banner 728x90

Upacara dan Upakara

Upacara dan Upakara Yadnya Gama Bali

Arti Upakara;

  • Upa = dekat = mendekatkan
  • Kara = tangan = perbuatan = karma ( aktifitas)

sehingga Upakara diartikan sebagai Sarana bhakti yg mendekatkan diri kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

sedangkan Yadnya adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Weda. Didalam Kitab Atharwa Weda disebutkan bahwa:

"Sesungguhnya satya, rta, diksa, tapa, brahma dan yadnya yang menyangga dunia" (Atharwa Weda XII.1.1)

 

Pengertian yadnya dapat kita lihat dari dua segi yaitu : pengertian secara etimologi dan pengertian secara terminologi.

Secara etimologi, kata yadnya adalah kata dalam bahasa Sanskerta yang berasal dari urat kata kerja “yaj” yang dapat diartikan mempersembahkan, berkorban. Urat kata “yaj” tersebut kemudian dapat berubah menjadi kata “yajna” dan menjadi Yadnya; yang berarti persembahan atau korban suci.

Secara terminologi kata yajna memiliki pengertian sebagai berikut :

yajña ngaraning manghanaken Homa (Wrhaspati tattwa),
yadnya artinya mengadakan homa.

Yajña ngaranya “agnihotradi” kapujan sanghyang Siwagni pinakadinya (Agastya parwa).
Yadnya artinya “agnihotra” dan lain-lain, terutama pemujaan atau persembahan kepada Sanghyang Siwagni.

Yang dimaksud dengan HOMA dalam Wrhaspatitattwa mempunyai makna yang sama dengan “Agnihotra” dalam Agastyaparwa, yaitu persembahan kepada Agni (api). baca: Betara Agni sang Dewa Api

Jadi pada prinsipnya pengertian yadnya itu pada mulanya di sini terpusat pada persembahan kepada Agni. Agnihotra atau Agnihoma ini dalam bentuk Pasepan, dipa, api takep, api linting, sundih dll menyesuaikan dengan yadnya apa yang sedang diselenggarakan. Pasepan atau dupa adalah sejenis harum-haruman yang dibakar sehingga berasap dan berbau harum yang dalam perkembangannya berubah menjadi dalam bentuk dupa. Sedangkan dipa adalah semacam lampu minyak kelapa khusus yang menyala dan dalam perkembangannya berubah menjadi nyala api lainnya seperti nyala lilin.

silahkan baca: Memuja Dewa Agni melalui Pasepan dan Penggunaan Dupa Batang di Bali

Pengertian yadnya itu kemudian berkembang, yaitu tidak saja berarti persembahan kepada Agni, akan tetapi juga berarti persembahan kepada Dewa-dewa yang lain yang merupakan aspek-aspek Tuhan Yang Tunggal itu. Dalam hal ini Agni berfungsi sebagai duta atau utusan yang siap menghubungi Dewa yang dikehendaki hadir dalam upacara yadnya tersebut. Agni juga berfungsi sebagai mulutnya pada dewa dan semua kekuatan yang tidak kelihatan untuk menerima sesajen yang dipersembahkan untuk dinikmati. sehingga Yadnya dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik (kebajikan), pemberian, dan penyerahan dengan penuh kerelaan (tulus ikhlas) berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi Wasa.

Jadi secara singkat dapatlah kiranya dikatakan bahwa yang dimaksud dengan yadnya itu adalah segala bentuk persembahan dan pengorbanan yang tulus yang timbul dari hati yang suci demi untuk maksud-maksud yang mulia dan luhur.

Apapun pengertian yadnya pada umumnya berkisar pada upacara atau ritual semata, yang merupakan salah satu bentuk yadnya yang dapat dilaksanakan secara nyata.

Di dalamnya terkandung nilai- nilai:

  1. Rasa tulus ikhlas dan kesucian.
  2. Rasa bakti dan memuja (menghormati) Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa, Bhatara, Leluhur, Negara dan Bangsa, dan kemanusiaan.
  3. Di dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan masing- masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).
  4. Suatu ajaran dan Catur Weda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan suci dan kebenaran yang abadi.

 

DASAR dan TUJUAN YADNYA

Konsepsi yadnya telah ada dalam kitab Rg Weda X. 90, kemudian dikembangkan dalam kitab-kitab Upanisad, kitab Bhagawadgita dan lain-lain.

