Tumpek Landep, Hari Para Kesatria Memuja Pasupati

No comment 79 views

Tumpek Landep
Hari Para Kesatria Memuja Pasupati

Dalam teks-teks "puja ksatria" doa itu tidak cuma dilantunkan untuk kesejahteraan dunia. Namun diniatkan juga supaya kerajaan atau negara dijauhkan dari musuh. Hama dan bencana menjauh. Karenanya Hyang Pasupati, Tuhan pemilik hidup dimohon menganugerahkan keselamatan, umur panjang, serta jaya atas perang.

Sabtu Kliwon, Wuku Landep. Orang Bali menyebutnya sebagai Tumpek Landep. Ini adalah perayaan Tumpek pertama setelah Wuku Sinta, dari rentetan sejumlah Tumpek yang dirayakan di Bali. Lontar Sundarigama, mensublimkan perayaan Tumpek ini sebagai pemuliaan pada Siwa serta puncak Yoga Sanghyang Pasupati, Tuhan Penguasa Makhluk Hidup. "Kunang ring wara Landep, Saniscara Kliwon pujawali Bhatara Siwa mwah yoganira Sanghyang Pasupati."

Belakangan kaum terpelajar Bali memahami Tumpek Landep dalam pengertian lebih luas, dimaknai sebagai momen menajamkan pikiran, landeping idep. Berharap supaya hari Tumpek Landep bisa dimaknai lebih kontekstual, selaras perkembangan zaman, para agamawan lalu memberinya tafsir sebagai hari tehnologi, otonan sarwa besi. Dari tafsir ini orang Bali kemudian tidak cuma memuliakan keris sebagai senjata perang, ikut pula diupacarai semua perkakas, sarana prasarana yang terbuat dari besi. Misalnya, kendaraan, mesin-mesin, termasuk juga komputer, laptop, televisi, radio, ponsel, dan sebagainya.

Namun ada tafsir lain layak dibaca, bahwa hari Tumpek Landep itu adalah hari para "kesatria" memuja Siwa sebagai Hyang Pasupati. Hampir di semua Puri di Bali keris-keris itu dan semua senjata perang disucikan, dimohonkan berkat kehadapan Hyang Pasupati. Dan keris itu, dengan beragam "luk" (lekukan) menyerupai lidah api tiada lain simbol agni pemusnah musuh. Dalam teks-teks "puja ksatria" umumnya doa itu tidak cuma dilantunkan untuk kesejahteraan dunia. Namun diniatkan juga supaya kerajaan atau negara dijauhkan dari musuh, hama, dan bencana. Karenanya Hyang Pasupati, Tuhan pemilik hidup dimohon menganugerahkan keselamatan, umur panjang, dan jaya di medan perang.

Karenanya, dalam mempertahankan kehormatan, serta memperoleh "jaya", para "kesatria Bali" memohon kekuatan dan perlindungan pada Hyang Pasupati, dengan maksud senjatanya dilimpahi tuah, musuh-musuh bisa ditundukkan. Memang saat dialog kemanusiaan gagal dilakukan, kebajikan diijank-injak, darma mesti ditegakkan di jalan perang yang adil. Itulah jalan kesatria, mirip jalan "raja yoga", bahwa musuh yang paling berat ditundukkan adalah musuh dalam diri.

Nun dalam darma kesatria, musuh harus dibunuh secara berhadap-hadapan. Musuh yang tanpa senjata, musuh yang tidak berdaya, emoh untuk dibunuh. Kesatria yang unggul adalah kesatria yang bisa menyelamatkan musuh-musuhnya. Sekuat tenaga berusaha menghindari jatuhnya korban. Inilah yang diesebut sebagi "rana yajna" kurban di medan perang sebagaimana disuratkan teks-teks kuna Kakawin Ramayana dan Kakawin Bhāratayuddha. Ini pula makna sesayut Kusumayuddha, Sesayut Jayengsatru dalam hari suci Tumpek Landep. Pesanya, mestilah para kesatria, para pemimpin mampu menjaga keselamatan rakyatnya, memberi rasa aman dan melindungi, menjaga keselamatan semua yang hidup.

Kenapa Tumpek Landep juga dikaitkan dengan hari Tehnologi? Tafsir ini mungkin berangkat dari tehnologi pembuatan keris di zaman dulu, lazim disebut pagandringan. Dulu tehnologi ini dikuasai para empu dari klan Pande, pemuja Brahma.

Siapa saja sempat membaca peradaban Tamblingan bisa berspekulasi, bahwa di masa silam Bali punya pusat tehnologi senjanta terpercaya. Tak terbayangkan, bagaimana para empu merancang senjata di situ, sembari "membadankan yoga brahma", yang tidak saja melibatkan kekuatan fisik, kecerdasan akal, namun juga melibatkan hal-hal metafisik.

Di desa-desa tertentu di Bali, atau di Pura-Pura amat khusus, seperti Pura Penataran Tutuan di Desa Gunaksa, Tumpek Landep juga disebut sebagai "Odalan Bhatara Keris". Kata "keris" mendekatkan kita pada makna senjata sesungguhnya, yakni senjata perang. Senjata-senjata perang itu disebut juga pusaka. Kata pusaka selain berarti warisan yang dikeramatkan, juga berarti senjata itu sendiri. Secara umum orang-orang Bali menyebutnya sebagai tetamian, yang juga berarti warisan, atau titipan. Dalam konteks pusaka sebagai alat-alat perang, ia tidak cuma berupa keris dan alat-alat perang lainnya, semisal; tombak, pedang, panah, dan lain sebagainya. Pusaka menyangkut pula segala yang diwariskan, wujudnya amat beragam, mulai dari tanah, rumah, lontar, dan benda-benda sakral lainnya.

