Sira Agra Manik

No comment 101 views

Sira Agra Manik

Sira Agra Manik merupakan putra bungsu dari Ida Bang Manik Angkeran dengan Ni Luh Canting, putri dari Ki Dukuh Murthi.

Diceriterakan sekarang, pada suatu hari. Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran berjalan menuju ke arah barat laut, ke arah tempat kediaman Ki Dukuh Murthi. Tidak diceriterakan di jalan, sampailah beliau di hutan Jehem, kemu­dian, menuju Padukuhan, dan berjumpa dengan Ki Dukuh Murthi. Keduanya kemu­dian berbincang-bincang mengenai mertua Sang Pendeta yakni Ki Dukuh Belatung yang sudah moksa. Ki Dukuh Murthi memang bersaudara dengan Ki Dukuh Belatung. Pada saat itu Ki Dukuh Murthi memiliki seorang anak wanita yang sangat cantik ber­nama Ni Luh Canting. Putrinya itu dipersembahkan oleh Ki Dukuh kepada Sang Pen­deta, sebagai haturan utama yang tulus iklhas, bukti besar bhaktinya Sang Dukuh kepada Sang Pendeta, sebagai pengikat hingga kelak di kemudian hari. Beliau Sang Pendeta sangat mencintai dan mengasihi Ni Luh Canting, serta bertemu cinta didasari rasa kasih sayang yang suci. Namun karena ada pekerjaan yang sangat mendesak, serta didatangi oleh warga desa-desa Iain untuk memberikan pelajaran pengetahuan keagamaan, tergesa-gesa beliau meninggalkan Ni Luh Canting untuk melanjutkan perjalanan memberikan petuah kepada warga desa-desa lainnya.

Ni Luh Canting kemudian hamil, dan lama-kelamaan melahirkan seorang putra yang tampan, diberi nama Sira Agra Manik. Belakangan Sira Agra Manik kembali ke Besakih, sehubungan dengan pesan ayahandanya untuk mengatur Lawangan Agung.

Babad Pasek, Brahmana dan Ksatria

KawitanSang Hyang Gnijaya
Generasi 1Mpu Bradah (Panca Tirtha)
Generasi 2Mpu Bahula
Generasi 3Mpu Tantular
Generasi 4Danghyang Sidimantra (Mpu Bekung)
Generasi 5: Ida Bang Manik Angkeran
Generasi 6: Sira Agra Manik

Babad Bali merupakan cerita kehidupan yang diyakini nyata adanya (itihasa), namun Babad ini belakangan sering terjadi kesimpang siuran akibat sedikitnya ada bukti otentik. Untuk membuktikan kebenaran dari cerita Babad ini agak sulit, seperti halnya cerita purana di India, setiap Babad secara umum tentu mengagungkan pemilik (judul) babad. Hal itulah sebabnya beberapa cerita babad agak tidak singkron/nyambung bila disanding dengan babad lain. Untuk itu, dalam Gama Bali hanya mengisahkan cerita-cerita umum saja.

author