Dinyatakan bahwa alam ini ada adalah berdasarkan proses yadnya-Nya = Mahapurusa = , sebagaimana dinyatakan dalam kitab Rg Weda X.90. dengan yadnya itu para dewa akan memelihara manusia dan dengan yadnya itu pula manusia memelihara para dewa. Jadi dengan saling memelihara satu sama lain maka manusia akan mencapai kebahagaiaan. Ia yang hanya mau menerima dengan tidak mau memberi adalah pencuri. Sebaliknya, ia yang makan apa yang tersisa dari yadnya maka ia akan terlepas dari segala dosa. Sedangkan ia yang hanya menyediakan makanan hanya untuk kepentingan sendiri saja ia itu makan dosanya sendiri.

Bila dicermati makna sloka diatas, bahwa Tuhan menciptakan segalanya. Manusia hendaknya bersyukur Lakukan persembahan secara rutin dengan tulus (nirmala) Persembahkan alam isi ala mini untuk mendapatkan kebahagiaan bersama. Cintailah lingkungan. Jagalah lingkungan. Lenyapkan dosa dan papa. Tumbuhkan kebahagiaan bersama (sarva hita). Hormatilah Tuhan beserta segala isinya.

Jadi tanpa yadnya tak akan ada ciptaan dan tanpa yadnya alam semesta ini akan mengalami kehancuran. Karena itu harus ditegakkan melalui jalan beryadnya. Di samping itu, beryadnya juga wajib karena umat Gama Bali (Hindu) meyakini bahwa setiap manusia yang lahir ke dunia ini mempunyai tiga jenis hutang yang disebut Tri Rna yaitu :

  1. Dewa Rna yaitu hutang kepada para dewa, karena telah melindungi dan memberi kita ijin untuk reinkarnasi dengan cepat
  2. Pitra Rna yaitu hutang kepada para leluhur dan orang tua yang telah membesarkan dan melahirkan kita
  3. Rsi Rna yaitu hutang kepada para pendeta, para guru yang telah berjasa mendidik dan menyelesaikan yadnya kita

Ketiga jenis hutang itulah harus dibayar dengan beryadnya yang umumnya dikenal dengan Panca Yadnya, diantaranya:

  • Dewa Rna dibayar dengan Dewa Yadnya dan Butha Yadnya
  • Pitra Rna dibayar dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya
  • Rsi Rna dibayar dengan Rsi Yadnya

yang menjadi pertanyaan,

kenapa Dewa Rna yang intinya berhutang kepada dewa saja kita membayar kepada 2 unsur yaitu dewa dan butha?

begitu pula Pitra Rna, kenapa harus dibayar dengan Pitra yadnya dan Manusa yadnya?

Pada Dewa Rna, kita diberikan perlindungan, dipelihara, hingga diberikan kebahagiaan karena itulah kita haruslah menghaturan Dewa Yadnya. sedangkan atas kesempatan (waktu) yang diberikan kepada manusia untuk menikmati hidup didunia, maka manusia harus tunduk pada dewa penguasa dunia ini yaitu sang hyang kala (sang waktu), ini merujuk pada lontar kala tatwa, dimana dewa tertinggi di dunia adalah sang kala yaitu sang waktu itu sendiri. tatkala seseorang merupakan kesempatan, maka sang kala akan "nadah" (memakan) manusia tersebut, ini diartikan sang waktu akan terus berjalan dan apapun yang sudah dimakan (waktu yang telah lewat) tidak akan bisa dikembalikan lagi. karenanya didalam kehidupan, sang maha kala-lah dewa tertinggi yang wajib juga dipuja oleh manusia. dapat dikatakan bahwa, sang kala (waktu) adalah dewa sekala di dunia sedangkan para dewata hanyalah dewa di sorga. untuk memuja sang kala dengan berbagai manifestasinya maka dihaturkanlah butha yadnya. butha dalam hal ini tidak berarti negatif melainkan segala hal yang bersifat unsur mendasar dari kehidupan, baik panca mahabutha, sifat manusia seperti ego, amarah dll hingga sang waktu itu sendiri.

