Kenapa Hindu Bali menolak Agnihotra?

No comment 1013 views

Kenapa Hindu Bali
menolak Agnihotra?

Berita tentang penolak Agnihotra oleh umat Hindu Bali kembali bergelora. Mungkin banyak yang belum mengetahui, apa yang menjadi pemicunya? sehingga sebagian besar umat Hindu Bali yang menggunakan agem-ageman gama bali, Tradisi Bali, gama tirtha menolak kegiatan pelaksanakaan ritual Agni Hotra yang jargonnya merupakan Yadnya Utama.

Umat Hindu Bali umumnya bukannya tidak mengetahui keberadaan Agni Hotra sebagai Yadnya Utama sesuai sastra Weda. Namun Umat Hindu di Bali mengetahui kesulitan dalam pelaksanaan Agni Hotra tersebut. Kesalahan dalam pelaksanaan ritus Agni Hotra, menurut sastra dapat menimbulkan kekacauan, kehancuran bagi pelaksana dan tetangganya. Atas dasar inilah, warga masyarakat Adat menjadi resah, khawatir terkena getahnya akibat keteledoran dan HALU para pengusung yadnya Agni Hotra yang menganggap dirinya sudah mampu melaksanakan Ritual Utama tersebut.

Umat Hindu Bali, sangat meyakini bahwa sesuatu yang UTAMA tentu memiliki dampak besar. Saat yadnya sukses akan berdampak positif, namun bila yadnya tersebut gagal akibat kurangnya kreteria pelaksanaan tentu akan berdampak negatif yang sebanding, yakni kutukan bagi warga sekitar di wilayah pelaksanaan.

Apakah isu kutukan itu hanya isapan jempol belaka?

mari kita "Back to Veda", mengacu pada sastra Weda, yakni Upanisad (Veda Sruti) yang mengatur pelaksanaan Agni Hotra tersebut:

"Yasya āgnihotram adarśam apaurṇamāsam acāturmāsyam anāgrayaṇam atithivarjitaṃ ca, ahutam avaiśvadevam avidhinā hutam āsaptamāṃstasya lokān hinasti"
Ketika seseorang melakukan Yajna Agnihotra [tidak secara ketat sesuai dengan aturan Yajna] tanpa Yajna tambahan - Darsa, Paurṇamāsa, Cāturmāsya, dan Ãgrayaṇa - atau tanpa menjamu tamu, atau dengan melakukan Yajna pada waktu yang salah atau tanpa ritual Vaiśvadeva - maka dalam semua persembahan Yajna tersebut tidak dilakukan dengan benar. Akibatnya, kehancuran. [Bagi dirinya] tujuh dunia mengalami kehancuran.

Mundaka Upanishad 1.2.3

dari Sastra Sruti tersebut, sangat jelas menyebutkan, bahwa kesalahan kecil dapat berakibat FATAL, tidak hanya bagi pelaksana namun bagi warga sekitar. Atas dasar inilah, Krama Desa Adat di Bali, sangat hati-hati menerima pelaksanaan Ritual Agni Hotra ini. Bukannya tidak mau terima, tapi dejauh apa kemampuan pelaksana sehingga dapat menjamin keselamatan warga (krama desa).

Apa kreteria pelaksanaan Agni Hotra tersebut?

Kembali merujuk sastra weda, kreteria umum pelaksana Agni hotra yakni:

  • Menurut Kitab Satapathabrahamana dan Sarasamuscaya 56, yang boleh melaksanakan adalah BRAHMANA atau Sulinggih, hal ini diperkuat oleh Wrhaspati tattwa dan Silakrama.
  • Sedangkan menurut Atharwa Weda 28.6 dan Sarasamuscaya 58, penyenggara Agni Hotra adalah KSATRIA, sedangkan dalam Mahabharata, Lontra Kala Tattwa dan kakawin Ramayana 25 mempertegas bahwa pelaksananya mengkhusus pada RAJA (Pemimpin Negara) saja.

dari rujukan diatas, SECARA UMUM yang dapat melaksanakan hanyalah BRAHMANA dan RAJA dalam hal ini Kepala Negara.

Dengan ketentuan UMUM itu saja sudah menjadi bukti kuat Krama Adat menolak pelaksanaan Agni Hotra di wilayahnya, apabila penyelenggaranya BUKAN seorang Kepala Negara dalam Hal ini Presiden dan pemuput Ritualnya Bukan seorang Brahmana DWIJATI.

śreyān svadharmo vigunah, para-dharmāt svanusthitāt svabhāva-niyatam karma, kurvan nāpnoti kilbisam
Lebih baik swadharma (kewajiban) diri sendiri meskipun kurang sempurna pelaksanaannya. Karena seseorang tidak akan berdosa jika melakukan kewajiban yang telah ditentukan oleh alamnya sendiri.

