Tuhan itu Acintya (inconceivable)

No comment 52 views

Tuhan itu Acintya (inconceivable)

bṛhac ca tad divyam acintya-rūpaṁ sūkṣmāc ca tat sūkṣma-taraṁ vibhāti,
dūrāt sudūre tad ihāntike ca paśyatsv ihaiva nihitam guhāyām.

Mundaka Upanishad 3.1.7

artinya:
ITU-Brahman (Tad) Tidak Terbatas-Infinite (Bṛhac ) juga (ca) Diluar jangkauan persepsi indera (divyam) bentuknya yang tidak terpikirkan (acintya-rūpaṁ) Brahman (tat) lebih halus daripada yang halus (sūkṣmāc ca sūkṣma-taraṁ) memanifestasikan dirinya (vibhati) sangat jauh diujung loka-loka tetapi juga sangat dekat dengan diri kita (Dūrāt sudūre tad ihāntike ca) untuk mereka yang menyadari diriNya-The Self (Paśyatsv) di sini (iha) berakar kuat (nihitam) di dalam bunga padma hati (guhāyām)

Brahman(Tuhan) adalah tidak terbatas, diluar jangkauan persepsi indera, tidak terbayangkan. Lebih halus dari yang terhalus, lebih jauh dari yg terjauh, tetapi pada saat yang sama juga sangat dekat. Dia ada di dalam hati.

Demikian penjelasan Upanishad di atas menjelaskan tentang Ke Maha Kuasaan-Nya. Salah satu terpenting dibahas disini dikatakan Tuhan yang acintya-rūpaṁ, Acintya mengandung arti: "Ia tidak dapat dipikirkan, Ia tidak dapat dipahami,Ia tidak dapat dibayangkan. Ia tidak dapat dipikirkan mengandung arti yang sama adalah Ia yang tidak terurai melalui kata-kata". Dalam konteks filsafat lain disamakan dengan śūnya, hening, diam dan diperkaya dalam puncak tahapan pengajaran di Upanishad, Tuhan hanya dapat dijelaskan melalui Negasi, adagium "Neti Neti" - "Bukan Ini , Bukan Itu"(Brihad-Arayaka 2.3.6), artinya sampai anda diam tanpa ada kata-kata lagi untuk berbicara tentang Tuhan. Kesimpulan ini juga dapat diperjelas dalam Brahma Sutra 3.2.23, dikatakan,"Tad avyaktam aha hi", "sesungguhnya Tuhan tidak terkatakan".

Dalam kehidupan beragama di bali, nama Tuhan dikenal dengan Hyang Widdhi sebagai Sang Hyang Acintya. Dalam perkembangan budayanya, Masyarakat Hindu di Bali memasukkan Tattwa Hindunya dengan membangun Istadewata melalui Bangunan Padmasana. Dimana dibangun Bhedawangnala sebagai dasar Padmasana, Bagian tengah sebagai Istadewata Visnu sebagai Pemelihara yang mengendarai Garuda. Dan Puncaknya dibuatkan ‘Ulon’ atau singgasana Shiva dengan bentuk relief Acintya(tidak di wajibkan, kadang ada yang menempatkan ongkara), dimana Acintya digambarkan bermakna serba bukan/tidak. Tuhan tidak bertangan, tidak berkaki, tidak berkelamin dst. Tattwa Shiva yang acintya ini di ambil dari berbagai Shastra. Dalam Seribu nama Tuhan pada Shiva Saharasnama, ada banyak nama yg disebutkan dari yang beratribut sampai dengan tanpa Atribut, salah satunya adalah Acintya, Tidak Terpikirkan. Dinyatakan sbb:

devadevo'nayo'ciṃtyo devatātmātmasaṃbhavaḥ ।। 92 ।।

Shiva Purana, Koṭirudrasaṃhitā 35.92

Devadeva (Lord of the gods), Anaya (having no mean strategy), Acintya (Tidak terpikirkan, inconceivable), Devatātmā (soul of all deities), Atmasambhava (self-born)

Beberapa shastra lain disebutkan, di dalam Upanishad Maitreyi Upanishad 2.4, Shiva memproklamirkan dirinya dengan pernyataan, "nirguṇo'smi śivo'smyaham", "I am without Guṇas, Nirguna Brahman(Param Brahman). Dalam Maitreyi Upanishad 2.5 disebutkan, "śūnyāśūnyaprabhāvo'smi", I am the Glory of śūnya and Aśūnya, Tanpa Atribut, dan beratribut. Nirguna dan Saguna. "Sarvendriyavihīno'smi " Aku Tidak Berjenis Kelamin ~ Maitreya Upanisad 3. 15 , "Shuddha Brahma Asmi" Aku MURNI Brahman ~ Maitreya Upanisad 3.9

Kontra Produktip.

Beberapa orang dan pengikut non-hindu selalu menilai keyakinan Hindu dengan mengatakan bahwa Acintya itu filsafat Kosong, tidak ada apa-apanya, Tuhan tidak ada. Mereka mendiskreditkan dengan menganalogikan melalui seseorang yg memasuki ruangan yang kosong, tidak ada apa-apa yang dijumpai. Mereka bermain dengan sesat logika, seolah-olah Tuhan seperti Benda yg dapat dilihat dengan mata kepala. Seperti keyakinannya menempatkan Tuhannya di ruangan bertirai. Ketika upacara tiba tirai tsb dibuka maka akan terlihat Tuhannya yg siap-siap untuk disembah-sembah. Seperti itu cara berpikir mereka. Padahal mereka lahir dari rahim orang tuanya yang menganut keyakinan Tuhan Yang Acintya. Entah dokrin-dokrin setan apa yg tertanam di dalam pikirannya sehingga terbalik dengan menghujad cara-cara leluhurnya.

Kesimpulan

Tuhan yang Acintya itu adalah Konsep orang Hindu tentang Tuhan yang tidak terpikirkan. Apapun yang engkau jelaskan tentang diriNya melalu kata-kata tidak akan menjangkaunya, apalagi mau mencoba melihat diriNya. Demikian juga Tuhannya orang Hindu tidak memiliki pelayan, penjaga sorga, pesawat UFO, Kebun Flora dan Fauna, Planet Plesiran dan bidadari yang berinteraksi dengan Tuhan. Bahkan Tuhan mencium-ciumnnya di tempat yang abadi tsb. Itu bukan Tuhan Hindu. Ini menyalahi Shastra yang sudah disampaikan di atas.

author