Kajian ICHI tentang keberadaan Hare Krishna

No comment 259 views

Kajian ICHI
tentang keberadaan Hare Krishna

Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia (ICHI)

Pengantar

Sebagai agama spiritual, Hindu tidaklah memaksakan satu metode, satu cara, satu sistem pemujaan, satu nama nabi, atau satu nama Tuhan. Sebaliknya, Hindu dalam sejarah panjang perjalanannya sejak ribuan tahun sebelum masehi, telah memberikan pencerahan kepada milyaran umat manusia dari berbagai level kesadaran, melalui berbagai cara dan berbagai sistem filsafat. Bisa dikatakan, keanekaragaman adalah ciri khas Hindu, yang lebih tepat disebut sebagai jalan hidup (way of life) daripada sebagai sebuah agama formal (organized religion).

Bagaimanapun, perbedaan itu, dalam implementasinya menuntut sebuah kedewasaan. Perbedaan mempersyaratkan kesalingpengertian, untuk menghormati yang berbeda sebagaimana setiap orang ingin dihormati. Tanpa kesalingpengertian, perbedaan akan menjadi mimpi buruk bagi masyarakat. Oleh karenanya, UUD 1945 selain memberikan kebebasan berkeyakinan dan menjamin bahwa agama adalah hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun, tetapi juga memberikan batasan dalam pelaksanaannya “wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”.

Kajian ini adalah upaya untuk melihat keberadaan Hare Krishna secara jernih baik dari sisi filsafat ketuhanan (brahmawidya) maupun dari sisi hukum. Kajian juga dilengkapi dengan fakta-fakta empiris yang berkembang dalam masyarakat, dan berdasarkan halhal tersebut kemudian memberikan rekomendasi agar para pengambil kebijakan dapat membuat keputusan yang sesuai dengan ajaran suci Weda, dalam koridor yang sesuai dengan kaidah yang diakui oleh umat Hindu secara umum, sekaligus dapat mempersatukan umat Hindu di Indonesia.

Jakarta, September 2020

Dr. Nyoman Marpa, SE, MM, MBA
Ketua Umum ICHI


KAJIAN BRAHMAWIDYA

Ajaran Toleransi Dalam Kitab-Kitab Hindu

Hindu adalah Ibu semua agama. Lebih dari sekedar agama, Hindu juga adalah jalan hidup. Mahkamah Agung India menyatakan bahwa “Tidak seperti agama lainnya di dunia, Agama Hindu tidak mengklaim satu nabi saja, tidak memuja satu dewa saja, tidak menganut satu konsep filosofis saja, tidak mengikuti atau mengadakan satu ritus keagamaan saja; faktanya, ciri-ciri agama Hindu itu tidak seperti agama atau kepercayaan lain pada umumnya. Tak lain dan tak bukan, agama Hindu itu merupakan suatu jalan hidup”.

Rumusan definisi Hindu oleh Mahkamah Agung India tersebut tentu merujuk pada teks-teks suci Hindu dan pengertian-pengertian yang umum diterima oleh penganut Hindu. Beberapa teks suci Hindu yang secara tersurat mendukung rumusan tersebut adalah :

Tad evagnis tad adityas
tad vayus tad u candramah,
tad eva sukra tad brahma
ta apan sa prajapatih

Yajur Veda 32.1

“Agni adalah Itu, Aditya adalah Itu, Vayu adalah Itu, Candrama adalah Itu, Cahaya adalah Itu, Brahman adalah Itu, Apah adalah Itu, Prajapatilah Ia” (Yajur Veda 32.1).

Indram mitram varunam
agnim ahur atho divyah
Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim
yarnam mata-risvanam ahuh

Rg Veda 1.164.46

“Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok. Dia satu adanya, orang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisavanam” (Rg Veda 1.164.46).

Ayam nijah paro veti ganana laghuchetasam
Udaracharitanam tu vasudhaiva kutumbakam

Maha Upanisad 6.72

“Pemikiran bahwa hanya dialah saudara saya, selain dia bukan saudara saya adalah pemikiran dari orang berpikiran sempit, bagi mereka yang bijaksana akan mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga” (Maha Upanisad 6.72)

Selain mengakui nama-nama yang berbeda untuk kebenaran yang satu, Hindu juga mengakui jalan-jalan dan metode-metode yang berbeda dari setiap orang, sesuai tingkat kesadarannya masing-masing.

Dalam Bhagawad Gita, Tuhan Yang Maha Esa bersabda :

Yo yo yam yam thanum bhaktah Sraddhaya rchitum ichichhati
Tasya tasya chalam sraddham Tam eva vidadhamy aham

Bhagawad Gita 7.21

“Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera” (BG VII.21)

Ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamy aham
mama vartmanuvartante manusyah partha sarvasah

Bhagawad Gita 4.11

“Jalan manapun ditempuh manusia ke arahKU, semuanya Kuterima. Dari mana-mana semua mereka menuju jalanKu, Oh Parta” (BG IV.11)

Demikian luasnya ajaran Hindu, dan demikian agungnya Weda dalam memperlakukan semua cara yang berbeda-beda dalam upaya menuju Tuhan dan demikian jelasnya Weda mengajarkan inklusifitas. Perbedaan itu, sebagaimana disampaikan dalam Weda, adalah keniscayaan dan semua adalah karuniaNya. Dengan memahami ajaran toleransi ini, umat Hindu seharusnya sangat mampu untuk saling menghormati satu sama lain sebagaimana sabdaNya : “Jalan manapun ditempuh manusia ke arahKU, semuanya Kuterima”.

