Ashram HK ditutup, lokalisasi kok tidak?

No comment 92 views

Ashram HK ditutup, lokalisasi kok tidak?

Menyusul gebrakan Bendesa Kesiman terkait keberadaan Ashram di Padangalak, Sosial Media FB kini dibanjiri narasi perbandingan seperti:

"Ashram ditutup, Lokalisasi kenapa dibiarkan?"

Atau narasi yang lebih tak bernalar,

"Ashram ditutup, Gereja dan Masjid kapan ditutup?".

Sebenarnya lebih berbahaya mana?

Orang yang tampak relijius atau orang yang gemar ke tempat prostitusi?

Dalam pemahaman sempit saya, keduanya tentu sama-sama berbahaya. Paling tidak, efek bahayanya bagi pribadi orang itu sendiri. Yang gemar jajan, bisa saja terkena AIDS atau penyakit sejenis mengancam hidupnya termasuk orang-orang terdekat. Demikian juga yang tampak relijius, tanpa disadari menghadirkan kesakitan (baca: penyimpangan) perilaku akibat pemahaman keliru.

Namun secara luas, jelas orang yang tampak relijius jauh lebih berbahaya.

Mengapa demikian?

Sudah terlalu banyak kejadian menghadirkan bukti, ketika pemahaman keliru akan suatu ajaran dipegang erat oleh mereka yang tampak relijius, tidak saja mengancam ketentraman orang-orang disekitar, bahkan secara luas, sebuah negara bisa dibuat kacau. Orang-orang dengan pemahan keliru inilah yang kerap disejajarkan sebagai pemabuk, mabuk agama, mabuk keyakinan, jangankan materi, jangankan dirinya sendiri, bahkan siapa saja yang tak sejalan dengan keyakinannya dengan mudah bisa dihanguskan.

Maka bila ada yang melakukan pembelaan terhadap penutupan suatu tempat, dimana tempat itu patut diduga sebagai sarang cuci otak, melahirkan fanatisme sempit atas keyakinannya, adakah si pembela merupakan bagian dari orang-orang mabuk tersebut?

Satu catatan lain, lokalisasi menjadi penting, selain memudahkan proses monitoring, termasuk distribusi obat sekaligus peralatan pencegahan yang diperlukan, keberadaan lokalisasi yang terpusat menyebabkan tidak adanya tempat-tempat lain di wilayah tersebut dijadikan tempat jualan prostitusi.

Yang kedua, narasi meminta penutupan terhadap tempat ibadah umat lain. Waduh, ini parah sekali provokasinya, negara jelas menjamin keberadaan agama-agama, termasuk hindu di dalamnya. Jadi, dimanapun diseluruh wilayah Indonesia, tak ada satupun yang boleh melakukan aksi penutupan terhadap tempat ibadah agama tertentu.

Ini tentu berbeda dengan ISKCON Hare Krishna, walau sering mengklaim diri sebagai bagian dari hindu, nyatanya fakta di lapangan jelas berbeda. Entah mulai dari teologi, bahkan tak jarang ujaran-ujaran miring dilabelkan kepada hindu di Bali, entah pemuja bhuta, lontarnya tamasik, bahkan Weda saja bisa diplitir sesuai keinginannya, mengkalim diri hindu namun tikaman demi tikaman terus dilakukan. Sampai titik ini, terang tindakan yang diambil oleh Bendesa Kesiman dan jajarannya sungguh tepat. Terlebih landasan hukumnya sudah lumayan kuat.

Matur suksma Jero Bendesa, salam hormat titiang, lanjutkan (oleh Windu Segara)

author