Siwa-budha fondasi Hindu Bali

No comment 148 views

Siwa-budha fondasi Hindu Bali

Ajaran Siwa Budha yang menjadi dasar (fondasi) Hindu Bali, adalah Sanatana Dharma yang utuh, yang mana di Indiapun tidak ditemukan sampai saat ini.

  • Siwa mengajarkan keterhubungan harmoni dengan Tuhan.
  • Budha mengajarkan keterhubungan harmoni dengan manusia.
  • Bujangga/Waisnawa mengajarkan keterhubungan harmoni dengan Alam (Butha, Binatang dan tumbuh-tumbuhan).

Kalau ketiga keterhubungan harmoni sudah bisa dilaksanakan maka disana akan dicapai kebahagiaan.

Bagaimana untuk mencapai keterhubungan harmoni ini. Di Bali/Nusantara, oleh para leluhur yang sudah mencapai kesadaran/ke-buddha-an, yang dalam Catur Asrama mencapai tingkatan Biksuka Asrama, menyusun praktek untuk mencapai keterhubungan harmoni tersebut yang disebut Panca Yadnya. Dimana setelah Majapahit runtuh, Panca Yadnya ini berkembang pesat di Bali saja. Dan para leluhur Bali banyak yang mencapai kesadaran tertinggi atau keBuddhaan.

Karena kehidupan yang dominan Yadnya, maka Bali identik dengan pulau Yadnya. Tanpa Yadnya pasti Bali punah. Orang tidak melakukan Yadnya di Bali, tidak mungkin bisa meningkatkan spiritualitasnya.

Tapi setelah runtuhnya zaman kerajaan, mulai zaman penjajahan, sampai jaman Republik ini orang makin sedikit yang mencapai ke-Buddha-an, bahkan dizaman republik mungkin sangat sulit menemukan orang mencapai ke Buddha an, malah mungkin tdk ada.

Kenapa begitu ???

Ada beberapa hal penyebabnya :

  1. Semenjak orang membuat kelompok yang disebut Agama, ajaran spiritual/batin itu lebih banyak dipelajari kulitnya, asesorisnya dan bahkan isinya tidak pernah di praktekkan.
  2. Orang lebih suka menjadi pendengar kata-kata indah, dimana setelah mendengar, merasa sudah tercerahkan. Tapi bila ketemu masalah, kembali muncul sifat aslinya.
  3. Orang lebih suka memberi ceramah untuk mendapat pengikut, sehingga banyak penceramah hanya berkutat didalam retorika, tapi batinnya belum mencapai level batin Vanaprasta, meskipun atributnya sudah dilevel batin tersebut.
  4. Orang sering salah paham dengan spiritual. Dimana spiritualitas yang tinggi dianggap bukan tujuan beragama.
  5. Orang mengira pejalan spiritual adalah mereka yang prilakunya diluar dari kemampuan otak manusia. Contoh: orang yang suka meramal dianggap sebagai pejalan spiritual, begitu pula dukun, pengusir setan dll. Walaupun bila orang-orang yang spiritualitasnya tinggi, hal tersebut diatas pasti akan dicapai, tapi itu bukan tujuannya. Itu hanyalah bonus, karena batinnya tambah bersih.
  6. Yadnya berubah menjadi ajang seremonial.
  7. Kekeliruan methode pengajaran Agama. Di level Brahmacari dan Grahasta wajib diajarkan dan dilatih ilmu untuk menjalani hidup yaitu : kejujuran, welas asih, kepedulian dan keadilan.

Hampir semua mereka yang tercerahkan dizaman dulu memakai jalan Tantra, karena Tantra adalah methoda untuk pengolahan batin, untuk mencapai tujuan hidup didunia, yaitu Moksartam Jagaditya Ca Iti Dharma, atau kebahagiaan abadi disaat masih hidup.

Bila saat hidup sudah mencapai kebahagiaan abadi, atau “suka tan mewali duka”. Maka ketika mati (ma atty) mereka akan mencapai Nirwana/Moksa/Manunggal kepada Sangkan Paraning Dumadi. [oleh Surya Anom]

author