BG 2.47

No comment 72 views
BG 2.47,5 / 5 ( 1votes )

BG 2.47

Karma yoga - kerja tanpa pamrih

Krishna berkata:

Kewajibanmu untuk bertindak tanpa mengkondisikan hasilnya, jangan pernah menjadi penyebab karma-phala, jangan membiarkan dirimu terikat untuk tidak melaksankan kewajiban. Hai Dhanañjaya, tabah dalam ketenangan batin dengan melakukan tugas-kewaiban, melepaskan semua ikatan, menjadikan setara antara kesuksesan dengan kegagalan, sikap seimbang itu yang disebut Karmayoga.

wahai Dhanañjayā, tindakan dari jauh memang terlihat lebih rendah dari pengabdian lewat pengetahuan/kecerdasan, mendambakan hasil perbuatan lebih menyedihkan dari usaha mengambil perlindungan dibalik kebijaksanaan. Orang bijaksana dalam hidupnya mengabaikan kedua reaksi baik ataupun buruknya, karena itu berjuanglah untuk karmayoga, yoga yang merupakan ilmu seni dalam bertindak. Orang bijaksana yang tercerahkan pasti mengabaikan hasil dari kegiatan yang dilakukannya, sehingga mencapai keadaan bebas dari ikatan kelahiran tanpa kesengsaraan. Ketika pikiranmu melampaui kebingunan oleh khayalan, pada waktu itu akan merasakan bosan terhadap segala yang telah didengar dan yang belum didengar. Tetap tidak goyah ketika pernyataan sloka Veda membingungkanmu, stabilkan pikiran dalam samadi pada saat itu engkau mencapai karma yoga.

Bhagawad Gita 2.47-53

penjelasannya:

Sloka ini berarti fokus pada tindakan Anda dan bukan pada produk sampingan. Mana yang lebih penting - Hasil atau Tindakan?

Jelas, tindakan, karena jika Anda menginginkan hasil yang baik, pertama-tama tingkatkan tindakan Anda. Fokus pada yang pasti (tindakan), bukan pada yang tidak pasti (hasil). Karena jika hasilnya tidak sesuai harapan Anda, rasa sakit tidak dapat dihindari.

Krishna juga mengatakan jangan pernah menganggap diri Anda sebagai penyebab hasil karena hasilnya tidak semata-mata tergantung pada upaya Anda. Tergantung pada banyak faktor, misalnya, situasi, orang lain yang terlibat, dll.

Selain itu, jangan lekatkan diri pada kelambanan (निष्क्रियता) karena terkadang ketika pekerjaan itu berat dan memberatkan, kami terpaksa tidak melakukan apa-apa. Jadi jangan pernah kehilangan minat pada apa yang Anda lakukan.

Bhagawad Gita 2

BG 2.47

कर्मण्येवाधिकारस्ते मा फलेषु कदाचन ।
मा कर्मफलहेतुर्भूर्मा ते सङ्गोऽस्त्वकर्मणि ॥२- ४७॥
karmaṇy evā dhikāras te mā phaleṣu kadācana |
mā karma-phala-hetur bhūr mā te sańgo 'stvakarmaṇi || 2.47

Bhagawad Gita 2.47

Arti Bhagawad Gita 2.47

karmaṇi—aktifitas, kegiatan, tindakan; evā—pasti, memang, tepatnya; adhikāraḥ—posisi, wewenang, kemampuan, otoritas; te—dari engkau; mā—tanpa, jangan, tidak pernah; phaleṣu—dalam soal hasil; kadācana—pernah, kapan saja; karma-phala—dalam hasil dari tindakan; hetuḥ—sebab, penyebab; bhūḥ—menjadi; sańgaḥ—ikatan, terikat; astu—seharusnya ada, membiarkan, jadilah begitu, biarlah; akarmaṇi—tidak melakukan kegiatan, dalam kelambanan, tidak melakukan apapun; karmaṇi evā—untuk bertindak; phaleṣu kadācana—mengkondisikan hasilnya;

Kewajibanmu untuk bertindak tanpa mengkondisikan hasilnya, jangan pernah menjadi penyebab karma-phala, jangan membiarkan dirimu terikat untuk tidak melaksankan kewajiban.


