Sesontengan, Puja dan Mantra

No comment 9493 views

Sesontengan, Puja dan Mantra

belakangan banyak semeton (warga) bali yang bingung dengan istilah Sesontengan, Puja dan Mantra.

Terkadang tiga istilah tersebut (sesontengan, puja dan mantra) dianggap sama karena sesontengan, puja dan mantra sangat terkait dengan doa, permohonan maupun ritus magis spiritual, padahal tida istilah tersebut memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

Sesontengan

merupakan Do'a, permohonan, permintaan yang bernuansa magis dengan menggunakan bahasa sehari-hari, menggunakan istilah-istilah yang mudah dimengerti, dan bahasa komunikasi yang dominan digunakan oleh pemakai sesontengan ini.

dalam kaitannya dengan ritual dibali, Sesontengan adalah ucapan penganteb banten dengan kata-kata biasa sehari-hari yang dilakukan oleh para walaka yang belum mempelajari puja ataupun mantra.

Sonteng berarti utarakan atau komunikasikan. Mesonteng artinya mengkomunikasikan atau memohonkan.

misalnya;

  • Orang bali menggunakan doa dengan berbahasa daerah bali, karena orang yang memohon tersebut fasih dan sehari-harinya menggunakan bahasa bali sebagai bahasa komunikasi.
  • Bila yang melakukan sesontengan itu orang jawa, maka permohonan doa-Nya dengan menggunakan bahasa jawa.
  • Orang inggris yang fasih dan sehari-harinya menggunakan bahasa inggris, maka sesontengannya (doa-nya) menggunakan bahasa inggris.

Tegasnya sesontengan bukanlah mantra.

 

Mantra

merupakan perafalan doa-doa magis yang menggunakan bahasa weda, dan ritual ini harus berpatokan pada Mantra Sloka Weda terutama Catur Weda.

Mantra adalah Weda, yaitu wahyu Hyang Widhi yang tidak dapat diubah. Menafsirkan Mantra harus dilakukan oleh orang-orang suci yang ahli di bidang itu agar tidak menyesatkan masyarakat.

Untuk menghindari salah pemahaman, mantra harus diucapkan dalam bahasa aslinya, yaitu Sanskerta, dengan irama tertentu.

Mantra utama yang populer di masyarakat adalah Puja Trisandya bait pertama yang dikenal sebagai Mantram Gayatri.

Mantra boleh diucapkan oleh siapa saja asalkan cara mengucapkannya benar, untuk tujuan suci, dalam situasi sakral, dan keluar dari lubuk hati kesucian. Mengucapkan mantra juga dapat disebut sebagai Memantra atau Maweda.

Puja

merupakan doa permohonan yang berkaitan dengan pemujaan , yang berkaitan dengan ritual agama, dimana bahasa yang digunakan dalam merafal pemujaan adalah bahasa Jawa Kuno, Bahasa Kawi ataupun Bahasa Sansekerta Nusantara, bukan bahasa sansekerta india.

Umumnya, Para Pandita (Sulingih/Wiku) tidak dapat dikatakan memantra atau maweda karena Weda tidak diucapkan secara utuh baik pada waktu Surya Sewana maupun ketika Muput Karya.

Apa yang diucapkan sudah bercampur antara mantra dengan doa/rapal dalam bahasa Kawi. Oleh karena itu beliau disebut MAPUJA atau MAPIOS.

Selain itu perlu diketahui bahwa

"Trisandya bukanlah Mantram tetapi Puja"
karena tidak seluruh baitnya Weda (Catur Weda).

demikian sekilas perbedaan antara Sesontengan, Puja dan Mantra, semoga info ini bermanfaat bagi para pembaca GamaBali.

author