Manik Angkeran ke Sunyaloka

No comment 120 views

Manik Angkeran ke Sunyaloka

Patut diketahui prihal kesaktian Sang Bidadari (Ibu Ida Tulus Dewa) sehari-hari, menanak nasi dengan sebulir padi. Sehelai bulu ayam, jika dimasak, menjadi ikan ayam. Keadaan demikian itu jelas tidak boleh dilihat oleh orang Iain. Hal itu sudah dipermaklumkan kepada Sang Pendeta, agar beliau jangan mencoba kesaktian Sang Bidadari, agar kesaktian Sang Bidadari tidak hilang. Itu sebabnya keberadaan sehari-hari Sang Pen­deta dengan isteri dan puteranya di Besakih, tiada kurang suatu apapun.

Setelah berapa tahun Iamanya, Ida Danghyang Bang Manik Angkeran melak­sanakan swadharma berkeluarga dengan istri beliau bertiga beserta puteranya tiga orang di Besakih, maka tibalah waktunya perjanjian Sang Bidadari harus kembali ke Sorgaloka. Keluar pikiran Ida Sang Pandhya mencoba kesaktian sang istri. Beliau mengintip istrinya Sang Bidadari sedang memasak, manakala istrinya menaruh sebulir padi. Setelah Iama nian memasak, dibukanya kekeb-penutup alat masak- itu oleh Sang Bidadari. Dilihat padinya sebulir itu masih seperti sediakala. Saat itu, berpikir Sang Bidadari, kemungkinan memang sampai saat itu Sang Bidadari ber­suamikan Sang Pendeta. Kemudian beliau menghadap dan menghaturkan sembah:

“Inggih kakandaku, Sang Pandita, rupanya sampai di sini dinda mengabdikan diri -bersuamikan kanda. Sudah usai rupanya perjanjian kita. Dinda sekarang, akan memohon diri ke hadapan palungguh kanda, untuk pulang kembali ke Sorgaloka”.

Sang Pandita kemudian berkata halus : ”Nah, kalau begitu silahkan adinda pulang Iebih dahulu, kanda akan mengikuti perjalanan dinda”. Sang Bidadari Ialu kembali ke Indraloka.

Sejak saat itu Ida Sang Pendeta Danghyang Bang Manik Angkeran selalu melaksanakan Yoga Panglepasan untuk pulang ke alam baka. Dan Iagi, beliau menyadari akan segera kembali pulang ke Sunyaloka, Ialu beliau memanggil putranya bertiga, memberitahukan bahwa puteranya bertiga memiliki kakek di Jawa, yang ber­nama Ida Danghyang Siddhimantra. Bersama isterinya yang dua orang ítu, beliau memberikan petuah yang sangat bermakna :

“I Dewa, Bang Banyak Wide, I Dewa, Bang Tulusdewa, I Dewa, Bang Wayabiya, anakku bertiga yang sangat ayahanda cintai dan kasihí, ayahanda sekarang bersama ibu-ibumu berdua, akan meninggal­kan ananda Ayahanda akan pulang ke Sorgaloka. Satukan diri ananda dalam bersaudara. Ala ayu tunggal ! Duka maupun suka hendaknya tetap satu ! Kemudian juga agar selalu ingat kepada Bhatara Kawitan, serta senantiasa bhakti menyembah Ida Bhatara semua di sini dí Besakih serta Ida Bhatara Basukih. Tídak boleh ananda Ialai serta ingkar dengan petuah ayahandamu ini”.

Demikian nasehat Ida Sang Pen­deta, dicamkan betul oleh para putranya bertiga.

Pada hari yang baik, beliau kemudian berpulang ke Nirwana, moksa dengan Adhi Moksah-moksa yang utama, diiringkan oleh isterinya berdua, karena keduanya memang setia dan bhakti kepada belìau.

Diceriterakan, beliau-beliau itu sudah menyatu dengan Tuhan. Tinggallah para puteranya bertiga, ditinggal oleh ayah serta bundanya. Namun demikian masyarakat se-wilayah desa Bukcabe, masih tulus bhaktinya, karena ingat kepada petuah Ki Dukuh Sakti Blatung dahulu. Pada saat itu, putera Ida Bang Manik Angkeran yang nomor empat dari Ni Luh Canting yakni Sira Agra Manik, belum ada dan belum ber­diam di Besakih.