Bila Dia yang Maha Kuasa saja menerima semua jalan, bagaimana mungkin kita menolak jalan-jalan tersebut ?

Sampradaya Dalam Hindu

Konsep ketuhanan dalam agama Hindu tidaklah seragam. Beberapa aliran besar yang bersifat monoteistis mengagungkan Wisnu, Krishna atau Siwa. Aliran lainnya yang bersifat monisme memandang para dewa sebagai manisfestasi beragam dari Tuhan, sebagaimana ungkapan “ekam sat wiprah bahuda wadanti”. Ada pula aliran yang bersifat panteistik yang meyakini Tuhan meresap kedalam ciptaan, sebagaimana tersurat dalam Bhagawad Gita maupun Upanishad. Semua diterima dalam keyakinan Hindu.

Hindu juga mengenal banyak Ista Dewata. Dalam pustaka suci Reg Weda, ista dewata yang sering disebutkan adalah Indra, Wayu/Marut, Agni, dan Aswin, tetapi selain nama-nama tersebut juga ada yang lainnya. Sementara itu dalam Maha Purana yang sering disebut adalah tiga Ista Dewata utama yaitu: Brahma, Wisnu dan Siwa, yang selanjutnya sering disebut Trimurti. Kemudian muncul juga nama-nama Sri atau Sakti Trimurti yaitu: Saraswati, Laksmi dan Parwati/Durga. Umat Hindu juga memuja Ganesha dan AWATARA misalnya: Sri Rama, Sri Krishna.

Pemujaan terhadap ista dewata melahirkan sakha, sekte, perguruan, atau aliran yang dalam Itihasa dan Purana disebut Sampradaya. Guru yang memiliki garis keturunan dari sakha di dalam Bhagawad Gita disebut guru-parampara:

eva parampara-praptam ima rajarñayo viduù,
sa käleneha mahata yogo nañaù parantapa

Bhagawad Gita 4.2

“Demikianlah diteruskan turun-temurun, para penditabangsawan mengetahuinya, hingga dalam masa yang sangat panjang hilang-lenyap di dunia ini, om Parantapa” (BG.IV.2).

Setiap kelompok pemuja yang terhimpun dalam sampradaya memiliki buku pedoman atau semacam statuta. Dengan demikian sampradaya memiliki tradisi yang terkait dengan guru parampara, upanisad dan pengikut yang disebut bhakta (pemuja). Untuk menjadi anggota sebuah sampradaya, seseorang harus melewati inisiasi atau semacam ritual wisuda yang disebut DHIKSA.

Berdasarkan uraian tersebut, sampradaya adalah komunitas pembelajaran spiritual yang memiliki garis perguruan yang jelas (guru parampara), memuja salah satu Ista Dewata dan mempelajari beberapa aspek ajaran Weda dengan tata cara yang jelas sesuai dengan hal yang menjadi kesepakatan perguruan dalam bingkai ajaran Weda. Sampradaya juga memiliki ritual dengan sarana ritual sendiri yang mungkin sama atau berbeda dengan sampradaya lainnya.

Sampradaya merupakan keniscayaan dari ajaran Weda, karena ajaran Weda sangatlah luas dan dalam Bhagawad Gita dijelaskan bahwa dalam satu kelahiran tidak akan dapat memahami ajaran Weda secara utuh sehingga dibutuhkan kelahiran demi kelahiran untuk memahaminya. Pada awalnya, Weda tidak tertulis, namun menjadi hafalan para guru parampara dan bhakta dari sebuah sampradaya. Menjelang berakhirnya Dwapara Yuga dan munculnya Kaliyuga ajaran Weda baru ditulis dan dikodifikasi oleh Maharsi Weda Wyasa. Kodifikasi ajaran Weda dihimpun dari perguruan-perguruan yang ada pada saat itu, yang diperoleh oleh para maharsi melalui anubhava (realisasi kebenaran setelah melakukan samadhi). Setelah Maharsi Weda Wyasa selesai mengkodifikasi Catur Weda, beliau mendapat petunjuk untuk menulis lagi sebuah kitab yang kemudian dikenal dengan Srimad Bhagawatam (?). Dalam Srimad Bhagawatam inilah ditemukan istilah Sampradaya.

Dalam ajaran Hindu ada 4 (empat) kelompok tradisi pemujaan atau sampradaya, yaitu:

