Upaya Orang Bali mencari Tuhan

No comment 36 views

Upaya Orang Bali mencari Tuhan

Kerinduan umat beragama bertemu Tuhan, adalah suatu kemustahilan. Sesungguhnya umat beragama tidak bisa menghadirkanTuhan dalam setiap upacara keagamaan yang dilakukan pada setiap saat dan di setiap tempat di dunia ini. Mungkinkah Tuhan akan menampakkan diri?

Sebagai wujud syukur atas karunia dan kerahasiaan Tuhan, seseorang hanya bisa meyakini dan memvisualisasikan Tuhan dalam pikiran, dan diaplikasikan wujud ketulus-ikhlasan dengan berbagai jalan dan budaya yang dihasilkan. Kenyataannya, Tuhan tetap tidak pernah tampak nyata dan sama rupa.

Kitab-kitab Upanisad menyatakan tidak ada definisi yang tepat untuk-Nya, Neti-Neti (Na+ iti, na+ iti), bukan ini, bukan ini. Dan masih banyak susastra agama-agama maupun aliran-alirannya yang memberikan interpretasi berbeda-beda dalam mencari hakikat ketuhanan.

Tuhan, Dewa, atau Hyang/Bhatara

Di dalam mewujudnyatakan hakikat ketuhanan yang penuh rahasia ini, agama Hindu telah menguraikan tentang ketuhanan dalam kitab suci Veda. Di dalam kitab suci Veda, Tuhan Yang Maha Esa disebut dewa atau dewata. Kata ini berarti: cahaya, berkilau, sinar gemerlapan, yang semuanya itu ditujukan kepada manifestasi-Nya, juga ditujukan kepada matahari, langit, bulan, angin, api, petir, air, planet dan seluruh alam semesta, sebagai objek atau media penghubung kepada-Nya. Pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa, yang dikemukakan oleh Maha Rsi Vyasa, dikenal dengan nama Badarayana, dalam bukunya berjudul Brahmasutra (I.1.2) menyebutkan: Janmadyasya yatah yang diterjemahkan oleh Swami  Siwananda sebagai berikut: Brahman adalah asal muasal dari alam semesta dan segala isinya (janmadi = asal, awal, penjelmaan dan sebagainya, asya = dunia/alam semesta ini, yatah = dari padanya). Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Brahman ini merupakan asal mula segalanya.

Dalam kitab suci Chandogya Upanisad IV.2 Ekam Eva Advitiyam Brahman artinya Tuhan satu tidak ada duanya, para bijaklah yang memberi nama atau abhisekanama yang berbeda-beda, seperti: Agni, Indra, Vayu, Apah, Yama, Aditya, Varuna, Prajapati, Om, dan sebutan dewata lainnya; seperti yang dinyatakan dalam kitab suci Rg Veda I.164.46. berikut ini:

Mereka menyebut-Nya dengan Indra, Mitra, Varuna dan Agni, Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa, para maharsi (viprah) memberinya banyak nama, mereka menyebut Indra, Yama, Matarisvan.

Lebih jauh disebutkan dalam kitab suci Yajurveda XXXII.1:

Sesungguhnya Ia adalah Agni, Ia adalah Aditya, Ia adalah Vayu, Ia adalah Candrama, Ia adalah Sukra, Ia adalah Apah, Ia yang Esa itu adalah Prajapati

Petikan dari mantram Yajurveda berikut mendukung pandangan bahwa Tuhan Yang Maha Esa memancarkan sendiri sinar-Nya, Yajurveda XL 17:

Spirit yang terdapat di matahari, Itu adalah Aku. Om (nama-Ku) memenuhi seluruh alam semesta ini.

Dapat pula ditambahkan penjelasan tentang dewa tersebut diatas, yakni adanya empat dewa seperti yang disebutkan dalam kitab Taittiriya Upanisad sebagai berikut:

Seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa,  seorang guru adalah juga dewa dan para tamu pun adalah dewa.

Berkaitan dengan Istadevata dan Murtipuja, seorang penyembah yang tekun melakukan pemujaan kepada-Nya dengan menyembah dewata pujaannya dengan sarana arca yang disebut Adhikara. Kata Adhikara yang mempunyai pengertian yang sangat luas, diantaranya: yang berwenang, pemerintah, gelar, hak istimewa, pembenaran dan lain-lain adalah kebebasan untuk memilih disiplin dan jalan tertentu sesuai dengan kemampuan dan bakat atau kesenangannya, sesuai dengan sabda Sri Krsna dalam Bhagavadgita IV. 11: Dengan jalan apapun ditempuh oleh umat manusia, semuanya menuju Aku, semuanya Aku terima, dari mana semua mereka menuju jalan-Ku, Oh Partha.

Bila kita mengkaji lebih jauh wujud dewa-dewa tersebut, dalam kitab suci Veda, dewa-dewa atau dewata itu digambarkan dalam berbagai wujud yang menampakkan sebagai “Yang Berpribadi” dan “Yang Tidak Berpribadi”. “Yang Berpribadi” aspeknya kita dapat amati, sentuh dan rasakan dari keterangan tentang dewa Indra, Vayu, Surya, Garutman, Ansa yang terbang di angkasa, dan sebagainya. Sedang “Yang Tidak Berpribadi”, antara lain sebagai Om (Omkara/Pranawa), Sat, Tat, dan lain-lain.

Kini timbul pertanyaan, bila dewa-dewa dan dewi-dewi demikian rupa, bagaimana halnya dengan bhattara dan bhattari dan avatara-avatara-Nya yang sangat populer di Bali? Kata bhattara dalam bahasa Sanskerta berasal dari kata batta (bhattr) yang artinya yang melindungi, tuan, raja. Jadi istilah atau nama dewa-dewi dan bhattara-bhattari sebenarnya identik, karena fungsi dari dewa-dewi adalah untuk melindungi umat.

Dalam sejarah Bali-Kuno, istilah Bhatara dan Hyang muncul dalam prasasti Trunyan A1, tahun Saka 813/891 Masehi zaman pemerintahan Sri Ksari Warmadewa meyebutkan bhatara da tonta. prasasti Sembiran A1, tahun Saka 844/922 Masehi, dizaman pemerintahan Sri Ugrasena, menyebutkan bhatara punta hyang (Goris R, 1954:56,67); serta prasasti Pengotan tahun Saka 991/1069 Masehi, di zaman pemerintahan Sri Haji Anak Wungsu menyebutkan: paduka haji anak wungsu kalih bhatari lumah ing burwan, bhatara lumah ing banu wka, yang berarti raja Anak Wungsu serta Bhatari yang dicandikan di Burwan dan Bhatara yang dicandikan di Air Wka/Gunung Kawi (Budiastra, Putu. Museum Bali, 1978).

Kata Hyang berasal dari bahasa Jawa-Kuno (Zoetmulder, P.J., 1984:373) berarti dewa, dewi, yang dipuja sebagai dewa, Tuhan, dewa yang khusus bertalian dengan tempat. Istilah hyang muncul dalam prasati-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali-Kuno, berisi supata (sumpah) yang ditujukan di hadapan Hyang Api (dewa api), Puntha Hyang (dewa resi), Hyang Danawa (dewa danau), Hyang Gunung (dewa gunung), Hyang Bukit Tunggal (dewa bukit tunggal), Hyang Tegeh (dewa puncak penulisan), Hyang Karimana (dewa karimana), Hyang Da Tonta (Ratu Sakti Pancering Jagat), adalah sebutan dewa tertinggi yang diyakini berkuasa di wilayah sekitarnya.

Sebelum piagem (prasasti) tersebut disosialisasikan ke masyarakat, umumnya prasasti itu akan di-supata di hadapan ida bhatara/dewa yang berstana di pura tersebut, serta dihadiri para pendeta siwa, buda, kubahyan, senapati, samgat, caksu, para nayaka, dan para juru lainnya. Supata kemungkinan menjadi pasupati adalah suatu prosesi magis memohon spirit/roh dari kekuatan alam untuk menyatu dengan benda yang akan disucikan, sebagai simbol kebersamaan yang dilakukan saat itu. Dalam piagem selain berisi aturan-aturan yang telah disepakati bersama, juga berisi kutukan yang dimohonkan hukuman yang datangnya dari segala arah bagi yang tidak mengindahkannya. Menurut keyakinan masyarakat Hindu, kutukan ini sangat ditakuti dan dihormati sampai saat kini. Beberapa Media Penghubung

Beberapa konsep yang dipakai oleh umat Hindu di Bali sebagai media penghubung dalam mencari hakikat Tuhan Yang Maha Esa/Hyang Widhi Wasa antara lain: 

1) Memuja langsung alam semesta

Perkembangan peradaban manusia yang pada awalnya meyakini alam semesta dan hasil ciptaan-Nya, seperti: Aditya (dewa matahari), Agni (dewa api), Apah (dewa air), Candra (dewa bulan), Yama (dewa maut), Varuna (dewa langit), Sukra (dewa planet venus), Indra (dewa penguasa), Vayu (dewa angin), Maruta (dewa angin), Soma (dewa bulan), Om (aksara suci), serta manifestasi lain adalah sebagai media penghubung dalam pencaharian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang diucapkan oleh orang-orang suci pada zaman dahulu.

