ISKCON itu Hindu di Indonesia?

No comment 259 views

ISKCON itu Hindu di Indonesia?

Tulisan ini sebagai upaya menanggapi SURAT dari Prof Ravi M. Gupta pada tanggal 20 September 2020 yang mengomentari konflik Hindu Bali vs Hare Krishna ISKCON-Indonesia. Berikut ini tulisannya:

Prof Ravi M.Gupta about Hare Krishna ISKCON

Saya bekerja sebagai Charles Redd Profesor Studi Keagamaan di Departemen Sejarah di Utah State University. Saya menerima gelar doktor dalam agama Hindu dari Universitas Oxford (Inggris), dan saya telah mengajar agama Hindu selama 15 tahun terakhir di universitas-universitas Amerika. Saya telah menerbitkan empat buku tentang Hinduisme pada media akademis utama, dan saat ini saya sedang dalam proses menulis buku teks Hindu untuk Oxford University Press.

Saya baru saja mengetahui bahwa beberapa orang di Bali mengklaim bahwa ISKCON bukanlah lembaga Hindu yang otentik. Saya menulis ini untuk menegaskan bahwa klaim itu TIDAK BENAR (incorrect) dan MENYESATKAN (misleading). ISKCON termasuk dalam tradisi Gaudiya Vaisnava, yang bisa ditelusuri sejarahnya kepada orang suci (saint) sekaligus guru Chaitanya di abad ke-15. Gaudiya Vaisnavisme telah berkembang pesat di seluruh India selama lima abad terakhir, terutama di wilayah Bengal, Orissa, Assam, dan Uttar Pradesh. Para filsuf tradisi ini telah menghasilkan banyak buku dan komentar tentang Bhagavata Purana (Srimad Bhagavatam) dan Bhagavad Gita, yang merupakan teks Hindu dan bahan pengajaran utama di ISKCON. Faktanya, beberapa penggunaan kata "Hindu" yang tercatat paling awal ditemukan di Chaitanya-charitamrita, yang merupakan kitab suci utama untuk semua Gaudiya Vaisnava, termasuk anggota ISKCON. (Silakan lihat artikel informatif oleh Prof Joseph O'Connell tentang penggunaan awal kata "Hindu" oleh Gaudiya Vaishnavas.) ISKCON adalah manifestasi kelembagaan utama dari Gaudiya Vaishnavism, didirikan pada tahun 1966 oleh AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada, yang dibesarkan sendiri dalam keluarga tradisional Gaudiya Vaisnava di Kolkata, India. ISKCON mengikuti semua praktik standar Gaudiya Vaisnavisme, termasuk beribadah di kuil, mempelajari Bhagavad Gita, mempraktikkan gaya hidup tanpa kekerasan, tidak mengonsumsi minuman keras seperti alkohol, menyebutkan nama Tuhan, bangun pagi untuk beribadah, dan sebagainya. Tentunya, ini adalah praktik umum di seluruh Hinduisme saat ini.

Bahkan, warisan ISKCON dimulai sebelum kata "Hindu" digunakan secara luas untuk merujuk pada identitas agama. Kata ‘Hindu' mulai umum digunakan selama periode pemerintahan Mughal di India, dan itu dipopulerkan selama Kerajaan Inggris, sedangkan kepercayaan Waisnawa jauh mendahului periode waktu tersebut. Sebagai contoh, kita tidak pernah menemukan kata “Hindu” di Bhagavad Gita atau Ramayana karangan Valmiki. Jadi, justru kata 'Hindu' yang harus dipertanyakan, bukan keotentikan ISKCON. Bahkan, jika kita ingin mempertanyakan otentifikasi ISKCON, tentunya kita juga akan mempertanyakan keotentikan ratusan juta Vaishnava di India saat ini, yang mengikuti keyakinan dan praktik serupa. Saya meminta Anda untuk mengenyampingkan keraguan ini secara utuh.

