Tips Nerang Hujan saat Karya Yadnya

No comment 58 views

Tips Nerang Hujan saat Karya Yadnya

Tips Nerang Hujan saat Karya Yadnya

Tips Nerang Hujan ini sebenarnya sudah diketahui dan sering dilakukan oleh para ibu-ibu, perempuan, tukang banten - serati banten, tapini di Bali. Sebenarnya, sebagian besar perempuan bali, terutama para istri penyelenggara karya yadnya, yang selalu memikirkan kelangsungan yadnya yang diselenggarakan, sudah mengetahui upakara banten nerang ini, hanya saja mereka terkadang menyediakan saja bantennya, ditaruh di sanggah kemulan atau salah satu pelinggih dipura yang diyakini, kemudian menyerakan tugas selanjutnya kepada para suami untuk ngayab banten upakara nerang ini, tetapi terkadang bagi para suami yang kurang percaya diri, biasanya menyerahkan banten ini kepada pemangku untuk ngayab bantennya.

Adapaun rincian untuk banten nerang hujan dalam rangkan melakukan ritual nerang hujan diantaranya:

  • Santun sarad
  • Suci
  • Tipat kelanan
  • Pengambyan
  • Tebasan
  • Soroan alit
  • Segehan kepelan bang
  • penastan; arak, berem, air
  • dupa 11 batang
  • nyuh gading merajah Triaksara

Adapun tempat yang biasanya digunakan untuk nerang hujan tergantung kegiatan yang dilaksanakan. misalnya;

  • kalau acaranya di rumah, cukup nunas penerangan hujan di sanggah kemulan atau pangijeng karang.
  • bila acaranya menyangkut 2 rumah atau lebih, dimungkinkan nunas panerangan di pura banjar, di palinggih bhagawan penyarikan.
  • tetapi bila kegiatan melibatkan warga antar banjar, baiknya nunas penerangan di pura khayangan tiga.

Tidak perlu PAWANG HUJAN dalam mendoakan ritual nerang hujan ini, cukup dilakukan oleh Pamangku ataupun tetua rumah tangga saja. Tiada mantra khusus yang dijalankan waktu menghaturkan banten panerangan hujan diatas.

Umumnya isi doa atau saa (sesontengan) pemangku hanya memohon karya yadnya berjalan lancar, dan selama karya dimohonkan agar bhatara yang dihaturkan banten nerang hujan mengawasi, agar tidak turun hujan (nyelang galah). mantra yang sangat simple tetapi sangat religius.

Catatan umum ritus ini adalah, selalu diupayakan agar nyala dupa itu tidak padam dan terus-menerus sepanjang dirasa perlu. Untuk itu, serati banten atau pemangkunya mengakali sarana DUPAnya disambung hingga beberapa tingkat dan diikat dengan benang tridatu (warna merah, putih, hitam), namun bila menggunakan pasepan, biasanya akan ditunjuk seseorang untuk menjaga pesepan agar terus menyala.

author