Yang dipuja bukan benda atau alat itu, tapi misteri/spirit yang ada dibalik benda itu, yaitu: ada asal muasal, ada kehidupan, ada keindahan, ada kekuatan, ada keajaiban, ada manfaat, dan ada unsur-unsur lain yang mengikuti. Orang-orang bijak memberikan patokan hari-hari tertentu sebagai wujud syukur dan terima kasih umat kepada-Nya, misalnya: tumpek wariga, adalah hari memuliakan Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa sangkara, sebagai dewa tumbuh-tumbuhan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan ini.

Kita tidak tahu dari mana asal muasal keberadaannya, kapan dan siapa yang menciptakan keanekaragaman, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia dan seluruh isi alam semesta ini. Umat Hindu di Bali, dalam upacara persembahyangan memakai sarana bunga, memuja Aditya/Raditya (matahari), manifestasi Tuhan sebagai Dewa Surya adalah aspek Tuhan sebagai saksi, pemberi penerangan di kegelapan, disamping memberikan spirit (roh) ke alam semesta ini. Ada istilah Siwa Raditya artinya Siwa Matahari, Siwa pun memuja Matahari hasil ciptaan SANG PENCIPTA (Tuhan, Brahman, Allah, God, Sang Hyang Widhi, dllll) ,,

2) Melalui arca, ‘pratima’, gambar, upakara

Seseorang disamping memuja langsung hasil ciptaan-Nya, juga menggunakan nyasa/simbol-simbol tertentu. Simbolisme religius akan menghasilkan kreatifitas seni dan budaya yang religius pula. Benda-benda alam sebagai manifestasi perwujudan-Nya, yang disucikan, diupacarai, dan dipuja-puji, diyakini bisa menghasilkan nilai magis/gaib yang tidak bisa dipecahkan oleh akal sehat dari pikiran manusia.

Para Maha Rsi Hindu zaman dahulu bersifat konsisten melakoni kehidupan wanaprasta, yaitu menjalani kehidupan dengan melepaskan keterikatan-keterikatan pemuasan jasmani dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan, sehingga hasil perenungan para resi zaman dahulu, diwujud-nyatakan ke dalam bentuk seni dan diaplikasikan sifat dan fungsi Tuhan dalam bentuk; arca, gambar, pratima, upakara, bahasa, tari wali. Yang mempunyai nilai estetis, nilai simbolis, dan nilai spiritual. Seperti apa yang telah diwariskan oleh para leluhur kita terdahulu, misalnya; sifat dan fungsi Tuhan sebagai pembasmi kejahatan tampak tangan arca disimbolkan membawa kapak, fungsi Tuhan sebagai asal ilmu pengetahuan tampak tangan arca disimbolkan membawa lontar, sifat Tuhan sebagai penyejuk tampak tangan arca membawa sibuh (tempat tirta), serta diwujudkan dan digambarkan dengan banyak tangan sesuai fungsi dan kebesaran-Nya.

Demikian pula simbol-simbol yang terdapat dalam upakara bebantenan misalnya; daksina lambang stana Ida Hyang Widhi/Tuhan. Sedangkan banten guru piduka adalah mengandung nilai permohonan maaf umatnya. Banten porosan yang terdiri dari pinang yang berwarna merah simbol Dewa Brahma, daun sirih yang berwarna hijau simbol Dewa Wisnu, dan kapur yang berwarna putih simbol Dewa Siwa. Dengan demikian alam semesta sebagai hasil ciptaan-Nya adalah sakti-Nya Tuhan. Melalui ajaran agama atau sekte dijabarkan tentang hakikat ketuhanan tersebut. Kata sekte/agama adalah kelompok orang yang mempunyai kepercayaan akan pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lazim diterima oleh para penganut agama tersebut, misalnya: sekte siwa, sekte bhuda, sekte waisnawa, sekte sakta, sekte indra, sekte bhairawa, sekte surya dan lain-lain. Yang mempunyai jalan dan identitas diri masing-masing, yaitu; ada istadewata (dewa pujaan), ada kitab suci, tempat ibadah, orang-orang suci, hari-hari suci, sarana yang dipakai, dan ada pengikutnya.

Dengan demikian seseorang yang ingin mengetahui hakikat dan kebesaran Tuhan ialah dengan jalan menjadi pengikut dari salah satu sekte/agama yang dianggap resmi oleh pemerintahan disaat itu yang diyakini menjadi penuntun dalam kehidupan ini. Dimana para Brahmana dari sekte tersebut dipercaya sebagai penerima wahyu atau sebagai penghubung dari alam niskala ke sekala begitu pun sebaliknya. Disamping sebagai pengajar dan menyebarkan agama Hindu dalam rangka pembinaan mental spiritual, juga peranan tokoh agama dalam bidang pemerintahan khususnya sebagai guru spiritual yang memberikan nasehat kepada raja, baik tentang ilmu pemerintahan, ilmu dialektika, ilmu tentang atman dan lain-lain

3) Memuja Tuhan Melalui Animisme dan Dinamisme, Media Komunikasi Antara Alam, Manusia dan Dewa Tetinggi Sekitarnya

            Setelah masuknya agama Hindu di Bali, para penyebar (misionaris) agama Hindu sebegitu jauh hanya berhasil meng-Hindu-kan agama orang-orang Bali Aga (aga = gunung, orang Bali yang tinggal di pegunungan) dan Bali Mula (orang Bali yang hidup sebelum masuknya agama Hindu), namun belum secara tuntas merubah keyakinan penduduknya. Hal itu disebabkan sampai saat kini keyakinan masyarakat setempat lebih berdasarkan kepada kepercayaan lokal (local genius) yang telah diwariskan oleh para tetua mereka terdahulu, yaitu percaya dengan adanya roh/atma (butir ke 2 dari Panca Sradha) dan kekuatan alam sekitarnya, yang menjadikan mereka tunduk dan taat padanya.

            Dalam buku Panca Dhatu (Donder.2004:68), mengutip kitab Brhad Aranyaka Upanisad II.15menjelaskan, “Sesungguhnya Roh itu menguasai semua benda, Roh adalah raja dari semua benda. Sebagaimana halnya semua jari-jari dari roda itu disatukan di dalam sumbu rodanya, demikian juga halnya semua Roh dari semua benda, semua dewa, seluruh alam, semua makhluk hidup, semuanya disatukan dalam satu kesatuan yang Maha Besar”.  

           Dalam filsafat ketuhanan disebut Animisme dan Dinamisme, adalah suatu keyakinan segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh (asal kata rauh)yang berbeda-beda. Dan mempunyai kekuatan alami dari masing-masing benda itu, baik roh para dewa, roh leluhur, roh hewan, dan roh seluruh benda yang bergerak dan tidak bergerak, bahkan dengan perkataan lain, semua benda berjiwa. Kita hidup karena mengorbankan jiwa mahluk lain sebagai penyambung hidup ini, begitupun sebaliknya, mahluk lain dengan kekuatan yang dimiliki akan ‘memangsa’ jiwa mahluk lain dan seterusnya, sesuai dengan sifat dan fungsi dari mahluk tersebut.

           Karena manusia mempunyai; akal, pikiran, dan kelebihan lain yang tidak didapat pada hewan, sehingga manusia menjadi media komunikasi ke alam kosmis. Seperti diketahui, fenomena kerauhan(kedatangan roh), yang sering terjadi baik di sekolah, di pesantren, di tempat kerja, di pura, juga dalam pementasan tari Barong dan Rangda dalam upacara keagamaan yang ada di Bali Selatan khususnya, sebagai bukti bahwa telah terjadi hubungan yang harmonis antara, manusia, alam, dan dewa sekitar/Tuhan. Dengan adanya kekuatan lain (kedatangan roh) ke tubuh manusia, bisa kerauhan dewa, kerauhan resi, kerauhan pitra, kerauhan manusa, dan kerauhan bhuta. Yang sangat sulit dimengerti, bagaimana roh hewan bisa merasuki tubuh manusia, sedangkan roh manusia tidak bisa merasuki tubuh hewan dan bisa berbahasa manusia pula. Bukankah ini aneh, seseorang bisa kebal seketika disaat akhir acara puja wali, pepatih (orang kerasukan roh lain) akan menyebut diri lebih dahulu pararencang(kelompok bhuta) mana yang ngaturan ngayah, misalnya:

ngayah macan gading, ngayah pongpong mal, ngayah gregek tunggek, ngayah pancung segara, ngayah leak barak, ngayah leak poleng, ngayah buta siu, ngayah batu kitik, ngayah gagak ghora, ngayah bluncat, ngayah blego, ngayah putih jimbaran, dalem petak, ngayah kobar api, ngayah grobag besi, ngayah kupu-kupu harum, ngayah bojog putih, ngayah blatuk tanah, ngayah dalem kahyangan, ngayah cerucuk kuning, ngayah jangkrik gading, ngayah penyu, ngayah titiran, ngayah kelelawar, ngayah waduk brerong . . .

           Dan mungkin ribuan roh yang belum terwakili, sebelum menusuk-nusuk dirinya dengan sebilah keris (taji bahasa alam sana) bahkan lebih dari satu. Sebagai wujud ikhlas dan bukti utusan dari wilayah lain atas kehadirannya, tentunya ada hubungan historis dengan keberadaan suatu tempat (pura) tersebut.

