Tentang Etika

No comment 861 views

Tentang Etika

Etika adalah pengetahuan tentang kesusilaan. Kesusilaan berbentuk kaidah-kaidah yang berisi larangan-larangan atau suruhan-suruhan untuk berbuat sesuatu. Dengan demikian dalam Etika kita akan dapati ajaran tentang perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Perbuatan yang baik itulah supaya dilaksanakan dan perbuatan yang buruk itu dihindari.

Setiap perbuatan itu berdasarkan atas kehendak atau buddhi. Jadi apa yang diperbuat orang itu bermula dari kehendak. Oleh karena manusia dihadapkan kepada dua pilihan yaitu pilihan pada yang baik dan buruk maka ia harus mempunyai kehendak bebas untuk memilih. Tanpa kebebasan itu orang tidak dapat memilih yang baik. Namun bebaskah manusia sebebas-bebasnya memilih menurut kehendaknya? Dalam hubungan ini manusia mempunyai kebebasan yang terbatas juga. Yang membatasinya itu adalah norma-norma yang berlaku.

Arti Etika

Pada mulanya norma berarti penyiku, suatu perkakas yang digunakan oleh tukang kayu untuk mengetahui apakah suatu sudut memang benar-benar siku-siku. Bahkan pembuat perabot rumah tidak akan secara untung-untungan menggergaji sebilah papan, sebelum ia menggambarkan sebuah sudut siku-siku pada papan tersebut. Dengan demikian norma berarti sebuah ukuran yang kemudian dalam hubungan dengan etika berarti pedoman, ukuran atau haluan untuk bertingkah laku. Norma ini timbul karena kita berada bersama orang lain dan lingkungan hidup serta alam.

Etika dalam gama bali, norma agama yang dijadikan titik tolak berpikir. Demikianlah pola-pola kepercayaan, paham-paham filsafat gama bali mempunyai kedudukan yang amat penting dalam etika Hindu.

Kepercayaan gama bali berpangkal dari kepercayaan kepada Tuhan yang berada di mana-mana, yang mengetahui segala. Ia adalah saksi agung yang menjadi saksi segala perbuatan manusia. Karena itu manusia tidak dapat menyembunyikan segala perbuatannya terhadap Tuhan baik perbuatan itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.

Disamping keyakinan bahwa Tuhan mengetahui semua perbuatan orang, penganut gama bali amat meyakini adanya hukum karma yang menyatakan bahwa setiap perbuatan itu ada akibatnya. Bila seseorang berbuat baik maka ia akan memetik buah yang baik dan bila seseorang berbuat buruk ia akan memetik buah yang buruk.

Keyakinan akan adanya Tuhan yang mengetahui segala dan ada-nya hukum karma menyusup sampai ke lubuk hati krama bali sehingga mereka berusaha menghindari perbuatan-perbuatan jahat yang amat tercela itu.

Oleh karena ethika gama bali bertolak dari norma agama maka ia tidak sekedar etika penampilan luar sebagai etiket saja namun ia menuntun orang untuk berbudi pekerti yang luhur. Persoalan-persoalan yang diajarkanpun juga tentang perbuatan yang baik dan buruk, salah dan benar. Untuk dapat memilih yang baik ataupun yang benar, orang mempergunakan wiweka-nya yaitu kemampuannya untuk membeda-bedakan, memilih dua hal yang berbeda, yang kemampuannya itu merupakan pembawaan lahir.

 

Daiwi Sampat dan Asuri Sampat

Dalam Bhagawadgita yang merupakan bagian dari bisma parwa menyebutkan kecenderungan-kecenderungan sifat manusia dibedakan menjadi dua bagian yaitu :

  1. Daiwi Sampat, yaitu kecenderungan kedewataan. Kecenderungan kedewataan adalah kenderungan-kecenderungan yang mulia, yang menyebabkan manusia berbudi luhur, yang menghantarkan orang untuk mendapatkan kerahayuan (surga).
  2. Asuri Sampat yaitu kecenderungan keraksasaan. Kecenderungan ini adalah kecenderungan yang rendah, yang menyebabkan manusia berbudi rendah, yang menyebabkan manusia dapat jatuh ke jurang neraka.

Kedua kecenderungan itu ada pada diri semua orang hanya dalam ukuran yang berbeda-beda. Ini berarti bahwa dalam diri orang terdapat sifat baik dan sifat buruk. Sarasamuccaya menyebutkan bahwa hanya manusialah yang mengenal perbuatan yang salah dan benar baik dan buruk. Dan dapat menjadikan yang tidak baik itu menjadi baik. Itulah salah satu kemampuan manusia yang diberikan oleh Tuhan.

 

Pengendalian diri

Agar orang tidak dikuasai oleh kecenderungan-kecenderungan yang rendah, ia harus mengendalikan diri dari guncangan-guncangan hati yang tidak baik. Guncangan-guncangan itu semula ada dalam angan, dalam bentuk keinginan.

Setiap keinginan menuntut kepuasan pada obyeknya. indria merupakan alat untuk memenuhi keinginan itu. Indria-lah yang menghubungkan manusia dengan alam ini. Sentuhan indria dengan alam ini menimbulkan guncangan-guncangan pribadi orang. Bahkan tidak jarang orang mendapat celaka karena terlalu memenuhi keinginan indria-nya. Karena itu seseorang harus dapat mengendalikan indria pada hal-hal yang membawa kerahayuan.

demikian sekilas tentang etika dalam tatanan gamabali.

author