Ketua Studi Keagamaan Charles Redd
Prof. Ravi M. Gupta
ravi.gupta@usu.edu

Tanggapan Kami

APAKAH HARE KRISHNA (ISKCON) itu sama dengan HINDU di NUSANTARA ?

Setelah melihat sebuah surat dari seorang Prof di Utah University bernama Ravi M. Gupta.

Buat kami, yang anti dengan sikap inferior alias rendah diri dan menganggap bangsa asing lebih superior, surat tersebut tidak ada artinya dan berkualitas sangat rendah. Kalau kita setarakan disini sekelas Pos Kota atau koran Lampu Merah.

Namun karena menyentuh Bali, kami sepakat memberikan penjelasan sebagai wujud berbagi pengetahuan serta meluruskan pikiran yang salah. Walaupun bahasa Inggris kami sangat bagus untuk berdebat di segala level, kami sepakat tidak menterjemahkan tulisan ini karena kita tidak punya kepentingan apakah tulisan ini sampai atau tidak kepada orang luar.

Yang utama adalah penjelasan kami sebagai berikut :

Beliau mengatakan bahwa beberapa orang di Bali menjustifikasi Iskcon bukanlah lembaga Hindu yang otentik, semua itu adalah kebohongan besar.

Karena kasus ini, kita semua membandingkan antara Hare Krishna dan Hindu di Indonesia yang sudah sebagai Agama resmi dan final.

Dari yang sudah kita ketahui bersama, justru klaim yang menyesatkan bahwa Iskcon bukanlah Hindu datang dari pendiri Iskcon itu sendiri yaitu Srila Prabhupada.

Dalam surat pernyataan tersebut juga ditegaskan bahwa iskcon termasuk dalam garis perguruan gaudiya waisnawa dengan kitab Bhagawad Gita as it is, Srimad Bhagavatam, serta memakai kitab Caritamrta sebagai kitab utama (baca: "Bhagavatam bukan karya Vedavyasa").

Berdasarkan uraian diatas, sangat jelas bahwa rujukan kitab suci yang di pakai Iskcon BUKAN kitab Suci Weda (Srutti) tapi mengacu pada jenis kitab smerti/Dharmasastra atau karya sastra yaitu Caritamrta yang dibuat sendiri oleh Krishnadasa Kaviraja yang adalah merupakan salah satu murid Sri Caitanya Mahaprabhu (baca: "Caitanya Mahaprabhu")

Sebagai murid Caitanya, disinilah mulai seorang Caitanya diangkat seolah-olah dia adalah Awatara Tersembunyi Titisan Sri Krishna yang ke 22. Jadi yang dirujuk dalam karya sastra ini bukanlah Sri Krishna dalam Mahabaratha.

Sementara hal yang sama juga lakukan oleh Srila Prabupadha dan mengklaim sebagai Awatara Tersembunyi titisan Sri Krishna yang ke 32, dan menekankan penggunaan Bhagavad Gita As It Is sebagai yang utama setelah melakukan vandalisme terhadap Bhagavad Gita yang asli karya Bagawan Vyasa (baca: "vandalisme Bhagawad Gita oleh Iskcon-Indonesia").

Sedangkan Hindu di Bali menganut teologi Surya Siwa Siddhanta, menggabungkan Sadhana Samkhya, Yoga dan Advaita Vedanta yg berdasar atas manuscript lontar : Mantra/Weda, Aksara, Tattwa, Susila/etika, Acara (Upacara, Pura) dan Atmanastuti.

Dengan demikian sangat jelas bahwa antara Iskcon dan Hindu Bali mempunyai teologi serta garis perguruan yang berbeda.

Seharusnya Iskcon berdiri sendiri, mendaftar sebagai agama resmi agar diakui negara. Jangan datang berkamuflase dengan cara menempel bagai benalu, lalu mengkonversi keyakinan Siwa Siddhanta (Siwa Buddha) Hindu Bali dengan cara yang licik, menjelekkan Adat dan Tradisi Hindu Nusantara dengan mengatakan Tamasik dan meninggikan bahwa Hare Krishna (iskcon) yang paling benar, universal dan global.