  • Saiwa Sampradaya
    Paham Siwaisme memuja Siwa sebagai Tuhan Tertinggi, baik immanen maupun transenden. Saiwa sampradaya meliputi : Saiva Siddhanta, atau disebut juga Nandinatha Sampradaya atau Maykandar Sampradaya; Shiva Advaita sampradaya; Phasupatha Sampradaya; Aghory Sampradaya; Adinath Sampradaya atau Adisidhanta Sampradaya; Ichegery Sampradaya; Linggayat Sampradaya; dan lainnya.
  • Waisnawa Sampradaya
    Paham Waisnawa memuja ista dewata Sri Wisnu sebagai Tuhan tertinggi (Svaya Brhaman). Penganut Waisnawa juga memuja dan percaya pada 10 awatara wisnu (dashawatara). Dua diantara awatara tersebut yang terkenal adalah Sri Rama (Ramayana) dan Sri Krishna (Mahabbharatha). Paham Waisnawa dikenal pula dengan Waisnawa Sampradaya, yeng meliputi: Sri-Vaishnava Sampradaya; SadhVaishnava Sampradaya; Ramanandi Sampradaya, atau disebut juga Ramayat Sampradaya, atau Ramavat Sampradaya; Brahma Sampradaya; Gaudiya Vaishnawa Sampradaya (berasosiasi dengan Brahma Sampradaya); Kumara Sampradaya; Rudra Sampradaya; Swaminarayana Sampradaya; Waikhanasa Sampradaya; Krishna Pramani Sampradaya; Warkari Sampradaya dan lainnya.
  • Shakti Sampradaya
    Penganut paham Shakti memuja Sakti dari Trimurti yang meliputi Prawati/Durga, Laksmi dan Saraswati. Paham ini sangat dekat dengan tantra dalam ajaran Hindu. Parwati sebagai sakti dari Mahadewa/Siwa. Laksmi sakti dari Sri Wisnu dan Saraswati merupakan sakti dari Brahma.Tidak banyak disebutkan dalam referensi sampradaya yang termasuk di dalammnya. Shakti Sampradaya meliputi: Kaikula Samprdaya dan Srikula Sampradaya.
  • Smartha Sampradaya.
    Paham Smartha memandang bahwa dewa dewa adalah sama sehingga dalam pemujaan mereka memuja Pancopasona atau Pancadewatha, baik saguna maupun nirguna. Dalam hubungannya dengan Tuhan mereka mengenal konsep Saguna Brahman dan Nirguna Brahman. Dalam konsep ista Dewata merka percaya Saguna Brahman yaitu Brahma, Wisnu, Siwa, Ganesha dan lainnya.

Pengelompokan ini sebenarnya tidaklah tegas, tetapi terjadi perangkapan, terutama shakti dan Smartha. Disamping itu terjadi juga asosiasi antara satu sampradaya dengan sampradaya yang lainnya, misalnya Gaudiya Sampradaya (asosiasi Brahma Sampradaya). Hal ini terjadi karena Hindu memberikan kebebasan dalam menempuh jalan spiritual menuju Tuhan (Brahman).

MATRIK PERBANDINGAN SAMPRADAYA UTAMA

UraianSiwaWaisnawaShaktiSmartha
Kitab Suci UtamaWeda,
Upanisad,
agama
Weda,
Upanisad,
agama
Weda,
Upanisad,
Weda,
Upanisad,
Ista DewataDewa SiwaDewa WisnuDewi-
PenciptaDewa SiwaDewa WisnuDewiBrahman
Awatarakuatkunci utamasangat kuatlemah
MonastikMerekomendasikanmenerimamenerimamerekomendasikan
Ritualtegasmenegaskanmenegaskanpilihan
Ahimsa, VegetarianMerekomendasikan, pilihanmenegaskanpilihanMerekomendasikan, pilihan
Kama, maya, karmamenegaskanmenegaskanmenegaskanmenegaskan
MetapisikBrahman (Siwa), Atman (Jiwa, Diri)Brahman (Wisnu),
Atman
Brahman (Dewi), AtmanBrahman, Atman
Epitemologi (pramana)Persepsi,
Kesimpulan,
Kesaksian Handal,
Pembuktian diri
Persepsi,
Kesimpulan,
Kesaksian Handal
Persepsi,
Kesimpulan,
Kesaksian Handal
Persepsi,
Kesimpulan, Kesaksian Handal, Perbandingan dan analogi; Postulasi,
Derivasi, Bukti Kognitif, Pembuktian diri
FilsafatDwaita, adwaita berkualitas, AdwaitaDwaita, adwaita berkualitas, AdwaitaShakti AdwaitaAdwaita
Keselamatan
(Soteriologi)
Jivanmukta, Karya-Kriyā Yoga-JnanaWidehamukti, Yoga, Kehidupan rumah tangga baikBhakti, Tantra, YogaJivanmukta, Advaita, Yoga, Kehidupan monistik yang baik
(Sumber : Puspa Adnyana, 2020)

Hare Krishna

Hare Krishna, atau secara internasional dikenal dengan nama ISKCON (International Society for Krishna Consciousness) didirikan oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabupada di New York pada tahun 1966, yang kemudian berkembang ke seluruh dunia. Sampradaya Hare Krishna menginduk pada Gaudiya Waishnawa Sampradaya yang berada dalam kelompok Waisnawa Sampradaya (salah satu dari 4 sampradaya utama). Hare Krishna memuja Krishna sebagai Tuhan tertinggi.

Para bhakta Hare Krishna mengikuti 4 prinsip yang harus ditaati, yaitu:

  1. Vegetarian;
  2. Tidak meminum minuman keras;
  3. Tidak berjudi; dan
  4. Tidak melakukan hubungan seks yang tidak sah.

Sumber ajaran utama dari Hare Krishna adalah Pustaka Suci Bhagawad Gita dan Upanisad. Maha Mantra yang menjadi ciri khas sampradaya ini adalah “Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna, Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare”. Maha Mantra ini diambil dari kitab Kalisantarana Upanishad, salah satu bagian dari Kitab Weda (Yajur Weda).

