Mule Keto – As It Is

No comment 1133 views

Mule Keto - As It Is

Ungkapan Mule Keto (as it is) sangat familiar di telinga orang bali. Mule Keto merupakan jawaban gugon tuwon yang sangat simple untuk mengajarkan kedalaman dan keiklasan bhakti. Gugon Tuwon sendiri dimaknai sebagai filsafat tua yang sulit dipahami. Gugon dimaknai gugu atau percaya, sedangkan Tuwon bermakna tuhu, bijaksana. sehingga filosofi Gugon tuwon lebih dekan dengan keyakinan pada peninggalan atau kebijakan masa lalu, percaya-percaya saja dengan apa yang diwariskan dan meyakini hal yang diwarisi itu yang terbaik.

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berbau "Adat Tradisi dan Budaya Bali" dijawab dengan "Nak Mule Keto" dimaknai dengan "memang begitu adanya" jangan banyak tanya.

Banyak orang yang menentang jawaban tradisi mule keto, mereka kira bahwa tradisi tersebut hanyalah dogma gugon tuwon yang tanpa makna, padahal para penentang ini juga mempraktekkan tradisi mule keto.

Biasanya orang memandang tradisi mule keto sebagai hal yang negatif, dan harus di beranguskan, lalu di ganti dengan yang mereka sebut "budaya weda" kone (katanya) yang mereka dapat dari luar sana.

Banyak orang bali yang mulai tergoyahkan, lalu berpaling dari MULE KETO (memang begitu apa adanya), menjadi ADI KETO (kenapa seperti itu), NGUDIANG KETO (ngapain melakukan hal itu), kemudian EDE KETO (jangan lakukan hal itu), dan pada akhirnya menjadi penghakiman dengan kalimat merasa diri paling benar SUUD KETO (berhentilah melakukan hal itu) anak tamasik nto (itu), maka terjadilah pengikisan tradisi leluhur yang di lakukan dari dalam, dan bahkan di jadikan obyek cercaan.

Di katakan MULE KETO menandakan bahwa tradisi itu penuh dengan kedalaman makna filsafat, memakai dasar yang pasti dan kuat, terlahir dari kematangan sempurna susastra weda, dalam rasa spiritual, bukan rasa dunia.

jawaban Nak Mule Keto merupakan ungkapan untuk meredam obsesi-obsesi mencari jawaban yang berujung pada kebimbangan spiritual "keyakinan" yang akhirnya menyebabkan pada kebuntuan dan keangkuhan sehingga tenggelam pada teori-teori saja dan lupa akan prakteknya. Jawaban Mule Keto juga sebagai ruang pada batas-batas logika berpikir akibat kelelahan dalam menyelam logika rasio yang seharusnya dibedah dengan rasa. Dan yang terakhir, Mule Keto dijadikan ruang untuk penerimaan tanpa penilaian.

ungkapan diatas cukup tepat dibangkitkan saat ini, dimana banyak umat yang sibuk berteori sastra, banyak yang suka bersilat lidah mengungkapkan sloka-sloka suci namun lupa pada warisan lingkungannya, lupa dengan hubungan sosial yang sudah tertata dari dulu dan lupa untuk menunjukan praktek-praktek teori yang sering diungkapkannya. Mereka hanya berselimut teori kitab suci saja.

lantas, aoakah kita berhenti belajar dan menalar?

tentu saja TIDAK..

ungkapan MULE KETO dijadikan batas-batas dalam belajar. Kita diwarisi berbagai pengetahuan lewat lontar-lontar tattwa, yadnya, tutur, purana dll yang wajib dibaca. Namun, pengetahuan itu tidaklah cukup dibaca dan dihafalkan saja, pengetahuan itu wajib dipraktekan. Dari hal inilah kemudian ada ungkapan lanjutan "Dosa bagi orang yang mengetahui namun melanggarnya", lebih baik sedikit pengetahuan namun mampu melaksanakannya dengan baik.

"Janganlah menjadi UMAT MALAS yang hidup hanya dengan hafalan saja"

Mule keto lebih menekankan pada karma yoga dan bhakti yoga.

wahai Arjuna, lakukanlah tindakan (pekerjaanmu) dengan tujuan yadnya, tanpa tendensi (mengharapkan hasil)

Bhagawad Gita 3.9

Memahami makna filsafat mule keto merupakan proses pematangan diri yang juga sangat di pengaruhi oleh usia, pengalaman, pengetahuan, dan karma dari setiap individu.

author