Kenapa Bali Menolak Hare Krishna?

No comment 297 views

Kenapa Bali Menolak Hare Krishna, Sai Baba dan sampradaya lainnya?

Kenapa Bali Menolak?

Kenapa Bali menolak sampradaya (Hare Krisna, Sai Baba dan sampradaya lainnya)?

Berikut hasil pengamatan yang mungkin bisa dipertimbangkan.

1. Bali sebagai BENTENG BUDAYA

Bali pernah dijaga oleh tetua masa lalu dengan benteng budaya, agar tidak mudah dikonversi ke agama lain di masa itu. Dengan asumsi bahwa sebuah bangsa (suku) akan bisa dihancurkan dengan menghancurkan pelan-pelan budaya aslinya, maka orang Bali mulai waspada pada tanda-tanda ke arah itu.

Lalu kenapa Hare Krisna dan Sai Baba ditolak, sedangkan orang Bali yang masuk Kristen dengan masih memakai budaya Bali tidak digugat?

Karena yang dimasalahkan orang Bali bukanlah sekadar perpindahan agama.

Hilangnya akar budaya akibat masuknya agama atau kepercayaan lain, itulah yang diwaspadai. Orang Bali yang berpindah menganut agama Kristen namun masih menghormati akar budaya Bali, lebih diterima daripada aliran sampradaya yang justeru dianggap melecehkan budaya Bali serta meninggikan budaya India. Mereka dianggap sebagai kacang lupa kulitnya.

Orang Bali beragama Kristen yang sembahyang ke gereja dengan tetap mengakui diri sebagai keturunan suku Bali dengan pakaian Balinya, dianggap lebih menghormati warisan leluhurnya, dibanding umat sampradaya yang lebih suka menampilkan diri sebagai "orang asing" dalam keluarga Balinya sendiri.

Seperti ungkapan Proklamator Kita:

Kalau jadi hindu jangan jadi orang India
kalau jadi orang islam jangan jadi orang Arab
kalau kristen jangan jadi orang yahudi
tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini

Selain itu, ajaran Ahimsa versi Hare Krishna maupun Sai Baba adalah meniadakan pengorbanan hewan untuk segala bentuk ritual/upacara keagamaan. Sementara bagi umat Hindu Bali, pengorbanan hewan adalah bagian dari ajaran Hindu aliran Tantra, Bairawa yang sudah mengakar dalam upacara di Bali. Ahimsa mereka dilakukan dengan jalan tengah, yakni dengan mendoakan Jiwa para hewan korban itu menjadi lebih mulia di kelahiran berikutnya.

Menyatakan bahwa upacara atau ritual di Bali yang memakai hewan korban (caru) sebagai ritual/upacara yang tidak Satwika berdasarkan Weda, dirasakan sangat menodai keyakinan orang Bali.

Apalagi tradisi ngelawar di Bali yang menyimpan banyak pelajaran tersembunyi di dalamnya, juga dianggap kegiatan Rajas dan tidak Satwika, karena memakai hewan (penyu, babi dll) sebagai bahannya.

Penilaian-penilaian yang merendahkan seperti itulah yang memantik reaksi orang Bali, yang biasanya lebih toleran selama bagian dari diri "Bali" mereka tidak dilecehkan orang luar.


2. BEDA TEOLOGI

Perbedaan konsep teologi ini, ditambah perbedaan konsep Dvaita (versi Hare Krishna) dan Advaita (versi Hindu Bali) jelas menambah kesenjangan keyakinan. 

Orang Bali percaya bahwa Atman mereka kelak akan menyatu dengan Paramatman (Tuhan/Brahman). Sedangkan bagi penganut Hare Krishna, Jiwa mereka menjadi pelayan Krishna, tidak akan pernah menyatu dengan Krishna, bagaikan Bos dengan Budaknya.

Orang Bali lebih menerima konsep Panca Sradha sebagai dasar keyakinan. Di mana Brahman adalah Tuhan, dan bukan Sri Krishna sebagai Tuhannya.

Karena Atman diyakini sebagai percikan Tuhan berdasarkan ajaran kitab sucinya, maka mereka percaya bahwa Atman para leluhur adalah juga kehadiran Tuhan dalam kehidupan mereka, sebagai para leluhurnya di bumi.  Memuja leluhur (Roh-Roh Luhur) adalah jalan mudah membayangkan Tuhan yang tak terpikirkan, tak terwujudkan. 

Namun di lapangan, seringkali terdengar oknum-oknum penganut sampradaya ISCKON  yang terkenal sebagai Hare Krishna, dianggap merendahkan budaya pemujaan leluhur pada agama Hindu yang dianut orang Bali.

Kata mereka (sebagaimana tafsir Guru ISCKON terhadap Bhagawad Gita) bahwa orang Bali tidak akan pernah mencapai Tuhan, karena hanya memuja leluhur dan para Dewa atau Bhatara lokal. Sedangkan Bhagavad Gita (menurut mereka) jelas mengatakan bahwa hanya yang memuja Sri Krishna yang akan mencapai alam Tuhan, pelayan di kerajaan Tuhan Krishna, karena Sri Krishnalah Tuhan itu sendiri, bukan yang lain.

Jadi, konflik ini selain terjadi karena perbedaan perspektif akar budaya, juga karena perbedaan teologi.


3. KITAB  SUCI

Orang Bali yang beragama Hindu sering dianggap tidak menjalankan kitab suci Weda, oleh umat sampradaya yang merasa dirinya sudah lebih teguh menjalankan Weda, dibanding umat Hindu di Bali.

Tentu saja orang Bali yang laku agamanya dianggap tidak sesuai ajaran Weda, sedang merasa disebut sebagai umat Hindu yang "tersesat" karena menjauh dari ajaran Weda.

Sedangkan umat Hindu di Bali hanya mengikuti petunjuk-petunjuk dari para wikan, para pendeta yang dianggap telah "ngelinggihang Weda" dalam dirinya. Menyebut umat Hindu Bali tidak menjalankan Weda sama halnya menyebut orang Bali yang makan nasi sebagai orang yang tidak makan karbohidrat.

Apalagi menyatakan orang Bali tidak pernah membaca Bhagawadgita. Sedangkan pagelaran pewayangan di Bali adalah salah satu sarana untuk menyebarkan ajaran-ajaran dalam kisah Mahabharata dan BhagavadGita.  Di Bali, Sri Krishna dikenal sebagai tokoh pewayangan yang kata-katanya layak didengar. Namun bukan sebagai Tuhan. Karena bagi orang Bali, Krishna hanyalah sebuah tubuh manusia yang bernama Sri Krishna, di mana Dewa Wisnu turun ke dalamnya sebagai awatara.


Ini hanya sebagian kecil yang bisa dijelaskan, untuk memahami kondisi psikologis umat Hindu di Bali yang mulai gusar dengan sikap, perilaku dan kegiatan umat sampradaya.

Satu catatan lain, orang Bali tidak mudah bereaksi berlebihan, sampai mereka merasa diri mereka sudah diperlakukan secara berlebihan. Konsep hukum Karma sangat kental dalam keseharian orang Bali. Jangan "menyentuh hidung dan telinganya", jika tidak ingin disebut "asu mundung anglangkahi karang hulu."  Jika itu sampai terjadi, Jiwa puputan mereka akan terpicu.

author