Semadri Camara

No comment 133 views

Semadri Camara

Semadri Camara, Tempat ditulisnya Serat Calonarang Tahun 1462

Om Swastiastu, Sugra Pekulun

Bagi yang sering membaca Terjemahan Serat Calonarang, pastilah yang paling diingat adalah Tokoh Tokoh yang tertulis di Dalam Serat Calonarang seperti Sang Mahayogiswara Baradah, Calonarang, Prabu Airlangga, Ni Diah Ratna Manggali, Mpu Bahula, Murid Murid Calonarang begitu juga Tokoh yang lain.

Rangda Calonarang

Tapi jarang pernah diulas bagian yang sangat menarik yaitu halaman 51 a atau Satu halaman sebelum halaman terakhir. Di halaman 51 a tertulis tempat Serat yang melegenda ini ditulis, yaitu sebagai berikut :

........ Pertapaan suci di Hanget (Kali Anget), turun temurun di Rupit (Selat Bali) murid Sang Pendeta Baradah, karena itu daerah di Rupit menjadi tempat upacara lagi sampai sekarang. Tamatlah cerita Mpu Baradah, ketika tinggal di Semasana Lemah Tulis. Selesai ditulis di Semadri Camara, menghadap ke arah barat di bawahnya Sungai Harung. Ada guanya di sana, pada tahun Saka 1462 (1540 Masehi), tanggal bulan hamacapmika, paroh terang, ke-10. Perhitungan hari, tujuh, Sukra (Jumat), hari lima, Umanis; hari delapan, Sri; hari enam,Wurukung; hari tiga, dwara (Kajeng); hari sembilan, gigis; hari empat, laba; kulawu ring kawi wuku, pratitgi, sadayatana (dua belas). Demikianlah selesainya

Tempat tempat diatas lebih cenderung ada di Bali seperti Kali Anget, Rupit atau Rupek ? ( Selat Bali ), Sungai Harung atau Sungai Ayung ?

Sang Penulis “ menulis peristiwa yang terjadi kurang lebih 500 tahun yang lampau. Tokoh tokoh yang ditulis adalah tokoh tokoh yang nyata. Tempat tempat yang ditulis juga tempat tempat yang nyata yang ada hingga sekarang .

Mungkin Sang Penulis adalah tokoh yang mumpuni dalam Kawisesan yang bisa “ menjelajah waktu “ sambil bersemedi dan buah Penjelajahan Beliau ditulis setelah semedi. Apa pula alasan Sang Penulis tidak menggoreskan Namanya di Lontar yang fenomenal ini ?

Tahun 1540 adalah Masa Keemasan Kesusastraan Bali saat Ida Dalem Waturenggong bertahta di Swecapura Gelgel. Pandita yang juga Sastrawan terkenal saat itu adalah Dang Hyang Nirartha. Apakah Beliau penulisnya, kenapa pula Beliau tidak mencantumkan Nama Beliau seperti yang Beliau lakukan pada puluhan karya karya fenomenal Beliau diantaranya Nusa Bali ri saka kala 1411, Kidung Sebun Bangkung, Anyang Nirartha, Gegutuk Menur dll. Mungkin juga Beliau sengaja tidak mencantumkan nama Beliau, karena tulisan itu menceritrakan Leluhur Beliau.

Atau ada Sastrawan lain yang menulis dan berada dibalik bayang bayang kebesaran Dang Hyang Nirartha. Yang jelas penulisnya dengan sabar menulis dan duduk atau berdiri disebelah timur Sungai Harung menghadap ke barat dibawahnya Sungai Harung. Ada guanya disana, yang kemungkinan Gua Pertapa.

Serat atau Lontar ditulis dengan huruf Bali Kuno menggunakan bahasa Jawa Kuno.

Kenapa Calonarang justru lebih terkenal di Bali Dwipa dibanding di daerah asal Beliau di Jawa Dwipa ?

Apa mungkin karena yang menulis Serat ini adalah Pujangga Bali dan ditulis di Bali.

Apa mungkin benar bahwa ada beberapa Sisia Sang Ratu yang kesah ke Bali selain diruwat di Jawa oleh Sang Mahayogiswara Baradah. Atau mungkin dari Sunia Loka Beliau senantiasa memperhatikan Anak Cucu Beliau yang banyak berdiam di Bali saat ini. Dan ada pendapat bahwa Calonarang harus ditarikan secara berkala di suatu daerah atau Desa di Bali untuk penolak wabah dan ini mengindikasikan bahwa Beliau bukan sebagai penyebar bahaya tapi justru sebagai pelindung Manusia.

Cukup sampai disini dulu karena terlalu panjang kalau kita ingin mengetahui catatan Sang Ibu Yang Mulia, Sang Ibu yang menjadi korban patriaki pada zamannya. Mudah mudah Sang Ibu senantiasa memberi petlindungan. (oleh Wayan Kaler)

author