Selain itu, dalam persembahan sehari-hari, Hare Krishna juga menggunakan doa-doa yang merujuk pada kitab suci weda, diantaranya :

om tad vishnoh paramam padam sada
pashyanti surayo diviva chakshur-atatam
tad vipraso vipanyavo jagrivamsaha
samindhate vishnor yat paramam padam

Rig Veda 1.22.20

"Bagai sejauh mata memandang sinar mentari di angkasa, seperti itu pula para bijak dan penyembah terpelajar selalu melihat tempat tinggal Sri Vishnu Yang Paling Utama. Karena para brahmana bangkit spiritual dapat melihat dunia rohani maka mereka juga dapat mengungkapkan tempat tinggal rohani Sri Vishnu itu” (Rig Veda 1.22.20)

om krishno vai sac-cid-ananda-ghanah
krishna adi purushah, krishnah purushottamah
krishno ha u karmadi mulam, krishnah saha sarvai-karyah
krishna kasham krid-adisha mukha-prabhu-pujyah
krishno nadis-tasmin-ajandantar bahye
yam-mangalam tal-labhate kriti

Krishnopanishad, Atharva veda

”Warna Sri Krishna bagai awan menjelang hujan, karena itu Beliau diumpamakan bagai awan rohani yg penuh kekekalan, pengetahuan dan kebahagiaan. Beliau adalah Kepribadian awal, beliau adalah asal mula dari segala aktivitas dan hanya beliaulah penguasa segala sesuatu. Sri Krishna adalah Tuhan pujaan semua deva yg terbaik, Beliau pengendali Brahma, Vishnu dan Siva. Krishna tiada berawal. Kemujuran apa pun yg ada di dalam dan diluar alam semesta ini penyembah hanya dapatkan pada Krishna Sendiri” (Krishnopanishad, Atharva veda)

Aham kratur aham yajnah svadhaham aham ausadham
mantro’ham aham evajyam aham agnir aham hutam

Bhagawad Gita 9.16

“Karya-upacara, persembahyangan adalah Aku Saji-sajian, bahan reramuan adalah Aku Sabda-suci, dupa-kemenyan adalah Aku Api dan api-kebaktian adalah Aku” (BG. IX.16)

Dari urian diatas, dapat dilihat secara jelas bahwa Sampradaya Hare Krishna adalah sampradaya yang bersumber dari salah satu sampradaya utama yaitu Waisnawa Sampradaya. Mantra-mantra pemujaan yang digunakan adalah bersumber dari kitab suci Weda, dan demikian pula praktek-praktek pemujaan yang dilakukan adalah praktek pemujaan yang umum diketahui sebagai praktek pemujaan Hindu.


KAJIAN HUKUM

Dasar Kebebasan Berkeyakinan

  1. Pasal 28E ayat (1) UUD 45 : “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”.
  2. Pasal 28E ayat (2) UUD 45 : “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya
  3. Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 : “Hak untuk Hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun

Batasan Kebebasan Berkeyakinan

  1. Pasal 28I ayat (5) UUD 1945: “Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundangundangan”.
  2. Pasal 28J ayat (2) UUD 1945: “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis

Konteks SK Jaksa Agung No. 107/1984

  1. SK Jaksa Agung No. 107/1984 tidak mencantumkan pelarangan terhadap keyakinan Hare Krishna
  2. Yang menjadi obyek pelarangan dari SK Jaksa Agung No. 107/1984 adalah peredaran barang-barang cetakan yang mengandung materi ajaran Hare Krishna sebagaimana disebutkan dalam poin pertama SK “Melarang peredaran semua bentuk dan jenis segala macam barang-barang cetakan dan kegiatan-kegiatan lainnya untuk mengembangkan dan menyebarluaskan ajaran yang bersumber dari kepercayaan Hare Krsna di seluruh Indonesia
  3. Berdasarkan konteks tersebut, SK Jaksa Agung No. 107/1984 TIDAK DAPAT dijadikan landasan untuk melarang keyakinan Hare Krishna.

Status SK Jaksa Agung No. 107/1984 Setelah Adanya Putusan MK No.6-13-20/2010:

  1. SK Jaksa Agung No. 107/1984 diterbitkan dengan landasan yuridis berdasarkan ketentuan Pasal 1 PNPS No. 4/1963, yang berbunyi “Menteri Jaksa Agung berwenang untuk melarang beredarnya barang cetakan yang dianggap dapat mengganggu ketertiban umum”.
  2. Sehubungan dengan Permohonan Pengujian UU No.16/2004 dan UU No. 4/PNPS/1963 jo. UU No. 5/1969, Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan Putusan MK No.6-13-20/2010 tanggal 13 Oktober 2010, yang pada intinya menyatakan UU No. 4/PNPS/1963 jo. UU No. 5/1969 dinyatakan bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
  3. Dengan dikeluarkannya Putusan MK No.6-13-20/2010 tersebut, maka status hukum SK Jaksa Agung No. 107/1984, yang notabene dikeluarkan berdasarkan UU No. 4/PNPS/1963 jo. UU No. 5/1969 yang oleh MK telah dinyatakan bertentangan dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, maka SK Jaksa Agung No. 107/1984 tersebut menjadi tidak memiliki kekuatan hukum mengikat dan karenanya tidak berlaku, dan karenanya tidak dapat dijadikan landasan untuk melakukan pelarangan peredaran barang-barang cetakan yang memuat materi ajaran Hare Krishna, apalagi untuk melarang keberadaan Hare Krishna, baik berupa organisasi maupun keyakinan.

