Bhisama Mpu Sedah

No comment 61 views

Bhisama Mpu Sedah

Tersentak Mpu Sedah mendengar komitmen Ida Banyak Wide untuk menjadi Arya. Beliau tak bisa berkata-kata lagi Danghyang Mpu Sedah mendengar atur putranya, namun sang Pandita menyadari bahwa semuanya itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa, lalu berkatalah beliau :

"Ah anakku, juwita hatriku Sang Banyak Wide, nah karena sekarang ananda berkehendak menjadi pratisentana – putera dari Ki Arya Buileteng, maka dengarkanlah ini, tanda cinta kasihku kepadamu anakku"

"Wredhanam kretanugraham, jagadhitam purohitam, wacanam wara widyanam, brahmanawangsatitah, Siwatwam, pujatityasam, trikayam parisudham, kayiko, waciko suklam, manaciko sidha purnam. Puranam tatwam tuhwanam, silakramam, sirarya pinatyam maho, witing kunam purwa Daham."

"Aum, Sang bang, inilah merupakan titah Yang Maha Kuasa, berupa aturan sidhikarana yang kakek berikan kepadamu, perjalanan sejarah dari status brahmana yang dahulu, sekarang menjadi Arya Pinatih, ini ada tanda kasihku padamu berupa sebuah keris yang bernama Ki Brahmana, Siwapakarana – peralatan pemujaan pendeta, pustaka weda, itu semua agar dipuja, sebagai pusaka yang berkedudukan bagaikan kawitan-leluhurmu, sebagai perlambang jati dirimu sebagai Arya Bang Pinatih, yang berasal dari brahmana dahulu. Ada nasehatku juga, kalau ada keturunan Arya Wang bang, tahu tentang Filfasat Kedharman, kokoh melakukan tapa-yoga brata, memiliki ilmu pengetahuan yang berguna, pandai akan ilmu kerohanian, serta selalu mengupayakan ketrentaman, menganut prilaku Brahmana Wangsa, dapat didiksa, menjadi pendeta maharesi. Ingatlah hal ini .

Serta ada pula anugerahku, kepada mu, jika ada yang tahu tentang siapa yang membawa pusaka ini di kemudian hari, menyucikan diri sanak saudaramu kelak, dan bila sesudah meninggal, bilamana sanak saudara yang telah menyucikan diri meninggal, jika melakukan upacara atiwa-tiwa – palebon, berhak memakai sarana upacara seperti seorang brahmana lepas, berhak mempergunakan padmasana, serba putih, serta segala sarana upacara sebagai sang brahmana, pendeta.

Bilamana yang meninggal adalah walaka, bilamana memperoleh kebahagiaan utama memegang kekuasaaan serta memiliki banyak rakyat, berhak mempergunakan bade bertumpang 9, petulangannya lembu, semua sarana yang dipakai ksatriya, terkecuali naga bandha, berhak dipakainya.

Serta bila walaka biasa meninggal, jika mengadakan upacara atiwa-tiwa –pitra yadnya, berhak mempergunakan bade tumpang 7, serta sarananya, demikian yang berlaku pada Arya Pinatih. Habis.

Serta prihal keadaan kacuntakan bagi Ki Arya Pinatih, yang – karenanya- ingatlah sampai di kemudian hari, jika meninggal bayi belum kepus pungsed, cuntakanya 7 hari, jika meninggal bayi sesudah kepus pungsed, cuntakanya 11 hari, namun belum tanggal gigi. Jika ada yang meninggal sudah dewasa, remaja atau sudah tua, cuntakanya satu bulan 7 hari. Jangan lupa pada nasehatku ini .

Serta ada lagi nasehatku, di kemudian hari, dalam hal bersanak-saudara, jika ada orang luar desa datang, berkehendak untuk ikut menyungsung – menyembah Sanghyang Kawitan Ki Brahmana serta Siwopakarana nya, mengaku Sira Arya Pinatih, walaupun orangnya nista madhya utama, janganlah ananda kadropon, perhatikan dahulu, jikalau tidak mau anapak sahupajanjian Sanghyang Kawitan, bukan sanak saudaramu itu.

Jika dia mau anapak Sanghyang Kawitan walaupun nista, madya utama, sungguh dia bersanak saudara denganmu, dan berhak ikut menyungsung bersama, bhatara Kawitan, walaupun jauh tempat tinggalnya. Serta sanak saudaramu si Arya Pinatih tidak boleh anayub dewagama lawan patunggalan dadya, jika melanggar nasehatku ini, hala tunggal, hala kabeh – satu menemui celaka, semuanya celaka. Serta kemudian tidak bisa disupat Sanghyang Rajadewa Kawitannya, oleh Pendeta Resi Siwa Budha, serta jika melanggar seperti nasehatku ini . OM ANG medhalong , ANG OM mepatang, ANG UNG MANG sudha OM NRANG OM . Semuanya paras paros, wetu tunggal, demikian pahalanya, jangan tidak periksa. Kukuhkan dirimu dalam mengamong kawitanmu, serta kukuh seperti nasehatku pada ananda, habis.”

author