           Disamping fungsi kerauhan untuk mengetahui bahwa upakara dan upacara telah diterima olehDewa/Bhatara yang berstana di suatu tempat. Juga dalam pengesahan perubahan status dan fungsi dari suatu kahyangan (pura), misalnya dalam perubahan status dan fungsi dari kahyangan desa menjadikahyangan jagat, atau perubahan status dan fungsi dari pura Ibu menjadi pura Panti, dan dari pura Pantimenjadi pura Dadya, dan sebagainya. Siapakah yang patut mengabsahkan perubahan status dan fungsi pura tersebut? Karena pura peruntukan bagi para dewa dan roh leluhur yang disucikan, yang tentunya tidak dilihat oleh kasat mata.

           Seseorang yang dipinjam badan raganya oleh kekuatan dewa adalah orang-orang khusus sesuai kriteria yang ditentukan oleh kekuatan alam/gaib, misalnya; seseorang yang ‘ditunjuk’ sebagaipengadegan (mediator) dari Dewa/Bhatara yang berstana di pura setempat, orang itu harus kerauhanberkali-kali di pura mana akan mengabdi. Disamping itu calon sadeg akan dipertemukan antara Guru Niskala(peminjam raga) dengan Bhatara Hyang Guru (Kawitan pemilik jiwa, rohani) atas ijin Bhatara Kawitanbahwa sentana (keturunannya) akan dipakai sebagai kekudan, sadeg, pedasar, baik melalui kasat mata, impian, atau ditunjuk oleh orang suci.  Pada saat pertemuan segitiga itu, kita akan mengenal wajah beliau, warna kulit beliau, busana yang dipakai dan karakter lainnya. Selanjutnya baru menerima petunjuk lewat pawisik dari guru pembimbing niskala. Serta pantangan-pantangan lain yang mesti dilakoni, melanggar dari aturan secara tiba-tiba akan kerauhan, kaku ditempat, kesakitan, dan keadaan yang tidak menyenangkan lainnya. Yang pada akhirnya mereka harus tunduk dan taat pada kekuatan gaib yang ada disekitarnya, itulah ajaran langsung yang mesti dilakoni oleh orang pencari pencerahan rohani. Disamping keriteria lain yaitu orang yang dipakai badan raganya tidak lepas dari garis keturunan (genetics) para leluhur yang ikut merintis sejak awal sejarah keberadaan suatu tempat atau pura tersebut.

           Orang yang kerauhan dewa adalah sangat di istimewakan oleh tetua desa setempat karena dalam meminta petunjuk yang ada keterkaitan dengan parahyangan, pawongan, palemahan, pada suatu tempat, atau untuk mencari pengganti jero mangku, sadeg, kekudan, juru-juru, dan lainnya. Orang yangkarauhan dewa ini dihaturkan geni/api, pesucian, harum-harum, kekidung, busana, serta upakara lain, karena sadeg itu sebagai media komunikasi ke alam kosmis dan sebaliknya. 

           Kerauhan adalah tahap awal menuju pintu gerbang ke-sulinggih (pendeta), pada akhirnya seorangsulinggih yang akan mengantarkan seluruh yadnya yang dihaturkan oleh umatnya, melalui bahasa akan kita ketahui kemana arah yadnya tersebut dihaturkan, apakah memakai bahasa dewa, bahasa resi,bahasa manusa, bahasa pitra, bahasa bhuta, sesuai dengan panca yadnya (lima korban suci) yang ada di Bali saat kini yaitu: korban suci yang dihaturkan untuk para: dewa, resi, pitra, manusa, bhuta.

           Karena seluruh pertanggung-jawaban seorang sulinggih adalah ke alam niskala atau ke alam tak nyata. Siapakah sebenarnya yang mengabsahkannya? Disini akan kelihatan pada puncak dari resi yadnya padiksan adalah dalam acara seda raga (mati raga). Apakah mati raga karena kekuatan alam, atau mati raga karena kekuatan guru napak, atau mati raga hanya seremonial belaka untuk meneruskansiwapakarana leluhur yang telah ada sebelumnya di griya (rumah pendeta)

          Mati Raga karena kekuatan alam, roh calon pendeta itu akan dijemput oleh guru niskala (guru pembimbing tak nyata) di daerah Pura Dalem diajak berjalan kearah kelod kauh (baratdaya) atau arah kematian, disana beliau akan melihat atma (roh) yang sedang menjalani hukuman akibat dosa yang telah diperbuat di dunia nyata, misalnya: Buta Mracu akan menghukum roh para ibu yang dengan sengaja tidak mau menyusui bayinya tampak sang ibu disusui oleh ulat, roh yang suka mengganggu istri orang lain yang telah bersuami akan mendapatkan hukuman pembakaran kelamin oleh Buta Jengitan dan sebagainya. Batas antara walaka (orang biasa) dengan sulinggih (pendeta) akan dibatasi oleh kawah mendidih dengantiti ugal-agilnya sesuai dengan gambar dilangit-langit Bale Kambang di Kertagosa, Klungkung (Warsika, 1986:17). Setelah roh calon pendeta itu kembali ke badan raga baru dinamakan dwi jati (lahir dua kali, tahu sekala niskala) Dengan perkataan lain roh calon pendeta mengalami pergi ke neraka dan melihat hasil perbuatan para atma (roh) setelah kematian. Hari wisuda alam niskala pada hari Siwa Ratri, tilem ka pitu dengan turunnya weda Bhatara Siwa (Pura Dalem) yang diucapkan oleh calon pendeta dan dibimbing guru niskala bliau. Pada saat itu puja-puji akan diucapkan secara otomatis, dimana sebelumnya beliau tidak pernah belajar pada seorang guru maupun menghafalkan mantram atau puja-puji.

            Sedangkan Mati Raga karena kekuatan guru napak (pendeta pembimbing nyata) adalah mati raga atas kekuatan atau kemauan dari guru napak disuruh menari pun misalnya calon pendeta itu akan menari, disuruh tidur calon pendeta itu akan tidur, sesuai keinginan dari guru napak. Semacam terhipnotis, adalah suatu tehnik yang digunakan untuk memasuki alam bawah sadar manusia secara cepat dengan kekuatan magis yang dapat membuat orang lain tunduk dan tertidur, dilakukan berbagai cara, misalnya; dengan pendulum, tatapan mata, tehnik nafas, verbal/mantram, atau sentuhan pada bagian tubuh tertentu.

           Kerauhan haruslah melalui beberapa proses berjenjang sebelum sampai pada kerauhan dewa.Konsep ini dianalogikan dengan proses belajar mengajar pada sebuah akademik, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sampai perguruan tinggi, dan selanjutnya. Seseorang yang memulai dengan pencaharian jati diri dengan keyakinan kedatangan roh (kekuatan lain), baik roh: batu, tumbuh-tumbuhan, bebai, bebutan, para rencang, para kanggo, manusa, pitra, dewa pitara, dewa, Hyang Widhi. Dalam penerapan kehidupan sehari-hari menjadi pedasar, matetamban, jero mangku, jero gede/ida bhawati, wiku ngeraga, wiku ngalokapalasrya, wiku acharya, dan selanjutnyaYang membedakan hanya pertanggung-jawabannya saja, kalau mengikuti jenjang akademik pertanggung-jawabannya ke dosen (manusia), sedangkan sulinggih (pendeta)pertanggung-jawabannya ke alam tak nyata/Tuhan. Hari kelulusan (wisuda) calon diksita di alam niskala adalah hari siwaratri, yaitu tilem ke tujuh dengan turunnya weda dewa Siwa (Bhatara Dalem).

           Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bagi seseorang yang tidak mendapat ‘perintah’ dari leluhur-Nya untuk menjadi seorang pendeta atau dengan perkataan lain atas kemauannya sendiri ingin menjadi sulinggih (pendeta). Calon pendeta (diksita) itu semestinya wajib di-wanaprasta-kan atau diungsikan ke enam tempat yang menunjang kehidupan dunia ini antara lain; laut, gunung, hutan, danau, sungai, dan tempat guru napak dalam proses menempa mental spiritual seseorang untuk melepaskan sedikit demi sedikit keterikatan nafsu duniawi (Perjalanan spiritual alm.Ida Pandita Dukuh Dhaksa Dharma Yoga, Padukuhan Karang Buncing, Carangsari, Petang, Badung).

