Untuk Generasi Muda Bali

No comment 94 views

Untuk Generasi Muda Bali

Satya, Cinta dan Berkah Dewa Kematian

“Kenapa engkau mengikuti aku, ini adalah suratan takdir, bahwa setiap yang hidup harus mati.” Kata Yama Pada Sawitri. Sawitri menjawab, “Aku tidak mengikuti engkau Bapak, tapi bukankah ini juga suratan bagi kaum istri, bahwa ia akan ikut ke mana saja cinta membawanya pergi. Dan hukum abadi tidak akan memisahkan laki-laki yang mencintai dari istri yang patuh.”

Dari mana datangnya jodoh?

Jodoh datang dari kesetiaan [satya]. Kesetiaan itu seperti matahari, tak pernah menunda hari terbit dan tenggelam. Di antara semua persepsi tentang kebenaran, satya menempati posisi paling tinggi. Lalu kenapa satya mendatangkan jodoh? Satya itu adalah kebenaran tentang Urip, yang mencintai Urip dengan satya, pasti mendatangkan segala, termasuk jodoh dan keberuntungan lainnya.

Pertanyaan kemudian, bila satya memang melahirkan jodoh, lalu kenapa wariga dewasa di Bali juga "mengatur-atur" tentang jodoh, dalam bahasa Bali disebut patemon atau jatu karma? Wariga sesungguhnya tidak mengatur jodoh orang, wariga memberi kita jalan untuk berhati-hati memilih jodoh. Di titik ini, yang percaya pada wariga adalah ia yang merawat keyakinan itu dengan hati-hati, keyakinan yang dalam, keyakinan yang sungguh-sungguh akan melenyapkan segala keraguan, jika keraguan apus, yang terang pun muncul. Kebaikan akan melahirkan kebaikan, cinta akan melahirkan cinta. Itulah jodoh, jalan yang dikarunia satya.

Pelajaran tentang bagaimana mencintai, petuah perihal bagaimana menjalankan satya begitu beserak di Bali. Teks-teks kidung, mulai dari Panji Malat Rasmi, Wang Bang Wideya, Kidung Panji Marga, Kidung Wedari Semara, Kidung Waseng Sari, Smara Wedana, Undakan Pangrus hingga kisah kisah cinta yang terekam dalam geguritan, semisal Geguritan Pakang Raras, Geguritan Nala Damayanti, Geguritan Jaya Prana sampai kisah Roro Mendut di Jawa menelentangkan ajaran tentang cinta dan bagaimana satya itu dijalankan dalam pengembaraan hidup.

Sejatinya soal kesetiaan dan ketetapan tak saja bertemali dengan ikatan perkawinan semata. Ia bertemali dengan seluruh tatanan hidup, melingkupi semua, menjadi dasar dari hidup bermasyarakat, karena dengan kesetiaan orang mudah dipercaya, dengan kesetiaan orang tak mudah terombang-ambing. Justru itu teks-teks suci susatra Bali menempatkan kesetian sebagai tema sentral dalam setiap petuahnya. Maksudnya supaya kesetiaan dan ketetapan hati itu tetap membadan di benak manusia. Kisah-kisah pilu dalam cerita Panji, dalam ajaran-ajaran etika (sasana), atau dalam ajaran-ajaran kepemimpinan betapa kesetiaan sangat ditekankan dalam komitmen hidup.

Siapapun dia, dalam kedudukan apapun dia, kesetiaan menjadi penting untuk menopang hidup. Tanpa kesetiaan semua jadi amburadul, kacau, dan tak karuan. Sorang istri atau suami yang tidak setia akan menemui prahara. Seorang bupati, gubernur, mentri, dan presiden yang tidak setia pada tanggung jawab pasti menunai kehancuran. Di titik ini kesetiaan adalah dasar penjaga tatanan hidup tetap harmoni. Tentu harga kesetiaan menjadi sedemikian mahal, karena tanpa kesetiaan kebahagiaan dan kebenaran tak mudah dipeluk. Tanpa kesetiaan senyum tak dapat mengembang, persahabatan baik tak pernah terjalin. Diperlukan kekuatan cinta untuk menjalaninya – mengingat hidup ini toh tidak datar, lurus seperti jalan tol. Hidup ini senantiasa bergelombang, berdinamika, mengalami pasang surut, diruyak perasaan senang dan duka, dendam dan kecewa, maka karenanya kesetiaan diperlukan.

