertha. Karena ini adalah tahapan sebuah proses penggunaan Daya (energi), maka tahapan “Pengeringkesan aksara” pun ada SOP-nya (Standard Operational Procedure).

Pada tahapan berikutnya, dari Tri Aksara muncullah Panca Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, dan ING.

Dari Panca Aksara kemudian muncullah Dasa Aksara, yaitu SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, dan YANG.

Berikut ini letak Dasa aksara pada Buana Agung dan Buana Sarira:

 No. Aksara Warna Letak di Bhuana Agung  Letak di Bhuana Alit
 1  Sang

 Petak
(putih)

 Purwa
(timur, awal, arah matahari terbit)
 Papusuh
(jantung)
 2  Bang  Biing/Bang
(merah)
 Daksina
(selatan)
 Ati
(hati bagian kanan)
 3  Tang  Pita
(kuning)
 Pascima
(barat)
 Ungsilan
(ginjal)
 4  Ang  Selem
(hitam)
 Uttara
(utara)
 Ampru
(empedu)
 5  Ing  Galang
(terang purnama)
 Madyaning Sor
(poros bawah)
 Tengahing Ati
(hati bagian tengah)
 6  Nang  Dadu
(merah muda)
 Gneyan
(tenggara)
 Peparu
(paru-paru)
 7  Mang  tangi
(Jingga/ungu)
 Nariti
(Barat Daya)
 Usus
(usus besar)
 8  Sing  Gadang/ijo
(hijau)
 Wayabiya
(barat Laut)
 Limpa
 9  Wng  Pelung/abu
(biru / Abu-abu)
 Ersania
(timur laut)
 Ineban
(tenggorokan)
10 Yang udep
(gelap tilem)
Madyaning Luhur
(Poros Atas)
Tumpuking Ati
(hati bagian kiri)

Letak Dasa aksara pada Buana Agung:

Gambaran Geometri Dasa Aksara

Gambaran Geometri Dasa Aksara

Letak Dasa aksara pada Buana Sarira:

dasa aksara di tubuh Dasa aksara di buana alit

Tapak Dara (+) adalah simbol penyatuan Rwabhineda (Dualitas);

  • (|) dan segitiga yang puncaknya ke atas, mewakili Purusa/Bapa Akasha/Lingga/Maskulin/Al/El/God/Phallus.
  • (-) dan segitiga yang puncaknya ke bawah mewakili Prakerti/Ibu Prtivi/Yoni/Feminim/Aloah/Eloah/Goddess/Uterus.
Konsep Tapak Dara

Konsep Tapak Dara

Penggabungan kedua segitiga Purusa dan Pradana ini memunculkan sebuah bentuk geometri bintang enam sudut atau jika ditarik garis antar keenam titik sudut terluarnya maka disebut juga sebagai segienam (Hexagon). Di barat sana, bintang ini juga dikenal dengan sebutan “Star David”. Simbol ini menunjukkan kita pada bentuk geometri yang mendasar dari molekul dan atom yang ada di Bumi ini. Mulai dari sarang lebah, molekul air, salju, kristal hingga penggambaran umum gerak elektron-elektron yang memutari Nukleus.

ilustrasi stuktur Atom

ilustrasi stuktur Atom

motif sarang lebah Motif Cangkang Penyu
melekul salju struktur kimia Bom TNT

 

Tahap lanjut dalam upaya menyeimbangkan Daya yang ada di sekitar diri kita dan yang ada di dalam diri kita adalah dengan menggerakkannya atau disebut juga pemutaran. Jika dibutuhkan dapat diputar ke arah Pradaksina (PurwaàDaksina)/(Timur ke Selatan)/(ke kanan), atau Prasawiya (PurwaàUttara)/(Timur ke Utara)/(ke kiri). Kedua jenis putaran ini bukan tentang mana yang baik atau mana yang buruk. Masing-masing putaran tentunya mempunyai kegunaan dan hasil yang berbeda, jadi bukan untuk dihadap-tandingkan, tapi untuk saling melengkapi. Kesepuluh aksara merupakan simbol-simbol yang diwariskan oleh leluhur kita untuk memudahkan kita terhubung dengan Daya-daya (Energi) yang berada di Buana Agung dan Buana Sarira.

Arah putaran Swastika Siwa-Budha

Arah putaran Swastika Siwa-Budha

Hanya dengan melampaui Rwabhineda (dualitas), menyatukan/melihat dalam satu kesatuan yang utuh/keuTUHAN, maka pintu gerbang menuju Sat akan ditemukan. KeuTUHAN disini, bukan menjadikan satu, namun merangkum semuanya, menemukan intisari dari semua perbedaan yang ada tanpa menghilangkan atau menghapus perbedaan yang ada. Bukan juga merangkul semuanya dalam satu sistem tertentu, bukan juga hanya untuk satu agama tertentu, tapi temukan dan kumpulkanlah semua serpihan kebenaran yang ada di setiap perbedaan yang membungkusnya. Inilah BHINEKA TUNGGAL IKA TAN HANNA DHARMA MANGRWA. Semakin banyak yang mampu kita rangkum, akan semakin kaya pemahaman kita, dan mampu memungkinkan memilah mana yang disisipi pembelokan/ter-distorsi dan mana yang tidak. Namanya sebuah rangkuman sudah seharusnya didapat dari memahami banyak sumber, memahami pun tidak bisa hanya menggunakan “RASA” atau dengan kata lain hanya dengan sebagian kegunaan (fungsi) otak kita. Rangkuman dapat tercipta dengan memaksimalkan penggunaan kedua belah bagian otak kita secara selaras dan serasi.

Memang pemahaman ini masih sulit diterima oleh mereka yang terjebak dalam dogma dan doktrin agama ataupun kepercayaan masing-masing. Pemahaman ini memang diperuntukkan bagi mereka yang akan dan sedang menapaki jalan spiritual. Dan bagi mereka yang telah melampaui jalan spiritualitas silahkan digunakan seperlunya.

Catatan: Hukum Kekekalan Energi (Hukum I Termodinamika) : “Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan (konversi energi)”.

author