Legalitas ISKCON Saat Ini

Sebagai organisasi dari individu-individu yang mengikuti keyakinan Hare Krishna, organisasi ISKCON telah memiliki badan hukum Perkumpulan :

  1. Sesuai Akta Notaris Yualita Widyadhari, SH, MKN Nomor 23 Tanggal 8 Oktober 2015 dan disahkan sebagai badan hukum di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan nomor : AHU-0008567.AH.01.07 Tahun 2015 dan diperbaharui dengan AHU-0001067.AH.01.08.2019
  2. ISKCON juga telah terdaftar sebagai Organisasi Hindu pada Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI berdasarkan Surat Ditjen Bimas Hindu No: 65/DJ.VI/BA.00/07/2016 yang kemudian diperbarui dengan Surat Ditjen Bimas Hindu No: 1230/DJ.VI/BA.00/07/2019

KAJIAN SOSIAL – EMPIRIS

Keragaman Hindu Indonesia

Wajah Hindu yang beragam, khususnya di Indonesia, tidak terlepas dari usaha para pemeluknya untuk menjalankan ajaran agama tetapi saat bersamaan juga sekaligus memuliakan budaya lokal yang lebih dahulu tumbuh subur di Nusantara. Tidak ada ekspansi, juga tidak ada usaha penyeragaman untuk mereka yang sudah nyaman dengan kepercayaan yang terpelihara dari masa ke masa. Bahwa kemudian kepercayaan-kepercayaan lokal tersebut merasa sesuai dengan ajaran Hindu lalu “mendeklarasikan diri” sebagai Hindu, itupun biasanya melalui proses kesepakatan bersama. Dari proses-proses tersebutlah tumbuh “Agama Hindu” di Indonesia. Sebut saja Hindu Bali (untuk menyebut pemeluk agama Hindu dari suku Bali dengan tradisi lokal Bali), Hindu Kaharingan (untuk menyebut pemeluk agama Hindu dari suku Kaharingan dengan tradisi lokal Kaharingan), Hindu Toraja (untuk menyebut pemeluk agama Hindu dari suku Toraja dengan tradisi lokal Toraja), dan lain sebagainya.

Selain kelompok-kelompok Hindu berdasarkan suku, juga terdapat kelompok Hindu berdasarkan sampradaya atau aliran spiritual, sebut saja misalnya Brahma Kumaris, Sai Baba, termasuk Hare Krishna. Dalam sejarah Bali bahkan disebutkan pernah ada sembilan sekte yang berkembang pada masa Bali Kuna antara lain sekte Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Diantara sekte-sekte tersebut Çiwa Sidhanta merupakan sekte yang sangat dominan. Masing-masing sekte memuja DewaDewa tertentu sebagai istadewatanya atau sebagai Dewa Utamanya dengan Nyasa (simbol) tertentu serta berkeyakinan bahwa Ista Dewatanyalah yang paling utama sedangkan yang lainnya dianggap lebih rendah. Berkembangnya keyakinan yang bersifat sektarian berpotensi memunculkan ketegangan dan konflik dalam kehidupan sosial keagamaan dan akhirnya akan dapat berpengaruh terhadap stabilitas. Menyadari keadaan yang kurang stabil akibat berkembangnya berbagai sekte, maka raja suami istri Gunapriyadharmapatni dan Udayana berusaha untuk mengatasinya melalui musyawarah dan mendatangkan beberapa tokoh rohaniawan baik dari Bali maupun dari Jawa. Maka diundanglah Mpu Kuturan yang kemudian melaksanakan musyawarah bagi sekte keagamaan yang berkembang di Bali bertempat di Pura Penataran. Untuk memperingati peristiwa besar tersebut Pura Penataran diberi nama Pura Samuantiga.

Kedatangan Mpu Kuturan ke Bali menjadi tonggak pemersatu sekte-sekte Hindu yang pernah berkembang dan didominasi oleh sekte Siwa Sidhanta. Untuk menyatukan semua sekte tersebut, Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Tri Murti yang di Jawa dimanifestasikan dalam bentuk Candi seperti Candi Loro Jonggrang (Prambanan) dimana melalui Candi tersebut dipuja Dewa Brahma, Wisnu dan Çiwa dengan bangunan candi tersendiri.

Moderasi Beragama sesuai RPJMN 2020-2024

Sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang tercantum dalam Lampiran I Peraturan Presidan Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2020, dinyatakan bahwa:

“Indonesia adalah negara dengan suku bangsa, agama, dan kepercayaan yang beragam. Bila tidak dikelola dengan baik, keragaman tersebut dapat berisiko menimbulkan konflik di antara warga negara maupun antarkelompok dan pemeluk agama. Gejala intoleransi yang mulai mengemuka perlu mendapat perhatian serius agar tidak merusak semangat persatuan dalam kemajemukan. Sementara itu, perkembangan teknologi dan informasi yang tidak disertai dengan kearifan dan pengetahuan dapat memicu perselisihan yang berpotensi mengganggu kerukunan dan harmoni sosial. Pengamalan nilai-nilai agama secara baik bagi seluruh umat, yang disertai penghargaan dan penghormatan atas perbedaan, diharapkan dapat menjadi perekat dan pemersatu bangsa.
Berdasarkan data Indeks Kerukunan Umat Beragama menunjukkan penurunan dari 75,36 pada tahun 2015 menjadi 72, 27 pada 2017. Berdasarkan indeks ini, secara kualitatif kerukunan dan harmoni sosial yang menggambarkan toleransi, kesetaraan, dan kerja sama antarumat juga terasa masih lemah. Untuk memperkukuh kerukunan berbagai upaya terus dilakukan, antara lain dengan memperkuat peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan sebagai wadah komunikasi dan dialog lintas iman untuk menyelesaikan persoalan kehidupan beragama. Selain itu, prinsip moderasi dan toleransi dalam beragama juga diutamakan untuk meneguhkan kerukunan dalam kebhinekaan.”

