Tamak dan Penghianatan Pendanda Baka

No comment 6407 views

Tamak dan Penghianatan Pendanda Baka

Disebuah wilayah perairan yang bernama kolam Kumudasara, sedang mengalami masa surut akibat musim kemarau, terik matahari membara membuat suasana perairan menjadi lebih panas, semakin hari semakin menyusut volume airnya sehinga bila terjadi pergerakan oleh hewan yang melintasi perairan tersebut ataupun pergerakan ikan-ikan besar, air-pun menjadi keruh pekat, membuat suasana perairan itu tidak nyaman lagi bagi binatang yang lebih kecil dan lemah.

Diceritakan seekor burung Cangak (bangau) yang sangat licik dan sangat pandai membuat akal, melintasi daerah tersebut. kemudian ada hasratnya untuk memakan habis seisi perairan tersebut, tetapi dengan cara halus, sang cangak bermaksud untuk menjadikan daerah perairan tersebut tambang makanannya selama beberapa mingu kedepan, karena diapun lelah harus terbang mencari-cari makanan disaat panas kemarau ini. Ia telah mengetahui bagaimana kehidupan ikan-ikan di kolam itu karena sebelumnya Ia telah banyak memangsa ikan disana, oleh karenanya para ikan tidak berani mendekat padanya.

Untuk itu burung Cangak lalu mencari daya upaya, maka dia menyamar sebagai pendeta memakai pakaian serba putih, dia berkeinginan agar santapannya tidak takut kepada dia, agar para ikan mau mendekatinya karena penampilan pendetanya tersebut, sehinga sang cangak tidak bersusah payah dalam memburu mangsanya. Ia merubah sikapnya seperti orang yang bijaksana, memakai anting-anting, ganitri,maketu,berslimut putihsebagai seorang pendeta.

Saat sang cangak turun ke perairan tersebut, para ikan-pun gelisah, semua agresif, berlarian mencari tempat berlindung. melihat hal tersebut sang cangak berupaya lebih tenang, ber-ekspresi teduh seperti halnya pendeta suci yang lemah, tanpa nafsu sedikitpun. Sepertinya ia sedang melakukan ajaran tatwa utama,suaranya tak karuan. Menghaturkan weda sruti pada hyang Surya. Ikan-ikan yang berenang didepannya tak dihiraukannya. Sudah beberapa hari burung Cangak itu berbuat demikian lalu, ikan -ikan dalam kolam itu semakin berani berenang menghampiri burung Cangak, namun sang Cangak tetap tak menyakiti ikan itu.

Ikan -ikan itu lalu bertanya pada burung Cangak itu; ”Mengapa sekarang tuan sangat berubah, tidak lagi garang memakan ikan. Tingkah laku tuan seperti orang sadu

Sang Cangak berkata manis; ”Saya sekarang tidak lagi melakukan pembunuhan dan menyakiti ciptaanNYA, menjalankan AHIMSA. Saya sudah melakukan yang disebut “Trikaya” berpikir, berkata dan berbuat yang baik. Ingin menghilangkan perbuatan jahat,dan menghilangkan dosa yang telah ku lakukan dahulu. Aku ingin berbuat yang benar yang telah digariskan dalam ajaran kitab suci. Sekarang aku telah mensucikan diri (madiksa) sebagai sorang pendeta, aku dikenal dengan sebutan Pedanda Baka

Ikan-ikan dalam kolam itu semua senang mendengarknnya,seraya berkata; ”Kami amat berbahagia, semoga ratu peranda rela memberi ajaran pada kami sekalian, sehingga kami bisa jadi mahluk yang baik. Kami siap untuk berguru pada ratu Peranda, yang akan saya mintai petunjuk untuk menuju jalan yang benar.

Peranda Baka (cangak) tersenyum lalu berkata; ”Kamu tak usah sedih, saya akan memberitahu kamu perbuatan yang benar. Tujuannya untuk mencapai kebahagian sekala dan niskala. Kamu harus benar-benar ingat akan baik buruk, selalu setia pada guru, selalu memegang dharma, Itu yang akan dipakai untuk mengurangi pengaruh buruk panca wisaya (panca indra). Kalau demikian jelas kamu akan bisa mendapatkan yang disebut “rwa bineda”, untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Itulah yang patut kamu lakukan sehari-hari. Satukan pikiran, jangan ragu.”