           Mengambil analog proses ini dan dihubungkan dengan konsep nama-nama lain dari manifestasi Tuhan yang berstana pada setiap tempat yang ada di Bali, ibarat merupakan perjalanan roh/atma seseorang dari Sanggar Kemulan (stana roh manusia) menuju kemanunggalan dengan dewa/bhatara yang berstana di Pura Dalem, (stana Tuhan Siwa) dan begitupun sebaliknya, seperti yang tertulis di alih aksara dan terjemahan lontar Gong Besi, oleh Dinas kebudayaan Propinsi Bali, mengatakan secara ringkas persembahan bakti yang utama, tidak lain kehadapan Bhatara Dalem. Beliulah yang seharusnya dipuja, namun harus engkau ketahui nama lain Bhatara Dalem,

Ketika beliau berstana di Pura Puseh, Sanghyang Tri Yodadasa Sakti nama beliau, pergi dari puseh berstana di Pura Desa, Sanghyang Tri Upasedhana nama beliau, pergi beliau dari desa dan berstana di Bale Agung, Sanghyang Bhagawati nama beliau, pergi dari bale agung, berstana di perepatan jalan, Sanghyang Catur Bhuwana nama beliau, pergi beliau dari perepatan jalan, berstana beliau di pertigaan jalan, menjadilah beliau Sanghyang Sapuh Jagat, pergi beliau dari pertigaan, berstana beliau dikuburan, menjadilah beliau Bhatara Durga, pergi beliau dari kuburan besar (setra agung), berstana beliau di tempat pembakaran jenazah (pemuunan), menjadilah beliau Sanghyang Bherawi, berstana di Penguluning Setra, menjadilah beliau Sanghyang Mrajapati, berstana beliau di laut, menjadilah beliau Sanghyang Mutring Bhuwana, pergi beliau dari laut, berada di langit, menjadilah beliau Sanghyang Taskarapati, berstana di gunung Agung, menjadilah beliau Sanghyang Giriputri, berstana di gunung Lebah, Dewi Danu nama beliau, ….dan seterusnya ….beliau mempunyai banyak nama yang berbeda-beda sesuai dengan tempat dan fungsi-Nya, Dan akhirnya sampai beliau berstana di Sanggar Kamimitan, beliau bernama Aku Catur Bhoga, Aku berwujud laki, berwujud perempuan, berwujud banci, menjadilah Aku seorang manusia, bernama Aku Sanghyang Tuduh, Sanghyang Tunggal, di sanggar parahyangan stana beliau, bernama beliau Sanghyang Atma, pada Kamulan kanan ayahmu, Sang Paratma. Pada Kamulan bagian kiri ibumu Sang Siwatma, pada Kemulan tengah dirinya (raganya) yaitu roh suci menjadi ibu ayah dan dirinya berpulang ke Dalem menjadi Sanghyang Tunggal.

           Dari acuan diatas dapat kita gambarkan perjalanan roh/atma seseorang yang berstana di sanggarKemulan (tempat suci rumah tangga) mau menuju ke Pura Dalem Kahyangan (Bhatara Dalem)roh itu akan melewati tempat-tempat yang akan dilalui dari stana yang satu ke stana yang lain, sesuai dengan karma wasana dimasa kehidupan dahulu. Dalam penggambaran seseorang, kehidupan ini adalah sebuah perjalanan roh suci (Tirthayatra) dari kelahiran menuju kematian dan dari kematian menuju kelahiran kembali, begitu seterusnya dan memiliki banyak tempat untuk beristirahat, dari stana satu ke stana yang lain, dari badan satu ke badan raga makhluk lain, dan dijaga oleh ameng-ameng Ida bhatara yang akan mengganggu perjalanan Sang Atma, pada akhirnya akan sampai juga pada Bhatara Dalem/Sanghyang Tunggal. Sebab sehat berasal dari Dalem, sakit berasal dari Dalem, hidup berasal dari Dalem, ajaran juga berasal dari Dalem, pelepasan badan kasar (Panca Maha Bhuta) dengan zat halus (Panca Tan Matra) dalam acara Pitra Yadnya (ngaben) juga diadakan di pamuunan daerah Pura Dalem. Disamping beberapa bait lainnya mengatakan: Yang niskala (tidak nyata) itu patut diketahui oleh sang resi, sebab jika sang resi tidak tahu akan yang tidak nyata, maka kesasarlah budinya sebagai resi, maka tidak berhasil olehnya menyucikan atma, sebab atma itu berada di alam tidak nyata. Apabila resi tidak mengetahui yang tidak nyata, tidak dapat melihat atmanya (orang yang diupacarai), resi itu digunakan melaksanakan upacara ngaben, maka percumalah orang yang punya pekerjaan, harta benda habis, atma jadi kesasar. Resi seperti itu disebut orang suci yang kurang sempurna dan kurang jasa, itulah yang disebut resi yang hanya penampilan saja. Jarang ada pendeta yang mengetahui ajaran Gong Besi. Belum sempurnalah pendeta jika tidak mengetahui ajaran Gong Besi ini. Ada seratus ribu orang, dua orang pun belum ada yang tahu. Sepuluh ribu orang, satu pun belum ada yang tahu akan ajaran Gong Besi, yang mengandung rasa yang utama mulia lagi rahasia yang merupakan sumber atau dasar dari ajaran. Ini keputusan Sanghyang Wimbayagni, memang milik Pedanda dari Griya Tlaga, yang asal mulanya pemberian dari leluhur bliau yaitu Ida Pedanda Dwijendra, memberikan bliau yang bernama Ida Manik Angkeran, tatkala Bliau mempersembahkan  bakti di Besakih. 

4) Memuja Tuhan Melalui Tari Wali Barong dan Rangda, Proses Pengembalian Panca Maha Bhuta dan Panca Tan Matra

           Disamping melalui fenomena kerauhan (animisme) tersebut diatas dalam penyampaian pesan dan kesan dari niskala (alam tak nyata), dan seseorang meyakini hal tersebut sebagai pembenar dalam pencaharian terhadap keberadaan-Nya. Juga, Tuhan mempunyai maksud dan tujuan tertentu untuk umatnya dalam memaknai kehidupan ini. Hasil cipta, karsa, dan rasa seseorang merefleksikan aspek dari kekuatan alam sekitarnya dan dikemas begitu rupa, menjadikannya sebuah pertunjukan yang sangat menarik, magis, dan mengesankan yang mengandung nilai filosofis yang sangat luas dan bermakna bagi kehidupan ini dan seseorang mengapresiasikan berbeda-beda. Yang pada akhirnya mereka harus tunduk juga pada kekuatan alam sekitarnya, misalnya; dalam pementasan tari wali Barong dan Rangda, terjadi atraksi kejar-kejaran antara rangda dengan puluhan pepatih (orang yang kerasukan kelompok bhuta) yang menghunus sebilah keris dengan otot-otot menyembul, seolah-olah keris dicengkram sangat kuat, rasanya sulit dilepaskan, dengan wajah yang mengekpresikan kemarahan yang luar biasa, sulit dikendalikan, mengejar rangda yang seorang diri tanpa senjata tajam, hanya dengan secarik kain putih tanpa gambar rerajahan (gambar mistis) menghadang puluhan pepatih, diakhiri jatuhnya penari keris satu persatu. Secara filosofis artinya terjadi pergolakan didunia ini, antara dunia nyata dengan dunia maya atau antara aspek air dengan aspek api.

           Aspek air adalah sumber kehidupan dan akan ada kehidupan, memunculkan sifat-sifat kebatilan, yang penuh keangkara-murkaan, kebuasan, kerakusan, keberutalan dan sifat keterikatan dunia nyata lainnya, yang dipakai simbol pemersatu adalah Barong. Kata barong berasal dari bahasa sanskerta yaitu dari kata Bhairawa (Zoetmulder, PJ. 1994:123), artinya menakutkan, mengerikanpenganut aliran bhairawa, bentuk Siwa yang mengerikan. Akibat pengaruh evolusi bahasa dari satu tempat ke tempat lain, kata bhairawa diucapkan berulang-ulang sesuai dengan bahasa setempat menjadi berawo // lafal huruf “O” diucapkan, ditegaskan tersirat mendapat konsonan “ng” diakhir ucapan menjadi brerong (raja hutan) // dari kata brerong diucapkan berulang-ulang sesuai dengan bahasa setempat menjadi Barong, dalam arti, isi dunia yang penuh mengerikan dan menakutkan yang dipenuhi sifat-sifat kebinatangan, seperti keangkaramurkaan, kebuasan, ketamakan, kedahsyatan, dan sifat kebatilan lainnya. Di daerah Mengwi terdapat sebuah pura yang namanya pura Dalem Brerong dan di daerah Jimbaran, Kuta Selatan, seseorang yang kerauhan menyebut diri ngayah Waduk Brerong, disamping kerauhan lain seperti tersebut diatas. Wujud Barong tidak lebih sebagai binatang mythology yang dikaitkan dengan wahana dari aspek manifestasi Tuhan.

           Dalam catatan tertulis salah satunya dalam Purana Pura Luhur Pucak Padang Dawa, Baturiti, Tabanan, terjemahan Ketut Sudarsana dalam Bahasa Indonesia:

Tersebutlah Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat merangsuk Bhuddha Bhairawa, dengan merubah wujudnya menjadi Barong, karena pulau Bali ini tertimpa oleh mara bahaya yang ditimbulkan oleh kekuatan magis dari Kala Dhurga Kalika Joti Srana dan pada perjalanannya beliau menuju ke barat dan akhirnya beliau tiba di Pucak Padang Dawa, dan akhirnya beliau bertemu dengan Sanghyang Wulaka dengan perawakan hitam kemerah-merahan, rambutnya ikal agak merah, dengan mata mendelik bagaikan singa yang lapar serta bersenjatakan Pedang Dangastra, beliau itu merupakan sumber dari segala kesaktian, dan karena Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat merubah wujud beliau menjadi Barong, maka mulai sejak itu rencang dari Bhatara yang berstana di Pura Luhur Pucak Padang Dawa berupa Barong Ket, Barong Landung, Barong Bangkal, serta merupakan Dewa Taksu kesenian, beliau juga merupakan dewanya para dukun seperti, Balian Engengan, Balian Ketakson, Balian Konteng, di Pulau Bali ini.

