Catatan Untuk Generasi Muda Bali

No comment 187 views

Catatan Untuk Generasi Muda Bali

Kem-Bali ke Pola Hidup Bali

Dalam pola hidup Bali ini pula lahir tradisi pengobatan usada dengan pendekatan biomedis holistik, undagi dengan arsitektur berkesadaran ruang, astronomi padu dalam wawasan surya-candra pramana

Wayan westa

Sebelum menjadi pematung legendaris, Tjokot konon acapkali disebut pemahat sinting. Takikan dan guratan pahatnya dipahami sebagai karya seni liar, tak karuan. Karena itu karya-karya Tjokot tak mudah laku. Namun begitu, ia terus mematung, menuruti semburan imajinasinya yang meledak- ledak. Jarang orang tahu, untuk membuat patung yang “tak karuan” itu, Tjokot memerlukan renungan berbulan-bulan. Saban hari ia jongkok di tebing-tebing sungai curam, sembari menakar akar, menahan lapar. Ia pandangi lekukan-lekukan akar lapuk hanyut terbawa banjir. Tjokot butuh media yang pas buat menampung ledakan imajinasinya.

Manakala pematung lain berlomba mengejar duit, Tjokot malah bersunyi diri di hilir sungai, ia membaca sasmita air, mengalir dan mengalir terus. Seperti itulah Tjokot menerjemahkan kerja, tak pernah berhenti, berinovasi terus, tak pernah diam dari kreativitas. Pematung berbakat alam ini tak urung pemahat karena diejek atau dibilang edan. Ia diam seribu bahasa. Tjokot senantiasa mengejar proses, ia menjadi dan menjadi, mengalir seperti derasnya sungai Pakerisan. Ia tak terpaku hasil, keterikatan itu ia buang jauh-jauh.

Nama tenar dan gelar maestro tak terbetik dihatinya. Suatu hari seorang asing menemukan karya Tjokot. Memuji sebagai karya luar biasa, maestro langka dunia, seniman alam kaya inspirasi. Patung Tjokot terjual mahal, laris manis. Tjokot dikejar-kejar bak pematung bertangan dewa. Tjokot tetap merasa tak bahagia. Rasa bahagia hanya diraih ketika menakik akar, atau ketika tengah menyepi di hilir sungai. Kerinduannya cuma satu: semoga sepi tak jauh darinya. Lalu apa yang terjadi, banyak orang ingin meniru gaya Tjokot. Jadi epigon, menjiplak mentah karya Tjokot tanpa perlu tahu proses batin sang pematung. Itukah disebut inovasi atau malah kemandegan.

Epigonisme jelas tak berkaitan dengan proses menjadi, namun lebih tertuju pada proses memiliki. Bilamana seniman terjerat proses memiliki, semata terpukau pujian atau materi, ketika itu roh kreatif dianggap mati. Sepi dalam kepenuhan akan meninggalkan badan. Dan Tjokot jelas takut ditinggal roh kreatif, justru itu ia sudi berlapar-lapar di tebing sungai sembari menunggu inspirasi sunyi. Tjokot sadar, bahwa dengan bersunyi diri energi kreatif mengalir terus. Maka terang, bahwa seniman legendaris sekaliber Tjokot tak lahir dari kondisi hura-hura, atau karena tekanan pasar. Ia lahir dari kondisi maha hening.

Teramat teranglah, bahwa pikiran besar dan karya mengagumkan tak semata dilahirkan dari kondisi hidup serba wah. Borobudur, Prambanan, Sutasoma, dan Arjunawiwaha, tak semata lahir dari kejeniusan pikir. Terpenting juga karena para maestronya paripurna membaca rahasia hati. Sang perancang telah menemukan sepi. Bertemu di pusat cipta, sumur bening sumber inovasi. Dalam teks filosofi Bali, pusat cipta itu disebut tungtunging ati, puncaknya hati. Karena sejatinya hati-lah merupakan puncaknya rasa, ring tungtung atinta rasa. Kumpulan semua rasa ada di hati, katon ta papupulaning sarwa rasa ring ati. Dari puncak ini dewa direnungkan, kreativitas dialirkan. “Daya kekuatan “mata hati” yang menghasilkan wawasan jauh lebih unggul dari kekuatan pikir yang menghasilkan pendapat-pendapat”, tulis ekonom E.F. Schumacher, penulis buku: Small is Beautiful (1973) yang kesohor itu. Maka saran Swami Ramdas (1886-1963), “Carilah ia di dalam, kenali dirimu sendiri”, isyarat-isyarat rahasia nan agung datang kepada kita dari hembusan nafas para Rsi melalui debu berabad-abad”. Dan bukankah di abad silam Bali merupakan rumah para rsi?