sedangkan pada Pitra Rna, orang tua yang telah melahirkan dan memberi kehidupan kepada kita, dalam Weda orang tua kita baik yang melahirkan maupun yang menghidupi kita disamakan dengan para dewata sekala, seperti yang dimuat dalam Upanisad;

Seorang IBU adalah dewa, seorang BAPAK adalah dewa, seorang GURU adalah juga dewa dan para TAMU pun adalah dewa (Taittiriya Upanisad 1.11)

kita telah diberikan kesempatan reinkarnasi oleh orang tua kandung kita, karena merekalah kita hidup di dunia ini. Saat Orang Tua kita meninggal, beliau lebih dikenal sebagai leluhur olrh para keturunannya, karena itu untuk menggenang dan menghormatinya kita wajib menghaturkan yadnya khusus kepada yang telah meninggal atau leluhur yang dikenal dengan sebutan Pitra Yadnya.

disaat orang tua kita masih hidup, maka beliau tidaklah disebut leluhur melainkan masih sebagai seorang manusia, maka pengorbanan kepada orang tua kita disebut dengan Manusa Yadnya. dan dari sisi orang tua kita, juga wajib memberikan ritual yadnya kepada anaknya sehubungan dengan rasa bhaktinya kepada leluhurnya yang telah reinkarnasi pada diri sang anak, karena itulah dalam praktek dibali, manusa yadnya lebih banyak terlihat ritualnya pada konteks orang tua mengupacarai anaknya. pengorbanan kepada orang tua ini kemudian berkembang lebih luas, karena kita sebagai manusia tidak akan bisa hidup tanpa manusia lainnya, sehingga manusa yadnya ini diberlakukan disamping kepada orang tua juga berlaku kepada setiap umat manusia lainnya.

Adapun tujuan orang beryadnya itu antara lain adalah :

  1. sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan atas kemurahan dan anugrahNya terhadap umat manusia.
  2. untuk membebaskan diri manusia dari ikatan karma dan dosa.
  3. memohon kepada Tuhan agar manusia dijauhkan dari segala mara bahaya serta pengaruh-pengaruh jahat yang sering mengganggu ketentraman hidup manusia.
  4. memohon kepada Tuhan agar diberikan umur panjang, berketuhanan, berkebijaksanaan, berkebahagiaan dan lain-lain yang menjadi dambaan setiap orang secara universal.

Sesuai dengan agama dan tradisi di Bali yang merupakan penggabungan 9 sampradaya/sekte diBali yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gama Bali bahwa sesungguhnya manusia yang penuh ritual agama yang terbungkus dalam Panca Yadnya. Ritual agama itu dilakukan terhadap manusia Bali dari sejak dalam kandungan, dari lahir sampai menginjak dewasa, dari dewasa sampai mulih ke tanah wayah (meninggal).

Pemberkahan demi pemberkahan dilakukan untuknya dengan segala bebantenan serta mantra-mantranya agar munusia Bali itu menjadi manusia yang berbudi luhur atau memiliki sifat kedewataan di mayapada ini dan bisa amoring acintya dengan Sanghyang Widhi(Moksa).

Semua upacara yadnya disertai dengan bebantenan sesuai dengan fungsi atau peruntukannya. Daftar ritual Gama Bali menunjukkan bahwa manusia Bali secara tradisi penuh dengan ritual agama. Seolah-olah tiada hidup tanpa ritual agama baik pada dunia maya ini maupun pada dunia akhirat (sekala dan niskala).

Jika semua upacara itu bisa diterapkan sesuai dengan aturannya, maka manusia Bali diharapkan menjadi manusia yang memiliki sifat yang mengarah kesifat kedewataan, pergerakan perilaku dari tamasik-rajasik mengarah ke rajasik-satwika atau bahkan pada satwika. Perputaran perilaku itu dapat dihasilkan dari begitu dalam makna tahap demi tahap ritual agama itu untuk menghantarkan menjadi manusia yang bersifat rajasik-satwika atau satwika dari getaran-getaran energi positif getaran bebantenan dan mantra-mantranya secara sinergistik.

