Menanggapi Kajian ICHI tentang Hare Krishna

No comment 184 views

Menanggapi Kajian ICHI
tentang Hare Krishna

Menanggapi Kajian ICHI tentang Hare Krishna

Menanggapi hasil Kajian ICHI tentang Hare Krishna (baca: Kajian ICHI tentang Hare Krishna), sebagai warga Hindu Bali, ada beberapa yang dapat disampaikan:

Berkenaan dengan kutipan sastra

ICHI berupaya menyamarkan vandalisme Hare Krishna lewat Bhagavad Gita As It IS-nya yang sengaja memutar balikkan bahkan menghapus beberapa arti kata untuk membelokkan ajaran. Dalam kajian yang disampaikan, ICHI mencoba mendamaikan dengan menggunakan terjemahan Bhagawad Gita yang lainnya (baca: "vandalisme Bhagawad Gita oleh Iskcon-Indonesia").

Kajian Brahmavidya/teologi ICHI yang hanya mengambil literatur sampradaya India untuk mengurai polemik yang ada di Bali, jelas tidak nyambung dan tidak akan mampu memecahkan masalah, karena teologi Hindu Bali walau secara umum berdasarkan WEDA, namun turunanya berdasar atas manuscript lontar-lontar Tattwa, Susila, Acara, dan Atmanastuti yang sudah TIDAK mengamodir lahirnya Sampradaya. ini mengingat kisah PENYATUAN SAMPRADAYA dijaman Mpu Kuturan. Penggunaan Kajian Sampradaya, tentu sudah bertentangan.

pada Bagian I, sub-bag 2 "Sampradaya Dalam Hindu". Betul ada 4 sekte besar dari penganut ajaran Weda, yaitu: Saiwa, Waisnawa, Shakti dan Smartha. Tetapi kajian ini terkesan TIDAK ADIL; penjelasan tentang Waisnawa Sampradaya jauh lebih panjang dan lebih detail dibandingkan 3 yang lainnya.

apalagi kajian sampradayanya, menekankan penggunaan "Srimad Bhagawatam" yang hanya mengusung ketuhanan Krishna. Tentu ini tidak mengakomodir keyakinan Sapradaya lainnya. Kalau ini benar tulisan Rsi Vyasa berarti Kebenaran hanya dimiliki oleh sampradaya WAISNAWA, dimana Hare Krishna merupakan sempalan dari Brahma sampradaya yg di kenal dengan GAUDIYA VAISNAVA hanya dengan membalik Krishna sebagai pencipta Wisnu.
silahkan baca: "Bhagavatam bukan karya Vedavyasa".

Memang terlihat spele, tetapi dari sini publik bisa menilai "kacamata" apa yang sedang dipakai oleh si pengkaji dan yang paling penting apa target dari kajian ini.

berkenaan dengan kajian tersebut juga banyak keanehan, di Bagian I, Sub-Bagian 3, "Sampradaya Hare Krishna," menjelaskan tentang Hare Krishna (ISKCON) dengan cukup rinci. Tetapi sayang tidak menyebutkan:

  • "Pernyataan Prabhupada bahwa "Hare Krishna (ISKCON) bukan HINDU.
  • Kenyataan bahwa Hare Krishna (ISKCON) adalah organisasi TRANS-NASIONAL yang memiliki agenda membangun peradaban yang belum tentu sama dengan agenda Indonesia sebagai negara berdaulat dan Nusantara sebagai peradaban yang adi luhung.
  • Aliran Dana ISKCON (berapa dana yang masuk ke Indonesia dan berapa yang setor ke luar negeri?) Ini penting krn menyangkut Neraca Negara; merugikan atau menguntungkan Indonesia?
  • Tuhan-nya penganut Sampradaya Hare Krishna adalah Tuhan Krishna dan Tuhan Shri Chaitanya Mahaprabhu dan Prabhupada (bukan Ida Sang Hyang Widhi seperti agama Hindu yang resmi diakui oleh negara Republik Indonesia.) - baca: Caitanya Mahaprabhu
  • Sumber Utama ajaran HK adalah Bhagawadgita dan Shrimad Bhagawatam Purana yang ditafsirkan oleh Prabhupada dan dilabel "AS IT IS" supaya versi lain dikira palsu.
  • Hare Krishna mengklaim Bhagawadgita sebagai Kitab Suci ekslusif milik mereka yang otoritasnya dianggap lebih tinggi dari Catur Weda, sementara kita semua tahu bahwa Bhagawadgita adalah "gita" yang posisinya hanya sebagai salah satu pustaka suci yang bersumber dari itihasa Mahabharata karya Bhagawan Wiyasa".

Mengapa ini tidak diungkapkan dalam kajian?


Kajian Hukum

Bagian II, Kajian Hukum - Sub 1 dan 2, Dasar dan Batasan Kebebasan Berkeyakinan. Ini hanya menyebutkan kebebasan berkeyakinan tanpa menyebutkan bahwa menista dan mengolok-olok keyakinan lain TIDAK DIBENARKAN.