Saat hari suci Tumpek Landep semua senjata warisan ini disucikan, dibersihkan, diupacarai dengan upakara khusus. Karenanya Tumpek Landep juga disebut sebagai "odalan Bhatara Keris? Keris yang berlekuk-lekuk itu, menyerupai lidah-lidah api disebut juga "luk" tak lain adalah simbol api itu sendiri. Api adalah pemusnah paling mengerikan, maka ia dipuja sebagai Agni, yang sesungguhnya Dia-lah Siwa Pasupati, pelenyap semua musuh, penghalau segala rintangan.

Raja atau kesatria yang keganasannya di medan perang seperti api dipersamakan sebagai Hyang Pasupati di tengah arena perang. Tanpa rasa takut melindas musuh-musuhnya tanpa ampun. Tapi raja yang menegakkan darma perang emoh membunuh musuh yang tak berdaya-- tak juga membunuh musuh yang tanpa senjata, musuh yang sedang sekarat, atau musuh yang menyerah tanpa syarat.

Dalam Kakawin Bharatayuddha, karya pujangga Mpu Sedah bersama Mpu Panuluh kita mendapat gambaran seorang raja yang dimuliakan begitu tinggi, yakni raja yang telah berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Raja yang kemudian dimuliakan sebagai Bhatara Jayabhaya.

Begini Mpu Sedah menyuratkan kemulian raja itu: Ndah sāmangkana kāstawān ira tekéng tri bhuwana winuwus jeyéng raņa, kapwāśabda bhațāra natha sumusuh nira tekap i huwusnya kagraha, ngka lumrā tineher ta pāduka bhațāra Jayabhaya panenggah ing sarāt, manggeh sāmpun inastwaken sujana lén dwijawara rṣi Śaiwa Sogata.

"Maka dari sebab itu sang raja dikenal sampai di tiga dunia, disebut sebagai sang pemenang (jayéng rana). Maka musuh yang telah dikalahkan itu menamakan sang raja sebagai seorang raja dewa. Hal ini telah tersebar di mana-mana, maka oleh sebab itu oleh dunia ia disebut yang dipertuan Raja Jayabhaya. Ia telah diakui ditetapkan oleh orang-orang bijak, dan para brahmana Rsi Siwa Budha terkemuka."Kakawin Bhāratayuddha di samping melakukan pemuliaan pada Raja Jayabhaya juga menuliskan satu panggilan apa yang kemudian disebut sebagai Rana Yadnya-- kurban di medan perang. Dari manggala kakawin itu Mpu Sedah dengan gambelang menyuratkan, "Seorang kestaria ingin bersaji di medan perang, bertujuan untuk melenyapkan musuh. Yang merupakan taburan bunga yang indah adalah untaian bunga di atas rambut (musuh) yang gugur di medan perang. Urna hiasan manikam di dahi raja yang telah meninggal merupakan bija persajian; negara musuh yang terbakar adalah tempat api persajian. Sebagai caru adalah kepala musuh yang terpenggal di atas kereta, setelah bertempur tidak mengenal mundur di medan perang."

Amatlah terang Bharatayuddha yang di-Jawa-kuna-kan Mpu Sedah bersama Mpu Panuluh itu, tidak cuma menyuratkan gambaran-gambaran perang menegangkan, kisah-kisah heroik tokoh-tokohnya, pengambaran-penggambaran kasmaran penulis, tetapi juga menjabarkan menjabarkan sepuluh taktik strategi perang. Mulai dari wukir segara wyuha, wajratikshna wyuha, kagapati wyuha, gajendramatta atau gajamatta wyuha, cakra wyuha, makara wyuha, sucimukha wyuha, padma wyuha, ardhacandra wyuha, dan kananya wyuha.

Memang siapa pun yang sempat membaca sejumlah kakawin Jawa Kuna, mulai dari Rāmayāna, Bhāratayuddha, Arjunawiwaha, Ghațotkacāśraya dan lain-lain menyiratkan satu hal penting, bahwa karya sastra itu pertama-tama diperuntukan sebagai bacaan para raja serta para ksatria. Kakawin Rāmāyana misalnya, menandaskan prinsip penting perihal ajaran kepemimpinan, terutama mengenai asta brata, brata yang harus dipegang secara adil tanpa memihak siapa pun.

Ketergantungan, keterhubungan para ksatria dengan senjata membuat para ksatria sangat menghormati senjata itu. Arjuna misalnya, yang diberkati panah Pasupati oleh Bhatara Siwa sungguh sangat memuliakan senjata itu. Senjata-senjata itu tak ubahnya sahabat pendamping hidup.

Bila kemudian di Bali ada upacara khusus penghormatan pada senjata, tepat dilakukan pada hari suci Tumpek Landep, ia hendaknya dibaca sebagai hari ksatria memuja Siwa Pasupati, karena betapa senjata-senjata ini, dengan segenap tuahnya berharap mendapat berkat Tuhan Pelingdung Hidup, supaya semua dijauhkan dari musuh, dari petaka dan segala mara bahaya. Karena sesungguhnya kestria itu adalah ia yang kuasa menyelamatkan musuh-musuhnya, membahagiakan setiap hati rakyatnya, angawe sukaning rat. (oleh I Wayan Westa, Penulis/Pekerja Kebudayaan).

author