Anglurah Pinatih Rsi Menyelamatkan I Dewa Manggis

No comment 87 views

Anglurah Pinatih Rsi Menyelamatkan I Dewa Manggis

Diceriterakan Ki Arya Kenceng di Badung berkehendak akan memohon seorang putra Dalem Sagening di Puri Gelgel, akan dijadikan penguasa di kawasan Badung. Konon setelah sampai di jaba tengah atau halaman dalam Puri Gelgel di Sumanggen, terlihat oleh Ki Arya Kenceng api bagaikan lentera di Sumanggen, kemudian diperhatikan oleh Ki Arya Kenceng, sudah pasti halnya dia itu adalah putra Dalem Segening. Kemudian Ki Arya Kenceng mengambil kapur seraya digoreskan menyilang atau dibubuhi tampak dara anak kecil itu. Keesokan harinya diingat kembali , karena dia itu memang betul putra Dalem yang bernama I Dewa Manggis Kuning. Kemudian Ki Arya Kenceng datang menghadap berhatur sembah kepada Ida Dalem seraya mengatakan untuk memohon putra beliau seorang, akan dijadikan penguasa di negara Badung.

Ida Dalem merasa senang dan memberikan putranya yang dimohon itu, yang bernama I Dewa Manggis Kuning, dan kemudian diiringkan pulang ke Puri Badung. Sesudah diberi tempat di Badung, sangat disayang oleh Ki Arya Kenceng, disebabkan karena kebagusan rupanya, ganteng seperti Arjuna, dan bagaikan Sanghyang Asmara yang menjelma di Puri Pamecutan.

Diceriterakan Ki Arya Kenceng memiliki seorang putera laki-laki bernama I Gusti Ngurah Pamecutan, dipertunangkan dengan putri Ida Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi yang menjadi penguasa di istana Puri Kerthalangu. Putrinya bernama I Gusti Ayu Nilawati. Paras rupanya sangat cantik tanpa tanding bagaikan Dewi Ratih yang menjelama ke dunia. Diceriterakan kemudian sang putri sudah masuk ke Puri Pemecutan, namun belum diupacarai menurut tata upacara perkawinan dengan I Gusti Ngurah Pemecutan. Pada saat malam tiba, dilihatlah oleh sang putri I Dewa Manggis, yang menyebabkan jatuh hatinya I Gusti Ayu Nilawati serta pada akhirnya dapat beradu asmara. Karena demikian halnya, bukan alang kepalang marahnya Ki Arya Kenceng, berkehendak akan merebut I Dewa Manggis. Hal itu kemudian diketahui oleh Kyai Anglurah Pinatih Resi. Bila saja I Dewa Manggis terkena bencana, tidak mustahil putrinya juga akan meninggal. Saat itu kemudian Kyai Anglurah Agung Pinatih Resi memakai busana wanita, menyerupai selir, lalu masuk ke rumah yang didiami oleh I Dewa Manggis, kemudian I Dewa Manggis digulung dengan tikar, kemudian dibawa ke luar puri. 

Karena berupa seorang wanita, maka tak seorangpun hirau , sehingga I Dewa Manggis bisa dibawa ke Purinya Ida Kyayi Anglurah Agung Pinatih Rsi, bersama putri beliau. Baru sehari disembungikan di Puri Kerthalangu, diketahui oleh Kyai Kenceng, dikatakan bahwa Ki Arya Agung Pinatih Rsi menyembunyikan putrinya bersama I Dewa Manggis, kemudian mendatangi Puri Kerthalangu. Segera tahu Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi, itu sebabnya segera I Dewa Manggis Kuning dan putrinya dilarikan ke purinya I Gusti Putu Pahang. 

Sampai di sana masih juga diketahui oleh Ki Arya Kenceng, maka dikepung dengan bala pasukan yang jumlahnya cukup banyak. Kembali I Dewa Manggis Kuning digulung dengan tikar, ditaruh di depan rumah, ditindih dengan selimut. Kemudian datang pasukan Pemecutan mencari ke sana ke mari sampai ke dalam rumah, namun tidak juga ditemukan I Dewa Manggis. Karena itu kembalilah pasukan itu ke Puri Pamecutan .

Setelah malam, I Gusti Putu Pahang bertimbang rasa dengan I Dewa Manggis Kuning : “: Aum I Dewa Manggis anakku I Dewa, merasa sulit Bapak menyembunyikan I Dewa di sini. Sekarang lebih baik I Dewa berpindah tempat dari sini , sebab Bapak malu dengan Ki Arya Kenceng. Dan lagi Bapak sangat mengasihi ananda I Dewa, agar I Dewa bisa meneruskan hidup – panjang umur. Ini ada anak Bapak seorang, agar mendampingi ananda dipakai isteri. Putri Bapak ini bernama I Gusti Ayu Pahang”. Demikian hatur I Gusti Putu Pahang disaksikan oleh ayahandanya Ki Arya Bija Pinatih. Kemudian dijawab oleh I Dewa Manggis dengan rasa penuh prihatin :” Aum ayahanda Ki Arya Pinatih, sangat besar rasa kasihan Ayahanda kepada saya, tidak akan bisa saya membayar prihal kasih saying Ayahanda kepada diri saya”.