Baik kerukunan antar pemeluk umat beragama yang berbeda maupun di dalam umat beragama yang sama perlu dibangun dan diutamakan prinsip moderasi dan toleransi dalam beragama untuk meneguhkan kerukunan dalam kebhinekaan.

Sebagai upaya untuk menjaga kerukunan internal umat Hindu, dalam sejarah Hindu Indonesia modern tercatat pernah dilakukan “Kesepakata Bersama” tertanggal 5 Nopember 2001 yang ditandatangani oleh Yayasan Sri Satya Sai Baba Indonesia, Dewa Mandir, Yayasan Keluarga Besar Chinmaya Jakarta, Yayasan Radhan Govinda, Guru Dwara Sikh Temple dan Paguyuban Majapahid, serta Mengetahui : Pengurus Harian Parisadha Hindu Dharma Indonesia dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, dimana kesepakatan tersebut terdiri dari 4 (empat) poin yaitu:

  1. Sepakat untuk saling menghormati tata cara kegiatan kerohanian dan keagamaan masing-masing sampdadaya
  2. Sepakat untuk melaksanakan kegiatan kerohanian dan keagamaan sesuai dengan tata cara yang diyakini masing-masing serta dilaksanakan dalam lingkungan/tempat kegiatannya masing-masing.
  3. Sepakat untuk tidak mencampuri tata cara kegiatan kerohanian dan keagamaan yang dilaksanakan di tempat masing-masing serta menghormati aturan yang berlaku
  4. Masing-masing menyadari bahwa ajaran agama Hindu merupakan ajaran suci dan sarat makna, karena itu wajib menghargai perbedaan persepsi dan tafsir yang dilaksanakan oleh masing-masing kelompok/sampradaya dengan tidak saling mencela satu dengan yang lain.

Kesepakatan 5 Nopember 2001 ini merupakan tonggak sejarah yang perlu dihargai bersama dan terus dipromosikan dalam upaya menjaga kerukunan dan toleransi sesama pemeluk Hindu

Pengakuan Terhadap Hare Krishna Sebagai Sampradaya Hindu

  1. Mahkamah Agung India menjabarkan prinsip-prinsip yang sangat mendasar bagi agama Hindu yaitu diantaranya : “penerimaan Veda sebagai otoritas tertinggi dalam masalah agama dan filsafat; penerimaan akan ritme dunia yang hebat, periode penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan yang luas, berkelanjutan, dalam suksesi yang tanpa akhir; penerimaan kepercayaan akan kelahiran kembali dan pra-eksistensi, dan penerimaan pemujaan terhadap banyak dewa maupun mereka yang tidak menyembah arca" dan “Penerimaan akan kitab suci Veda dengan penuh penghormatan; pengakuan akan fakta bahwa cara atau jalan keselamatan adalah beragam; dan kesadaran akan kebenaran bahwa jumlah dewa yang akan disembah sangat besar, yang memang merupakan ciri pembeda agama Hindu.” Berdasarkan definisi itu, India mengakui ISKCON sebagai bagian dari agama Hindu (?).
  2. ISKCON diakui oleh komunitas Hindu dunia sebagai bagian dari Hindu. Beberapa contoh :
    ISKCON berpartisipasi dalam World Hindu Summit (Denpasar, juni
    2013), dimana pada kesempatan ini utusan ISKCON berkata “I am
    often asked in Europe if I am a Hindu… and I reply that it depends
    what you mean by Hindu. If you mean an ethnic, national, exclusivist or sectarian religion I am not a Hindu. If you mean an inclusive, nonsectarian, universal family of spiritual traditions based on the Vedas, then yes, I am a Hindu
    .”
    ISKCON diundang dan berpartisipasi pada World Hindu Congress (Chicago, September 2018). Pada kesempatan ini ISKCON menerima penghargaan atas kontribusinya dalam menyebarkan pesan-pesan Bhagawad Gita ke seluruh dunia.
  3. Hindu Council UK mengakui dan memasukkan ISKCON Temple dalam list afiliasi mereka. Terdapat 11 ISKCON Temple dari total 413 Temple yang ada dalam list.