BG 2.48

योगस्थः कुरु कर्माणि सङ्गं त्यक्त्वा धनंजय ।
सिद्ध्यसिद्ध्योः समो भूत्वा समत्वं योग उच्यते ॥२- ४८॥
yoga-sthaḥ kuru karmaṇi sańgaḿ tyaktvā dhanañjaya |
siddhy-asiddhyoḥ samobhūtvā samatvaḿ yoga ucyate || 2.48

Bhagawad Gita 2.48

Arti Bhagawad Gita 2.48

yoga-sthaḥ—mantap secara seimbang, tabah dalam ketenangan batin; kuru—melaksanakan, melakukan; karmaṇi—tindakan, tugas-tugas dan kewajibanmu; sańgam—ikatan; tyaktvā—meninggalkan, melepaskan; dhanañjaya—wahai Arjuna; siddhi—kesempurnaan, pembebasan, keberhasilan, kesuksesan; asiddhyoḥ—kesalahan, kerusakan, kegagalan; samaḥ—setara, diperlakukan sama, mantap secara seimbang; bhūtvā—menjadi; samatvām—sikap seimbang; yogaḥ—yoga (Karmayoga); ucyate—disebut; siddhi-asiddhyoḥ—dalam kesuksesan dan kegagalan;

hai Dhanañjaya, tabah dalam ketenangan batin dengan melakukan tugas-kewaiban, melepaskan semua ikatan, menjadikan setara antara kesuksesan dengan kegagalan, sikap seimbang itu yang disebut Karmayoga


BG 2.49

दूरेण ह्यवरं कर्म बुद्धियोगाद्धनंजय ।
बुद्धौ शरणमन्विच्छ कृपणाः फलहेतवः ॥२- ४९॥
dūreṇa hy avaraḿ karma buddhi-yogād dhanañjaya |
buddhau śaraṇam anviccha kṛpaṇāḥ phala-hetavaḥ || 2.49

Bhagawad Gita 2.49

Arti Bhagawad Gita 2.49

dūreṇa—jauh, sejauh ini, dari jauh; hi—pasti, memang; avaram—jijik, mengerikan, lebih rendah, lebih muda; karma—kegiatan; buddhi—pikiran, kecerdasan; yogāt—jalan yoga; dhanañjayā—wahai Arjuna; buddhau—dengan kesadaran, dalam kecerdasan, kebijaksanaan; śaraṇam—penyerahan diri, suaka, perlindungan; anvicchā—usahalah, mencari; kṛpaṇāḥ—pelit, rendah, menyedihkan; phala-hetavaḥ—menginginkan hasil, mendambakan hasil perbuatan; buddhi-yogāt—yoga dengan kecerdasan, jalan kebijakan dan analitik logis, jalan penyatuan dengan kecerdasan, pengabdian dengan kecerdasan.

wahai Dhanañjayā, tindakan dari jauh memang terlihat lebih rendah dari pengabdian lewat pengetahuan/kecerdasan, mendambakan hasil perbuatan lebih menyedihkan dari usaha mengambil perlindungan dibalik kebijaksanaan.


BG 2.50

बुद्धियुक्तो जहातीह उभे सुकृतदुष्कृते ।
तस्माद्योगाय युज्यस्व योगः कर्मसु कौशलम् ॥२- ५०॥
buddhi-yukto jahātī ha ubhe sukṛta-duṣkṛte |
tasmād yogāya yujyasva yogaḥ karmasu kauśalam || 2.50

Bhagawad Gita 2.50

Arti Bhagawad Gita 2.50

buddhi-yuktaḥ—kecerdasan, orang bijaksana, orang yang diberkahi dengan pemahaman ajaran; jahāti—menghilangkan, mengabaikan; iha—dalam hidup ini; ubhe—kedua-duanya; sukṛta—bermanfaat, kebaikan; duṣkṛte—kesalahan, perbuatan jahat, berdosa; tasmāt—karena itu; yogāya—jalan karmayoga; yujyasva—berjuang, melibatkan diri; yogaḥ—jalan penyatuan, yoga; karmasu—dalam segala kegiatan; kauśalam—ilmu seni keterampilan, kecakapan; sukṛta-duṣkṛte—hasil yang baik atau buruk; karmasu kauśalam—seni dalam bertindak.

orang bijaksana dalam hidupnya mengabaikan kedua reaksi baik ataupun buruknya, karena itu berjuanglah untuk karmayoga, yoga yang merupakan ilmu seni dalam bertindak.