           Ada juga yang menganalogikan kalau Barong berasal dari kata Ba-ru-ang dalam Bahasa Indonesia huruf u dan a berasimilasi menjadi o, sehingga ru dan a (ng) menjadi ro (ng) yang berarti dua. “Rong” mengandung makna ruang, jadi dua rong yang dimaksud adalah dua ruang sebagai tempat penarinya. Dalam susastra Hindu tidak ditemukan beruang sebagai hewan suci yang dikeramatkan maupun sebagai “wahana” para dewa zaman dahulu. Maupun dari Tiongkok (Cina) dalam perbendaharaan bahasa tidak ada menyebutkan kata Barong Sae, yang ada adalah Liong Sae artinya tarian naga dan singa. Yang pada kenyataanya bahwa semua jenis pertunjukkan yang menggunakan Barong sama sekali tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya dimaksud dengan perkataan Barong. Makanya wujud Barong dalam berbagai macam bentuk, seperti: barong macan (berupa macan), barong bangkal (berupa babi), barong memedi (berupa manusia berambut merah), barong singa (berupa singa), barong brutuk (berupa manusia raksasa badan daun pelepah pisang tua), barong landung (berupa nenek tua berkulit putih dan satu lagi orang hitam wajah seram), barong sae (tarian naga dan singa), barong kedingkling (berupa wayang orang), barong asu (berupa anjing), barong rentet/ket (berupa gabungan barong macan, singa, sapi), dengan perkataan lain seluruh roh binatang akan digambarkan menjadi Barong dengan berbagai macam wujud tersebut.

           Sedangkan aspek api adalah tidak ada kehidupan atau tak ada bentuk di dalam api, dalam arti, hidup penuh pantangan-pantangan, eksesnya, akan menimbulkan ketenangan, kesabaran, kebenaran dan tidak keterikatan dunia materi, Rangda simbol sifat ini. Kata Randa berasal dari bahasa sanskerta.Dalam pengucapan kata Randa, huruf ‘N’ tersirat diikuti konsonan ‘Ng’ diakhir pengucapan menjadi RangdaSecara etimologi kata Randa, berasal dari urat kata Ra dan anda. Ra singkatan dari Raditya artinya Matahari, api, panas. Anda adalah bola dunia, telur. Jadi arti Rangda adalah dunia api/bola api/panas Makanya suara tari Rangda bagaikan air ‘ngerodok’ (air panas yang lagi mendidih). Karena tubuh manusia sebagai mediator ke alam kosmis yang sebagian besar tergantung dengan air (kelompok bhuta), lalu dipinjam badan raganya oleh api (kelompok dewa), pertemuan antara air dan api menjadi mendidih (Bahasa Bali: ngerodok) dan menguap menyatu dengan udara, terus ke Akasa/Tuhan. Orang yangkerauhan Rangda pasti minta api lalu dikulum sebagai penyeimbang tubuhnya. Juga ornament atau simbol api banyak terdapat pada Rangda. Kata Rangda dalam kamus Jawa Kuna oleh Zoetmulder (1994:918) berarti: laki-laki yang wafat tanpa keturunan laki-laki, duda, janda tua dalam rumah tangga istana, penghianat, kata cacian untuk menyapa wanita, pohon randu. Dalam penggambaran seseorang roh manusia itu akan menjadi bermacam-macam wujud rangda, leak barak, leak poleng, gregek tunggek, lelendi dan lain-lain yang menyerupai manusia, bukan binatang dalam wujud Barong.

           Pengalaman seseorang habis kerauhan bhuta (penari keris) mengatakan, dengan kemarahan yang sulit dikendalikan, mengejar Rangda dan begitu berbalik menghadang penari keris, seolah-olah api menyambar dihadapannya, bagaikan disambar petir. Dalam kehidupan sehari-hari memaknainya dengan jalan pitra yadnya, resi yadnya padiksan, tapa brata yoga semadi, japa mantra nama-nama Tuhan, dan menjalani ajaran agama dengan taat, ikhlas, dan tepat.

           Sedangkan pepatih (penari keris) disimbolkan keterikatan nafsu indriawi, mengejar Rangdadisimbolkan sebagai pembakar atau pelebur keterikatan duniawi sebelum menuju ke alam Siwa/Tuhan. Atau dengan perkataan lain binatang itu harus berinkarnasi menjadi manusia terlebih dahulu baru bisa menuju ke Tuhan. Makanya ada idiom di masyarakat yang mengatakan manusia itu dewa ya, bhuta ya.Adalah suatu konsep peleburan atau pengembalian unsur-unsur  panca tan matra (lima zat halus yang belum berukuran) yang menyatu dengan panca maha bhuta (lima materi pokok dunia) yang saling keterikatan dan lebur menyatu, mulai dari pertiwi (benda padat) kembali ke apah (benda cair), dari apahkembali ke teja (benda panas), dari teja kembali ke vayu (udara, angin), dan dari vayu kembali ke akasa(suara, bunyi, sabda Tuhan) dan kebalikkan dari akasa, vayu, teja, apah, pertiwi, adalah proses penciptaan Tuhan (Donder, 2007:137)         

           Makna penari keris (kerauhan bhuta) menusuk dirinya sebagai simbol “bunuhlah”sifat keterikatan yang ada dalam diri kita, dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan/Hyang Widhi. Dengan pemuasan jasmani akan terjadi ketergantungan antara jiwa yang satu dengan jiwa yang lain, dan saling tarik menarik, mengakibatkan karma/dosa, akhirnya terjadi reinkarnasi/kelahiran berulang-ulang, ibarat air akan selalu mengalir kebawah karena ditarik oleh beratnya dosa-dosa yang dilakukan dimasa kehidupan yang lalu. Sedangkan dengan pengekangan indria hawa nafsu, lepas dari keterikatan duniawi, tubuh akan semakin ringan, ibarat api akan selalu naik ke atas menyatu dengan Tuhan/Hyang Widhi, 

5) Melalui organ gerak yang ada dalam tubuh

Pencarian terhadap Tuhan juga bisa dilakukan ke dalam diri, ibarat Tuhan ada dalam diri manusia itu sendiri, yaitu dengan menarik suatu kesimpulan dari penggabungan panca tan matra (lima zat halus) dengan panca maha bhuta (lima materi pokok) yang berhubungan dengan lima organ gerak yang ada dalam tubuh manusia yaitu:

Ganda Tan Matra menghasilkan Pertiwi (Dewa Bumi) atau benda padat pada panca maha bhuta yang berhubungan dengan bau yaitu “hidung” pada organ tubuh manusia. Suatu saat di suatu tempat yang jauh dari rumah penduduk kita menghirup aroma kopi susu, bau harum dupa bau lawar, bau kelapa "matunu" dlll ,, ada bau pasti ada sumber asalnya.

(2) Rasa Tan Matra menghasilkan Apah (Dewa Air) atau benda cair berhubungan dengan cicip yaitu “mulut” pada tubuh manusia. Air akan menghasilkan berbagai rasa yang ditimbulkan oleh tanah, berupa hasil bumi menjadi makanan yang mengandung rasa asin, pedas, pahit, manis, dan sebagainya. Para spiritual akan merasakan air pancoran "beji" punya rasa berbeda2, ada dapat rasa pedas, harum, dll

(3) Rupa Tan Matra menghasilkan teja (Dewa Agni/Api) atau cahaya, yang berhubungan dengan “mata” pada manusia. Pengalaman seseorang, suatu saat melihat siluet ada kehidupan di suatu tempat, melihat ada pasar, ada puri, atau penampakan dan tanda-tanda alam lainnya yang tidak dapat dipecahkan oleh akal sehat. Padahal di tempat itu semak belukar.

(4) Sparsa Tan Matra yang menghasilkan vayu (Dewa Angin) atau udara, berhubungan dengan “kulit” pada organ tubuh manusia. Para pencari pencerahan rohani akan merasakan bulu kuduk berdiri, tubuh terasa dingin, bisa sampai menangis, bergetar, kalau tak kuasa diri bisa kerauhan (trance).

(5) Sabda Tan Matra yang menghasilkan akasa (Dewa Langit) atau suara, ether, gas yang berhubungan dengan “telinga” pada organ manusia adalah “metode tertinggi” yang dicari oleh para Maha Rsi Hindu zaman dahulu yaitu Sabda Tuhan (Bahasa Bali: pawisik), sumber dari kitab suci Veda. 

6) Melalui pendekatan pertapaan para raja

Raja-raja Bali setelah akhir masa pemerintahanya melakukan kehidupan wanaprasta. Pertapaan mereka dicandikan, sangat disucikan oleh umat Hindu. Seorang raja diyakini sebagai titisan dewa. Rakyat meyakini seorang raja akan meniru sebagian kebajikan sifat dewa-dewa. Disamping vibrasi/spirit dari para raja yang masih terasa di saat upacara keagamaan melalui kerauhan tetua warga, dalam penyampaian pesan dan kesan dari roh raja yang merintis jejak awal keberadaan suatu tempat suci tersebut.

Sistem pemerintahan pada masa Bali-Kuno, maupun pada masa Bali Pertengahan, seorang raja memiliki kekuasaan mutlak dan tidak terbatas, yang semula bersifat demokratis paternalistis, menjadi otokratis, menjamin tegaknya otoritas seseorang untuk menjadi penguasa turun temurun. Pada masa itu hanya kaum Brahmana dan kaum Ksatria yang berhak mempelajari isi kitab suci Weda, sedangkan rakyat jelata yang tidak termasuk dalam “keluarga berkasta” atau “berkasta tinggi” diperlakukan kurang adil, segala miliknya, yaitu pribadi, anak-anaknya, jiwa dan tenaganya, adalah milik raja. Begitu lahir, mereka sudah langsung menyandang nasibnya sebagai “sudra”, orang yang berkasta rendah. Bhagavadgita (IV.13) secara tegas menyebutkan:

Catur varnyam maya sristam guna karma vibhagasah
tasya kartaram api mamm Viddhy akartaram avyayam.

