Teologi Hindu Di Indonesia VS Hare Krishna

No comment 66 views

Teologi Hindu Di Indonesia VS Hare Krishna

Teologi Hindu Di Indonesia VS Hare Krishna

Teologi Hindu Di Indonesia VS Hare Krsna

Sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini adalah dasar ideologi bangsa Indonesia.

Ini kita sepakati dalam kehidupan beragama dan bernegara. Artinya dalam hal beragama kita semua sepakat bahwa Tuhan yang kita yakini adalah Maha Esa. Agama-agama yang diakui di Indonesia adalah yang konsep Ketuhanannya adalah konsep Ke-Esa-an. Tapi tentu dalam pengakuan tersebut bukan menjadikan antara Agama Agama tersebut adalah sama. Karena konsep ke Esa an ini, memberi pemahaman bahwa tidak ada Agama di Indonesia yang memiliki dua atau lebih Tuhan. Dan dalam pemahaman lebih lanjut filosopi ke Esa an ini tidak sama antara satu Agama dengan Agama yang lain.

Di Indonesia juga setiap Agama yang diakui dilindungi eksistensinya, salah satu wujud perlindungan tersebut adalah tidak diperkenankan menyebarkan ajaran Agama yang berbeda kepadamasyarakat yang sudah beragama di Indonesia. Juga Agama Agama di Indonesia memiliki ajaran yang sudah baku, dimana tidak sembarang ajaran bisa diterima di Indonesia, walaupun mengaku dengan nama Agama-agama tersebut atau mengaku bagian Agama-agama tersebut. Sehingga kepastian hukum bisa diterapkan, dan juga menghindari terjadi keributan karena memperdebatkan ajaran.

Kembali ke judul tulisan ini, bahwa Agama Hindu yang diakui sebagai Agama di Indonesia punya teologi yang berbeda dengan ajaran yang di bawa oleh Hare Krishna. Dimana intinya Hare Krishna mengajarkan tentang Ketuhanan yang Esa adalah Tuhan yang mutlak yaitu Sri Krishna dan awatara-pun adalah Tuhan Sri Krishna yang turun langsung ke Dunia atau Tuhan Sri Krishna memerintahkan Dewa Wisnu untuk turun mengambil wujud manusia sebagai Awatara.

Sedangkan Hindu di Indonesia, punya konsep Ketuhanan yang dikenal dengan Saguna dan Nirguna Brahman.

Apakah dua Tuhan?
Tentu tidak!

Karena Saguna adalah sesuatu yang bisa diwujudkan, memiliki nama dan diyakini memuliki sifat-sifat yang Maha mulia. Sedangkan Nirguna adalah hal yang tidak berwujud dan tidak pula bisa dijelaskan. Hanya bisa dipahami melalui batin.

Konsep ini terkait dengan Catur Asrama, yaitu empat tingkatan pencapaian batin. Untuk batin Brahmacari dan Grehasta, akan berjalan dengan konsep Saguna Brahman, memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.

Untuk batin di tingkat Vanaprasta, tidak lagi memuja Tuhan diluar diri, tapi sudah menempatkan Tuhan didalam diri, di Bali disebut Nyiwa Raga.Sedangkan di level batin Biksuka, ini yang memahami Tuhan dalam Nirguna. Batin yang sudah menyatu dengan Tuhan.

Inilah proses ke-Esa-an Tuhan secara vertikal, dalam Siwa Sidhanta dikenal dengan Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Parama Siwa ini adalah Tuhan dalam Nirguna.

Dalam Budha Mahayana Hyang Buddha adalah Tuhan Dalam Nirguna. Kemudian Tuhan yang berwujud dikenal dengan istilah Dewarupa, dimana Hyang Budha turun menjadi Tri Ratna Traya, yaitu Sakyamuni, Vajrapani dan Alokiteswari. Tri Ratna Traya melahirkan Panca Tata Gata. Dan Panca Tata Gata ini melahirkan Tri Purusa yaitu Brahma, Wisnu, Iswara yang bertugas untuk membangun, memelihara dan memperbarui Alam raya beserta isinya.

Dalam Waisnawa, Alam raya ini Tuhan dalam Nirguna, dimana manusia akan memahami dengan penyatuan atau mencapai Wisnu Loka atau Wisnunggal.

Nah itulah teologi atau konsep Ketuhanan ajaran Siwa Budha yang menjadi dasar Hindu di Nusantara.

Ajaran “Siwa Budha” ini adalah ajaran yang menyatukan dengan senyawa yang kuat ajaran Siwa, Budha/Bodha dan Bujangga/Waisnawa. Inilah yang disebut Sanatana Dharma. Bukan sekte seperti Sampradaya-sampradaya yang ada. Tanda-tanda sekte adalah hanya mengambil atau memuja atau menyembah satu wujud Dewa. Tapi Hindu Bali adalah relegi yang dasarnya adalah ajaran “Siwa Budha”, yang dengan konsep teologi keEsaan dengan tingkatan yang vertikal.

Tentu sangat jauh beda teologi Hindu Bali atau Hindu di Indonesia dengan teologi Hare Krishna.

Sangat sayang kalau pengurus PHDI tidak memahami teologi Hindu di Indonesia, sehingga membabi buta menaungi Hare Krishna dan berpendapat bahwa Hare Krishna adalah bagian dari Hindu.

Kalau sudah teologinya beda banget, Apakah masih bisa dikatakan sebagai Agama yang sama.

Orang Bali yang pindah keyakinan ke keyakinan Hare Krishna, sudah pasti tidak memahami teologi dari Hindu di Indonesia, dan sudah pasti mengalami kemunduran spiritual. Karena bila sudah berjalan dengan jalan ajaran Siwa Budha, maka proses spiritualpun berjalan, sehingga tidak mungkin akan pindah keyakinan. (oleh Surya Anom)

author