BG 2.51

कर्मजं बुद्धियुक्ता हि फलं त्यक्त्वा मनीषिणः ।
जन्मबन्धविनिर्मुक्ताः पदं गच्छन्त्यनामयम् ॥२- ५१॥
karma-jaḿ buddhi-yuktā hi phalaḿ tyaktvā manīṣiṇaḥ |
janma-bandha-vinirmuktāḥ padaḿ gacchanty anāmayām || 2.51

Bhagawad Gita 2.51

Arti Bhagawad Gita 2.51

karma-jam—berawal dari tidakan, kegiatan yang dilakukan; buddhi-yuktaḥ—orang bijaksana; hi—pasti; phalam—hasil; tyaktvā—meninggalkan, mengabaikan; manīṣiṇaḥ—penyembah yang bijak, seorang pemikir, filusuf, brahmana yang tercerahkan; janma-bandha—dari ikatan kelahiran dan kematian; vinirmuktāḥ—dibebaskan, dikecualikan dari; padam—kedudukan, keadaan, situasi; gacchanti—mencapai; anāmayam—tanpa kesengsaraan; janma-bandha vinirmuktāḥ—bebas dari ikatan kelahiran

orang bijaksana yang tercerahkan pasti mengabaikan hasil dari kegiatan yang dilakukannya, sehingga mencapai keadaan bebas dari ikatan kelahiran tanpa kesengsaraan.


BG 2.52

यदा ते मोहकलिलं बुद्धिर्व्यतितरिष्यति ।
तदा गन्तासि निर्वेदं श्रोतव्यस्य श्रुतस्य च ॥२- ५२॥
yadā te moha-kalilaḿ buddhir vyatitariṣyati |
tadā gantāsi nirvedaḿ śrotavyasya śrutasya ca || 2.52

Bhagawad Gita 2.52

Arti Bhagawad Gita 2.52

yadā—apabila, ketika; te—milik engkau; moha—dari khayalan; kalilam—kebingungan, semak belukar, rawa, ditutupi, terkontaminasi, tidak bisa ditembus; buddhiḥ—pikiran,  kecerdasan; vyatitariṣyāti—melampaui, melewati; tadā—pada waktu itu; gantā asi—akan pergi, akan merasakan, mendapatkan; nirvedam—sikap acuh, kebencian, kekecewaan, pengabaian, kebosanan; śrotavyasya—terhadap segala sesuatu yang akan didengar; śrutasya—terhadap segala sesuatu yang sudah didengar; ca—dan, juga.

ketika pikiranmu melampaui kebingunan oleh khayalan, pada waktu itu akan merasakan bosan terhadap segala yang telah didengar dan yang belum didengar.


BG 2.53

श्रुतिविप्रतिपन्ना ते यदा स्थास्यति निश्चला ।
समाधावचला बुद्धिस्तदा योगमवाप्स्यसि ॥२- ५३॥
śruti-vipratipannāte yadā sthāsyāti niścalā |
samādhāv acalā buddhis tadā  yogam avāpsyasi || 2.53

Bhagawad Gita 2.53

Arti Bhagawad Gita 2.53

śruti—wahyu Veda; vipratipannā—tidak pasti, bingung, memiliki opini/pendabat berbeda; te—milikmu; yadā—apabila; sthāsyāti—tetap, sisa; niścalā—tidak bergerak, tidak goyah, tetap; samādhau—dalam kesadaran ilahi, dalam samadi, pikiran teguh pada Sang Diri; acalā—masih, stabil, tidak bergerak, tidak goyah; buddhiḥ—pikiran, kecerdasan; tadā—pada waktu itu; yogam—yoga itu, karmayoga; avāpsyasi—mendapatkan, mencapai; śruti-vipratipannā—ketika pernyataan sloka Veda membingungkan, karena aliran pemikiran dan praktik yang berbeda mengaku mendapatkan dukungan dari Veda sehingga mereka menjadi bingung.

tetap tidak goyah ketika pernyataan sloka Veda membingungkanmu, stabilkan pikiran dalam samadi pada saat itu engkau mencapai karma yoga.

author