Tantrayana

No comment 365 views
Tantrayana,5 / 5 ( 1votes )

Tantrayana

Kajian Sejarah Tantrayana

Beberapa orang Indolog beranggapan bahwa ada hubungan antara Konsep-Dewi (Mother-Goddes) yang bukti-buktinya terdapat dalam suatu zeal di Lembah Sindhu (sekarang ada di Pakistan) dalam kurun waktu sebelum zaman Weda, dengan Konsep Mahanirwana Tantra, Konsep ini berpangkal pada percakapan Dewi Parwati dengan Sang Hyang Sada-Siwa yang membentangkan turunnya Dewi Durga ke Bumi pada zaman Kali untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku. Dalam beberapa sumber Dewi Durga juga disebut Candi. Dan sinilah pada mulanya muncul istilah “candi” (candikaghra) untuk menamai bangunan suci sebagai tempat memuja dewa dan arwah yang telah suci, Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku disebut Kalimosada (Kali-maha-usada,) yang artinya Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab dalam zaman kekacauan moral, pikiran dan perilaku; sedangkan misi Beliau turun ke bumi disebut Kalika-Dharma.

Dan konsep Dewi itu muncullah Saktiisme yaitu suatu paham yang mengkhususkan pemujaan kepada Sakti yang merupakan suatu kekuatan daripada Dewa. Di dalam konsep monodualis bahwa Nirguna Brahma dalam Dewa bersifat pasif yang juga disebut Dewi. Dari sini muncullah istilah Dewa dan Dewi atau Bhatara-Bhatari yang oleh pikiran manusia dipandang sebagai manifestasi tersendiri dan juga dipersonifikasikan dalam imajinasi manusia secara tersendiri pula. Para pemuja sakti ini disebut Sakta.

Dalam perkembangannya lebih lanjut daripada Saktiisme ini, maka muncullah Tantriisme yaitu suatu paham yang memuja Sakti secara ekstrim. Para penganut paham ini disebut Tantrayana. Istilah “Tantrayana” berasal dari akar kata “tan” yang artinya ‘memaparkan kesaktian “atau” kekuatan daripada Dewi itu”. Di India penganut Tantriisme lebih banyak terdapat di India-Selatan daripada di India Utara. Kitab-kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali, kurang lebih ada 64 macam antara lain Mahanirwana Tantra, Kulanarwana Tantra Bidhana, Yoginihrdaya Tantra, Tantrasara dan lain sebagainya. Tantrayana berkembang luas sampai ke Cina, Tibet dan Indonesia. Dari Trantriisme muncullah suatu paham Bhairawa yang artinya “hebat”. Paham Bhairawa secara khusus memulai kehebatan daripada Sakti dengan cara-cara yang spesifik. Bhairawa inipun berkembang sampai ke Cina, Tibet dan Indonesia.

Di Indonesia masuknya Saktiisme, Tantriisme dan Bhairawa dimulai sejak abad ke-7 melalui kerajaan Sriwijaya di Sumatera sebagaimana diberikan persaksian oleh prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India Selatan dan Tibet. Dari peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga macam Bhairawa yaitu :

  1. Bhairawa Heruka yang terdapat di Padang Lawas-Sumatera Barat,
  2. Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Kertanegara, raja Singosari - Jawa Timur serta oleh Adhityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit dan
  3. Bhairawa Bhima di Bali yang arcanya kini ada di pura Kebo Edan Bedulu Gianyar.

Aliran-aliran Bhairawa ini mempunyai tendensi politik guna mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan negara (baca: kerajaan). Maka dari itulah Bhairawa ini diikuti oleh raja-raja dan petinggi pemerintahan serta tokoh-tokoh masyarakat saja pada zaman dahulu.

Pada zaman dahulu dimana tekriologi belum maju, penjagaan keämanan negara dan pengendalian pemerintahan didasarkan atas kharisma raja dan petinggi pemerintahan Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengibangi kekuatan Kaisar Kubilai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Heruka. Kebo Parud, patih Singosari menganut Bhairawa Bhima mengimbangin raja Bali yang kharismanya tinggi. Adhityawarman menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kharisma raja-raja Pagaruyungan di Sumatera Barat yang menganut Bhairawa Heruka.