Menjawab Ki Arya Bija Pinatih :” Duh mas juwintaku I Dewa, janganlah Ananda berkata demikian. Ini cucu Bapak I Gusti Ayu Pahang akan mendampingi I Dewa bersasma kemenakan Bapak I Gusti Ayu Nilawati, di mana saja I Dewa bertempat tinggal kelak. Kalau ada kasih Ida Hyang Parama Kawi, ada keturunan dari anak-anak Bapak, maka mudah-mudahanlah ada anugerah Ida Sanghyang Widhi Wasa, kelak mungkin ananda memiliki banyak rakyat, saat itu I Dewa Manggis agar ingat pernah memperoleh kasih saying dari Bapakmu ini. Jikalau nanti Bapakmu ini tidak lagi hidup di dunia, juga I Dewa Manggis sudah tidak ada, di kelak kemudian hari agar keturunan I Dewa Manggis senantiasa ingat dengan perjalanan Bapak mengupayakan keselamatanmu seperti sekarang ini, serta dapat memberikan nasehat kepada para putra, terus sampai ke cucu, wareng, kelab agar tidak putus bertali asih” Demikian perbincangan mereka semua seraya sepakat untuk tidak akan lupa ber sanak saudara I Dewa Manggis Kuning dengan kasih sayang dari Ki Arya Pinatih.

Kemudian samalah kehendak I Dewa Manggis Kuning seperti perjanjiannya dengan Ki Arya Pinatih, dan usailah perbincangan itu, kemudian I Dewa Manggis Kuning menyunting dua isteri, seorang puteri Anglurah Agung Pinatih Rsi yang bernama I Gusti Ayu Nilawati serta putri I Gusti Putu Pahang, atau cucu Anglurah Pinatih Bija yang bernama I Gusti Ayu Pahang.

Yang mendampingi I Dewa Manggis pergi dari Badung, adalah adik dan para putra Anglurah Pinatih Rsi serta putra I Gusti Ngurah Bija Pinatih, seperti I Gusti Ngurah Gde Tembuku, I Gusti Ngurah Jumpahi, I Gusti Putu Pahang, I Gusti Nyoman Bona, I Gusti Nengah Pinatih. Karena perjalanan itu jauh memotong jurang, serta tidak menentu arah tujuannnya, maka tentu saja mereka menjadi lapar dan kekurangan air di perjalanan, merasa lesu kedua putri itu serta menangis sedih, karena merasa masygul dengan nasib I Dewa Manggis Kuning.

Tidak diceriterakan di perjalanan, akhirnya sampailah di hutan Bengkel. Kelak di kemudian hari menjadi wilayah Gianyar, di sana kemudian beristirahat serta bekerja membuat tempat tinggal yang kemudian kelak menjadi Puri. Karena sudah pasti bertempat tinggal di sana, maka keluarga Ki Arya Pinatih memohon diri kepada I Dewa Manggis Kuning untuk kembali pulang ke Kerthalangu. Di sana kemudian I Dewa Manggis menyampaikan isi hatinya : “Uduh Ayahanda, kakak serta adik, tidak bisa dihitung lagi welas asih Bapak ke pada diri saya, tidak bisa saya membalasnya. Kelak kemudian hari kalau ada anugerah dari Ida Sanghyang Widhi Wasa terus kepada anak cucu buyut, agar tidak lupa pada hutang budi saya seperti sekarang. Sekarang silahkan Bapak kembali pulang ke Badung “

Sebelum kembali pulang ke Badung, semua anggota keluarga Ki Arya Bang Pinatih memberi petuah kepada kedua putrinya agar tetap setia bhakti mendampingi I Dewa Manggis Kuning, ikut sampai kelak kemudian hari,  baik buruk agar bersama-sama. Mudah-mudahan I Dewa Manggis Kuning menemui kebahagiaan ! Serta memiliki keturunan dan masih ingat dengan prihalnya seperti sekarang. Setelah memberikan petuah, kedua putrinya merasa senang mendengarkan apa yang dikatakan paman maupun kakak-adik mereka. Kemudian berlima sanak saudara Ki Arya Bang Pinatih itu memohon diri kepada I Dewa Manggis, lalu kembali pulang ke Kerthalangu. Selesaikan dulu kisah perjalanan I Dewa Manggis Kuning.

author