[Catur warna Aku ciptakan, menurut pembagian guna dan karma (sifat dan pekerjaan), Tetapi ketahuilah, meskipun Aku penciptanya, Aku mengatasi gerak dan perobahan.]

Dengan demikian pembagian warna sesungguhnya ditentukan oleh sifat (bakat) dan pekerjaan seseorang, bukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem kasta. Mengambil analogi dengan mitos kelahiran warna tersebut, dapat pula dikatakan setiap orang adalah Brahmana, Ksatria, Wesya, dan Sudra. Hanya gradasi pekerjaannya kemudian yang membedakan dia lebih disebut sebagai Brahmana (kaum ulama), Ksatria (pertahanan dan pemerintahan), Waisya (petani dan pedagang), atau Sudra (pelayan dan buruh). Catur warna dalam kitab-kitab sejarah sering dicampur-adukkan dengan pengertian kasta. Ketaatan warna sudra dengan warna Brahmana, misalnya, seolah-olah terjadi karena perbedaan kelas, bukan dilihat dari fungsi sosialnya di masyarakat Hindu (Ketut Wiana, dkk. 1993).

Setelah Kerajaan Badhahulu dengan rajanya yang bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten, dikalahkan pada tahun 1343 M oleh kerajaan Majapahit, dan tapuk pemerintahan di Bali setelah itu dipimpin raja Sri Kresna Kepakisan bersama para Arya Majapahit, semenjak itulah sistem warna perlahan-lahan berubah menjadi sistem wangsa-wangsa yang secara umum dapat disebut sebagai sistem kasta khas Bali, kemudian dikelompokkan sebagai Ksatria dan Wesya dalam sistem kasta.

Danghyang Nirartha, yang datang ke Bali tahun 1550 di zaman pemerintahan Raja Dalem Batur Enggong dan Danghyang Astapaka, menurunkan wangsa Brahmana, yang kemudian juga dikelompokkan ke dalam kasta Brahmana. Sementara keturunan raja-raja Bali-Kuno dan kesatria Bali-Aga atau Bali-Mula yang dikalahkan, nyaris tidak berhak menyandang ketiga kasta tersebut, kecuali mereka yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang baru, disebut arya. Yang lain dikelompokkan sebagai sudra yang kemudian menyebut diri sebagai “jaba” (luar), yang berarti diluar kasta Brahmana, Ksatria, dan Wesya.

Sebelumnya sebutan seorang raja memakai gelar nama-nama dewa dan setelah Bali ditaklukkan, nama-nama dewa diganti menjadi nama-nama wangsa/keturunan. Begitu pula dengan keyakinan umat, yang pada awalnya bekas peninggalan para resi dan para raja yang dicandikan serta prasasti-prasasti yang dihasilkan diyakini sebagai tempat penghayatan terhadap Tuhan.

Candi-candi dibangun untuk menghormati arwah para raja, istri dan anak-anaknya yang sudah meninggal. Misalnya untuk menghormati arwah raja Sri Ugrasena Warmadewa dicandikan di Ermadatu, Raja Sri Dharmodayana Warmadewa dicandikan Banyu Wka. Raja Sri Marakata dicandikan di Camara. Sri Aji Hungsu dicandikan di Jalu (Gunung Kawi), Tampaksiring. Istri raja Sri Aji Hungsu yang disebut Bhatari Mandul dicandikan di Gunung Penulisan. Sri Mahendradatta Gunapriya dharmapatni, permaisuri Sri Dharmodayana dicandikan di Pura Durga Kutri, Buruan, Blahbatuh. Raja Sri Jaya Pangus dicandikan di pertapaan Dharma Anyar, sekarang disebut Pura Pengukur-ukuran, di Desa Sawah Gunung, Pejeng, Gianyar.

Dan Pura Sarin Bwana adalah bekas pertapaan Sri Batu Putih (Dalem Putih) saudara kandung Sri Batu Ireng (Dalem Selem, Sri Astasura Ratna Bumi Banten, Sri Tapa Hulung) yang terletak di Desa Adat Jimbaran, Kuta Selatan, Badung. Disamping itu, sumber-sumber prasasti sering menyebut nama-nama tempat suci tetapi belum jelas siapa yang dimakamkan atau dicandikan disana, seperti sang lumah ri Bwah rangga, ri Banu Palasa, ri Candri Manik, I Air Talaga, sang lumah ing Guha.

Sedangkan Pura Lempuyang yang terletak di Desa Adat Gamongan, Tiyingtali, Karangasem, sekarang disebut Pura Lempuyang Madya adalah bekas tempat pertapaan raja Sri Jaya Sakti, menjadi raja Bali tahun Saka 1055/1133 Masehi. Setelah akhir masa pemerintahan, ia melakukan wanaprasta atau mendirikan pedharman (tempat suci) di Gunung Lempuyang sesuai tertulis dalam Prasasti Pura Puseh Sading, Kapal, Badung. Kenyataan ini didukung oleh salinan Lontar Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Padanda Gede Jelantik Sugata dari Griya Tegeh Budakeling, Karangasem – alih aksara oleh I Wayan Gede Bargawa – dan beberapa lontar lain milik Desa Adat Gamongan, menjelaskan: Pada tahun Saka 1072/1150 Masehi, bulan Hindu kesembilan, pada tanggal duabelas bulan paro terang, wuku julungpujut, pada hari itulah saatnya Sri Paduka Sri Maharaja Jaya Sakti menyidangkan para senapati, terutama para rakyan Mahapatih dan para Tandra Mantri di balai istana raja untuk memperbincangkan hasrat baginda Sri Maharaja Jaya Sakti bersama permaisurinda, hendak beranjangsana ke desa-desa di Bali yang ada di Gunung Karang, adapun minat baginda datang kesana, oleh karena melaksanakan tugas perintah dari ayahanda yaitu Sanghyang Guru, yang hendaknya supaya mendirikan Tempat Suci (pedharman) di Gunung Lempuyang. Dan setelah itu, pertapaan dilanjutkan oleh anaknya yang pertama yaitu Sri Gnijaya, menjadi raja di Bali tahun 1150-1155, dilanjutkan oleh adiknya Sri Gnijaya yaitu Sri Maha Sidhimantra Dewa, dan dilanjutkan oleh anaknya Sri Maha Sidhimantra Dewa yaitu Sri Indra Cakru, menjadi raja Bali tahun 1250. Pertapaan dilanjutkan oleh anaknya Sri Indra Cakru yaitu Sri Pasung Grigis.

Karena ia tidak menikah (nyukla brahmacari) dan tidak mempunyai keturunan, diangkatlah keponakannya, yaitu Sri Rigis (anak Sri Jaya Katong) untuk ngamong (bertanggung jawab) di Desa Gamongan, Gunung Lempuyang. Sri Rigis selanjutnya diganti oleh anaknya yaitu Sri Pasung Giri. Anak Pasung Giri, yaitu Dukuh Sakti Gamongan meneruskan pertapaan ini.

Candi-candi bekas peninggalan para raja Bali, pada perkembangan selanjutnya beralih fungsi menjadi sebuah pura yang menjadi sungsungan umat Hindu di Bali.

Dalam data sejarah terdapat beberapa interpretasi yang berbeda mengenai pendiri awal Pura Lempuyang Madya, antara Mpu Gnijaya dengan Sri Gnijaya. Mpu Gnijaya adalah seorang rohaniwan dari Jawa, tiba di Bali tahun 1049 Masehi, sedangkan Sri Gnijaya adalah seorang raja Bali tahun 1150 Masehi. Karena sama-sama menyandang nama Gnijaya, akhirnya keduanya mengklaim sebagai pendiri Pura Lempuyang Madya.

Muncul pula argumentasi lain yang bertentangan antara Mpu Kuturan dengan Senapati Kuturan. Menurut babad, Mpu Kuturan adik kandung Mpu Gnijaya tiba di Bali zaman pemerintahan Sri Udayana tahun Isaka 923/1001 Masehi dan ia datang lebih awal dari kakaknya Mpu Gnijaya tahun Isaka 971/1049 Masehi. Jadi tenggang waktu 48 tahun Mpu Gnijaya baru tiba di Bali.

Mpu Kuturan adalah seorang brahmana berasal dari Jawa, sedangkan Senapati Kuturan adalah jabatan mahapatih kerajaan Bali-Kuno yang bertanggung jawab di wilayah Kuturan, bukan nama yang menjabat. Misalnya, sang senapati kuturan mpu wahita artinya sang mahapatih di wilayah kuturan yang terhormat bernama Wahita.

Terdapat beberapa jabatan senapati (mahapatih, punggawa) yang dikenal pada masa pemerintahan Bali-Kuno antara lain: Senapati Kuturan, Senapati Balembunut, Senapati Dinganga, Senapati Denda, Senapati Sarbwa, Senapati Waransi, Senapati Mahiringin, Senapati Wrasanten. Kuturan adalah nama wilayah/daerah sudah tentu nama pejabatnya pun berbeda-beda sesuai zamannya.