Tidak terhitung berapa tahun ketiga putera itu ditinggal oleh ayah ibunya semua, Ialu ada keinginan Ida Sang Bang Banyak Wide akan berbincang dengan kedua adiknya. Setelah semuanya duduk, maka berkatalah Ida Bang Banyak Wìde :

” Inggih, adikku berdua, yang kanda kasihi dan cintai. Teringat kanda dengan petuah Ida I Aji, kata beliau Kakek kita yang bernama, mohon maaf, Ida Danghyang Siddhi­mantra, bertempat tinggal di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Daha. Kalau sekiranya dinda berdua menyetujui, marilah kita pergi ke sana, bersembah sujud menghadap kepada Ida I Kakiyang- kakek kita, agar kita mengetahui keberadaan beliau, agar jangan seperti ungkapan yang mengatakan , tahu akan nama namun tidak tahu akan rupa. Lagi pula kalau Kanda pikir, mungkin sekali Ida I Kakiyang -kakek kita tidak tahu sama sekali akan keberadaan kanda dìnda, karena tidak ada yang menceriterakan perihal keberadaan ayahanda kita serta kita bertiga”.

Baru didengar perkataan kakaknya demìkian, maka menjawablah Ida Sang Bang Tulusdewa dengan sangat sopan :

”Inggih palungguh kanda, mengenai prihal itu, perkenankanlah dinda menyampaikan pendapat, namun mohon dimaklumi, bila­mana ada yang tidak berkenan di hati kanda. Perihal keinginan kanda , disebabkan niat bhakti ke hadapan Ida I Kakiyang, memang wajar sekali. Dinda sangat berbesar hati. Namun bilamana kanda akan pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida I Kakiyang kakek kita, apalagi berkeinginan untuk bertempat tinggal di sana, mohon maaf dan mohon perkenan kakanda, bahwa dinda tidak bisa mengikuti kehendak kanda itu. Biarkanlah hamba di sini di Bali, agar ada yang melanjutkan yadnya dari ayahanda Ida Sang Pendeta, sebagai tukang sapu di sini di Besakih, sepertì menjadi petuah dari ayahanda”.

Kemudian Ida Bang Wayabiya menghaturkan sembah :

”Inggih palungguh kanda Sang Bang Banyak Wide yang sangat dinda hormati, dinda juga, bukan karena kurang bhakti dinda kepada Ida I Kakiyang, walaupun belum dinda ketahui. Yang nomor dua, tidak kurang bhakti serta kasih dinda bersaudara dengan kakanda. Namun kalau berpindah tempat meninggalkan Bali ini, berat rasanya bagi dinda, karenanya, mohon maaf pula, dinda juga tidak ikut mendampingi kanda, seperti pula apa yang dikatakan kanda Tulusdewa baru. Dinda tidak sekali akan menghalangi niat Iuhur kakanda untuk pergi ke Jawa, menghadap kepada Ida I Kakiyang. Itu juga sangat pantas. Kalau kakanda berkehendak akan pergi, silahkan kakanda pergi sendiri, agar ada yang memberitakan keberadaan di Bali ke hadapan Ida I Kakiyang. Biarkan dinda berdua di sini di Bali ”.

Baru mendengar hatur adik-adiknya berdua, lama Ida Sang Banyak Wide ber­diam, berpikir-pikir. Karena memang tidak pernah berpisah dan mereka saling mengasihi satu sama Iainnya. Kemudian beliau berkata :

”Inggih, kalau demikian pendapat dinda berdua, patut juga, di Bali agar ada, ke Jawa, menurut kanda, juga agar ada yang memberitahukan perihal keadaan kita di Bali ini, seperti yang dikatakan dinda Wayabiya baru. Itu sebabnya perkenankan kanda akan sendirian pergi ke Jawa, untuk menghadap kepada Ida I Kakiyang. Namun ada petuah kanda kepada dinda berdua. Walaupun kanda tidak Iagi berada di sini bersama dinda berdua, di mana saja mungkin kanda -dinda berdiam, kalaupun kanda -dinda menemui kebaikan atau keburukan, agar supaya tidak kita Iupa bersaudara sampai nanti kapada keturunan kita di kelak kemudian hari. Ingat betul nasehat suci dari Ayahanda kita : Ala Ayu TunggalAyu tunggal, ayu kabeh. Ala tunggal, ala kabeh ! Duka dan suka tunggal! Kalau satu orang mendapatkan kegembiraan, agar semuanya bisa ikut menikmatinya. Demikian juga kalau salah satu mengalami kedukaan agar semuanya merasakannya. Mudah-mudahan kita semuanya bisa bertemu kembali. Kalau tidak kanda yang bisa bertemu dengan dinda, semoga anak cucu kita bisa bertemu serta mengingatkan persaudaran kita di kelak kemudian hari”.

”Inggih, silahkan palungguh kanda pergi, dinda menuruti semua apa yang kanda katakan. Semoga kanda selamat, serta bisa bertemu dengan Ida I Kakiyang”. Demikian hatur adiknya berdua.

setelah mendapatkan hari baik, Ida Banyak Wide pamit kepada semua saudaranya.

author