Siapakah Sri KRISNA?

No comment 4664 views

Siapakah Sri KRISNA?

Mengenali Lebih dalam, siapakah Sri Krisna tersebut?

Bhagawad Gita, sebuah bab dari kitab Bhismaparwa yang kemudian menjadi kitab tersendiri. Isinya mengenai ajaran-ajaran Agama Hindu yang disampaikan oleh perantara Kresna kepada Arjuna.

Kitab Bhisma parwa merupakan kitab keenam dari seri Asta dasa parwa.

Kitab ini menceritakan kisah dimulainya pertempuran akbar antara pihak Pandawa dan Korawa di sebuah daratan luas yang sangat suci dan keramat bernama Kuru kshetra, letaknya di sebelah utara negeri India. Setelah kedua belah pihak sepakat dengan aturan perang, maka kedua belah pihak berkumpul dan memenuhi daratan Kurukshetra, siap untuk berperang. Pihak Korawa dipimpin oleh Bhisma sedangkan pihak Pandawa dipimpin oleh Drestadyumna.

Sebelum pertempuran berlangsung, Arjuna dilanda keraguan dan kebimbangan setelah ia melihat para saudara dan kerabatnya berkumpul untuk saling membantai. Arjuna tidak tega untuk membunuh para Korawa, yang masih merupakan saudara. Karena Arjuna dilanda oleh berbagai keraguan, Kresna yang berperan sebagai kusir kereta Arjuna mencoba menyadarkannya dengan memberikan wejangan-wejangan suci yang kemudian dikenal sebagai “Bhagawad Gita”, atau “Nyanyian seorang rohaniwan”.

Bhagawad Gita ini menjadi kitab tersendiri yang merupakan intisari dari ajaran-ajaran Veda.

Wejangan suci dari Kresna membuat Arjuna bangkit, dan melangsungkan pertempuran. Akhirnya Bhisma yang menjadi panglima perang Korawa, gugur pada hari kesepuluh dengan siasat Arjuna yang menggandeng Srikandi.

Para ahli sejarah [India dan barat], melalui uji analisis MahaBharata menemukan perbedaan gaya, bahasa dan tingkat kepelikannya di MahaBharata sehingga mereka berkesimpulan bahwa penyusunan dilakukan pada masa yang berbeda dan dilakukan oleh tangan-tangan yang bebeda.
Misalnya, Adiparwa bab 1 menunjukan banyak episode telah ditambahkan. MahaBharata saat ini merupakan edisi ketiga dan telah memperluas inti dari sejarah tersebut. [C. Jinarajadasa, R.G Bhandarkar, analisis lebih lanjut: L.Von Schroeder] A.l Basham, mengatakan bahwa setidaknya 3 orang yang menulis Bhagavad Gita.

di Bhagavad Gita bab 2.54-64, membicarakan tentang hasil Samkhya, yaitu kecerdasan mantap/seimbang, menjadi seorang muni yang teguh iman, berhasil menghayati yang tertinggi, yang memiliki cirri-ciri:

  1. telah dapat menyingkirkan segala keinginannya,
  2. pikirannya tak terusik di tengah-tengah kesenangan; yang nafsu, rasa takut dan kemarahannya telah lenyap,tanpa rasa keterikatan lagi,
  3. yang tiada bersenang hati maupun bersedih dalam perolehan yang baik maupun yang buruk,
  4. menarik semua indra dari obyek-obyeknya, seperti kura-kura yang menarik anggota badannya masuk ke dalam cangkangnya

Membicarakan ini, maka kita harus melihat pada Krisna, yang dianggap sebagai pembawa ajaran ini kepada arjuna. “fakta” yang ada di Itihasa menyatakan bahwa 13/14 tahun sebelum perang kuruksetra [sebelum peluncuran ajaran Gita] yaitu saat upacara rajasurya di Indraprasta, Sisupala, sepupu Sri Kresna, menghina Sri Kresna di depan umum. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi hingga melewati penghinaan ke-100 maka Kemarahan Sri Kresna memuncak, mengeluarkan Cakra Sudarsana dan memenggal kepala Sisupala di depan umum.

Di 13/14 tahun kemudian, setelah ujaran Bhagavad Gita disampaikan pada Arjuna di Hari pertama [H1] perang kurukhsetra.

Pada hari ke-3, Arjuna dan saisnya Kresna bertempur melawan Bhishma.

Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya.

Kresna menjadi sangat marah, ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma sambil berkata:
"Aku sudah tak bisa bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,".

Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melakukannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna berhenti.
Arjuna berkata,
O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”.

Mendengar sumpah tersebut, Kemarahan Kresna mereda namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan peperangan di hari itu.

Pada hari ke-9, Arjuna dan Bisma saling bertempur, Bisma masih tidak terkalahkan dan Arjuna bertarung dengan setengah hati. Melihat itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, Ia meloncat turun dari kereta Arjuna bergerak berjalan menghampiri Bisma dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya. Dengan sedih dan suara tersendat-sendat,
Arjuna berkata,
O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!...

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya sampai berakhirnya hari itu.

Krisna pada saat perang Kurukhsetra berumur 80 tahun dan 45 tahun kemudian, yaitu menjelang wafatnya krisna [125 tahun], terjadi peristiwa musnahnya wangsa Wresni akibat saling membunuh satu sama lainnya. Krisna dengan senjata cakra ditangan juga ada dalam peristiwa itu.

Memperhatikan fakta dan ajaran di atas, maka terlihat jelas bahkan Krisna-pun tidak berhasil menjalankan ajaran Samkya Yoga. Untuk itu dua kemungkinan yang terjadi

  • Penjelasan pertama, Ada dua Krisna yang berbeda dalam sejarah! [Adolf Holtzman, Arjuna, a contribution to the reconstruction of the Mahãbhãrata, p 61, cited by Muir, op.cit page xxiii. See also Lassen, Indische Altherthumskunde, vol I, page 488]
  • Penjelasan berikutnya, Krisna yang tertulis di MahaBharata saat ini, tidak mengajarkan Bhagavad Gita di H1 kepada arjuna. Artinya, benar pula bahwa Bhagavad Gita telah diselipkan dalam Itihasa susunan Vyasa. Holtzmann bahkan menyatakan bahwa di susunan itihasa sebelumnya [artinya sudah mengalami beberapa pengembangan], ujaran ini merupakan diskusi philosophis yang terjadi sebelum perang, mengenai Jiwa yang abadi antara Drona and Duryodhana dan bukan antara Krishna and Arjuna [Muir, op.cit, p xxii]

refresi:

  1. Jinarajadasa, C. 1915. "The Bhagavad Gita". Adyar Pamphlets. No.59
author