Sri Krisna dari sisi yang berbeda

No comment 598 views

Sri Krisna dari sisi yang berbeda

Krsna bukan awatara / tuhan yang turun ke dunia

Dalam weda sruti terbagi menjadi 3 pengelompokan

Pertama, Mantra yang terdiri dari catur weda.

Rg weda
Narayanat brahma jayate, Narayanat rudro jayate, Narayanat indro jayate, Narayanat prajapati prajayate..
Dari narayana lahirlah brahma, dari narayana lahirlah rudra, dari narayana lahirlah indra, dari narayana lahirlah prajapati

Yajur weda
Narayana evedam sarvam yad bhutam yac ca bhavyam, niskalangko niranjano nirvikalpo nirakhyatah, suddho deva eko narayano na dvitiyo sti kascit
Narayana adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda,bebas dari ototan, bebas dari perubahaan, tak dapat digambarkan. Sucilah narayana, ia hanya tunggal tidak ada yang kedua.

Sama weda
Om ity agre vyaharet, nama iti pascat, narayanayeti uparistat
Seseorang hendaknya mengucapkan Om pada permulaannya, kemudian hormat dan akhirnya kepada narayana...

Arthava weda
Om suryatidam nirmalam satatam candra mrtvat sakalam sa sadasiwa sa suryam idapyam jagatvam brahma surya, surya prabhavam mahesvaram mahadevam sambhu sangkarasca sivam saddasivam paramasivam taya suksmam parangga tay tayi sa surya padmanabha narayana indra suryaprakasam caturbhumim saman asisam hrstham indram suryaprakkasam catur bhumim samam asisam hrstham sukham sajanam athavara janggamam lta vrksa sapraroham mrga prajadhipati
Intinya adalah Om adalah siwa, siwa adalah narayana, surya, indra, prajapi, sambu sangkara mahadewa, dengan banyak penyebutanNya.

Jadi....
di Dalam CATUR WEDA tidak ada/dikenal nama KRISNA dalam pemujaan Mantram yang menekankan pada sosok penyebutan nama Tuhan.

Dipertegas lagi dalam arthava weda 11.7.24, bhagawan byasa adalah rekarnasi wisnu dengan nama krsna dwipayana

Narayana dalam mantram di catur weda bukan pada nama wisnu, dapat dilihat dari;

  • Pertama dalam Rig Veda, yaitu Mitra, Varuna, Savita, Aditya, Indra dan semuanya dapat diartikan sebagai matahari [Surya] walaupun dalam Rgveda mereka mempunyai arti berbeda, tidak ada penyebutan nama wisnu sebagai dewa yang disembah.
  • Kedua dalam mantra yajur weda, "Yah evam veda sa visnur eva bhawati" Ia yang mengetahui demikian itu, ia menjadi wisnu
  • Ketiga, Pada Brahmajala Sutta disebutkan tidak kurang 62 cabang utama teori Filsafat yang ada di masyarakat saat itu dan tidak ada 1 (satu) pun doktrin yang meyerupai karasteristik teori fisafat pemujaan terhadap Visnu.
  • Keempat, dalam penafsiran filsafat nama visnu baru dikenal dengan adanya aliran kepercayaan yang disebarkan oleh brahamana dimana nama mitra, varuna, savita, aditya, indra, prajapati dalam Rg, weda sebagai berikut, varuna adalah wisnu, surya adalah siwa, prajapati adalah brahma.


Pengelompokan kedua yakni brahmana.

DAN INI DIDUKUNG KUAT PERKEMBANGAN SEJARAH PARA BRAHMANA, System pendidikan di India tidaklah berubah dari sebelumnya. Mereka yang mencari ilmu selalu tinggal bersama gurunya [catuspathiis/pasraman]. Kehidupan mereka ditanggung oleh pemerintah yang berkuasa/kepala daerah dan/atau masyarakat umum.

Hampir setiap Pendeta/brahmana mumpuni mempunyai pasraman sendiri. Saat itu tidak ada standarisasai kurikulum, jadi masing-masing dari mereka menciptakan kurikulumnya sendiri sesuai keinginannya dan pelajaran yang diberikan sehingga pengajaran satu Brahmana berbeda dengan Brahmana lainnya. Murid-murid yang belajar pada pendeta yang berbeda pengetahuannya-pun berbeda-beda pula. Ini menghasilkan keragaman interpretasi dan juga berbegai pertentangan pendapat di antara satu pasraman dengan pasrama lainnya. Inilah yang memberikan sumbangan utama bagi keragaman interpretasi kupasan-kupasan Veda dari jaman ke jaman.