Di Bali, perkembangan daripada Konsepsi-Dewi itu nyata sekali berupa pemujaan terhadap Dewi atau Bhatari lebih menonjol daripada pemujaan terhadap Dewa atau Brahma misalnya: pemujaan terhadap Dewi Saraswati, Dewi Durga, Dewi Sri, Dewi Gangga, Dewi Danuh dan lain sehagainya. Di dalam sistem kekerahatan di Bali, banyak sekali terdapat Pura Ibu yang mempunyai konotasi terhadap Konsep Dewi.

Perkembangan Saktiisme di Bali juga menjurus kepada dua aliran mistik yaitu Pangiwa dan Panengen. Dari Pangiwa muncullah pengetahuan tentang leyak, Desti, Tëluh, Taranjana dan Wegig, sedangkan dari Panengen muncullah pengetahuan tentang Kawisesan dan Pragolan. Pangiwa berasal dari sistem Niwerti dalam doktrin Bhairawa. Selain itu beberapa formula dalam Atwarwa Weda juga mengilhami mistik ini.

Adapun kitab-kitab Tantrayana di Indonesia antara lain adalah Tantrayana di Indonesia antara lain adalah : Tantrawajra dhatusubuti, Candra Bhairawa dan Semara Tantra. Di Bali banyak orang bernama Tantra dan ada suatu karya sastra populer di Bali bernama Tantri yang memaparkan berbagai episode yang pada mulanya mengungkapkan suatu aspek Mithura dari Pancatattwa suatu doktrin Tantrayana.

Doktrin Tantrayana

Ajaran Tantrayana dibentangkan dalam kitab-kitab Tantra-Sastra yang juga disebut kitab-kitab agama yang banyaknya kurang lebih 64 buah. Pada dasarnya Konsepsi-Ketuhanan (Theisme) dalam Tantrayana adalah Monoisme yaitu pemujaan terhadap satu Tuhan yang disebut Brahman. Konsep ini dijelaskan dalam Mahanirwana Tantra (12) dengan suatu kalimat berbunyi “Om Saccidekam Brahman” (Om, hanya satu kesadaran tertinggi yang disebut Brahman), Konsep Monisme ini muncul dari pandangan Advaita dalam Wedanta Darsanam. Fokus ajaran Tantrayana adalah wujud suatu keseimbangan dalam kehidupan di dunia ini. Ditekankannya bahwa keseimbangan kesejahteraan material dengan kesejahteraan rohani adalah sangat penting untuk terwujudny jagadhita, karena jagadhita ini memotivasi munculnya ketenangan batin yang merupakan suatu syarat mutlak untuk mencapai ketenangan jiwa (bhukti) yang selanjutnya akan menuju moksa (mukti), untuk terwujudnya keseimbangan itu, Tantrayana mengajarkan dua sistem yang ditempuh yaitu : wahya dan adhyatmika (sekala dan niskala). Pernyataan produk kedua sistem ini akan dapat mewujudkan jagadhita dalam kehidupan. Dalam konteks sistem ini, maka konsep Monisme itu dikembangkan menjadi konsep Monodualis yaitu : satu itu dijadikan dua dan dua itu disatukan seperti yang telah dipaparkan di depan.

Upacara Tantrayana

Tantrayana menekankan betapa pentingnya upacara agama (ritual) dilakukan, karena peran upacara agama merupakan suatu aktivitas untuk memujudkan keseimbangan hidup di dunia ini. Di dalam kitab Mahanirwana Tantra dibentangkan prinsip-prinsip upacara Panca-Yajna yang perlu dilaksanakan. Disebutkan pula materi atau sarana-sarana yang digunakan upakara termasuk penggunaan binatang korban dalam kaitannya dengan caru. Tantrayana secara rinci menjelaskan tata-cara melakukan yajna serta kepada siapa yajna itu dipersembahkan. Dengan memperhatikan isi kitab-kitab Tantra Sastra yang memuat ajaran Tantrayana dapat dipahami, bahwa bentuk-bentuk upakara dan upacara yajna yang diselenggarakan di Bali, secara jelas terlihat adanya pengaruh dari Tantrayana, di samping juga mendasakan kepada berbagai Sastragama Hindu sebagai penjabaran dan Catur Weda, serta disemarakkan oleh produk sosial budaya daerah yang berasal dari alam pikiran pra-Hindu di Indonesia.

