Sebab Hare Krishna ditolak di Umat Hindu Bali

No comment 66 views

Sebab Hare Krishna ditolak di Umat Hindu Bali

Kenapa Hare Krisna itu Dilarang dan Banyak menimbulkan Penolakan di Nusantara khususnya dari Umat Hindu Bali?

Hare Krisna dan Hindu Nusantara Khususnya Hindu Bali sangat jauh berbeda. berikut ini beberapa perbedaannya:


Hindu Nusantara percaya dengan Panca Srada.

Hare Krishna hanya Percaya semua jiwa dan Dewa adalah pelayan Sri Krisna, hanya percaya pada Garis perguruan yang diajarkan Srila Parabupada yang secara tidak langsung mengkultuskanya sebagai Nabi terakhir


Kita percaya Tat Tvam Asi, Kamu adalah aku, Aku adalah kamu.

Bagi Hare Krisna hanya Percaya Tat Tvan Dasi, Kamu adalah Pelayanku


Hare Krishna merupakan pecahan dari Gaudiya Waisnawa yang menuhankan Wisnu sedangkan Hare Krisna katanya menuhankan Krisna, namun pada praktenya memuja Caitanya Mahaprabhu.

HK mempercayai sepengal cerita dalam Padma Purana, dimana dalam cerita tersebut Dewa Siwa mengajarkan ajaran sesat pada Asura agar tidak lagi menyembah Wisnu padahal dalam Siwa Purana Malah sebaliknya Wisnu yang mengajarkan ajaran sesat pada Asura Tripura agar tak lagi menyembah Siwa Ludra.. dengan tujuan agar Siwa bisa memusnahkanya... tentu ini cerita yang harus dikaji sesuai judul Purana dan alasan lainya..

Hare Kishna juga mempercayai Cerita yang lainya dalam Purana tersebut Bahwa Dewa Siwa adalah Dewa Sesat Dewa yang bermandikan Abu Jenasah dan Suka merokok

Bagi umat Hare krisna semua yang diajarkan Siwa adalah Tamasika, padahal dalam kisah mahabarata Sri Krisna Menyuruh Panca Pandawa memuja Siwa Sebagai Perwujudan Tuhan Yang Maha Esa,

Hare Krisna mengabaikan filsafat Sangkarcarya tentang Mayapada karena bagi Hare Krisna dunia Ini nyata bukan Maya,


bagi Hare krisna, Hindu Nusantara kususnya umat Hindu Bali adalah ajaran yang menyimpang yang perlu diluruskan karena diangap percaya pada kitab kitab tamasik Seperti: Waraspathi Tatwa, Buana Kosha, Tattwa Jnana, Yama Purana Tatwa, Tantra dll, pokonya yang perbau Siwaistik keliru, belum lagi ada pembedaan dewa lokal dengan dewa internasional.


Di Indonesia Sebenarnya Di Tahun 1984 Aliran Ini Di Larang oleh Putusan Kejaksaan Agung, Di Bali Perkembangan Iskcon Atau Hare Krisna Pada Hakikatnya Pesat Karena Di Naungi Oleh PHDI .

Dari Hasil Tesis Ida Ayu Made Gayatri untukq memperoleh Gelar Magister pada Program magister, Program Studi Kajian Budaya Program Pasca sarjana Universitas Udayana 2007 tentang SISTEM RELIGI SAMPRA DAYA KESADARAN KRISHNA INDONESIA DI BALI yang telah di setujui ole Prof.Dr. Tjokorda Istri Putra Astiti SH.M.S, Prof.Dr.I Gde Parimartha M.A, Prof. Dr. Emiliana Mariyah ,MS danq Prof.Dr.Ir.Dewa Ngurah Suprapta , M.Sc.

Memperoleh beberapa kesimpulan :

  1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa system religi SAKKHI di kontruksi oleh Srila Prabhupada sebagai Agama Baru disebut ISKCON atau Hare Krishna (Kesadaran Krishna).
  2. Hare Krishna menyatakan diri, bukan Hindu sesuai dengan pernyataan Srila Prabuphada sendiri, SAKKHI di Bali adalah asosiasi dari ISKCON.
  3. Penganut agama ini meyakini Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu sebagai personalitas Tuhan Yang Maha Esa dan menganggap Tri Murti (Brahma, Wisnu, Ciwa) berada di bawah perintah Tuhan Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu (Sri Krishna yang di sembah di sini sebagai Tuhan Yang Maha Esa bukanlah Awatara Wisnu dalam Bhagawad Gita, tetapi Caitanya Mahaprabhu yang merupakan pendiri Hare Krishna sendiri dan Panca Tatwanya).
  4. Makna Sistem Religi yang di anut SAKKHI di Bali dalam kehidupan beragama di Bali adalah konversi Agama (pindah agama) dan sinkretisme agama sesuai dengan tujuan mereka di poin 1 (satu).
  5. Konversi agama yang di maksud karena umat SAKKHI meninggalkan kewajiban dan mereka di larang keras melakukan pemujaan kepada leluhur dan pemujaan Tri Kahyangan Desa yang merupakan manifestasi yang menjadi dasar pelaksanaan praktek Hinduisme di Bali.
  6. Sistem Religi mereka praktikkan sesuai dengan doktrin ketat ISKCON yang didirikan oleh Srila Prabhupada.
  7. Makna Sistem religi SAKKHI dalam kehidupan social di Bali di maknai sebagai eksklusifitas kelompok, suatu hegemoni kebudayaan peradaban masyarakat Benggala India atas peradaban masyarakat Hindu Adat Bali.
  8. Eksistensi Sampradaya Hare Krishna sebaiknya tidak berada dalam institusi agama Hindu dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di karenakan pendiri mereka; Srila Prabhupada menyatakan Hare Krishna bukan Hindu.
  9. PHDI di Bali dalam mengambil keputusan politik berkaitan dengan kehidupan social-religi masyarakat, sebaiknya melibatkan lembaga masyarakat adat Bali.
  10. PHDI seyogyanya lebih selektif dalam menerima sekte sekte India menjadi sampradaya mengingat adanya tendensi masuknya banyak guru – guru spiritual termasuk juga “guru –guru spiritual gadungan” yang berupaya menyebarkan ajaran dari sekte sekte mereka di India ke Bali yang bertentangan dengan Agama Hindu pada umumnya.
  11. Kejaksaan Agung Republik Indonesia sebaiknya menegakkan Larangan Tentang Segala Aktivitas Hare Krishna ISKCON sesuai dengan SK 107 tahun 1984 di seluruh wilayah Indonesia.

Sebenarnya Aliran Kepercayaan Di Indonesia Di akui Oleh Negara, Akan Lebih Elok Dan Elegan Jika Hare Krisna Menentukan Sikap Bukan Bagian Hindu Bali. Bali Terkenal Di Manca Negara Karena Adat Budaya Dan Kearifan Lokalnya 

author