Miguel Covarrubias, penulis buku Island of Bali mencatat, bahwa setiap orang di Bali seakan-akan seniman, kuli dan para ningrat, pendeta dan petani, baik lelaki dan perempuan dapat menari, memainkan gamelan, melukis atau memahat pada kayu dan batu. Agaknya pujian tak berlebihan. Karena tak cuma Covarrubias memberi pujian seperti itu. Subagio Sastrowardoyo, penyair dan esais Indonesia terkemuka juga memberi pujian yang sama.

Dalam artikel bertajuk: “Kembali ke Pola Hidup Bali”, Subagio menulis: “Di Bali kehidupan sehari-hari diresapi dan dikelilingi kesenian. Berjalan di lorong-lorong kampung, mata terbiasa menangkap arsitektur rumah dan pura, hiasan relief dingding dan arca, kembang sesajian dan warna-warni motif tenun, semua dibuat dan ditata sepadan, tekun dan trampil. Hampir setiap malam terdengar bunyi gamelan yang memberi latar belakang yang resah tetapi syahdu pada suasana mulai sepi. Daya kreasi orang Bali boleh dikata senantiasa liat dan tak kunjung kehabisan angan.”

Lanjut Subagio, “Dalam masa pembangunan yang mengutamakan kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini masyarakat kita makin menjauhi situasi kehidupan seperti di Bali. Untuk menyesuaikan diri dengan gerak langkah menuju arah kemakmuran dan kesejahteraan lahir, baik dalam jenjang pendidikan formal maupun luar, selalu ditekankan pikiran ilmiah, obyektif dan sistematis, di samping cara kerja yang efektif, efesien, kompetitif, dan rasional. Dengan demikian, sengaja atau tidak proses itu akan mengakibatkan berkurangnya sisi pengalaman manusia yang bersentuhan dengan perasaan, imajinasi dan kreativitas estetik”. Justru itu anjur Subagio, “Rupanya kita perlu kembali ke pola hidup Bali”.

Seperti apa pola hidup Bali yang dirindukan Subagio? Adakah pola hidup yang dirindukan di mana semua orang jadi epigon atau penjiplak? Terang tak begitu maksud Subagio, harapannya jelas, Subagio rindu pola hidup yang dialiri semangat kreatif, semangat yang membuat hidup senantiasa bergairah, penuh makna, tanpa semata memetingkan proses memilki. Namun menghargai tinggi proses menjadi.

Orang tahu, semangat semacam inilah yang melahirkan generasi Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta dan pujangga besar Bali abad 20, Tjokot, pematung legendaris. Lempad, pelukis bertangan emas, Ida Boda, pragina serba bisa, atau tokoh sekaliber Gusti Bagus Sugriwa, cendekiawan komplit dengan spirit yogin. Kini kian jelas, semangat semacam ini pula yang melahirkan tokoh Ir. Tjokorda Raka Sukawati, penemu tiang pancang putar Sosrobahu, atau seniman sekaliber Ida Wayan Oka Granoka, perancang yoga musik dengan pakarana gemelan. Pendeknya, orang yang melahirkan inovasi adalah mereka yang pikirannya dibeningkan sepi.

Sidharta Gaotama, tak menjadi tokoh besar bila ia hidup dengan ongkang-ongkang kaki. Pencerahan atau nirbana diperoleh setelah ia melepas semua kemelekatan hidup. Tak peduli kerajaan megah, materi melimpah, dan istri cantik. Sebab semua itu hanya sementara sifatnya. Sidharta, yang berarti ia yang telah mencapai tujuan berhasil menundukkan yang sunyi, membiasakan tubuh dan pikirannya dengan traktat yoga, hingga di bawah pohon bodhi, tepat di bulan purnama ia memproleh pencerahan. Dan akhirnya Gaotama pun lahir sebagai pemenang, mengatasi kematian serta reinkarnasi. Setelah digelari Buddha ia lalu menjadi kultus dunia, jutaan manusia datang padanya minta jalan pencerahan. Ya, semua kerja besar berawal dari pergulatan dengan sepi, memang.

