Sulinggih dilawan, bolehkah?

No comment 119 views

Sulinggih dilawan, bolehkah?

Sulinggih dilawan, bolehkah?

Kemajuan tehknologi, khususnya tehknologi komunikasi nyatanya mampu "menjajah" siapa saja, tak terkecuali Sulinggih, yang posisinya disejajarkan sebagai Tuhan hidup, penerang segela kegelapan batin.

Bila dahulu komunikasi dengan Sulinggih hanya bisa dilakukan di Griya atau tempat-tempat khusus berlangsungnya kegiatan keagamaan, sekarang, komunikasi bisa dilakukan dimana saja, cukup dengan bekal gawai dan sambungan internet, komunikasi tanpa batas sangat mudah dilakukan. Tentu ini merupakan satu bentuk kemajuan, sebab batas ruang dan waktu akhirnya dipersempit, sebagian tugas dan tanggung jawab sebagai Sulinggih, nyatanya bisa dituntaskan lewat media sosial. Maka lihatlah, tak sedikit Wiku menghadirkan tulisan-tulisan cerdas untuk memenuhi dahaga umat, atau menggunggah video dharma wacana pada kanal youtube, tentu ini berkah luar biasa bagi sebagian umat untuk menyirnakan kegelapan pada ruang batin.

Namun, mirip kepingan mata uang, bila media sosial mampu dimanfaatkan dengan bijak oleh Sulinggih, pada sisi lainnya, tak sedikit Sulinggih memanfaatkan jejaring itu untuk aksi tak penting, alih-alih menuntaskan perannya, Sulinggih malah tampil tak ubahnya seorang walaka, manusia kebanyakan, entah pamer tongkat, pamer jubah, gaya rambut, batu akik, atau sejenisnya. Dan untuk akun-akun yang bertingkah demikian, entah sudah berapa kali akun saya diblokir akibat komentar pedas yang saya layangkan.

Hari ini, seorang kawan mengirimi foto Sulinggih mengenakan APD. Berbekal foto itu, segera jari ini berselancar untuk menemukan sumbernya. Ketemu, dan terpampang memang foto itu, sama persis seperti kiriman kawan tadi. Membaca narasi Sang Sulinggih, ya biasa saja, namun tatkala membaca komentar yang muncul, agak miris memang membacanya. Alih-alih netizen memahami maksud pembuat status, bullying malah mudah ditemukan.

Lantas pertanyaannya, apakah Sulinggih boleh ditentang?

Saya secara pribadi sangat menghormati Sulinggih, beliau-beliau saya anggap sebagai Tuhan, benar.... Tuhan yang nyata. Beliau adalah Guru kehidupan, dari beliau selayaknya kita banyak belajar mengenai kehidupan. Namun, tatkala beliau abai akan peran dan tugasnya, tentu tak ada salahnya bila kita "melawan", lawan narasinya, lawan kekeliruan pola pikir dan tindakannya, bukan melawan personalnya, lebih-lebih kasulinggihannya, jika personalnya, kasulinggihannya, hanya Sang Guru Nabe yang berhak untuk mengambil tindakan, bukan kita, apalagi walaka.

Namun, walau boleh melawan, setidaknya hindari melakukan perlawanan "ngacuh" apalagi membully, itu jelas keliru. Etika tetap dikedepankan, lagi pula, obyektifotas tetaplah menjadi tumpuan dasar berfikir, jangan akibat satu kekelituan yang pernah diperbuat, maka segala postingan oknum sulinggih malah dipermasalahkan.

Khusus untuk Sulinggih yang mempergunakan APD ketika "muput" yadnya, saya kira ini wajib kita apresiasi, kita dukung, bila perlu Pemerintah Daerah harus memfasilitasi penyediaanya, sebab bagaimanapun, Sulinggih pasti melakukan interaksi dengan masyarakat khususnya saat menuntaskan upacara. Dan ketika itu dijalani, protokol kesehatan sebaiknya tetap diikuti. Maju Nak Lingsir, titiang mendukung. Semoga selalu sehat sehingga mampu terus mengemban tugas mengantarkan kami dari gelapnya pemahaman menuju terangnya pengetahuan. (oleh Windu Segara, pengamat tradisi bali)

author