Sumber Aura Spiritual di Bali

No comment 1320 views

Sumber Aura Spiritual di Bali

Aura Kedamaian Bali Adalah Hasil Kerja Nyata Secara Kolektif

Sudah sejak lama, Bali menjadi tujuan utama kunjungan pariwisata. Sudah sejak lama juga orang-orang yang berkunjung ke Bali tidak sedikit yang menyatakan bagaimana perbedaan suasana yang dirasakan selama di Bali.

Bagi yang peka terhadap energi, akan langsung merasakan selubung (field) energi ketika memasuki wilayah Bali. Jika melalui jalur darat, biasanya memasuki pertengahan selat Bali, sebelum sampai Gilimanuk akan sudah merasakan memasuki selubung energi. Atau minimal ketika turun dari kapal ferry.

Bagi orang yang biasa-biasa saja, minimal merasakan ketenangan, kedamaian, menjadi tempat istirahat yang paling nyaman yang pernah dirasakan. Bahkan tidak sedikit yang membuat impian suatu saat akan menetap di Bali.

Tidak sedikit juga orang-orang yang mempertanyakan mengapa di Bali begitu kuat selubung dan rasa damai, tenang dkk. Bahkan jika membandingkan pemandangan-pemandangan alamnya, sebenarnya di tempat lain itu ada yang masih jauh lebih indah daripada apa yang dilihatnya di Bali, tapi rasa/feel nya tidak di dapat. Kalau kami, orang Bali menyebutnya di tempat lain “Taksu” nya tidak dapat, karena hilang, karena tidak terawat.

Dibalik semua kenyamanan rasa yang dirasakan oleh pengunjung ke Bali, ketahuilah, ada yang selalu bekerja dengan tulus menata, mempolakan kembali, merawat kembali setiap harinya. Mereka yang setiap harinya meletakkan Canang Sari di titik-titik tertentu adalah sedang melaksanakan perawatan tersebut.

Hal sederhana yang memiliki efek besar sebab dilakukan bersama-sama (kolektif) setiap hari, berkesinambungan. Hal yang sederhana sehingga sering menjadi bahan pelecehan oleh pengunjung yang bodoh, yang tidak tau apa-apa tapi sok hebat, dan sok merasa paling tau kebenaran.

Belum lagi, ada yang kami lakukan di Bali dengan skala jangkauan yang lebih besar selain yang setiap hari tersebut. Ada yang dengan siklus 15 hari sekali, sebulan sekali, 6 bulan sekali (odalan), 1 tahun sekali (puja wali), dst… hingga 10 tahun sekali, 100 tahun sekali, bahkan hingga 1000 tahun sekali.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir disadari atau tidak, kita perlu sama-sama jujur, bahwa auranya, rasa/feel nya sudah tidak lagi seperti beberapa dekade sebelumnya.
Apakah penyebabnya?

Beberapa hal yang menonjol berkontribusi menurunkan kualitas suasana nyaman, tenang, damai dst itu adalah:
Ramainya para pendatang dari luar Bali yang tidak melakukan tatacara yang selaras dengan apa yang dilakukan penduduk Bali. Apalagi beberapa tahun belakangan ini, dengan banyaknya pendatang yang menganut aliran2 “KSP”.

Namun, apakah mereka benar-benar yang paling berkontribusi?
Ada yang lebih besar kontribusinya ikut mempercepat menurunnya kualitas vibrasi energi yang ada di Bali, yaitu, orang Bali sendiri. Ya, orang-orang yang masih tetap melakukan tatacara turun temurun namun melenceng dari pedoman tatanan yang seharusnya dilakukan. Masih melakukan hanya karena kebiasaan, namun tanpa pengetahuan.

Masih menghaturkan canang sari di titik-titik tertentu namun susunan warna canang sarinya tidak sesuai. Kalaupun ada yang mengingatkan akan dibantah, “ini cara saya”, “ini cara dari daerah saya”, “yang penting sudah melakukan”, “yang penting rasa”, dst… dsb…

Seperti yang sudah pernah saya ulas dalam artikel-artikel saya, fungsi canang sari tersebut adalah tentang pemetaan/pemolaan kembali energi yang ada disekitar titik diletakkannya. Pemahaman ini menjadi kacau karena masuknya pemahaman ala India, ala Bhagavadgita yang menyatakan mempersembahkan bunga dan daun. Sadarilah bahwa Leluhur di Bali dan di Dwipantara ini tidak sesempit itu pemahamannya, pengetahuan Leluhur begitu tinggi dan luhur.

Pemetaan/pemolaan energi yang biasanya dijalankan setiap hari atau dalam kurun waktu tertentu itu ada pengetahuannya. Pengetahuannya pun sangat erat dengan pengetahuan fisika di era modern ini. Dengan hiruk pikuk gerak manusia saat ini yang geraknya semakin tinggi, tingkat stress-nya semakin tinggi, jumlah penduduknya pun semakin berlipat-lipat, setiap harinya akan menciptakan dan menyebarkan vibrasi sesuai apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Oleh sebab itu diperlukan penataan/pemolaan ulang setiap harinya, untuk meminimalisir efek negatif vibrasi sebelumnya.

Dengan simbol warna sebagai salah satu perwakilan wujud energi, canang sari digunakan untuk proses penataan ulang tersebut.

  • Bunga warna putih dan semua yang mendekati vibrasi ke arah warna putih dikembalikan ke posisi timur.
  • Bunga warna merah dan semua yang mendekati vibrasi ke arah warna merah dikembalikan ke posisi selatan.
  • Bunga warna kuning dan semua yang mendekati vibrasi ke arah warna kuning dikembalikan ke posisi barat.
  • Bunga warna ungu/hitam dan semua yang mendekati vibrasi ke arah warna hitam/gelap dikembalikan ke posisi utara.

Dengan begitu, pemetaan/pemolaan ulang tersebut berfungsi untuk me-restart kembali setiap harinya. Contoh yang dapat berfungsi menata adalah gambar sebelah kiri. Sedangkan sebelah kanan, kontribusinya lebih cenderung membantu menurunnya kualitas vibrasi energi di Bali. Sebab ikut membuat pemetaan ke arah yang tidak sesuai kondisi nol/netral.

Mari benahi bersama-bersama, kita bersama yang membenahinya, bukan dengan mudahnya menyalahkan para pendatang saja. Juga bukan bertahan dan tidak berani berubah hanya karena dasar kebiasaan turun temurun tanpa dasar pengetahuannya. Waktunya koreksi diri masing-masing, untuk kebaikan bersama. Sederhana namun efeknya besar.

All about energy

——-

Tambahan:
Canang Sari dan sarana banten lainnya adalah bentuk dari aplikasi jadi atau ilmu terapan dari TANTRA MANTRA YANTRA. Sehingga siapa pun yang melakukannya dengan tepat dan dengan pengetahuannya, telah menerapkan TANTRA MANTRA YANTRA dalam skala tertentu.

silahkan simak :

author