 

PANCA YADNYA

Panca Yadnya adalah lima macam yadnya yang umum dilaksanakan oleh masyarakat, yang menurut Agastya Parwa terdiri dari:

  1. Dewa Yajna: ngaranya taila pwa krama ri Bhatara Siwagni, maka gelaran ing mandala ri bhatara. Artinya Dewa Yadnya adalah mempersembahkan minyak kepada Bhatara Siwagni yang merupakan altar (media) dari bhatara (Siwagni).
  2. Rsi Yajna: ngaranya kapujan sang pandita mwang sang wruh ri kalinganing dadi. Artinya Rsi Yadnya adalah pemujaan atau penghormatan kepada para pandita atau beliau yang mengetahui sangkan paraning dumadi.
  3. Pitra Yajna: ngaranya tileman bwat hyang Siwasraddha. Artinya Pitra Yadnya adalah upacara kematian untuk Hyang Siwasraddha.
  4. Bhuta Yajna: ngaranya tawur mwang kapujan ing tuwuh ada pamungwan kundawulan makadi wali krama ekadasadewamandala. Artinya Bhuta Yadnya adalah tawur dan pemujaan terhadap “sarwa bhuta” yaitu roh-roh halus.
  5. Manusa Yajna: ngaranya aweh amangan ring karaman. Artinya Manusa Yadnya adalah memberikan makanan/hidangan kepada masyarakat.

Menurut Lontar Bayi Loka Tattwa menyebutkan sebagai berikut :

  1. Manusa Yadnya: angaci-aci raga sarira saking patemwaning pawarangan….  Artinya upacara untuk keselamatan diri manusia mulai sejak lahir, beranjak dewasa, kawin dan seterusnya.
  2. Dewa Yadnya: angaturaken wali ring sarwa dewata kabeh. Artinya upacara mempersembahkan wali kepada para dewa.
  3. Pitra Yadnya: pamretistaning sawa, saha tarpana pitra. Artinya : upacara kematian dan persembahan tarpana.
  4. Rsi Yajna: angaturaken punya ring Resinggana, saha bojana mwang widhi-widhana kabeh. Artinya : menghaturkan punia kepada para rsi, beserta bojana dan perlengkapan upacaranya.
  5. Bhuta Yajna: salwiring caru, nista, madhya, uttama. Artinya : segala macam caru nista madya utama.

yadnya ditinjau dari segi bentuknya yaitu :

  1. Drwya Yajna: yadnya dengan sarana material
  2. Tapa Yajna: yadnya dengan tapa
  3. Yoga Yajna: yadnya dengan melaksanakan yoga
  4. Swadyaya Yajna: yadnya dengan mempelajari ajaran suci
  5. Jnana Yajna: yadnya dengan ilmu pengetahuan.

 

SARANA YADNYA

Dalam melakukan upacara yajna ada beberapa sarana pokok yang sering digunakan seperti :

Bunga/kembang/puspa.

Bunga mempunyai dua fungsi utama yaitu :

    1. Sebagai wujud atau simbol Siwa (Sanghyang Puspadanta) seperti tercermin dalam mantra berikut :"Om Puspa-dantaya nama " artinya Om sujud pada Siwa (Weda Parikrama 46).
    2. Sebagai sarana persembahan dan pemujaan. Ada beberapa kembang yang tidak boleh dipersembahkan (tan yogya pujakena ring bhatara) seperti : kembang huleran (bunga yang digemari ulat), kembang ruru tan inuduh (bunga yang jatuh tak digoyangkan), kembang semuten (bunga yang digemari semut), kembang laywan (bunga layu), kembang mungguh ring sema (bunga yang tumbuh di kuburan). Bunga yang segar dan harum adalah bungan yang baik untuk dipersembahkan.

Api atau Agni

Api dipakai untuk menyalakan dupa maupun dipa. Dupa nyalanya sebagai nyala bara, sedangkan dipa nyalanya sebagai nyala lampu. Dupa mengeluarkan asap sedangkan dipa mengeluarkan cahaya terang. Api adalah lambang Hyang Agni yang mempunyai banyak fungsi antara lain: sebagai pemimpin upacara yajna, sebagai pengantar yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhan, sebagai saksi abadi, sebagai pembasmi segala kekotoran dan sebagainya (Weda Parikrama 44 – 45).

Menurut Kitab Sarasamusccaya sloka 59, ada tiga macam api suci yang disebut Tryagni yaitu :

  1. Ahawanya – ngaranira apuy ning asuruhan (api memasak   makanan dan minuman).
  2. Garhaspatya – ngaranira apuy ning winarang (api upacara perkawinan)
  3. Cittagni – ngaranira apuy ning manunu sawa (api untuk membakar mayat).

