Tiga Kerangka Dasar Hindu Bali

No comment 146 views

Tiga Kerangka Dasar Hindu Bali

Kerangka dasar Hindu Bali atau Hindu di Indonesia adalah Tattwa, Susila dan Upacara.

Saat ini, dengan ajaran luar bali, ada pergeseran pengajaran dalam memahami Tattwa, yaitu memahami makna ajaran, hafal mantram dan sloka, kemudian bisa menuangkan dalam tulisan yang indah, dan mengaitkan dengan berbagai kitab-kitab dari sastra India, banyak yang merasa sudah melaksanakan ketiganya. Apalagi dengan beretorika sambil memegang genitri, sudah merasa sudah masuk sebagai manusia suci sampai siddhi. Sehingga sering mengabaikan upacara, karena merasa bahwa itu tdk terlalu perlu ditekankan. Dan Susilapun bagi mereka adalah hanya mengajarkan atau meniru prilaku yang dijadikan panutan, sudah merasa ber susila.

Sehingga upacara bagi mereka sudah tidak perlu ataupun kalau dilakukan cukup dengan bunga, buah dan air.

Ini adalah praktek pemimpi. Orang mimpi suci, orang mimpi berbuat, dan orang mimpi sudah mencapai kesadaran. Padahal sejatinya batinnya masih kotor.

Ciri orang seperti ini adalah, mencoba menebarkan ajarannya, dengan mengatakan ajarannya adalah paling benar, dan mengatakan bahwa diluar tersebut tidak sesuai Weda, dimana Weda-pun adalah versi yang dia mau, atau kelompoknya atau gurunya.

Hal tersebut sangat beda dengan Dharma Yatra para Rsi zaman dulu, beliau tidak mengajarkan ajarannya, tapi menggali ajaran ditempat itu.

Dulu ketika Dang Hyang Dwijendra dharma yatra ke lombok, dan beliau menemukan sebagian masyarakat sudah di Islamkan oleh Sunan Perapen. Dan ketika masyarakat tersebut minta diajarkan Dharma lagi. Maka beliau mengajarkan ajaran yang sangat tinggi yang disebut Wetu Telu, bukan Waktu Telu. Beliau bukan mengajarkan Islam Waktu Telu.

Wetu Telu ini diajarkan untuk memantapkan hati mereka didalam ajaran yang sudah mereka yakini. Bahwa mahluk hidup itu lahir melalui tiga proses sejatinya. Nah dalam hidup ini yang perlu adalah aplikasi ajaran keyakinan untuk bisa menjadikan paham tentang wujud kelahiran tsb.

Disana beliau menekankan bahwa esensi ajarannya, bukan wujud kulitnya.

Itulah Dharma Yatra orang Siddhi. Bukan malah menjajakan ajaran, dan ketika melihat orang bisa dipengaruhi, maka dipengaruhi, apalagi berisi tipu-tipuan.

Kembali lagi ke Tattwa, Susila dan Upacara. Di bali kelihatan penekanannya dalam upacara. Tapi bukan upacara melupakan Tattwa dan susila, justru melalui upacara adalah proses peningkatan Tattwa dan Susila.

Upacara ini sudah dibuat oleh para Rsi sekelas Dang Hyang Dwijendra, untuk membuatkan jalan orang Bali untuk melakukan praktek secara langsung. Bukan sekedar menghafal sloka, atau berjapa, tanpa berbuat. Maka dibuatlah suatu perbuatan yang meliputi seluruh aspek kehidupan yang dituangkan dalam Panca Yadnya. Dan perbuatan ini adalah kewajiban karena Tri Rna.

Dengan melaksanakan Panca Yadnya, maka Tattwa dan Susila pun meningkat. Karena didalam pelaksanaan Yadnya, ada latihan etika untuk Susila, dan juga meresapkan Jnana untuk betul-betul paham Tattwa bukan hafalan. Dan ini semua menusuk kedalam proses batin.

Para orang Siddhi leluhur orang bali, memberikan tuntunan bukan untuk menjadikan orang bali berkhayal menjadi suci, menjadi siddhi, tapi betul-betul masuk menjadikan batin bahagia yang langgeng. Sehingga ajaran yang dikasi ditekankan pada praktek, bukan pada retorika, atau menghafalkan janji-janji atau menunjukkan kehidupan indah jadi pelayan Tuhan.

Seperti biasa, kekeliruan prilaku masyarakat, karena tidak memahami makna upacara, justru dijadikan jualan oleh para pedagang kecap untuk mengatakan kecapnya No 1.

Bayangkan, kalau Dang Hyang Dwijendra adalah penjaja keyakinan atau agama, mungkin beliau akan langsung membelokkan orang-orangtersebut menjadi penganut Siwa Budha atau yang disebut Hindu di Indonesia saat ini. [oleh Surya Anom]

author