ICHI berupaya melindungi Hare Krishna dengan Pasal-pasal kebebasan, seperti Pasal 28E dan Pasal 28I UUD 45. Yang menjadi pertanyaan, apakah batasan pasal 28J itu sudah terlaksana? "memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum"

Bolehkan umat Agama A beribadat dengan tata cara umat agama B? atau Umat Agama A ikut berkeyakinan dan mengimani kitab suci umat Agama B, dan menyatakan diri sebagai salah satu ulama di Agama B sedangkan secara faktual masih tercatat di umat Agama A?

hal ini perlu ditekankan, karena yang disebut sebagai SAMPRADAYA adalah tradisi spiritual HINDU yang berdasarkan Veda. Jadi umat atau yang sering disebut sebagai BHAKTA-nya otomatis berAgama HINDU. sekarang, coba telisik kenyataannya di Indonesia, di berbagai Asram, terdapat Prabhu dan Warior Hare Krishna yang beragama Non-Hindu. Apakah itu bisa dikategorikan dalam Pasal-pasal tersebut. Jangan sampai hal ini dijadikan kamuflase saja. disaat ada masalah, ICHI diam seribu bahasa.

Bagian II, Kajian Hukum -Sub 3, 4 & 5, Konteks dan Status SK Jaksa Agung 107/1984 & Status Legalitas HK Sekarang. Jika Undang-undang saja bisa diuji dan Surat Keputusan Lembaga Pemerintah bisa dianulir, tentu AD/ART PHDI, surat pengayoman dan Akte Notaris juga bisa dianulir jika terbukti menimbulkan keresahan masyarakat, terlebih meresahkan lembaga adat yg menjadi cikal-bakal suatu bangsa.

Status SK Jaksa Agung No. 107/1984 Setelah Adanya Putusan MK No.6-13-20/2010:
  • Dalam diktum pertama, sudah jelas terdapat pernyataan "melarang barang cetakan dan juga melarang kegiatan menyebarkan ajaran". Jadi Bukan hanya barang cetakannya saja yang dilarang, TAPI kegiatannya juga dilarang.
  • Putusan Mahkamah Agung tidak pernah mencabut kewenangan kejaksaan (baca: Putusan MK 6–13–20/PUU-VIII/2010 berkenaan dengan kewenangan Kejaksaan). JADI Keputusan Jaksa Agung tersebut MASIH BERLAKU.


Kajian Empiris

Bagian III, Kajian-Kajian Empiris:

  • Hare Krishna ISKCON Diakui sebagai Sampradaya Hindu oleh Dewan di India. Ini ngerujuknya ke lembaga di India, apa pentingnya bagi Indonesia?
  • Hare Krishna ISKCON berpartisipasi sebagai peserta World Hindu Summit (di Denpasar) & Congres (di Chicago).
  • Hindu Council UK mengakui kuil Hare Krsna (HK) masuk dalam daftar Kuil Hindu di Inggis.

sudah pasti mereka ikut event-event tersebut, karena penggagas dan pelaksana event-event tersebut juga mereka-mereka sendiri ATAU para pejabat/tokoh yang berafiliasi dengan mereka. Tujunnya jelas untuk mengangkat legitimasi mereka.

Publik di seluruh dunia juga sudah tahu TAKTIK HK/ISKCON: Di luar mereka berkoar-koar "Kami Bukan Hindu, kami universal dan berasal dari semua agama!". Tetapi setiap kali kena kasus Hukum mereka berlindung di bawah naungan Lembaga Agama Resmi, terutama Hindu, yg sering mereka sebut "eksklusif" itu.

Apakah ICHI sudah mengecek secara seksama skandal-skandal dan kasus-kasus hukum yang diadukan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia?

Kasus Hare Krishna di India, Amerika, Rusia sudah bisa ditelisik di media Internet. Jangan sampai kita Umat Hindu dikatakan tidak menghormati Agama non-Hindu. Apalagi, di Luar Negeri Religion Hare Krishna dalam aplikasi sosial sudah dibuat terpisah dari Religion Hindu.

Setidaknya yang sudah terekspose di media saja lah. Sudah/belum? Jika belum tolong cek dan beberkan juga dalam kajian.

Jika sudah, mengapa tidak diikutkan dalam kajian empiris?


Semoga ICHI lebih cerdik dan cerdas menanggapi polemik ini, sebagai kaum cendikiawan yang melebel diri sebagai HINDU INDONESIA, tentu memikirkan apa yang terbaik bagi INDONESIA, Hindu Nusantara yang kita cintai. Kesan dari KAJIAN ICHI sangat jelas arahnya hanya untuk mendukung keberadaan Hare Krishna dan sampradaya import lainnya di Bali atapun Nusantara.

author