Para ikan semua senang dan bersedia mengikuti perinatah sang Pendeta Baka.

Entah berapa lamanya Sang Baka berteman akrab dengan ikan-ikan itu. Semua ikan tidak mempunyai perasaan curiga, karena percaya pada Sang Cangak benar-benar dharma. Ikan-ikan dalam kolam selalu menikmati kebahagian tak merasakan ada bahaya yang akan menimpa dirinya. Lama kelamaan ikan itu semakin banyak. Selalu gembira berenang menikmati keindahan kolam. Sang Baka amat senang karena akal mulusnya telah berhasil.

Pada suatu ketika ia berdiam diatas tumbuhan Sindura, seraya menangis tersedu-sedu. Ia kelihatannya bersedih menundukkan wajahnya. Semua ikan yang melihatnya terkejut, mendengar isak tangisnya Sang Peranda Baka. Semua tertunduk menghormat menghadap, Sang Peranda Baka tetap menangis tersedu, air matanya meleleh membasahi pipinya, seraya berkata terputus-putus; ”Aku amat bersedih melihat kamu sekalian. Belum berapa lama kamu merasakan kegembiraan, menikmati makanan di kolam ini, bersama sanak keluargamu. Amat senang saya melihat keadaanmu bergembira bersama keluargamu. Tadi saya mendengar kabar, penangkap ikan sudah sepakat, akan datang kemari untuk mencari ikan. Ada yang membawa, jaring, pancing, malah ada yang sudah siap racun. Ia akan datang kemari tiga hari lagi, dengan lengkap bekal nasi, tuak. Itulah yang menjadi pemikiran saya.apalagi melihat kamu menggelepar waktu dibakar. Sanak keluargamu semua akan mati kena racun. Kasihan kamu akan habis semua, yang mengakibatkan persabatan kita tidak bisa berlanjut. Saya sangat bersedih, karena tidak bisa melindungi teman yang dalam kesusahan. Itulah yang menyebabkan hatiku bersedih, apa yang harus kulakukan.?”

Ikan-ikan pikirannya kacau, hatinya sedih semua ketakutan akan kedatangan kematian; ”Ratu Pendeta, tolonglah saya, dari maut. Tidak ada yang bisa membantu kami kecuali sang pendeta. Pendeta sebagai kehidupan hamba.”

Sang Baka semakin gembira dalam hatinya mendengar kata-kata ikan itu. Seraya berkata; ”Kamu ikan semua, kalau kamu ingin selamat hidup, ada akalku. Waktu dulu ada sebuah telaga yang besar airnya bening, bernama Andawana. Telaga itu adalah telaga Hyang Rudra yang amat indah, tak ada yang menyamai. Tidak ada manusia yang menyentuh airnya. Semua ikan yang hidup disana tidak bia dimakan oleh siapaun. Kalau kamu ingin hidup, saya akan membawa kamu kesana. Nanti kalau sudah sampai, disana tidak ada lagi bahaya yang datang. Saya berjanji dan bersumpah, kalau saya tidak setia pada perkataanku, aku sanggup menerima semua pahalanya".

Dalam suasana kegembiraan Sang Cangak, ada seekor kepiting yang bernama Sang Yuyu merasa curiga dan tidak percaya kepada Sang Cangak yang tiba-tiba baik. Sang Cangak dianggapnya seperti buaya yang berpura-pura tidur untuk mencari mangsa. Sang Yuyu yang hanya sendiri memiliki pendapat berbeda tersebut, hanya diam dan mencari bukti kebenaran pendapatnya itu, sebelum menuduh Sang Cangak.

Ikan-ikan di kolam itu amat percaya dan tertarik hatinya mendengar kata sang Cangak. Ikan yang memang bodoh tidak tahu dirinya diolok-olok, segera mempecayainya. Semua mintak supaya cepat diajak ke kolam Andawana kepunyaan Hyang Rudra. Lalu burung Cangak segera membawa dengan menggigit, dan memegang dengan jari kakinya. Sang Baka terbang keudara menuju keatas gunung. Disana ada sebuah batu hitam yang datar dan luas. Disanalah tempatnya ia memakan ikan tiap hari.

