Unsur Spiritual dalam Tradisi Bali

No comment 77 views

Unsur Spiritual dalam Tradisi Bali

Kehidupan sehari-hari masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari kegiatan spiritual. Kegiatan spiritual dapat dikatakan sebagai sebuah jiwa bagi masyarakat Bali. Unsur-unsur spiritual yang berkembang di Bali tidak dapat dipungkiri berasal dari ajaran agama Hindu. Terdapat banyak konsep spiritual dalam Tradisi Bali. Konsep tat twam asi (aku adalah kamu, kamu adalah aku) yang mengandung pengertian bahwa setiap manusia adalah sama, konsep rwa bhinneda (kebaikan selalu berdampingan dengan keburukan) yang berarti bahwa dalam hidup ini akan selalu ada kebaikan dan keburukan (harus ikhlas menerima kondisi baik dan buruk), konsep karma phala (semua perbuatan ada hasilnya/hasil dari perbuatan), konsep tri kaya parisudha (terdiri dari kayika, wacika, manacika yang berarti berkata, berpikir, dan berbuat yang baik), dan konsep catur purusa artha (terdiri dari dharma, artha, kama, dan moksa yang berarti empat tujuan hidup sebagai manusia atau bahwa dalam hidup semua keinginan harus dilandasi kebaikan agar tercapai pembebasan duniawi) yang merupakan konsep-konsep spiritualitas yang dipegang teguh oleh masyarakat Bali. Konsep-konsep inilah yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat Bali. Setiap tindakan dan perbuatan masyarakat Bali selalu didasarkan pada konsep-konsep spiritualitas yang sudah ada. Masyarakat Bali berpendapat bahwa unsur-unsur spiritualitas merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam diri setiap manusia.

Unsur spiritualitas dalam Tradisi Bali sangat terasa dengan adanya rahinan (hari raya) Hindu atau odalan (persembahyangan) di pura. Rahinan dan odalan merupakan hari-hari besar keagamaan dimana pada hari tersebut masyarakat Bali melakukan persembahyangan di rumah maupun di pura. Setiap rahinan memiliki makna spiritualitas tersendiri, misalnya rahinan galungan yang memiliki kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan) dan rahinan nyepi yang bermakna perenungan diri untuk menyambut tahun baru caka.

Unsur spiritualitas dalam Budaya Bali dapat pula dilihat pada tata cara persembahyangan. Sehabis melakukan persembahyangan, umat Hindu akan menerima tirta (air suci) dan bija (beras). Tirta tersebut diminum dan bija akan ditempelkan di kening. Makna tirta dan bija merupakan berkah yang diterima sehabis melakukan persembahyangan. Air dan beras dilambangkan sebagai simbol berkah dan anugerah. Tanpa adanya air dan beras maka kehidupan tidak akan berjalan dengan baik. Ini bermakna ucapan terimakasih terhadap alam semesta atas berkah yang telah dilimpahkan. Sebuah bentuk simbol dengan makna yang sangat dalam. Unsur spiritual masyarakat Bali mengenal pula konsep yadnya yang berarti persembahan yang tulus atau korban suci yang tulus ikhlas. Masyarakat Bali memaknai yadnya sebagai simbol bahwa dalam melakukan sesuatu harus dengan hati yang tulus tanpa mengharapkan imbalan dari perbuatan yang kita lakukan. Masyarakat Bali meyakini bahwa pelaksanaan yadnya dalam kehidupan sehari-hari bertujuan untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mokshartam jagadhita (kebaikan dunia dan akhirat).

Konsep-konsep spiritualitas lainnya juga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Contoh dari kegiatan spiritualitas yang dilakukan oleh masyarakat Bali, yaitu sehabis memasak dan menanak nasi, masyarakat Bali membuat sebuah sesajen (banten) yang disebut sebagai mebanten saiban. Kegiatan mebanten saiban ini dilakukan dengan menghaturkan nasi yang telah dimasak di sekitar pekarangan rumah. Konsep mebanten saiban ini merupakan konsep penghormatan masyarakat Bali kepada alam sekitar. Mengandung pengertian ucapan terimakasih atas segala berkah yang dilimpahkan oleh alam. Konsep spiritualitas lainnya, yaitu tumpek uye dan tumpek kandang. Tumpek uye dan tumpek kendang merupakan bentuk penghormatan masyarakat Bali terhadap alam khususnya terhadap tanaman dan hewan. Pada saat tumpek uye dan tumpek kandang, masyarakat Bali melakukan upacara keagaamaan kepada tanaman dan hewan dengan harapan tanaman dan hewan tersebut akan memberikan berkah yang lebih banyak lagi. Unsur-unsur spiritualitas dalam masyarakat Bali sangat memperhatikan atau memfokuskan pada keadaan alam. Ini sangat sesuai dengan flosof ketimuran yang mengagungkan alam karena telah memberikan berkah kepada manusia. Penghormatan-penghormatan kepada bagian alam sangat ditekankan pada nilai-nilai spiritual masyarakat Bali. Ini adalah bentuk sederhana dari unsur spiritualitas yang terdapat dalam masyarakat Bali. Sebuah bentuk penghormatan sederhana dengan makna yang sangat dalam kepada alam semesta.

author