Sekilas Implementasi Weda di Bali

No comment 345 views

Sekilas Implementasi Weda di Bali

Bagaimana Sejatinya Implementasi Wedha di Dalam Hindu di Indonesia?

Judul ini agak panjang, untuk sedikit membuka pemahaman kepada semeton yang sudah nyebrang pagar, baik itu pindah agama ataupun yang masuk aliran-aliran atau sekte kecil, yag datang dari luar Indonesia.

Tentu juga untuk semeton yang abu-abu dan yang sering berkata bijak yang sejatinya belum saatnya berbicara bijak. Bila berbicara Hindu yang ada di Indonesia, tentu tidak bisa lepas dari tiga ajaran pokok atau dasar yang dijadikan satu oleh para leluhur Nusantara yang sudah mencapai tingkat batin biksuka, yaitu ajaran Siwa, Budha dan Bujangga/Waisnawa.

  • Ajaran Siwa untuk implementasi keatas atau menjaga dan membuat keterhubungan harmoni kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.
  • Ajaran Budha untuk implementasi keterhubungan harmoni dengan sesama manusia.
  • Ajaran Bujangga/Waisnawa untuk keterhubungan harmoni dengan Alam.

ketiga ajaran tersebut di Bali dirangkum dalam pelaksanaan Tri Hita Karana. Menyatunya ketiga ajaran ini, bukan sesuatu yang “given” begitu saja, tapi adalah hasil olah batin para leluhur Nusantara sejak sebelum abad masehi. Dan memang dalam perkembangannya terjadi interaksi dengan dunia. Dimana interaksi ini bukanlah satu arah, yaitu India ke Nusantara saja, tapi juga Nusantara ke India. Sehingga assumsi yang banyak ditulis para sarjana, baik dari Barat maupun dari Timur, yang mengatakan Hindu Nusantara adalah berasal dari India, bukan sesuatu kebenaran. Karena banyak juga penulis yang justru melihat, Nusantara sebagai pusat penyebaran Sanatana Dharma. Apalagi bila kita menelaah isi Bagavad Gita, yaitu upanisad yang ditulis oleh Begawan Wyasa Kresna Dwipayana, dengan jelas-jelas menyatakan bahwa ajaran ini diturunkan pertama kepada Dewa Matahari, kemudian diturunkan lagi dimana mana didunia ini, karena ajaran tersebut mengalami pasang surut. Tapi dalam tulisan ini, saya tidak membahas asal usul, melainkan esensi ajaran, yang sejatinya sudah sempurna.

Di Indonesia, praktek isi dari Weda yang dilakukan sejak dulu, sejak dari sebelum ada republik ini, bahkan sebelum zaman masehi. Dan Veda adalah suatu wujud pustaka yang berisi ajaran-ajaran keniskalaan dan kesekalaan, yang ditulis dalam banyak buku, rontal, dll. Dimana Weda tidak hanya mengacu susastra dari India. Sehingga ajaran Bali adalah Sanatana Dharma yang genuine Nusantara.

Orang bali sejak dari masih dikandungan sudah di-upapira dengan Weda. Kemudian ketika mulai jadi manusia, bertumbuh sampai dewasa, juga dengan Veda dan mempraktekkan Veda. Hanya saja orang Bali sejak dari dulu diajari untuk disiplin di bidang spiritual. Dimana ajaran Sanatana Dharma yang ada didalam Veda atau ditulis didalam Veda, sangat dipahami lewat kebatinan (spiritual way). Sehingga orang bali secara kebanyakan atau yang ada dilevel batin Brahmacari dan Grehasta akan mendalami Veda pada proporsi Wedangga. Untuk Veda samhita yaitu reg, yayur, sama dan atarwa itu hanya boleh untuk manusia yang sudah mencapai tingkat Wanaprasta dan Biksuka atau kaum Brahmana. Dimana Brahmana disini adalah orang yang sudah meresapkan Jnana, bukan wangsa.

Ketidak-bolehan ini bukan diwujudkan dalam pelarangan oleh badan tertentu. Kalau urusan batin, maka kejujuran yang jadi kontrolnya. Jadi dengan kejujuran ini orang-orang bali yang dilevel batin Brahmacari dan Grahasta memperdalam Veda melalui Dharma Sastra, Itihasa, Upanisad, Wedangga dll, sesuai tingkatan kemampuan batinnya. Dan tidak masuk ke Veda Samhita. Hanya mereka yang sudah mencapai kemampuan ke Brahmanan yang masuk atau menekuni Veda Samhita.

Saat ini orang bali banyak di kacau kan dengan membaca Veda Samhita sebelum punya kemampuan batin di tingkat ke Brahmanan. Apalagi dengan nguncarang mantram tanpa proses mawitraning raga terlebih dulu. Dan banyak juga yang kepincut dengan ajaran-ajaran instant, yang menjauhkan dari kejujuran, artinya tidak mempertimbangkan tingkatan kemampuan batin, tapi dengan gampang ditawari untuk mencapai kesadaran, atau hanya dengan menyentuh kaki orang yang menyatakan diri suci, akan mencapai kesadaran, atau mendapat berkah dll.

Sejatinya semua itu tidak ada dalam ajaran Hindu Bali, dan sangat tidak cocok diterapkan di Bali, apalagi dengan meninggalkan ajaran, adat, tradisi dan Budaya bali. Nah, sangat keliru kalau dikatakan di Bali orang tidak paham Veda. Kalau tidak menyadari apa yang dilakukan sesuai dengan Veda, mungkin ini yang kemungkinan terjadi. Dan kalau seperti itu, sebenarnya tidak perlu ber kecil hati, atau sampai meninggalkan ajaran Bali. Dan tidak perlu juga kesemsem dengan ajaran-ajaran luar yang mengumbar berbagai sloka, atau retorika seolah olah paling asli Veda, padahal belum tentu. Mungkin saja bukunya adalah pisik Veda, tapi kalau interpretasinya tidak sesuai dengan ajaran Sanatana Dharma, maka itu bukan Veda. [oleh surya anom]

author