Fakta-fakta dan Issue-Issue Terkait Hare Krishna

  1. Menyimak pertimbangan Jaksa Agung dalam mengeluarkan SK Jaksa Agung No. 107/1984, dapat diketahui bahwa barang-barang cetakan yang memuat ajaran kepercayaan Hare Krsna telah menimbulkan pertentangan dan meresahkan umat Hindu serta dapat mengganggu ketertiban umum, sebagaimana dinyatakan dalam konsiderans SK JaksaAgung No. 107/1984, yang berbunyi sebagai berikut “Bahwa barangbarang cetakan yang memuat ajaran kepercayaan Hare Krsna yang diterbitkan oleh PT Pustaka Bhaktivedanta Jakarta dan dipelopori pengembangan serta penyebarluasan oleh Yayasan Kesadaran Krsna Indonesia atau Indonesia Society for Krsna Consciousness, ……ternyata telah menimbulkan pertentangan dan meresahkan umat beragama khususnya umat Parisada Hindu Dharma, dapat merusak kerukunan intern umat Hindu Dharma serta dapat mengganggu ketertiban umum”.
  2. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ISKCON yang berlaku saat ini (Ditetapkan di Denpasar, pada tanggal 26 September 2015) tidak menyebut ISKCON “bernafaskan Hindu” atau “berasaskan Hindu”, meskipun menyebutkan ISKCON “berada di bawah pengayoman Parisada Hindu Dharma” dan lima kali menuliskan kata “Veda” dalam konteks kitab suci Hindu.
  3. Setelah berlalu hampir 36 tahun, informasi mengenai perilaku individu penganut Hare Krishna yang Bersikap eksklusif dan Menyampaikan ujaran yang menyinggung perasaan umat Hindu lain baik dalam pergaulan langsung di masyarakat, tulisan di media sosial maupun dalam bentuk buku cetakan;
    Rupanya masih terus berlanjut dan menjadi issue di masyarakat, berkembang dari mulut ke mulut yang pada akhirnya menimbulkan reaksi dari kelompok mayoritas dalam masyarakat Hindu. Tidak dapat dipastikan, berapa persen issue yang berkembang merupakan peristiwa nyata yang valid, berapa persen merupakan berita bohong (hoax), atau berapa persen yang merupakan peristiwa nyata tetapi berbeda konteks sehingga menimbulkan salah pengertian. Tetapi sangat jelas juga bahwa tidaklah semua issue yang berkembang tersebut merupakan berita bohong atau salah konteks. Beberapa peristiwa jelas merupakan kejadian valid yang tempat dan waktunya terverifikasi. Mengingat penolakan terhadap Hare Krishna bukanlah peristiwa tunggal atau terjadi di satu waktu tertentu, melainkan merupakan sebuah untaian peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu yang panjang (40-an tahun), maka sulit diterima bila hal tersebut hanya merupakan perilaku oknum semata. Panjangnya waktu dan ragamnya peristiwa menunjukkan adanya pola yang pada akhirnya menjadi petunjuk awal bahwa hal tersebut merupakan produk dari proses pengajaran, atau produk dari penekanan pada konsep-konsep tertentu dan kurangnya penekanan pada konsep-konsep yang lain, dalam proses pengajaran di dalam sampradaya Hare Krishna.
    Sejarah panjang penolakan paham Hare Krishna ini perlu disikapi oleh semua pemangku kepentingan agar tidak menimbulkan perpecahan diantara pemeluk Hindu.
  4. Adanya laporan mengenai buku-buku bahan ajar agama Hindu yang mengajarkan paham Hare Krishna. Bagaimanapun, para pemangku kepentingan harus memahami bahwa mayoritas umat Hindu di Indonesia sudah dipersatukan oleh Mpu Kuturan melalui Samuantiga dimana semua aliran, sekte, sampradaya sepakat menggunakan konsep Tri Murti. Sehingga untuk pengajaran di sekolah-sekolah umum, seyogyanya mengacu pada konsep Tri Murti. Konsep lain bisa saja diajarkan dalam pengajaran di masing-masing sampradaya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Secara intrinsik dari kitab-kitab Hindu yang paling otoritatif (Sruti), Agama Hindu mengakui keragaman cara atau metode dalam usaha mencapai Tuhan. Perbedaan itu tidak saja di level ritual, tetapi juga di level filsafat. Perbedaan itu telah melahirkan aliran-aliran (sampradaya), yaitu komunitas pembelajaran spiritual yang memiliki garis perguruan tertentu (guru parampara)
  2. Berdasarkan kitab-kitab rujukannya dan penelusuran pada garis perguruannya, Hare Krishna adalah merupakan sampradaya Hindu yaitu Gaudiya Waishnawa Sampradaya yang berada dalam kelompok Waisnawa Sampradaya (salah satu dari 4 sampradaya utama)
  3. Keberadaan Hare Krishna sebagai sebuah keyakinan adalah sah sesuai UUD 1945, dan keberadaan ISKCON sebagai sebuah organisasi adalah sah sesuai Akta Notaris Yualita Widyadhari, SH, MKN Nomor 23 Tanggal 8 Oktober 2015 dan disahkan sebagai badan hukum di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan nomor : AHU-0008567.AH.01.07 Tahun 2015 dan diperbaharui dengan AHU-0001067.AH.01.08.2019. ISKCON juga telah terdaftar sebagai Organisasi Hindu pada Ditjen Bimas Hindu kementerian Agama RI berdasarkan Surat Ditjen Bimas Hindu No: 65/DJ.VI/BA.00/07/2016 yang kemudian diperbarui dengan Surat Ditjen Bimas Hindu No: 1230/DJ.VI/BA.00/07/2019
  4. Berdasarkan Kesimpulan poin a) sampai dengan c) diatas, dan bahwa ISKCON telah mengajukan permohonan pengayoman kepada Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), maka pengayoman yang diberikan oleh PHDI kepada ISKCON adalah tepat.
  5. Adanya perilaku individu-individu penganut Hare Krishna yang menimbulkan keresahan dan penolakan dari masyarakat, dimana jumlah kejadian yang cukup banyak dan kurun waktu yang panjang, menunjukkan adanya pola yang pada akhirnya menjadi petunjuk awal bahwa hal tersebut merupakan produk dari proses pengajaran, atau produk dari penekanan pada konsep-konsep tertentu dan kurangnya penekanan pada konsep-konsep yang lain (misal : aspek toleransi, menghormati kearifan lokal, tidak ada monopoli kebenaran dalam Hindu, dsb) dalam proses pengajaran di dalam sampradaya Hare Krishna.