Dalam perburuan ilmiah, Einstein sang ahli fisika tak akan menemukan hukum kekekalan zat dalam kondisi pikiran carut marut, berantakan, dan amburandul. Stephen Hawking tak akan menemukan misteri lubang hitam, black holes sebagai pusat dentuman besar, the Big Bang dalam kondisi patah semangat. Kedua ahli fisika ini terang bergelut suntuk dengan sepi, tepekur dalam “meditasi ilmiah”, melakukan lompatan dari “mata indra ke “mata intelegensi”. Namun kedua tokoh ini pun kalang kabut manakala dihadapkan dengan pertanyaan metafisika, prihal muasal dunia. Jawabnya cuma pendek: dibalik semua itu ada Omega, Tuhan Maha Misteri. Michel Talbot, Fritjof Capra, pencetus prinsif fisika baru akhirnya menyebut sebagai Brahman nan abadi.

Para pujangga Jawa Kuna, sang pemburu keindahan menyebutnya sebagai Manobhu, sang dewa keindahan. Di mana berkat kasihNya ia kuasa menciptakan tunas keindahan, alung lango. Para mistikus petani lugu di Bali lalu menyebutnya sebagai Sang Hyang Embang. Di sini pun akhirnya disimpulkan, bahwa sepi dalam kepenuhan pencerahan tak lebih dari sebongkah “intelegesi murni Tuhan”. Para yogin memburunya di pusat diri, lantas menyebut sebagai candani, kecerdasan mula prakerti. Dialah Jagat Siwa Guru, yang menarikan tarian zaman, sangkalpa – dari proses itulah cipta dilahirkan, memberi inspirasi dalam inovasi.

Dan Bali identik dengan spirit itu, memang. Dalam pola hidup Bali ini pula lahir tradisi pengobatan usada dengan pendekatan biomedis holistik, undagi dengan arsitektur berkesadaran ruang, astronomi padu dalam wawasan surya-candra pramana, tradisi subak dengan “meta alur air” tali kunda. Semua temuan ini terang memerlukan kebeningan budi, kecerdasan pikir, inovasi yang mewarnai peradaban, dan kreativitas yang mengusung kemurnian kerja.

Kerja semacam ini terang akan mengikis karma buruk. Sebab sang pelaku telah menebar karma bumi, melayani khalayak, menjadikan roda kreativitas senantiasa berputar bak cakra manggilingan. Bukankah Tuhan juga menjaga kehidupan ini dengan kerja, menjaga rta tetap berputar di sumbunya. “Sedetik pun aku tak kerja, kehidupan akan berhenti”, tulis Bagawad Gita benderang. Karena barang siapa yang tak turut memutar roda cakra, tak lain ia cuma seorang peminta. Sebab kesudahannya ia pemakan “peluh” pemutar kerja. Maka, anjur Bagawad Gita, “Bekerjalah tanpa terikat hasil”.

Inovasi, kreativitas, kesungguhan, dan kemurnian bertautan langsung dengan kemandirian. Tanpa kemandirian tidak ada pembebasan dalam kerja. Lalu apa arti kemandirian dalam kerja ber-spirit Bali? Ida Pedanda Made Sidemen, pujangga yang bersahabat baik dengan Raja Badung, raja pandita yang mati dalam perang puputan, memberi pelajaran menarik perihal "ladang" kreatif di dalam diri. Hendaknya badan inilah sepatutnya ditanami guna gina, keterampilan yang berkaitan dengan ayat hidup. Karena itu badan ini ibarat tanah sawah, yang patut dipelihara, disiram, digembur-gemburkan dengan semangat kreatif.

Dalam Geguritan Salampah Laku, pendeta kelahiran Geria Intaran ini menuliskan terang, " ...idep beliné mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awaké tandurin, guna dusun né kanggo ring désa-désa. Keinginan Kakanda kini, coba belajar hidup sahaja, tiada punya tanah sawah, hendaknya badan ini ditanami, dengan keterampilan hidup, sebagaimana kebiasaan orang desa."

Ida Pedanda tak melarang orang tergantung pada hal-hal fisik, namun lebih utama; menemukan pusat kreatif, di mana sesungguhnya bukanlah persoalan hamparan tanah di luar diri. Yang paling sublim tentu, membadankan spirit tanah ke pusat diri. Tanah yang terhampar di pusat diri itulah sepatutnya ditanami kecerdasan dan keterampilan. Dari sini dari badan ini, kita boleh meminta apa saja, mengajarkan orang untuk tidak merengek, jadi peminta-minta pada Tuhan.

Ida Pedanda Made Sidemen sadar betul, sesaat sesudah kolonialisme menguasai tanah Bali, sang wiku berhitung prinsip, membalik arus kesadaran, dari objek fisik geografis, ke tanah psikis jagat diri. Bahwa badan inilah sesungguhnya yang paling menentukan surga masa depan seseorang. Badan ini pula benteng terakhir, kekayaan manusia, saat tanah fisiknya sudah tiada lagi. (Oleh Wayan Westa, Penulis Kebudayaan)

author