Kisah Bima dalam ceritra Nawaruci tidak semata menunjukkan bagimana seharusnya seorang guru dihormati, guru susrusa atau guru bakti. Akan tetapi bagaiaman kesetiaan dapat dijalankan tanpa kegoyahan dan keraguan. Sebagai seorang yang percaya dan teguh pada pendirian, memegang prinsip dalam sikap, Bima adalah menegak kesetiaan nan agung, seorang yang teguh memegang janji diri. Seluruh perintah Guru Drona dilaksanakan dengan baik, kendati di balik itu, atas desakan Duryodana, Drona punya keinginan lain, yakni: membunuh Bima. Namun karena kesetian itu adalah kebenaran, dan kebenaran tidak bisa dibunuh, Bimapun keluar sebagai pemenang. Ajaran hidup, anugerah Dewa Nawaruci ia dapatkan dengan sempurna-paripurna, Bima Besar bertemu dengan Bima Kecil. Hanya yang halus bisa masuk ke maha halus.

Teks-teks Itihasa misalnya memberi gambaran lebih gambelang bagi seorang yang senantiasa memiliki ketetapan hati. Dinyatakan tiada lebih tinggi dari satya atau kesetiaan itu sendiri. Dengan satya atau kebenaran, Yama Dewa Kematian dibuat lunglai, tak berkutik.

Kisah cinta antara Sawitri dan Satyawan menemukan kesetiaan sebagai hakikat hukum tertinggi dalam perputaran semesta. Sebelum membulatkan pilihan untuk mencurahkan cintanya kepada Satyawan, Sawitri diberi tahu Rsi Narada, bahwa 12 bulan setelah perkawinannya Satyawan akan meninggal.

Mengetahui rahasia ini, Sawitri tidak goyah sedikitpun. Usai upacara perkawinan Sawitri mengikuti Satyawan pergi ke hutan untuk mengabdi mertua yang sudah tua dan buta. Sawitri tahu pasti hari kematian Satyawan, akan tetapi ia tidak menyatakan apa-apa kepada sang suami. Ia tetap seperti biasa, melayani suami dan mertua yang buta tanpa keluh. Ia lakukan tugasnya mencari kayu bakar dan umbi-umbian ke dalam hutan. Tak ada kerisauan sedikitpun manakala ajal sang suami kian dekat. Ia menjalankan kewajiban sebagaimana mesti, tanpa ketakutan, kekalutan, atau penyesalan.

Sawitri berpuasa dan bersemadi berhari-hari. Hari naas kematian suami pun tiba, Satyawan mengeluh, tertidur di pangkuan Sawitri. Satyawan merasa kepalanya panas, dan setelah itu ia meninggal. Sawitri menangis memeluk jenazah suami. Dewa Yama datang menjemput roh Satyawan. Dengan nada datar dan dingin, Yama bersabda, “Sawitri, lepaskan badan jasmani suamimu, kematian adalah kodrat semua makhluk hidup, kematian sudah menjadi ketentuan Sang Waktu.”

Sawitri melepaskan badan Satyawan yang sudah kaku tidak bernyawa itu. Setelah nyawa Satyawan diambil, Batara Yama lalu meninggalkan tempat itu, tetapi setiap ia melangkah maju Sawitri selalu mengikutinya. Batara Yama balik bertanya, “Kenapa engkau mengikuti aku, ini adalah suratan takdir, bahwa setiap yang hidup harus mati.” Sawitri menjawab, “Aku tidak mengikuti engkau Bapak, tapi bukankah ini juga suratan bagi kaum istri, bahwa ia akan ikut ke mana saja cinta membawanya pergi. Dan hukum abadi tidak akan memisahkan laki-laki yang mencintai dari istri yang patuh.”