Tapa dan Brata Tantrayana

Pengendalian din melalui tapa dan brata sangat ditekankan dalam Tantrayana. Istilah tapa berasal dan akar kata tap artinya panas. Bertapa artinya memusatkan pikiran (cita) kepada Hyang Widhi dalam manifestasi tertentu, Di dalam melaksanakan pemusatan pikiran itu badan akan merasa panas. Menurut Yoga-Kundalini, bahwa panas yang muncul pada diri kita ketika memusatkan pikiran itu akan membakar kekotoran (mala) yang melekat pada Sthula sarira, suksma sarira dan antahkarana (malatraya).

Brata adalah suatu disiplin batin yang memuat dua hal yaitu : keharusan dan larangan; apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tantrayana mengajarkan suatu brata yang patut dilakukan yaitu : Panca tattwa yang terdiri dari:

  1. Matsya : memakan ikan;
  2. Mamsa : memakan daging
  3. Madhya : meminum minuman yang menghangatkan badan;
  4. Maithuna : melakukan hubungan seks yang benar.
  5. Mudra : melakukan sikap tangan yang mengandung kekuatan gaib.

Sesungguhnya Pancatattwa ini adalah rasional dan alamiah serta mengandung filosofi yang dalam. Arthur Avalon mengkaji hal ini secara panjang lebar dan mendalam dalam bukunya Sakti and Sakta. Pada prinsipnya Pancatattwa ini merupakan suatu filosofi hubungan bhuwana agung dan bhuwana alit yang mengandung nilai selaras serasi dan seimbang. Kendatipun demikian, namun penerapan Pancatattwa ini sering menyimpang dari filosofinya, dikarenakan oleh kelemahan manusia menghadapi pengaruh sadripu sehingga seringkali Pancatattwa itu diartikan sebagai Mahakamapancikam yaitu pemenuhan lima macam nafsu yang amat besar.

Puja - Mantra

Mahanirwana Tantra yang dijadikan dasar pegangan oleh Tantrayana sangat karya dengan Puja dan Mantra, Mantra-mantra seperi : Mula Mantra, Bija-Mantra, Kutha Mantra, Astra Mantra, dan Kawaca Mantra serta berbagai Wijaksara yang digunakan oleh Sulinggih di Bali, menurut basil penelitian berasal dari Mahanirwana Tantra. Demikian pula Stuti dan Stawa yang digunakan di Bali, sebagian berasal dan Puja Mantra Tantrayana. Mudra dan Siwa-upakarana yang yang digunakan oleh Sulinggih di Bali, berasal dari Mahanirwana Tantra. Selain mengambil sumber dari Mahanirwana Tantra, bahwa Puja-Parikrama di Bali mengambil sumber dari Catur Weda dan dari berbagai Upanisad.

Mistik Hindu selain dimunculkan oleh konsep Tantrayana, namun juga dimunculkan oleh Atharwa-Weda. Sebagaimana dimaklumi, bahwa Atharwa-Weda memuat formula-formula untuk menguasai kekuatan gaib dalam rangka mengamankan pelaksanaan upacara agama. Dari sini dapatlah dipahami mengapa agama Hindu menggunakan Wijaksara (magic sylable). Mudra dan Nyasa (lambang-lamhang gaib) dalam konteks upacara agama. Di Bali, munculnya upacara yang bersifat khusus dengan menggunakan upakara yang khusus pula dan spesifik seperti : Caru Lebur Sangsa, Caru Nwagempang, Pangelukatan Dyus Kinurungan, Labaan Babahi, dan lain sebagainya, dapat dipandang berasal dari kedua konsep tersebut tadi.

Wasana Kata

Demikianlah sekilas pikiran mengenai Tantrayana dalam konteks kehidupan agama Hindu di Indonesia terutama di Bali. Dengan pengungkapan yang sederhana ini, kiranya akan dapat menggugah perhatian untuk mendalami agama Hindu dengan mengkajinya dari berbagai aspek meliputi filosofi, etika, ritual, sosial-budaya dan ekonomi. WHD No. 434 April 2003. (Ida Pedanda Gede Pemaron Mandhara)

author