Guru Parampara Sampradaya

No comment 95 views

Guru Parampara
Sampradaya

Banyak masyarakat belum memahami apa itu guru parampara yaitu lelangit dari aguron-guron. Sampradaya bermakna aliran kepercayaan yang diwariskan oleh para guru-guru weda dari jaman ke jaman kepada murid-muridnya. Di india sendiri sampai saat ini masih tetap terbangun dan eksis guru parampara dari garis Guru Agung Adi Sankara. Dengan pewarisan Sankara Acharya di lima penjuru India. Pemilihan Sankara Acharya yang menempati posisi tersebut melalui seleksi ketat para spiritualis di sana. Jadi tidak serta merta mengangkat diri sebagai seorang guru agung pewaris pengajaran Adi Sankara.

Susunan guru-guru dalam parampara Adi Sankara sebagai berikut:

DEWA NARAYANA mengajarkan pengetahuan sejati (weda) kepada PADMABHAWA (Dewa Brahma) sesuai dengan Skanda Upanisad. Selanjutnya Dewa Brahma mengajarkan pada MAHARISHI WASISTHA Selanjutnya kepada MAHARISHI SAKTI selanjutnya MAHARISHI PARASARA selanjutnya pada putra beliau MAHARISHI VYASA selanjutnya pada putra beliau MAHARISHI SUKHA DEV selanjutnya MAHARISHI GAUDAPADA selanjutnya MAHARISHI GOVINDA selanjutnya ADI SANKARA, dari beliau kepada empat muridnya yaitu PADMA PADAM , CAHASTA MALAKA, TROTAKARA, VARTIKAKARA dan selanjutnya kepada lima garis di penjuru india. Tak satupun dari beliau mengaku awatara. Tetapi diakui sebagai Guru Dewa/Guru Dev.

Kemudian kalau kita amati dalam Perguruan Hare Krishna maka Srillaprabhupada mengubah konsep mendasar dari pangkal parampara yaitu DEWA NARAYANA diubah menjadi SRI KRISHNA. Dalam mashab ADI SANKARA, kenapa tidak mencantumkan SRI KRISHNA sebagai bagian parampara, maka penjelasannya adalah SRI KRISHNA merupakan INKARNASI dari DEWA NARAYANA sendiri dan dalam kehidupannya adalah seorang RAJARSI bukan MAHARSI. Ini sesuai dengan bhagawad gita yaitu SRI KRISHNA mencontohkan mengenai KARMA YOGA. Sementara jalan bagi Guru Suci adalah Jnana Yoga yaitu melepaskan keduniawian atau kehidupan sanyasin. Bukan kehidupan seorang Tyagi.

Dalam puisinya yaitu ACHYUTA ASTHAKAM, ADI SANKARA sangat memuja SRI KRISHNA sebagai awatara yang sempurna. Tetap seorang Awatara.

Kemudian dengan serta merta Srillaprabhupada mengubah parampara yang sudah diyakini oleh mashab besar ADI SANKARA dengan karangannya sendiri, agar dirinya ada dalam parampara. Yaitu memuat kebaruan yang lebih mengarah pada kepalsuan yang tidak sesuai Skanda Upanisad. Jadi sangat jelas maksud dari penyimpangan tersebut. Dan sudah bertentangan dengan upanisad.

Kemudian SAI BABA? Dia membuat status baru sebagai asal muasal parampara, dan malah menempatkan DEWA NARAYANA/DEWA WISNU sebagai administratornya. Ini lebih halusinasi lagi.

Jika kita lihat ITHIASA, maka kita tahu Para AWATARA seperti SRI RAMA maupun SRI KRISHNA dalam kehidupannya tetap menjalani kehidupan berguru pada brahmana atau Beliau-beliau semua memiliki GURU DEV. Dan kemudian hadir seorang SAI BABA yang mendeklarasikan diri sebagai awatara tidak memiliki garis guru Spiritual. Bukankah pribadi seperti itu adalah halusianatif?

Jadi dari perbandingan diatas kita bisa menangkap bahwa baik Srillaprabhupada maupun Sai Baba memiliki khayalan yang tinggi dan berusaha mengubah tradisi Parampara Weda. Jadi tidak heran kemudian jika pengikutnya tidak menghormati tradisi. Karena orang-orang yang mereka anggap guru telah membangun halusinasi dengan mengubah TRADISI PARAMPARA WEDA. Layakkah kemudian kita sebut mereka menyampaika kebenaran Weda?

Kalau saya pribadi sederhana saja. Jika dari sumber kedua sampradaya tersebut sudah ada penghianatan terhadap TRADISI SUCI WEDA maka mereka yang menjadi pengikutnya tidak akan tanggung-tanggung mengubah tradisi dalam kehidupan masyarakat manapun.

Betapa berbahayanya kedua mashab sampradaya ini bagi umat manusia.

Silahkan merenungkan dan mengkaji dengan intelektual waras kita mengenai berbahayanya dua aliran sampradaya ini. (oleh Bhaktas)

author