Saran

PHDI sebagai Majelis Tertinggi Umat Hindu Indonesia disarankan memanggil ISKCON dan memberikan teguran sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PHDI. Teguran tersebut setidaknya terkait :

  • Adanya tindakan oknum-oknum anggota ISKCON yang menimbulkan keresahan dalam masyarakat.
  • AD ART ISKCON yang tidak mencantumkan baik secara eksplisit maupun implisit bahwa ISKCON “bernafaskan Hindu”. Tidak ada satu pun kata “Hindu” dalam AD ART ISKCON yang merujuk pada Hindu sebagai sebuah agama.
  • Pola dan kurikulum pengajaran ISKCON yang pada kenyataannya menghasilkan penganut yang memiliki kecenderungan eksklusif dan kurang menghargai kearifan lokal.

PHDI disarankan memperbaharui “Kesepakatan Bersama” tertanggal 5 Nopember 2001 dengan melibatkan ISKCON dan sampradaya-sampradaya lain yang ada di Indonesia.

Sejalan dengan memperbaharui “Kesepakatan Bersama” sebagaimana dimaksud pada poin b (paragraf 2) diatas, PHDI disarankan menerbitkan buku yang setidaknya memuat:

  • Keragaman Hindu Indonesia
  • Sejarah penyatuan Hindu Bali melalui kesepakatan Samuantiga
  • Larangan-larangan yang harus dihindari oleh Sampradaya
  • Kewajiban menjaga toleransi oleh semua Sampradaya

Buku tersebut selanjutnya harus menjadi buku wajib yang diajarkan kepada semua anggota Sampradaya yang mendapat pengayoman dari PHDI. PHDI memiliki wewenang mencabut pengayoman kepada sampradaya yang tidak menjadikan buku tersebut sebagai buku wajib yang diajarkan di semua tingkatan pengajaran sampradaya tersebut.

PHDI disarankan membentuk team mediasi yang anggotanya terdiri dari perwakilan sampradaya-sampradaya yang ada. Team bertugas untuk mengawasi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh anggota sampradaya. Team ini juga bertugas untuk menginventaris dan menindaklanjuti pelanggaran termasuk melaporkan kepada pihak berwajib apabila ditemukan adanya tindakan-tindakan atau ujaran-ujaran yang dapat dikategorikan provokasi atau ujaran kebencian. Hal ini diperlukan agar ada efek jera, dan, dalam hal ujaran dilakuka di media online, agar dapat diketahui siapa pelaku dan apa motifnya.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia disarankan bekerja sama dengan PHDI membentuk team yang bertugas untuk:

  • Melakukan kajian atas buku-buku bahan ajar agama Hindu yang sudah beredar. Buku-buku yang memuat materi yang tidak sesuai dengan prinsip moderasi dan toleransi beragama serta semangat tenggang rasa dan saling menghormati agar direkomendasikan kepada instansi terkait untuk tidak digunakan sebagai bahan ajar.
  • Melakukan kajian atas draft buku-buku bahan ajar agama Hindu sebelum dicetak dan diedarkan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Nyoman S. Pendit. 2002. Bhagadad-Gita. Jakarta : Felita Nursatama Lestari.
  • Bintang Indonesia. 2014. UUD 1945 & Amandemen. Jakarta: Bintang Indonesia.
  • Ketut Puspa Adnyana.2020.Mengenal Sampradaya Dalam Ajaran Weda.
  • Hinduismtoday.1995. Complete Judgement of the Supreme Court of India. Dalam https://www.hinduismtoday.com/modules/smartsection/item.php?itemid=5047
  • Wikipedia. Hindu Denominations. Dalam https://en.wikipedia.org/wiki/Hindu_denominations
  • Newworldencyclopedia. Sampradaya. Dalam https://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sampradaya
  • Sukadeva Dasa. Sri Vaisnava Agni Hotra Kusandika.
  • IBG Yudha Triguna. 2018. Jurnal. Konsep ketuhanan dan Kemanusiaan Dalam Hindu.
  • Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan. Vol 18 No 1 (2018). Dalam https://ejournal.unhi.ac.id/index.php/dharmasmrti/article/view/104
  • I Nyoman Wijaya. 2015. Jurnal. Relasi-relasi Kuasa dalam Praktik Agama Hindu yang ‘Ditemuciptakan’ di Bali. JURNAL KAJIAN BALI Volume 05, Nomor 02, Oktober 2015. Dalam https://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/download/16782/11055/
  • Babadbali. Pura Samuantiga. Dalam http://www.babadbali.com/pura/plan/samuantiga/samuantiga_sejarah.htm
author