Cara-cara mereka, sudah tidak benar dan pada saat diawal, Ashram mereka pernah dibakar di Bali. Kemudian hadirlah negara dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Jaksa Agung bernomor SK 107/JA,/5/1984 yang melarang penyebaran barang cetakan yang memuat ajaran Hare Krishna (iskcon) di Indonesia.

Demikianlah tanggapan dari kami untuk menjelaskan kesalahpahaman pihak luar dalam menilai sikap keras Hindu Bali atas Hare Krishna (iskcon).


IS HARE KRISHNA (ISKCON) the same as HINDU in NUSANTARA ?

after seeing a letter from a professor at Utah University named Ravi M. Gupta.

For us, who are anti-inferior or inferior and consider foreigners to be superior, the letter is meaningless and of very low quality. If we compare it here, it is the class of Pos Kota or the Red Light newspaper.

However, because we touched Bali, we agreed to provide an explanation as a form of sharing knowledge and rectifying wrong thoughts. Although our English is very good for debate at all levels, we agree not to translate this article because we have no interest in whether or not this article is delivered to outsiders.

The main thing is our explanation as follows :

He said that some people in Bali justify Iskcon is not an authentic Hindu institution, all of that is a big lie.

Because of this case, we all compare Hare Krishna and Hinduism in Indonesia which are already official and final religions.

From what we all know, the misleading claim that Iskcon is not a Hindu comes from the founder of Iskcon himself, Srila Prabhupada.

In the statement letter, it is also emphasized that the ISKCON is included in the line of the Gaudiya Vaishnava with the Bhagawad Gita as it is, Srimad Bhagavatam, and uses the Caritamrta book as the main book.

Based on the description above, it is very clear that the reference to the holy book used by Iskcon is not the holy book of Veda (Srutti) but refers to the type of holy book / Dharmasastra or literary work, namely Caritamrta which was made by Krishnadasa Kaviraja, who was a student of Sri Caitanya Mahaprabhu.

As a disciple of Caitanya, this is where a Caitanya begins to be raised as if he were the 22nd Incarnation of Lord Krishna's Hidden Awatara. So what is referred to in this literary work is not Lord Krishna in the Mahabaratha.

Meanwhile, Srila Prabupadha did the same thing and claimed to be the 32nd incarnation of Sri Krishna's Hidden Awatara, and emphasized the use of BG As It Is as the main thing after vandalizing the original BG by Bagawan Vyasa.

Meanwhile, Hinduism in Bali adheres to the Surya Siwa Siddhanta theology, combining Sadhana Samkhya, Yoga and Advaita Vedanta based on lontar manuscripts:
Mantra / Veda, Aksara, Tattwa, Susila / ethics, Events (Ceremonies, Temples) and Atmanastuti.

It is thus very clear that the Iskcon and Hindu Bali have different theology and disciplinary lines.
Iskcon should have stood alone, registering as an official religion to be recognized by the state. Do not come camouflaged by sticking like a parasite, then convert the Balinese Hindu Shiva Siddhanta (Shiva Buddha) beliefs in a cunning way, vilifying Nusantara Hindu Customs and Traditions by saying Tamasik and exalting that Hare Krishna (iskcon) is the most true, universal and global.

Their methods were not correct and at the beginning, their Ashram was burned in Bali. Then came the state with the issuance of the Attorney General's Decree number SK 107 / JA / 5/1984 which prohibited the distribution of printed materials containing the teachings of Hare Krishna (iskcon) in Indonesia.

This is our response to explain the misunderstanding of outsiders in assessing the harsh attitude of Balinese Hindus towards Hare Krishna (iskcon). by Gede Mahardika dan Komang Priambada.

author