Bhagawadgita 18.47

Apakah Seorang BRAHMANA - DWIJATI saja sudah cukup dalam melaksanakan Ritual Agni Hotra?

TERNYATA, pelaksana Agni Hotra tidaklah cukup hanya seorang yang disucikan saja, Sang Brahmana menurut Rigveda 1.1.1 dan Iswara Tattwa wajiblah memiliki kemampuan lebih. Brahmana hanya "bermodal HAFAL MANTRA" dinyatakan tidak layak melaksanakan Agni Hotra.

"agním īḷe puróhitaṃ yajñásya devám r̥tvíjam, hótāraṃ ratnadhā́tamam"
kami memuja TUHAN (dewa agni), pendeta utama alam semesta, yang melakukan kegiatan melalui hukum abadi, yang memelihara dan menghidupi segalanya, yang bersifat ilahi dan cemerlang.

Rgveda I.1.1

menurut sri aurobindo, Agni sering diartikan sebagai API di altar (kunda), padahal yang dimaksud AGNI itu lebih merujuk pada GNI RAHSYAM, Api spiritual yang ada di DALAM TUBUH.
Hal ini diperkuat dengan TIDAK ADAnya indikasi bahwa API itu dihidupkan secara manual oleh orang lain (pendeta) namun lebih mengacu pada KEMAMPUAN diri.
Pendapat ini mengacu pada mantra Rig Veda I.36.4 yang menyebutkan bahwa api tersebut dinyalakan oleh kekuatan kosmis MITRA (cinta dan harmonisasi suddhi) dan VARUNA (penguasaan diri) sehingga lebih mengacu pada kekuatan "Yoga-Tapa-Brata-Samadi" yang dibali dikenal dengan kultivasi "GNI RAHSYA".

Pendapat Sri Aurobindo ini senada dengan apa yang tersurat dalam lontar Iswara Tattwa, Weda Parikrama dan Tutur Adyatmika:

"...Tan asuwe saksana mijil kukus saking ragan sang mayoga, mijil agni sakunang saking sarwwa sandi ning raga, saksana murub dumilah angarab arab ikang geni. Ri sedeng ujwala nikang agni katon dening wong akweh, rasa tan kari sang mayoga. labda jiwa, meh geseng de Sanghyang Agni..."
...tiada lama ke luarlah asap dari badan orang yang beryoga, muncul api sakunang (sebesar binatang kunang-kunang [seperti bara api yang berterbangan]) dari semua persendiannya, dengan cepat menyala bersinar berkobar-kobar api itu, Saat sedang berkobarnya api itu dilihat oleh banyak orang, seolah-olah orang yang beryoga itu sudah tidak ada, sukses batinnya, mungkin saja terbakar oleh api…

Lontar Iswara Tattwa

"OM Sariram kundam ityuktam
triantah jaranan idanam
Sapta ongkara mayo bahnir
bhojananta udindhitah
Om am Astra kalagnirudraya namah
"
badan ini di sebut tungku perapian, makanannya ketiga bagian organ dalam di sebut kayu bakar, saptomkara (seperti api yg menyala terus menerus) membakar seluruh Indria yang dikorbankan. sujud pada Am senjata dari Kala Agni Rudra.

Weda Parikrama

"Saptatma yajamanas ca saptaumkaro hutasanah,
sarire dese kundasmin sarva-kaman juhoti sah
"
Sanghyang Sapta Atma sebagai pembawa kurban suci, Sanghyang saptomkara di sebut api (pembakar kurban), tubuh disebut kunda pradesa, Semua Indria disebut persembahan sesendok penuh minyak wijen, mentega bersih, ranting ranting dan sebagainya, pengetahuan Sang Yogi disebut pelaksana upacara.

Tutur Adyatmika

Rujukan diatas merupakan dasar pelaksanaan Agni Hotra.

banyak HOTRI yang menganggap diri layak melaksanakan ritual Agni Hotra dan menyatakan diri sesuai sastra Weda. Namun, Krama Adat di Bali resah karena takut kena dampak negatif dari keteledoran pelaksanaan Agni Hotra dari orang yang BELUM TERBUKTI diwilayah tersebut mampu menguasai Gni Rahsya.

silahkan simak artikel tentang "Agnihotra di Bali" dan indikator untuk menguji kemampuan "Gni Rahsya" yang wajib dimiliki oleh Brahmana atau Hotri pelaksana Agni Hotra.

Sehingga sebuah kewajaran, Prajuru Adat menindaklanjuti keresahan warganya. Bukannya BALI menolak Agni Hotra, namun menjaga kesucian dan keutamaan dari Agni Hotra.

author