Yama terkesima mendengar jawaban Sawitri, “Anakku, mintalah anugerah apa saja, kecuali nyawa suamimu.” Sawitri menjawab, “Kalau memang diizinkan, aku mohon agar mertuaku yang buta dihidupkan kembali dan hidup bahagia.” Permohonan Sawitri dikabulkan, sang mertua bisa melihat dan hidup bahagia. Batara Yama meneruskan perjalanan membawa serta nyawa Satyawan.

Kembali Yama mendengar langkah-langkah kaki mengikuti dari belakang, menoleh dan dilihatnya Sawitri. “Anakku engkau masih mengikuti aku?” “Ya Bapak, aku tidak bisa berbuat lain daripada ini. Aku sudah mencoba setiap saat untuk kembali, tetapi jiwaku pergi mengikuti suamiku dan badanku ini ikut serta. Jiwa suamiku telah pergi dan demikian juga jiwaku ikut padanya. Kalau Bapak mengambil jiwa itu maka badan ini dengan sendirinya ikut pula,” jawab Sawitri dengan tatapan tulus.

Mendapat jawaban seperti itu, Yama tidak kuasa berkutik. Dewa Kematian tak mampu melawan kekuatan cinta Sawitri, seraya berkata, “Anakku Sawitri, sekarang engkau akan menerima segala keinginanmu. Ini jiwa Satyawan suamimu, ia akan hidup kembali. Ia akan menjadi ayah bagi anak-anakmu, kelak ia akan memerintah kerajaan dengan baik.” Ini adalah buah dari kesetiaan, di mana cinta menaklukkan kematian. Kesetiaan Sawitri tak ubahnya matahari, yang senantiasa terbit di ufuk timur, menyinari dunia tanpa pilih kasih. Begitulah ia lakukan sepanjang hidup, tak pernah mau redup ataupun diredupkan, dosa-dosa pun terbakar api kesetian sendiri.

Apa sebetulnya hakikat satya dalam perjalanan fana ini? Terlalu luas dan terlalu untuk dijabarkan. Tapi kitab Sarasamuccaya, karya Rsi Wararuci memberi pegangan pasti, bahwa yang namanya amal, brata atau janji diri, semua ini dapat pembebaskan manusia dari kemelekatan dunia. Namun semua itu kalah jauh oleh keutamaan satya, yang tiada lain adalah kebenaran itu sendiri. Semua makhluk semesta, manusia, dewa-dewa tunduk pada hukum ini. Karena itu satya juga disebut Rta, sang pengendali semesta hidup - dalam hal mana planet-planet tetap teratur, berputar dalam sumbu masing-masing. Matahari senantiasa setia terbit dari ufuk timur, bintang gemintang tetap bersinar sejuk. “Semua ini dikendalikan kekuatan satya. Tanpa dikendalikan hukum satya, planet-planet pasti berbenturan satu sama lain.

Berdasarkan asas hukum Rta inilah kemudian manusia perlu memiliki prinsip hidup. Supaya tidak mudah diombang-ambing gelombang keinginan. Tak mudah tergoda ajakan orang lain. Bukankah manusia dan makhluk lain merupakan planet bagi dirinya sendiri, yang senantiasa tetap berputar di sumbu masing-masing? Setiap makhluk memiliki hukum hidup sendiri, dikendalikan satu kekuatan tunggal disebut Rta atau satya. Ketetapan orang menjalankan prinsip hidup mengantar seseorang menemui kebahagian. Bukankah kisah orang –orang besar sekaliber Budha dimulai manakala ia memiliki ketetapan hati. Itulah satya, itulah kebenaran.