Entah berapa lamanya Sang Baka membawa ikan-ikan kepuncak gunung dan memakannya. Hampir punahlah ikan dalam kolam Kumudasara, namun masih tampak seekor yuyu diam diantara bebatuan ditepi kolam. Sang yuyu sudah menduga sang Cangak adalah burung yang mempunyai sifat loba, tamak dan rakus. Iapun segera menghampiri sang Cangak, memohon supaya turut diajak ketempat temannya. Pendeta Baka ( Cangak) menurutinya. Sang Yuyu sudah ber-glayutan di leher sang Baka. Sang Baka segera terbang menuju gunung tempatnya memakan ikan-ikan tersebut. Setelah sampai di atas gunung, sang Yuyu menoleh ke bawah. Dilihatnya tulang belulang ikan berserakan di atas batu. Sang yuyu semakin percaya akan kejahatan sang Baka.

Wah disini temanku kau makan. Kamu amat durhaka kepada teman. Suaramu manis tapi kenyataannya kamu jahat” Demikian bisikan hati sang Yuyu seraya menjepit leher sang Baka. “Jangan kamu turunkan saya disini, bawa saya kembali kekolam Kumudasara. Kalau tidak nyawamu akan melayang.”

Sang Baka amat malu karena akal bulusnya ketahuan. Sang Peranda Baka menangis tersedu, hatinya gelisah, rupanya pucat pasi menunduk; ” Maafkan saya, karena perbuatanku salah. Sekarang saya akan menerbangkan tuan ke Kumudasara. Jangan tuanku marah, ampunilah nyawaku” Sang Baka lalu terbang membawa sang Yuyu ke tempat semula.

Tidak lama di jalan sang Baka sudah sampai ditempatnya semula, lalu berkata; ”Tuanku sang Yuyu lepaskanlah jepitan tuan dari leherku!

Sang Yuyu malah menjepit lebih keras,sampai lehernya putus.

Setelah Sang Cangak mati, atmanya menuju akhirat. Tidak ada sanak saudara yang mengantar, hanya karmanya yang menemani. Atma ikan dan udang sangat senang menyambutnya, dengan nada sumbang yang penuh ejekan. Sang Cangak sangat malu dengan dirinya, atas perbuatannya kepada mereka dahulu. Para ikan hendak membalas perlakuan Sang Cangak terhadap mereka, agar mendapat balasan yang setimpal. Sang Cangak merasa dipojokkan. Lala ia berkata bahwa ia telah menebus dosanya semasih hidup dengan nyawa. Sekarang ia meminta tolong kepada mereka untuk mencarikan tempat yang baik untuknya. Para ikan menyanggupi mengantar Sang Cangak. Mereka kemudian mengantarnya ke Tegal Penyangsaran, tempat para atma disiksa. Dia merasa takut dan merasa dibohongi oleh para ikan. Kemudian Sang Cangak dihadapkan kepada Hyang Jogor Manik untuk menerima hukuman dari perbuatan yang pernah ia lakukan semasih hidup. Ia dihukum lalu dibuang ke neraka dan menjadi dasar kawah.

Demikianlah hasil perbuatan tidak setia pada teman karib. Tidak lama bisa menikmati kebahagian, sebab hyang kala akan datang menjemput untuk dibawa kelembah kenerakaan di Yamaloka.

Pesan Kebijaksanaan Gama Bali

Cerita penuh filsafat, memberikan pelajaran yangberharga ini sangat terkenal dibali, banyak yang mengenal dengan satua i cangak dadi peranda atau Pedanda Baka. Ada pesan berharga yang terkandung didalamnya. singkatnya, kita senantiasa diajarkan untuk selalu waspada terhadap siap saja apalagi musuh, terlebih lagi yang belakangan mendadak bersifat baik hati. Pastilah ada maksud tertentu dibalik itu. walaupun itu tidak berartimenghalangi orang untuk kembali ke jalan yang benar. Kewaspadaan yang inten sangat diperlukan. Penghianatan selalu berujung pada permusuhan, bahkan hingga berujung pada peperanan.

Maka, adalah sesuatu yang nista bila melakukan perbuatan tidak setia (penghianatan), terlebih kapada sahabat, saudara dan leluhur. senyatanya memang ada orang yang tega melakukan hal nista tersebut, sehingga dalam masyarakat juga dikenal istilah musang berbulu domba dll. menikam membunuh teman dengan alasan demi sesuap nasi dan masa depan.

author