Jadi..
Narayana bukanlah Wisnu, dan Krisna bukanlah awatara atau penjelmaan Tuhan

Ketiga, dalam upanisad

  • Rg Weda, memiliki : Aiteria Upanisad, Kausitaki Upanisad
  • Sama Weda, memiliki : Candogya Upanisad, Kena Upanisad, Matreyi Upnisad
  • Yajur Weda, memiliki : Taittiriya Upanisad, Suetaspatara Upanisad, Ksurika Upanisad, Brhadakanyaka Upanisad, Jabala Upanisad
  • Atharwa Weda, memiliki: Prasna Upanisad, Mandukya Upanisad, Atharwasira Upanisad

Terjemahan Taittiriya Upanishad:

"atra visaya-vakyam ca bhrgur vai varunir varunam pitaram upasasara. adhihi bho bhagavo brahma ity arabhya yato va imani bhutani jayante. yena jatani jivanti. yat prayanty abhisamvisanti tad vijijnasasva tad brahma iti. tat tejo 'srjata ity adi ca" [Taittiriya Upanishad 3.1.1]
artinya Yang daripada-Nya segala mahluk dilahirkan, Yang oleh-Nya dan kepada-Nya mereka

"Brahmavid apnoti param tad esa bhyukta, Satyam jnanam anantam Brahma Veda, Nihitam guhayah parame vyman so’ snute, Kaman vipascita iti" [Taittiriya Upanishad 2.1.1]
artinya Ia yang mengetahui Brahman sebagai kebenaran, pengetahuan dan tidak terbatas, Ia yang bersembunyi di dalam rongga hati dan Ia yang sangat jauh di angkasa. Ia yang terpenuhi segala keinginannya dalam kesatuan dengan Brahman, Ia yang maha mengetahui.

"prajnānam brahma" [Aitareya Upanishad 3.3]
artinya Brahman adalah Pengetahuan

"ayam ātmā brahma" [Brihadaranyaka Upanishad 4.4.5]
artinya Atma adalah Brahma atau Atman adalah Brahman!

"aham brahmāsmi" [Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10]
artinya aku adalah Brahman

"sarvam khalv idam brahma, tajjalaniti santa upasita" [Chhāndogya Upanishad 3.14.1-2]
artinya Semua yang ada di dunia adalah Brahman,
menurut Ramanuja, kalimat "tajjalan iti" (akar: tat + ja = lahir + la = larut/lebur), tidak berarti bahwa Jagadraya adalah Brahman namun Jagadraya diliputi, lahir dari dan lebur ke dalam Brahman, Ini di analogikan seperti ikan lahir di air, hidup di air dan berakhir di air tapi ikan bukanlah air

"sarvam hyetad brahmāyamātmā brahma soyamātmā chatushpāt" [Mandukya Upanisad ayat 2]
artinya Semua adalah Brahman; Ia adalah Atman; Ia mempunyai 4 bagian.
sarvam - Seluruh/Semua/setiap; hi – sesungguhnya/sebenarnya; etad – ini/disini; brahma - Brahma/Brahman; ayam – ini/disini; ātmā- atma/atman; sah- Ia; ayam – ini/disini; chatus- empat; pāt- langkah/kaki/bagian,

Jadi...
Dalam UPANISAD yang merupakan bagian dari catur weda tidak menjelaskan sosok krisna.

Meskipun bermunculan berbagai jenis kitab Upanisad yang baru. Tentu saja keberadaan upanisad-upanisad aspal, asli tapi palsu ini sudah dapat dideteksi dengan mudah oleh penganut Veda yang sudah menguasai Veda dengan baik.

Seorang Brahmacari yang mempelajari Veda dengan tekun dalam sebuah (garis perguruan) akan dibekali dengan pengetahuan fonetik, ritual, tata bahasa, etimologi, prosodi, dan astronomi dari kitab-kitab Siksa, Vyakarana, Nirukta, Chanda, Kalpa dan Jyotisa yang tergabung dalam bagian Vedanga.

Dengan pengetahuan dasar ini, seorang penekun Veda akan mengetahuai bahwasanya jumlah susunan kitab-kitab Veda, susunan sloka demi sloka (anustup), cara pelantunan dan sebagainya adalah memiliki aturan-aturan pokok khusus. Dengan demikian jika ada kitab-kitab aspal yang diklaim sebagai bagian pustaka suci Veda tetapi menyimpang dari aturan-aturan ini maka seorang penekun Veda sudah pasti bisa mengetahui. Apa lagi fakta mengatakan bahwa semua kitab Upanisad merangkum filosofi ketuhanan dan mengenai sang diri.

