Anglurah Pinatih

No comment 72 views

Anglurah Pinatih

Anglurah Pinatih atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Anglurah Pinatih atau Sira Kuda Anjampiani merupakan salah satu putra dari Ida Bang Pinatih.

Setelah kematian Ayahanda beliau saat "Pemberontakan Ranggalawe", Ida Sang Prabhu, Srimaharaja Kertharajasa Jayawardhana kemudian memberikan anugerah berupa sebagian kawasan timur sampai ke pesisir selatan kepada Sang Arya Bang Wiraraja, disebabkan ingat dengan perjanjiannya dahulu. Sejak saat itu Sira Arya Bang Wiraraja menjabat sebagai penguasa di kawasan yang bernama Lumajang, diiringi oleh cucunya yang bernama Ida Bagus Piantih atau Anglurah Pinatih atau juga disebut Sira Arya Bang Kuda Anjampyani pada tahun 1295 Masehi.

Lama kemuain, ketika Ida Arya Bang Adhikara berumur tua, tidak berselang lama beliau menjabat sebagai penguasa di Puri Ksatriyan Lumajang, kemudian beliau wafat menuju Sorgaloka. Kemudian cucu beliau Sira Bang Kuda Anjampyani dijadikan pejabat di Majapahit menggantikan kedudukan kakek beliau bergelar Kyayi Agung Pinatih Mantra.

Pada saat penyeranan Prabhu Gajah Wakra, di Bedahulu, Beliau ikut serta. Setelah Majapahit Menguasai Bali, Arya Demung Wangbang Kediri dianugrahi tempat di Kertalangu.

Kyai Anglurah Pinatih Mantra, memiliki putra laki seorang, bernama  Kyai Anglurah Pinatih Kertha atau I Gusti Anglurah Pinatih Kejot atau Pinatih Tinjik atau I Gusti Pinatih Perot.

Babad Arya Pinatih

KawitanSang Hyang Gnijaya
Generasi 1Mpu Bradah (Panca Tirtha)
Generasi 2Mpu Bahula
Generasi 3Mpu Tantular
Generasi 4Danghyang Sidimantra (Mpu Bekung)
Generasi 5: Ida Bang Manik Angkeran
Generasi 6: Ida Banyak Wide (Menjadi Arya Wangsa)
Generasi 7: Ida Bang Pinatih (Ranggalawe)
Generasi 8: Pangeran Anglurah Pinatih
Generasi 9: Anglurah Pinatih Kertha

Babad Bali merupakan cerita kehidupan yang diyakini nyata adanya (itihasa), namun Babad ini belakangan sering terjadi kesimpang siuran akibat sedikitnya ada bukti otentik. Untuk membuktikan kebenaran dari cerita Babad ini agak sulit, seperti halnya cerita purana di India, setiap Babad secara umum tentu mengagungkan pemilik (judul) babad. Hal itulah sebabnya beberapa cerita babad agak tidak singkron/nyambung bila disanding dengan babad lain. Untuk itu, dalam Gama Bali hanya mengisahkan cerita-cerita umum saja.

 

 

author