Tri Hita Karana

No comment 183 views

Tri Hita Karana

Tri Hita Karana
Tri Hita Karana

Tri Hita Karana merupakan sebuah konsep spiritual, konsep kearifan lokal, dan kosmologi sekaligus falsafah hidup masyarakat Hindu Bali yang bertujuan untuk membentuk keselasaran hidup manusia. Kata tri hita karana berasal dari bahasa sanskerta yang terbentuk dari tiga kata, yaitu

  • Tri artinya tiga,
  • Hita artinya kebahagiaan atau sejahtera,
  • Karana artinya sebab atau penyebab.

Jadi Tri Hita Karana mempunyai arti tiga hal atau tiga penyebab yang
mengakibatkan kehidupan manusia menjadi baik atau bahagia. Konsep kosmologi Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup tangguh. Falsafah tersebut memiliki konsep yang dapat melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi.

Konsep tri hita karana terdiri dari:

  • konsep parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan - kata hyang berarti suci),
  • konsep pawongan (hubungan manusia dengan manusia - kata wong
  • berarti manusia), dan
  • konsep palemahan (hubungan manusia dengan lingkungan atau alam).

Ajaran utama dari konsep tri hita karana adalah bagaimana agar manusia mencapai keseimbangan dan keselarasan hidup. Menurut konsep tri hita karana, keseimbangan dan keselarasan hidup akan tercapai jika manusia menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, dan menjalin hubungan baik dengan lingkungan atau alam.

Tri Hita Karana menjelaskan mengenai posisi manusia dalam alam semesta dan hubungan manusia dengan unsur-unsur lain dalam alam semesta tersebut. Berdasarkan konsep tri hita karana memandang bahwa terdapat dua dunia (bhuana), yaitu:

  • Bhuana Alit - dunia jasmani manusia dan lingkungan sekitarnya (mikrokosmos), dan
  • Bhuana Agung - dunia alam semesta (makrokosmos).

Ajaran Agama Hindu menjelaskan bahwa manusia harus menjaga keharmonisan kedua dunia tersebut agar tercipta kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Secara umum konsep dalam tri hita karana merupakan nilai-nilai yang bersifat universal. Konsep tri hita karana adalah bersifat universal yang memiliki pengertian bahwa konsep ini dapat diterapkan oleh semua umat manusia yang menginginkan keseimbangan dan keselarasan dalam kehidupan. Penerapan pelaksanaan konsep tri hita karana dikhususkan pada aspek spiritual, sosial kultural, dan teritorial untuk mencapai keselarasan hidup. Tujuan dari pelaksanaan konsep tri hita karana dalam kehidupan masyarakat Bali adalah untuk mencapai mokshartam jagadhita yang berarti kebahagiaan yang sejati.

Konsep parahyangan

Parahyangan menjelaskan mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ini merupakan bentuk hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Bentuk pelaksanaan konsep parahyangan ini adalah melaksanakan ajaran-ajaran agama, melaksanakan kegiatan upacara keagamaan, dan membangun tempat sembahyang.

Konsep pawongan

Pawongan menjelaskan hubungan antara manusia dengan manusia yang lain. Manusia diharuskan membentuk hubungan yang selaras dengan manusia lainnya. Hubungan yang selaras tersebut dapat diwujudkan dalam hubungan dalam keluarga, hubungan dalam persahabatan, dan hubungan dalam pekerjaan. Konsep pawongan ini memiliki konsep turunan, yaitu k menyama braya, paras paros, dan sagilig-sagulug salunglung sabyantaka .

  • Konsep manyama braya memiliki pengertian kekerabatan atau kekeluargaan. Kata nyama berarti keluarga; manyama berarti memiliki hubungan keluarga) memiliki arti kekeluargaan atau kebersamaan dalam sebuah komunitas adat. Menyama braya dapat pula diartikan sebagai tindakan saling tolong menolong dalam agar tercapai keharmonisan hubungan sosial.
  • Konsep paras paros memiliki pengertian yang mendalam mengenai adanya dinamika dalam keragaman. Masyarakat Bali yang memahami mengenai makna paras paros akan mengerti bahwa dalam kehidupan sehari-hari akan selalu ada perbedaan pendapat, perbedaan persepsi, dan perbedaan pemahaman akan suatu hal. Konsep paras paros mengajarkan masyarakat Bali bahwa keragaman itu akan selalu ada dan harmoni akan tercipta melalui adanya keragaman (unity in diversity).
  • Konsep sagilig-sagulug salunglung sabyantaka mengandung pengertian apapun yang terjadi baik dalam keadaan baik atau buruk, hubungan sosial dan kekerabatan harus tetap terjaga.

Secara umum konsep paras paros dan konsep sagilig sagulug salunglung sabyantaka dapat diartikan bersatu dalam suka dan duka dan apapun dinamika yang terjadi hendaknya diselesaikan dengan cara-cara yang damai. Hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat Bali dapat bertahan ratusan tahun akibat adanya konsep-konsep ini. Masyarakat Bali mengenai istilah saling asah, asih, asuh (saling mendukung, saling menyayangi, dan saling membina) yang turut pula untuk mendukung tatanan sosial di Bali. Konsep hubungan sosial kemasyarakatan ini akan semakin meningkat ketika terjadi upacara-upacara keagaamaan. Semua masyarakat akan saling tolong-menolong agar upacara-upacara keagamaan tersebut dapat berjalan dengan lancar.

Konsep palemahan

Palemahan menjelaskan hubungan antara manusia dengan lingkungan atau alam. Manusia diharuskan menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Konsep palemahan mengajarkan bahwa kehidupan manusia merupakan bagian dari alam sehingga jika alam rusak maka kehidupan manusia juga akan terganggu. Konsep parahyangan, pawongan, dan palemahan menuntut manusia untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sehingga dapat terwujud keseimbangan dan keselarasan hidup.

Menerapkan falsafah tersebut diharapkan dapat menggantikan pandangan hidup modern yang lebih mengedepankan individualisme dan materialisme. Membudayakan Tri Hita Karana akan dapat memupus pandangan yang mendorong konsumerisme, pertikaian dan gejolak.

Prinsip pelaksanaannya harus seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Apabila keseimbangan tercapai, manusia akan hidup dengan menghindari daripada segala tindakan buruk. Hidupnya akan seimbang, tenteram, dan damai.

author