Di zaman pemerintahan raja-raja Bali-Kuno terdapat 18 Senapati Kuturan dengan berlainan nama pejabat, mulai zaman pemerintahan raja Sri Udayana tahun Isaka 915/993 Masehi (Prasasti Serai) sampai zaman pemerintahan raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten tahun Isaka 1259/1337 Masehi (Prasasti Langgahan). Jadi selama 344 tahun istilah jabatan Senapati Kuturan masih dipergunakan dalam sistem pemerintahan raja-raja Bali-Kuno dengan berbagai nama yang menjabat. Beberapa perbedaan versi ini akan disajikan pada halaman lain dalam tulisan ini.

7) Memuja Tuhan Melalui Leluhur (Pura Kawitan)

Kerajaan Badhahulu yang tertulis selama ini menjadi beda hulu (berselisih dengan pusat/Majapahit) dan beda muka (raja berkepala babi) oleh para penekun sastra dan para sejarawan, membawa dampak kebingungan bagi generasi muda Hindu yang ada di Bali.

Dengan menyatunya Hindu Majapahit dengan Hindu Bali yang dimediasi oleh Danghyang Nirartha memperkokoh kemBali-Agama dan budaya Hindu yang pernah berjaya di bumi Nusantara ini.

Dalam kitab Nagara Kretagama oleh Slamet Mulyana, pupuh nomor 14 dan 79, Negara Kertagama oleh Megandaru W. Kawuryan (2006:184), serta salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, milik Ida Pedanda Gede Jelantik Sugata, Griya Tegeh Budakeling, dialih aksara oleh I Wayan Gede Bargawa, halaman 12, secara jelas tertulis Badhahulu. Tapi para alih aksara dan penterjemah lain, sengaja mengganti huruf ”a” awal diganti dengan huruf ”e”, sehingga menimbulkan beda arti dari para pembaca (Riana, 2009:100,377).

Badhahulu berasal dari bahasa Jawa-Kuno, badha dan hulu. Badha artinya tempat, rumah, istana. Hulu artinya kepala, raja, pusat pemerintahan. Jadi Badhahulu adalah istana raja, pusat pemerintahan, dengan rajanya bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Asta=delapan, Sura=dewa, Ratna=permata, Bumi Banten=Tanah Bali) artinya raja yang membawahi delapan wilayah kekuasaan pemeritahan di jagat Bali pada era itu, yaitu; Jimbaran, Badung, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem, Kelungkung, Mengwi (Narendra Dev Pandit Shastri, Sejarah Bali Dwipa, 1963).

Salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, menyebutkan secara tersirat, Badhahulu artinya, maka hulu hulu banda desa sajagat Bangsul artinya, sebagai kepala/pusat pemerintahan dari masing-masing kepala desa yang ada di bumi Bali pada zaman itu.

Dalam salinan lontar Piagem Dukuh Gamongan, Purana Bali Dwipa, Mandala Wisata Samuan Tiga, Blahbatuh, Gianyar, serta Usana Bali, secara tegas menyebutkan bahwa pusat kraton raja patih Sri Jaya Katong, Raja Masula-Masuli sampai Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten terletak di daerah Batahanyar (istana baru) yang diduga kemudian menjadi nama Kabupaten Gianyar. Di Batahanyar sekarang tempat ini berdiri sebuah pura dengan nama Pura Samuan Tiga di Desa Bedulu, Gianyar. Orang-orang dari Jawa menyebut Badhahulu kemungkinan karena tidak tahu nama desa tempat kerajaan Astasura Ratna Bumi Banten, Raja akhir Bali-Kuno pada saat itu.

Dalam prasasti-prasasti Bali-Kuno tidak ditemukan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dengan maha patih kerajaan bergelar Kebo Iwa berselisih paham (Bedahulu) dengan kerajaan Majapahit dengan maha patih kerajaan Gajah Mada. Seandainya kerajaan Badhahulu berselisih paham dengan kerajaan Majapahit, mungkinkah Kebo Iwa mau datang ke Jawa? Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten, secara administratif Senapati (mahapatih) kerajaan Batahanyar pada era itu adalah Senapati Kuturan Makakasir Mabasa Sinom (prasasti Langgahan Saka 1259/1337 Masehi). Skema silsilah Sri Karang Buncing, Sri Kebo Iwa misan mindon dengan Sri Astasura Ratna Bumi Banten berasal dari turunan Sri Maha Sidhimantradewa. Sri Kebo Iwa tapeng dada kerajaan Batahanyar yang mewilayahi Blahbatuh, desa paling dekat dengan pusat pemerintahan, disamping dibantu oleh para senapati Bali lainnya.

Dalam pamancangah dari Bali, setelah Mahapatih Kebo Iwa wafat karena kena pangindra jala (perangkap) oleh Mahapatih Gajah Mada, akhirnya pada tahun 1343 para Arya Majapahit menyerang pulau Bali, yang saat itu dijaga oleh para patih kerajaan Bhadahulu antara lain, Ki Pasung Grigis di Tengkulak, Si Gudug Basur di Batur, Si Kala Gemet di Tangkas, Si Girimana di Ularan, Si Tunjung Tutur di Tenganan, Si Tunjung Biru di Tianyar, Ki Tambyak di Jimbaran, Ki Bwahan di Batur, Ki Kopang di Seraya, Ki Walung Singkal di Taro, Ki Agung Pemacekan sebagai Demung Penyerangan terbagi menjadi tiga arah: dibawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada menuju wilayah Bali Timur dibantu oleh para patih dan para arya lainnya mendarat di Tianyar. Arya Damar dan Arya Sentong, Arya Kutawaringin mendarat di Bali Utara. Arya Kenceng, Arya Belog, Arya Pangalasan, Arya Kanuruhan, mendarat di pantai Bali Selatan dan menuju ke Kuta. Tidak diungkapkan dahsyatnya pertempuran pada ketiga wilayah tesebut.

Dalam masa transisi pemerintahan dari kerajaan Bhadahulu ke kerajaan Majapahit, dari tahun 1343 sampai tahun 1352 masih terjadi pemberontakan. Orang-orang Bali-Kuno masih melakukan perlawanan. Selama sembilan tahun masa transisi pemerintahan terjadi 30 kali pemberontakan, tersebar di Pulau Bali. Untuk menengahi atau mengisi kekosongan pemerintahan, sebelum ditunjuk raja baru yaitu Sri Kresna Kepakisan, maka diangkatlah seseorang dan diberi anugrah jabatan Kyayi Agung Pasek Gelgel.

Yang menjadi pertanyaan, siapakah Kyayi Agung Pasek Gelgel?

Mungkinkah ia berasal dari Jawa untuk menengahi perselisihan antara Bali dengan Majapahit? Kalau dari Jawa mestinya ia disebut Arya.

Dalam Kamus Jawa-Kuno oleh Zoetmulder (1995:786), kata Pasek berarti, pemberian, anugrah, hadiah. Seandainya Kyayi Agung Pasek Gelgel itu berasal dari Jawa semestinya ia disebut Arya, karena ia berperan penting menjadi pemimpin di dalam menengahi konflik transisi pemerintahan akhir Bali-Kuno. Setelah Danghyang Nirartha datang, sebutan Arya dikenal menjadi Gusti dan berubah sebutan setelah datangnya penjajahan Belanda.

Dengan adanya konsep pemujaan Tuhan melalui leluhur Bhatara Hyang Kawitan sehingga banyak orang-orang Bali-Mula masuk dalam satu garis keturunan Warga Pasek, misalnya: kubahyan, tangkas, bendesa, karang buncing dan warga Bali-Mula lainnya. Warga Bali-Mula yang diperlukan wibawanya dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang baru disebut arya. Misalnya, Sri Giri Ularan Putra dari Sri Rigis menjadi mahapatih (senapati) di kerajaan Dalem Batur Enggong menjadi Arya Ularan (Gusti Ularan), Keturunan Sri Karang Buncing menjadi Arya Karang Buncing, Gusti Karang Buncing. Sri Rigis menjadi Arya Rigis, Sri Pasung Giri menjadi Arya Pasung Giri, Si Tunjung Tutur menjadi Arya Tunjung Tutur, Si Tunjung Biru menjadi Arya Tunjung Biru.

Pertanyaan lainnya, apa interelasi spiritual antara Gotra Pasek (Kyayi Agung Pasek Gelgel) dengan Catur Lawa yaitu 4 (empat) kelompok tugas yang bertanggung jawab terhadap kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih yaitu Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan, mungkinkah mereka ini keturunan Bali-Kuno?

Siapakah nama leluhurnya yang dicandikan di Pura Pedharman itu?

Pada era itu sistem pemerintahan ditentukan oleh fungsi (bakat) dan pekerjaan seseorang bukan ditentukan oleh kelahirannya seperti dalam sistem soroh (klen, kasta). Ada bagian yang mengurus tentang surat menyurat, bagian perlengkapan upakara, bagian yang berwenang tentang simbol suci Tuhan atau pendeta yang memimpin upacara dan bagian lainnya. Pasek dalam hal ini bukanlah sebuah treh, soroh, gotra, wangsa, klen (kelompok warga). Pasek adalah sebuah istilah, jabatan atau bagian yang bertugas membantu mensukseskan jalannya upakara dan upacara yang ada di Pura Penataran Besakih.

