Tantra

No comment 662 views
Tantra,5 / 5 ( 1votes )

Tantra

Tantra bukanlah sebuah "agama", juga bukanlah sebuah “isme”.

Tantra berasar dari akar kata "Tan+tra".

  • Tan barasal dari akar kata Sansekerta yang berarti “perluasan”, dan
  • Tra berarti “pembebasan”.

Dengan demikian Tantra merupakan latihan rohani yang mengangkat manusia ke dalam suatu proses yang memperluas pikirannya. Tantra menghantar manusia dari suatu keadaan tidak sempurna menjadi sempurna, dari keadaan kasar menjadi halus, dari kemelekatan menjadi terbebaskan. Bila ditarik lebih dalam, Tantra merupakan pengetahuan mendasar tentang kebijaksanaan (Wisdom). Kebijaksanaan hanya ada sebagai hasil akhir dari pengolahan antara pergolakan tesis dan antitesis dari berbagai pengetahuan.

Pengetahuan adalah hasil analisa logika dan pengalaman, jika ada pengetahuan yang tidak mampu dilogikakan, maka itu belum menjadi sebuah pengetahuan, tapi baru sekedar informasi.

Begitu banyak orang yang menyukai kata-kata atau kalimat-kalimat bijak. Namun, bagaimanakah cara mengaplikasikan kebijaksanaan tanpa dipahami pengetahuannya? Tanpa memahami bagaimana logika yg membentuk sehingga munculnya kebijaksanaan tersebut sebagai hasil akhir.

Tanpa pengetahuan yang logis, manusia hanya akan menikmati buaian kalimat-kalimat bijak tanpa mampu menerjemahkan sebagai gerak/aksi keseharian yang konkret.

Kata-kata dan kalimat-kalimat bijak minimal memiliki 2 (dua) fungsi;

  1. Menjadi sebuah puzzle, tanda-tanda yg memberikan petunjuk bagi yg mau menelusuri lebih jauh dan mendalam.
  2. Menjadi sebuah alat untuk membuai dan melemahkan pikiran serta mental bagi yg malas berpikir.

Tanpa memahami Tantra, manusia sulit memahami pola dasar cara berpikirnya sendiri. Tanpa Tantra, pola dasar pemikirannya tidak lagi murni, sebab pola dasar pemikirannya adalah hasil pemrograman turun temurun sesuai lingkungan tempatnya hidup dan tumbuh. Program yang tidak disadari dan tidak dipahaminya namun dipaksa harus dipercayai/diyakini, melalui aturan-aturan dan tatanan-tatanan yang mengatasnamakan kebaikan komunal pun bersama, padahal belum tentu begitu. Tanpa memahami pola dasar pemikirannya sendiri, manusia hanya menjadi bio-robot yg diprogram sesuai keinginan si pembuat program melalui pendekatan persuasif yang tidak disadari.

Seseorang yang sudah mengetahui (Buddhi) memahami dan menerapkan Tantra bisa tetap melakukan apa saja seperti yg diwariskan turun temurun, namun ia tau bagaimana cara yg tepat, ia tau apa intisari sesungguhnya, bukan melakukan sekedar ikut-ikutanan, tapi melakukan dengan penuh kesadaran, kesadaran murni (Buddha) yang telah dicapai dengan pengetahuannya.

Tantra yang akan membuka pikiran manusia untuk keluar dari maya/ilusi yang muncul dari ketidaktahuan, inilah ajaran Buddhi.

Seseorang yang sudah mampu keluar dari keyakinan-keyakinan yang diwariskan turun temurun, mampu keluar dari jeratan kotak-kotak agama yang merupakan bentuk perwujudan keakuan dan keangkuhan pikiran manusia, yang mampu keluar dari batasan kelas/kasta, kemudian dengan segala pengetahuannya, memiliki keinginan dan melakukan sesuatu yang konkret, maka ia telah tampil sebagai seorang Tantric (yang telah melakukan Tantra).

Tentang bagaimana mengenali pola dasar cara berpikir kita masing-masing, silahkan baca "Memperluas Cakrawala Berpikir"

author