Jadi...
disini sudah terlihat jelas bahwa,  Itihasa dan Purana bukanlah sebagai pengetahuan pokok dalam mempelajari weda bagi seorang brahmacari

 

ASAL KATA AKU

“..dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk..” [Bhagavad Gita, 10.33]

Setelah "kematian" bahasa Vaedika, didataran india [Termasuk Afganistan, Pakistan dan selatan rusia] masyarakat menggunakan satu diantara 7 jenis bahasa prakrta, yaitu Magadhii Prakrta; shaorasenii Prakrta, paeshacii Prakrta, Pashcatya Parakrta; pahlavii Prakta; Maharastrii. Bahasa ibu yang digunakan Krishna adalah Shaorasenii Prakrta.

Pada perkembangannya bahasa prakrta kemudian dibentuk kembali dan direformasi. Bentuk reformasinya menjadi bahasa Samskerta [artinya adalah direformasikan, dibentuk kembali]. Tulisan yang digunakan di india saat itu adalah Brahmii dan Khrosthii. Jadi mereka yang menulis bahasa Vaedika menggunakan tulisan Brahmii dan Kharosthii, karena tulisan dan Bahasa Vaedika tidak mempunyai huruf-huruf sendiri karena merupakan bahasa lisan. Jaman itu seorang murid mendengarkan dari guru berbicara, menghafalkan yang dikatakan gurunya, mereka mengingat-ingat apa yang diucapkan

Veda akan mengetahuai bahwasanya jumlah susunan kitab-kitab Veda, susunan sloka demi sloka (anustup), cara pelantunan dan sebagainya adalah memiliki aturan-aturan pokok khusus. Dengan demikian jika ada kitab-kitab aspal yang diklaim sebagai bagian pustaka suci Veda tetapi menyimpang dari aturan-aturan ini maka seorang penekun Veda sudah pasti bisa mengetahui. Apa lagi fakta mengatakan bahwa semua kitab Upanisad merangkum filosofi ketuhanan dan mengenai sang diri

Suku tatabahasa Sanskrit yang kuat disusun oleh Panini, seorang yang berasal dari Pakhtoon dari wilayah Peshawar [ada yang mengatakan wilayah gandhara, Pakistan sekarang]. Tulisan Brahmmi dan kharosthuu juga berubah menjadi huruf-huruf sarada yang ada di khasmir sekarang. Setelah itu muncul huruf-huruf Guru mukhii, nagrii dan Naungala. Tulisan yang ada sekarang ini tercipta kira2 10 -12 abad yang lalu. [Kuliah tentang MahaBharata, Shrii Shrii Anandamurti

Penulisan Bhagavad Gita sangat erat kaitannya dengan penyusunan grammatical bahasa Sanskrit oleh seorang yang berasal dari Shalatula [pakistan], yaitu Panini [520SM-460SM], karyanya yang terkenal adalah Aṣṭādhyāyī [artinya Delapan Bab, merupakan karya sekurangnya 3 orang, yaitu sebelum Panini, Panini dan sesudah Panini] banyak yang memperkirakan karya ini berasal dari abad ke 5 SM.

Di samping Panini, ada pula ahli tatabahasa lainnya yaitu Patanjali yang hidup di abad ke-2 SM [Radhakrishnan, and C.A. Moore, (1957). A Source Book in Indian Philosophy. Princeton, New Jersey: Princeton University, ch. XIII, Yoga, p.453]. Patanjali disamping ahli Yoga iapun merupakan pakar tata bahasa Sanskrit. Patanjali pernah mengatakan bahwa Dvandva adalah yang paling paduan kata-kara yang superior di Sanksrit. Kalimat tersebut secara mengherankan sama dengan kalimat ini:

“..dari paduan kata-kata, Aku adalah kata majemuk [Dvandva]..” [Bhagavad Gita, 10.33].

Dari 6 kelas paduan kata di tatabahasa Sanskrit kelas “Dvandva” memiliki nilai gramatikar tertingi, doktrin superioritas Dvandan dibadingkan paduan lainnya pertama kali dinyatakan oleh ahli tatabahasa Patanjali [Pat. I. p 392, cited in Speijer, Sanskrit Syntax, page 151, note]. Disamping ahli bahasan Sanskrit ia pula ahli Yoga, dan di Bhagavad Gita kita kenal merupakan paduan Upanisad [Vedanta], Samkhya, dan Yoga.

Bagaimanakah mungkin kalimat itu benar diucapkan oleh Krisna, mengingat penyusunan Sanskrit baru ada setelah Panini [abad ke 5 SM] terlebih lagi Panini menolak ide superiotas kelas dalam bahasa Sanskrit?. Jawaban terbaiknya adalah Patanjali, yang mengucapkan itu juga ikut menyusun Bhagavad Gita!,

JADI KATA AKU BUKANLAH MERUJUK PADA DIRI KRISNA

author