Air/Toya

Air dibedakan atas dua macam yaitu :

  1. Air tabah/air biasa  : air untuk pencuci tangan, mulut dan sebagainya.
  2. Air suci yang disebut tirtha atau toya. Tirtha ini banyak jenisnya seperti : tirtha panglukatan, tirtha pabersihan, tirtha wangsuh pada, tirtha pangentas, tirtha penembak dan sebagainya.

Daun-daunan

Banyak jenis daun yang dipakai sebagai sarana yajna, seperti daun sirih, daun pisang, daun dapdap, daun alang-alang dan sebagainya. Fungsi daun tergantung pada penggunaannya.

Buah-buahan

Buah-buahan, biji-bijian yang dipersembahkan sesuai ketentuan yang berlaku dan selalu dalam keadaan sukla. Buah kelapa, buah pisang sering dipakai sebagai sarana yajna. Demikian pula biji kacang-kacangan, biji beras juga tidak jarang dipersembahkan dalam yajna.

Selain kelima sarana pokok di atas, untuk lauk-pauk sering dipakai berbagai ikan, daging dan sebagainya. Manusia selalu berusaha untuk mempersembahkan apa yang terbaik baginya. Sarana-sarana tersebut diatur, dirangkai, disusun sedemikian rupa sehingga menjadi suatu bentuk sesajen. Di Bali sesajen ini disebut banten atau upakara. Sesajen itu banyak jenis dan fungsinya seperti: canang, daksina, peras, panyeneng dan sebagainya.

CANANG dan BANTEN

banten

Yadnya Dalam Kenyataan Hidup di Masyarakat

Penerapan ajaran yadnya dalam masyarakat tidak semata-mata tergantung pada sumber sastranya saja. Pustaka-pustaka yang mempedomani pelaksanaan yadnya umumnya hanya menguraikan pokok-pokoknya saja secara umum, tidak sampai detailnya. Pelaksanaan detailnya didukung oleh adat-istiadat, lingkungan, budaya dan kondisi masyarakat pendukungnya. Tidak semua hal dalam pelaksanaan yadnya itu cocok dengan sumber sastranya. Dan kadang-kadang sumber sastranya sendiri memberikan uraian berbeda bahkan bertentangan terhadap hal yang sama. Faktor kuna dresta, desa dresta dan loka dresta juga besar pengaruhnya dalam pelaksanaan yadnya. Sehingga yadnya dalam penerapannya di masyarakat adalah perpaduan dari keempat dresta itu yaitu: sastra, kuna, loka dan desa dresta. Di samping itu konsepsi desa, kala, patra (tempat, waktu dan keadaan).

Demikian pula bertitik tolak dari tingkat kemampuan ekonomi seseorang menyebabkan adanya tingkatan-tingkatan yadnya. Tingkatan-tingkatan itu antara lain :

  • Kanista artinya yang terkecil. yadnya yang tingkatannya kanista untuk mereka yang penghasilannya rendah.
  • Madhya artinya menengah atau sedang. Bagi yang penghasilannya sedang-sedang saja maka yadnya yang menengahlah yang sesuai.
  • Uttama artinya tertinggi. yadnya yang tingkat uttama cocok untuk orang yang berpenghasilan besar.

Ketiga tingkatan yadnya itu hanyalah berbeda dalam kuantitasnya, namun tidak berbeda dalam kualitas karena sama-sama dipersembahkan atas dasar bakti. Seorang miskin menyuguhkan segelas teh tanpa jajan kepada tamunya. Tamu itupun puas menerimanya karena suguhan itu didasarkan atas hormatnya kepadanya. Seorang kaya menyuguhkan minuman yang sama kepada tamunya. Tamunya tidak puas karena tidak seyogyanya seorang yang kaya berlaku demikian terhadap tamunya. Walaupun kuantitas suguhan itu sama, kualitasnya berbeda. Demikian pula halnya dalam beryadnya. Orang yang kaya hendaknya jangan beryadnya yang kanista sedangkan yang miskin janganlah beryadnya yang uttama.

Dengan demikian maka pelaksanaan yadnya itu tampak beragam, bervariasi, namun prinsipnya tetap sama.


Top