Bhawati

No comment 179 views
Bhawati,5 / 5 ( 1votes )

Bhawati

Bhawati merupakan penanda seorang menapaki tahap Bhiksuka Asrama untuk menjadi Sulinggih, Brahmana Warna lewat ritual Ekajati yang disebut Pawintenan Diksa Bhawati. Bhawati adalah jenjang ketiga, setelah pemangku dan jro gede, dan jenjang terakhir sebelum pandita. Bhawati dibentuk dari kata bhawa (kesucian) dan ti (sifat). Bhawati merupakan mereka yang menapaki jalan spiritual sehingga memiliki jiwa suci dan bijaksana. Menjadi Bhawati adalah menjadi siswa ajaran-ajaran yang bersifat rahasia (parampara - aguron guron) dari sulinggih Nabe.

Ritual Diksa Bhawati ini merupakan simbolisasi ”mati raga”—sebelum menjalani ”hidup yang baru”. Dalam prosesi Diksa, calon Bhawati dipersilahkan memilih tiga Sulinggih yang dijadikan Guru Nabe, Guru Waktra dan Guru Saksi. Guru Nabe merupakan sulinggih yang menjadi pembimbing sepanjang jalan spiritual hingga mencapai tahap Bhawati.

Menjelang tengah malam, upacara itu mendaki puncaknya. Setelah diurapi dan diberi minum yang diberikan oleh Guru Nabe dan Guru Waktra-nya, sang calon bhawati bertelanjang dada, sekujur tubuhnya dibalut kain putih, diusung kedepan kedua Nabe-nya. Setelah serangkaian mantra dan memercikan tirtha, pasangan bhawati langsung lemas, lunglai dan mati suri.

Segerombolan pria dan perempuan menggotong tubuh kedua ”orang mati” itu ke bale gede (bale dangin), dibaringkan di semacam ”altar” yang dibalut kain berwarna merah emas berkilauan. Altar itu kemudian ditutup seluruhnya. Inilah saat-saat kritis. Karena itu, seraya ketiga sulinggih tetap berkhidmat di panggung upacara, beberapa pandita dan juga para guru istri ”berjaga” di bale gede. Di sekitarnya, sejumlah pemangku juga merapat membentuk semacam ”pagar betis”, siap menangkal segala kemungkinan. Potensi terburuk yang dapat terjadi adalah calon Bhawati meninggal dunia akibat diserang secara magis. Menurut beberapa informasi, prosesi "maseda raga" inilah dijadikan momen bagi praktisi leak dan pangiwa mengambil nyawa sang bhawati guna meningkatkan level keilmuannya.

Setelah terdengar suara ayam sebagai tanda subuh, Guru Nabe memberi isyarat kedua jasad boleh ”dihidupkan”. Tirai disingkap, seorang pandita memercikkan air suci ke wajah pasangan Bhawati dan membisikkan sesuatu. Sang bhawati bangun perlahan, dengan air muka seperti terbingung-bingung akibat mati suri.

Sang Bhawati kemudian dituntun dan dimandikan oleh kakak seperguruan, diberi pakaikan kain putih yang dibelit-belitkan dan aksesori yang mengisyaratkan ”status” baru mereka. Ia harus berpakaian khusus sehari-hari, misalnya tak boleh bercelana panjang, tapi berkain, dan tak boleh menutup kepala karena rambutnya bersanggul di bagian belakang. Ia masih boleh bekerja, tapi tak boleh menuntut upah.

author