Pura Pande menata segala peralatannya yang terbuat dari benda logam dan rangka peralatan lain. Pura Penyarikan bertugas menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur (Gobyah, I Ketut. Bali Post, 30 April 2008).

Dalam satu kelompok seksi/tugas tentu anggotanya terdiri dari beberapa orang yang bisa saja berasal dari kelompok warga lain. Istilah Dukuh berasal dari turunan Dukuh Gamongan dari Desa Gamongan, Tiyingtali, Karangasem, yang melahirkan para Dukuh yang ada di jagat Bali. Kemudian ditegaskan kembali oleh Danghyang Nirarta adalah suatu anugrah gelar Dukuh (pendeta) yang diberikan untuk warga Bali-Mula dan Bali-Kuno, walaupun dari keturunan wangsa apa pun mereka.

Dukuh adalah sebuah jabatan yang bertugas sebagai pemimpin upacara keagamaan di Pura Besakih. Munculnya Brahmana Dukuh akan disampaikan di halaman lain dalam tulisan ini.

Jadi pendeta Dukuh yang memimpin upacara dan upakara di Bali pada era itu, sebelum datangnya para Brahmana Majapahit dari Jawa. Pada zaman Gelgel datang ke Bali dua pendeta Siwa dan Buddha dari Majapahit ialah Danghyang Nirartha dan Danghyang Astapaka memperkuat hubungan Majapahit dan Bali. Pada waktu itu didirikan pedharman Raja/Dalem Samprangan dan Dalem Gelgel berupa meru-meru terletak di belakang Pura Catur Lawa. Tentunya pendirian pedharman-pedharman itu juga melalui nyadnya craddha.

Dr. Martha A. Muuses mengidentifikasikan yadnya Sraddha dengan upacara mamukur di Bali yaitu upacara mengembalikan atma ke unsur asalnya yakni paratma. Dengan demikian Pura Catur Lawa merupakan kumpulan orang-orang Bali-Mula yang mendapat tugas sebagai cikal bakal untuk ngamong (bertanggung jawab) terhadap kelancaran upacara di Pura Penataran Besakih, simbol stana suci Ida Bhatara gunung Agung/Tolangkir. Pura Besakih merupakan lambang satu kesatuan antara Hindu Bali dan Hindu Majapahit.

Setelah kekalahan Badhahulu oleh Majapahit, terjadi dua terapan relegi yang dianut oleh masyarakat Bali saat kini, yaitu adanya sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Bali-Kuno, dan ada sebagian warga atau desa yang mengikuti relegi sejarah Majapahit, bahkan masyarakat bisa menjalani kedua konsep tersebut, mengikuti aturan para pimpinan yang berkuasa pada saat itu.

Berikut komparasi antara, yaitu adanya Sugiyan Jawa dan Sugiyan Bali.

Usana Jawa menyebutkan, sisa tentara Majapahit yang masih hidup dan menetap di Bali, sudah mempunyai anak cucu, saling kawin mengawinkan berbaur, silih pinang meminang antara wanita Bali, namun ada tanda-tandanya. Jika setiap hari raya Kamis Wage Sungsang yang disebut Sugiyan Jawa, rakyat Majapahit yang mempunyai bagian menyelenggarakan yadnya. Jika setiap hari Jumat Kliwon Sungsang yang disebut Sugiyan Bali, rakyat Bali asli yang mempunyai bagian menyelenggarakan yadnya. Juga adanya tonggak piodalan yang satu mengikuti sasih (bulan) dan yang satu lagi mengikuti wuku (minggu). Acara pamelastian yang satu mengikuti sasih kasanga (bulan ke-9) dan satu lagi mengikuti sasih kadasa (bulan ke-10). Disamping hari penyepian di sawah, di segara, di tegalan, di pura, terdapat perbedaan sesuai dengan dresta desa, kala, patra setempat. Juga dalam acara resi yadnya padiksan dalam pengesahan seorang pendeta, yang satu mengikuti melalui napak wakul bhatara kawitan, dan satu lagi mengikuti napak kaki guru nabe.

Semenjak itu perlahan-lahan terjadi penataan pemerintahan yang baru, baik dalam bidang agama, sosial, politik, ekonomi, maupun kesusastraan, dan lainnya dalam menyatukan paham Bali-Kuno dengan paham Majapahit. Yang dulunya seorang pendeta mewakili sekte/agama yang dianut, walaupun dari kelompok keturunan mana pun beliau, misalnya; dang acharya sebutan pendeta sekte Siwa, dang upadhyaya gelar pendeta untuk sekte Budha, Rsi Bhujangga gelar pendeta sekte Waisnawa, Pitamaha gelar pendeta sekte Brahma, Bhagawan gelar pendeta sekte Bhairawa, dan sebagainya.

Sekarang masing-masing kelompok warga diberikan gelar pendeta dan identitas sosial lain dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya: Dukuh gelar pendeta bagi warga Bali-Kuno, Ida Pedanda gelar pendeta bagi warga Ida Bagus, Sri Mpu gelar pendeta bagi warga Pasek, Rsi Bhagawan gelar pendeta untuk warga para Gusti, Rsi Bhujangga gelar pendeta bagi warga Sengguhu, Sira Mpu gelar pendeta bagi warga Pande, dan seterusnya, lengkap dengan aturan atiwa-tiwa/pitra yadnya dan atribut lainnya.

Pertanyaannya adalah mengikuti paham manakah pendeta para gotra (kelompok warga) itu, apakah mengikuti paham Siwa, Boddha, Waisnawa, Bhairawa, Sora, Sakta, Sambu, Rsi atau yang lain?

Para Arya Majapahit yang telah berjasa menaklukkan rakyat Bali, lalu dicandikan di suatu tempat untuk memuja roh leluhur yang telah suci yang ada di Jawa sebagai penghayatan atau media terdekat dengan leluhur disebut Pura Kawitan (stana suci para leluhur).

Dalam Kamus Bali-Indonesia (Tim : 801) menyebutkan kata kawitan artinya leluhur, asal mula (warga, wangsa, treh, gotra).

Dengan munculnya konsep penataan pemujaan melalui roh suci leluhur Bhatara Hyang Kawitan membawa dampak kebingungan bagi masyarakat Bali-Mula untuk menelusuri jejak-jejak para leluhur mereka sebelum kedatangan sang Danghyang Nirartha.

Para raja dan ksatria Bali-Kuno, dan jabatan pemerintah bawahan seperti para senapati, para pendeta, samgat, caksu, kubayan, Si Tunjung Biru, Si Kalung Singkal, Ki Tambyak, Ki Tunjung Tutur, Ki Kopang, Ki Bwahan, Si Pangeran Tangkas, Ki Pasung Grigis, dan leluhur masyarakat Bali-Aga dan Bali-Mula yang lain, pada saat kini dimanakah Pura Kawitan mereka? Dan dimanakah padharman mereka?

Dengan adanya reformasi pemerintahan oleh Raja Dalem Batur Enggong dibantu pendeta kerajaan Danghyang Nirartha muncullah konsep yang sangat cemerlang untuk menyatukan warga agar tidak tercerai berai beralih ke agama/sekte/paham lain. Konsep tersebut adalah dengan memuja Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan, roh suci para leluhur.

Pemujaan seperti ini sesuai dengan sloka Taittiriya Upanisad yang menyebutkan, “Seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah dewa, dan para tamu pun adalah dewa”. Dengan demikian, keturunanya akan memuja Tuhan ‘lewat’ roh suci bapak dan ibu, kakek nenek, leluhur dan seterusnya, yang pada akhirnya akan sampai juga pada Tuhan. Para leluhur hanya sebatas menyaksikan dan ‘mengantarkan’ doa, maksud, dan tujuan kepada Tuhan atau kepada dewa.

Para leluhur adalah asal muasal kita sebagai manusia. Semenjak masih janin dalam kandungan Ibu, manusia sudah terhubung dengan-Nya (ibu) yaitu melalui tali pusar (ari-ari). Tali pusar, penghubung kehidupan dalam kandungan antara sang janin dengan sang ibu. Dalam penerapan keagamaan sehari-hari ‘mungkin’ ari-ari (tali pusar) ini disimbolkan menjadi selempot (senteng), karena selalu melekat menutupi tali pusar umat Hindu di Bali dalam setiap menghadap-Nya Selain sebagai pengikat panca budhiindria dan panca karmenindria, simbol mengekang sepuluh lobang yang ada dalam tubuh pada saat seseorang berkehendak melakukan puja dan puji terhadap Tuhan.

Walau seseorang memakai celana panjang, jika sudah memakai senteng/selempot akan diizinkan masuk ke pura. Senteng/selempot hanyalah sebuah simbol atau sebuah peraturan. Bukankah sebuah simbol mengandung makna tertentu dibalik simbol-simbol itu.

Sama dengan seseorang harus memiliki KTP, paspor, dan identitas lain sebagai simbol pengganti dari seseorang jika ingin mengetahui identitas lebih lengkap tentang dirinya. Demikian juga dengan senteng (selempot) yang mengandung makna sebagai penghubung ke para leluhur warga, dan para leluhur akan membahasakan doa, maksud, dan upacara umat kepada Hyang Widhi. Sesungguhnya kita tidak tahu bahasa apa yang dipakai oleh para dewa dalam berkomunikasi antara dewa dan dewa itu sendiri. (oleh pak Bawa)

author