Tuhan Tujuan Akhir Setiap Doa

No comment 755 views

Tuhan Tujuan Akhir Setiap Doa

Sloka Bhagawadgita IX.25 menyebutkan:

"Mereka yang memuja para dewa akan sampai ke dewa-dewa, yang menyembah leluhur akan sampai ke leluhur, yang memuja roh-roh halus akan sampai pada roh yang rendah sifatnya atau ke para bhuta. Dan mereka yang memuja-Ku akan sampai kepada-Ku" - BG.9.25

Sloka ini sebenarnya memberi keleluasaan kepada umat Hindu untuk memuja atau menyembah kepada siapa yang dituju. Kalau menyembah para dewa, silakan saja, tidak ada yang melarang. Akan sampai persembahan itu kepada dewa yang dituju. Kalau menyembah leluhur, juga tidak masalah, akan sampai pula kepada para leluhur yang disembah. Namun kalau langsung memuja “KU” (yang dimaksudkan ini adalah Tuhan Yang Maha Esa), maka akan sampai pula ke pada-KU.

Kalau begitu....

  • kenapa harus berliku-liku untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa?
  • Kenapa tidak langsung saja?

Seperti yang sudah diketahui, para dewa itu atau yang disebut Istadewata adalah sinar suci Tuhan, toh pada hakekatnya akan sampai pula ke arah yang dituju lewat sinar suci itu. Begitu pula para leluhur kita yang sudah amor ring achintya (menyatu dengan Tuhan) toh pada hakekatnya mengarah pula kepada yang dituju melalui para leluhur. Yang dituju itu tak lain adalah Tuhan itu sendiri.

Para tetua kita di Bali sudah mengantisipasi kemungkinan adanya salah paham terhadap pemujaan yang “berliku-liku” ini, agar tidak muncul kesan pemujaan itu adalah sesuatu yang berbeda. Caranya adalah membuat pedoman dalam menghaturkan bhakti lewat Panca Sembah bagian dari "Kramaning Sembah". Dalam Panca Sembah itu jelas disebutkan sembah ke tiga dan ke empat ditujukan kepada para leluhur dan Tuhan itu sendiri. Jadi sudah terangkum semuanya.

Dengan begitu sloka Bhagawadgita ini sangatlah demokratis dan sesungguhnya tidak pula “menduakan Tuhan” jika kita memuja leluhur maupun Ista Dewata.

Nah, sekarang ini adalah Hari Raya Kuningan. Fokus utama persembahyangan ini sesungguhnya kepada para leluhur. Dalam ajaran Hindu disebutkan roh para leluhur menyatu dalam sinar suci Hyang Widhi, bukan “berada di sisi-Nya” sebagaimana keyakinan umat beragama lain. Pemujaan kepada leluhur itu dilakukan pada pagi hari karena pada saat itulah leluhur bisa “menerima prati sentana” (para keturunan) karena bisa berpisah sejenak dalam sinar suci Tuhan. Selepas siang, para leluhur “menyatu kembali dalam sinar suci” Tuhan dan kalau umat memujanya maka lakukanlah di pura-pura yang merupakan stana Tuhan. Banyak pura besar yang melangsungkan piodalan pada saat Hari Raya Kuningan, seperti Pura Sakenan di Pulau Serangan, Pura Pekendungan di Tabanan. Di Jakarta persembahyangan dilakukan di Pura Dalem Cilincing, Jakarta Utara.

Adakah dasar sastra dari pemujaan kepada leluhur harus di pagi hari?

Kita mewarisi itu lewat lontar Sundarigama. Disebutkan di lontar itu, hendaknya umat menghaturkan sesaji pada pagi hari dan jangan menghaturkan sesaji setelah lewat tengah hari. Kenapa begitu? Karena yang dihaturkan sesaji berupa tumpeng berwarna kuning itu adalah Dewa Pitara alias leluhur kita sendiri yang akan kembali “ke sorga” pada tengah hari. Penafsiran ini bisa bermacam-macam, apakah ke alam sorga atau kembali menyatu “di alam Tuhan”.

Masalahnya Hari Raya Kuningan tidak spesifik diatur dalam Kitab Weda, seperti pula Hari Raya Galungan. Ini adalah hari raya yang mengacu kepada tradisi lokal, dalam istilah keagamaan disebut “budaya agama”. Ajaran Hindu menyerap budaya lokal, sehingga umat Hindu di India tidak sama ritualnya dengan umat Hindu di Bali atau umat Hindu di Jawa. Namun jiwanya ada dalam ajaran agama yakni merayakan hari kemenangan dharma setelah simbol-simbol adharma ditumbangkan. Umat Hindu di India memakai mitologi kemenangan Rama atas Rahwana, umat Hindu di Bali memakai mitologi Mayadanawa. Jadi, nama hari raya bisa beda dan kapan dirayakan serta bagaimana cara merayakannya juga berbeda-beda. Tapi, ada aturannya yang bersifat lokal, yang oleh para tetua kita dituliskan di dalam lontar.

Jadi, marilah kita lebih arif dalam menafsirkan sloka kitab-kitab suci. Karena ada sekelompok orang yang menafsirkan secara kerdil yang menyebutkan bahwa kalau kita memuja para dewa dan memuja para leluhur kita tak pernah sampai kepada Tuhan dengan mengutip sloka Bhagawadgita di atas. Padahal tujuan akhirnya tetap kepada Tuhan, yang hanya “tunggal” dan tak terbayangkan.

ditulis oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda dalam media sosial FB tanggal 17 September 2016, renungan hari raya kuningan.

silahkan simak artikel yang terkait dengan tulisan beliau tersebut:

author