Para bijak kerap menyatakan, kegagalan, kehancuran, dan derita disebabkan karena orang tidak berpayung pada ketetapan hidup. Tidak memiliki ketetapan hidup sama artinya dengan melanggar kodrat hidup, yakni: melanggar satya itu sendiri. Kecenderungan budaya mangkir kini juga diakibatkan karena orang tak lagi menghargai hidup yang senantiasa mengalir. Bagaimana jika angin “berbohong,” tak lagi bergerak. Bagaimana jika air berbohong, tak lagi mengalir. Bila tumbuh-tumbuhan berbohong tak lagi bertumbuh. Tentu seluruh alir hidup akan terhenti, karena sang pengendali tidak mengendali lagi.

Begitu juga terjadi bila tatanan sosial dipenuhi kebohongan, ketidakjujuran, disusupi budaya mangkir, arus sosial akan macet. Kepercayaan antarsesama pupus, masyarakat tak mudah dipimpin. Justru itu para bijak sangat takut kehilangan kepercayaan. Karena kehilangan kepercayaan berarti kehilangan harkat hidup, kehilangan muka, di situ ia dianggap telah melawan hukum satya. Mengingat betapa berharganya kepercayaan itu, teks-teks susastra Bali kemudian mewanti bijak, supaya setiap orang hati-hati pada ucapan. Karena ucapan atau mulut itu merupakan sumber malapetaka, sekaligus sumber kerahayuan.

Hati-hatilah membawa mulut, begitu nasihat kerap didengar dari para bijak. Kakawin Nitisastra, misalnya mengingatkan, kata-kata akan mempertautkan orang dengan musuh. Karena kata-kata orang didekatkan pada derita, dan karena kata-kata pula kerahayuan datang bertabik. Tapi ada kalanya orang lupa, tak lagi menyayangi mulut. Orang mudah mengobral janji, mudah berkata-kata, tapi tak mudah menepati. Mulut yang semestinya dipakai untuk mewedarkan kesantunan, kebenaran, kesucian, kini berbalik untuk menebarkan kebohongan, kebencian, kekotoran, dan keburukan lainnya. Orang Bali menyebut hal ini sebagai ujar ala, kata-kata yang hanya mendatangkan kecemaranan dan ketidakbahagiaan.

Karena itu pula, Raja Badung, Tjokorda Mantuk Dirana, raja pandita yang lina dalam perang puputan Badung, menenggarai mulut yang tak mudah dipercaya itu tak ubahnya liang dubur, bibihe kadi bol, yang kerjanya hanya mengeluarkan bau busuk. Memang tak ada bedanya mulut yang senantiasa mengumbar kata-kata kotor, menebar kebohongan dengan liang dubur itu. Inilah kemudian kenapa dalam upacara pawintenan (upacara pensucian), pangkal lidah ditulisi aksara suci. Tujuannya menyemayamkan Dewi Kebajikan, Saraswati di pangkal lidah. Dengan harapan supaya kata-kata yang keluar dari mulut senantiasa kata-kata bijak, menebarkan selalu benih-benih kerahayuan.

Bagaimana kesetiaan bisa dibadankan dalam hidup?

Teks-teks suci susastra Bali menyarankan, hendaknya kebajikan diri itu tidak dicari dari luar, sebab segala yang datang dari luar berumur pendek, instan, dan tidak abadi. Maka lakukan perjalanan ke dalam, menyelam di dasar keheningan budi, di jantung hati yang senantiasa bersinar bening. “Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh insani dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal disucikan dengan kebijaksanaan,” surat kakawin Nitisastra. Kesimpulannya, tri kaya parisuda itulah yang menjadi jalan utama menyucikan pikiran, kata, dan perbuatan. Inilah landasan menjalankan satya, yang menyebabkan orang mencapai kebahagiaan tertinggi. (oleh Wayan Westa, Penulis Kebudayaan)

author